Rabu, 13 April 2016

MANUSIA SEMPURNA

 MANUSIA SEMPURNA
SUTEJA
  Al-Qurân dan al-Sunnah  memiliki perhatian khusus bagaimana setiap individu manusia  berkembang menjadi pribadi dewasa  yang sehat secara mental. Kesehatan mental itu sendiri pada dasarnya bergantung kepada kemampuan seseorang melakukan adaptasi.Kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan merupakan dinamika kepribadian seseorang individu. Adaptasi merupakan organisasi yang dinamis serta  ekspresi dari dorongan-dorongan atau motif yang ada dalam diri seseorang, yang mewakili hati nurani dan kesadaran dirinya. Setiap pribadi  bertugas mengembangkan potensi hati nurani dan kesadaran untuk mencapai titik tertinggi sebagai pribadi yang kuat, pribadi yang dapat menjalani kehidupan dengan damai dan tentram.  Dengan kata lain, setiap individu bertugas melakukan pengkondisian (conditioning) tersalurkannya pembinaan dan pengembangan potensi hati nurani dan kesadaran individu  yang kemudian melahirkan kebebadan berkehendak dan berkreasi. Kondisi sosial yang tepat dibutuhkan untuk mendukung tercapainya aktualisasi diri ke tingkat lebih tinggi.
   Setiap pribadi  pada akhirnya harus menjalani proses aktualisasi diri.  Seseorang yang telah mencapai aktualisasi diri memiliki pengetahuan yang realistis mengenai dirinya dan mampu menerima diri apa adanya (berdamai dengan dirinya sendiri). Dialah orang  yang telah menjalani pengalaman puncak, pengalaman yang umumnya dialami oleh orang yang telah mengaktualisasikan diri sepenuhnya. Pengalaman puncak dapat membantu seseorang mempertahankan kepribadian yang dewasa. Orang seperti ini terpenuhi secara spiritual, nyaman dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain, mencintai dan kreatif, realistis dan produktif.
   Dia adalah individu yang berkemampuan mengembangkan kesadaran diri, hati nurani, kebebasan berkehendak, dan  imajinasi kreatifnya, dalam kerangka pembentukan pribadi yang kuat yang  memiliki kebebasan dan dapat menjalani hidup dengan tentram dan damai. Dialah pribadi yang unggul dan paling sehat secara psikologis. Mental yang  sehat [1] ditandai dengan tiga komponen utama yaitu: adanya rasa harga diri, merasa puas dengan peranan dalam kehidupannya, dan terjalin hubungan baik dengan individu atau orang lain.
   Kebutuhan aktualisasi diri (being needs) ini sifatnya lebih personal dan spiritual. Pada pemenuhan kebutuhan di level ini, manusia akan mengalami semacam peak experience, atau pengalaman puncak.  Sehingga pada orang-orang  ideal, pengalaman puncak dapat saja dialami berkali-kali, dengan intensitas yang makin kuat dan lama. Begitu panjangnya proses untuk memenuhi kebutuhan akan aktualisasi diri.
   Manusia dituntut mampu menghubungkan segala perilakunya dengan dimensi spiritual dalam arti lebih menggali kemampuan dirinya dalam dunia spiritual, pengalaman puncak, dan kesadaran  transendental. Karena, potensi tertinggi dari individu adalah didalam dunia spiritual. Hal ini ditunjukkan dengan berbagai pengalaman seperti kemampuan melihat masa depan, pengalaman mistik, pengembangan spiritualitas, pengalaman puncak, meditasi dan berbagai macam kajian yang bersifat parapsikologi atau metafisik. Kepribadian muslim adalah kepribadian yang mengucapkan dua kalimat syahadat, mengerjakan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan ramadhan, dan haji ke baitullah bagi yang mampu. Kepribadian muslim menimbulkan banyak karakter ideal.[2]  Kepribadian muslim menimbulkan banyak karakter ideal sebagai  manifestasi dari masing-masing rukun Islam.
   Tasawuf memandang pribadiyang utuh adalah manusia sempurna atau al-Insân al-Kâmil. Kesempurnaan manusia,[3] karenanya terletak pada kesucian jiwanya, sehingga ia dapat mewujudkan sifat-sifat ilâhîyah (ketuhanan) dalam dirinya dan mencapai titik kulminasi dalam pengalaman spiritualnya. Kesempurnaan jiwanya menjadi cermin Tuhan dalam melihat diri-Nya.
   Manusia sempurna adalah manusia yang telah mencapai tahapan tajallî. Tajallî  sendiri merupakan hasil dari sebuah proses suluk  yang sangat panjang dan berat dalam bentuk takhallî  dan  tahalli. Takhallî dan  tahallî  yang telah  dirumuskan oleh para sufi lazimnya ditempuh  dengan jalan tawbat, wara’, zuhd, shabr, tawakkal, ridhâ’, syukr, hubb, dan musyâhadah.
   Tasawuf, sebagai induk dari tarekat,  adalah ajaran tentang latihan pengendalian diri (mujâhadah al-Nafs) sehingga manusia mencapai kualifikasi jiwa dekat  (qurb)  dan ma’rifat kepada Allah  sebagai hasil puncak dari proses pensucian jiwa (tazkîyat al-Nafs).  Para sufi memiliki cara-cara yang harus dilakukan untuk mensucikan jiwa. Metode ini merupakan serangkaian pengamalan ibadah yang harus dilakukan dengan istiqâmah. Sesuai dengan pengalaman mereka, pengamalan dimaksudmemungkinkan terjadinya transformasi jiwa, dari jiwa yang rendah ke jiwa yang lebih tinggi.  Tasawuf bertugas mengantarkan seorang sâlik  sampai kepada tahap jiwa yang tertinggi.
Kepribadian muslim secara sederhana dapat dikemukakan sebagai  kepribadian yang tunduk dan  patuh untuk  mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat fardhu, menunaikan zakat, berpuasa di bulan ramadhan, dan haji ke baitullah bagi yang mampu.  Kepribadian muslim merupakanmanifestasi dari masing-masing rukun Islam.  Dengan demikian, kepribadian muslim lebih sederhana dan lebih mudah diupayakan dibandingkan dengan kepribadian manusia sempurna yang dicanangkan tasawuf.



[1] Sukmadinta, Nana Syaodin, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2004, hal. 148.
[2]Mujib, Abdul,  Fitrah dan Kepribadian Islam Sebuah Pendekatan Psikologis, Jakarta, Darul Falah, 1999, hal. 196
[3]al-Jîlî, ‘Abd. al-Karîm,al-Insânal-Kâmilfî Ma‘rifat al-Awâkhir wa al-Awâ’il, jilid II, Beirût, Dâr al-Fikr, t.th., hal. 77. Lihat juga Anwâr al-Za‘bi, Masalat al-Marifat wa Manhaj wa al-Bahts ‘inda al-Ghazâlî, Damaskus, Dâr al-Fikr, 2000, hal. 257. 

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.