Senin, 04 April 2016

KARAKTERISTIK ISLAM INDONESIA

Karakteristik  Islam Indonesia
SUTEJA
Islam yang pertama kali ke Indonesia adalah versi sufisme. Pendapat ini, menurut Karel A. Steenbrink, merupakan pendapat umum para sarjana Barat dan pendapat yang belum pernah dibantah oleh orang Indonesia sendiri. Tesis ini berdasarkan alasan, bahwa dakwah Islam sesudah abad ke-2 Hijriyah terus mengalami kemunduran, dan baru dalam abad ke-7 Hijriyah (13 Masehi) aktif kembali akibat sumbangan dakwah dari ahli tasawuf dan ahli tarekat.[1] Terdapat kesepakatan di kalangan sejarahwan dan peneliti, orientalis dan cendekiawan Indonesia bahwa tasawuf adalaf fakta terpenting bagi tersebarnya Islam secara luas di Asia Tenggara.[2] 
Proses  islamisasi Asia Tenggara berbarengan dengan masa merebaknya tasawuf abad pertengahan dan pertumbuhan tarekat. Tentunya, perjalanan Islam ke Indonesia melalaui Persia dan anak benua India ketika itu dicatat sangat berorientasi pada tasawuf.  Kitab-kitab yang berhasil menggabungkan fikih dengan amalan-amalan akhlak merupakan pelajaran utama di pesantren-pesantren, pada masa-masa sesudahnya.
Pondok pesantren lahir dan berkembang semenjak masa-masa permulaan kedatangan Islam di Indonesia. Pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pusat penyebaran agama Islam lahir dan berkembang semenjak masa-masa permulaan kedatangan agama Islam di Nusantara. Lembaga ini berdiri untuk pertama kalinya di zaman  Walisongo.  Syaikh Mawlana Malik Ibrahim (w.1419 M.) dianggap sebagai pendiri pesantren yang pertama di Jawa.[3] Lembaga pendidikan ini telah berkembang khususnya di Jawa selama berabad-abad.
Sunan Ampel, salah seorang Walisongo membangu pesantren  di daerah Kembangkuning  Ampel Denta Surabaya.[4] Pesantren inilah yang melahirkan kader-kader seperti Sunan Bonang dan Sunan Giri. Sunan Giri, setelah tamat berguru kepada Sunan Ampel dan Mawlana Ishak,   mendirikan pesantren di Desa Sidomukti Gresik.  Pesantren itu sekarang lebih dikenal dengan sebutan Pesantren Giri Kedaton.[5]  Raden Fatah adalah termasuk murid Sunan Ampel. Setelah mendapatkan ijazah dari sang guru,   ia mendirikan pesantren di Desa Glagah Wangi, sebelah Selatan Jepara (1475 M.). Di Pesantren ini pengajarannya terfokus kepada ajaran tasawwuf para  wali  dengan sumber utama Suluk Sunan Bonang  (tulisan tangan para wali). Kitab yang dipergunakan di pesantren ini adalah Tafsir al-Jalalayn.[6] Ketika Demak dipimpin oleh Sultan Trenggono (memerintah 1521 – 1546 M.)  Fatahillah  atau Fadhilah Khan  yang dipandang ‘alim dan dihormati masyarakat dipercaya untuk mendirikan pesantren di Demak.[7]
Walisongo adalah laksana anak cucu dan murid al-Ghazali yang sangat terpikat kepadanya. Karenanya, mereka tetap berada dalam jalur nenek moyang mereka yang loyal kepada madzhab al-Syafi’i dalam praktek syari’at dan al-Ghazali dalam aspek tarkat. Mereka kemudian menjadikan  karya-karyanya:  Ihya’ ‘Ulum al-Din, Bidayat al-Hidayah,  dan  Minhaj al’Abidin sebagai inspirasi dalam menyelenggarakan pengajaran dan pendidikan Islam, disamping kitab-kitab andalan Ahlussunnah lainnya,  Qut al-Qulub  (karya Abu Thalib al-Makki) dan  al-Washaya (karya al-Muhasibi).[8]
Satu abad setelah masa Wali Songo,  abad 17, Mataram memperkuat pengaruh ajaran para wali.  Pada masa pemerintahan Sultan Agung (memerintah 1613-1645 M.) mulai dibuka kelas khusus bagi para santri untuk memperdalam ilmu agama Islam (kelas takhashshush) dengan spesialiasi cabang ilmu tertentu,   serta  pengajian tarekat,[9] atau pesantren tariqat.[10]  Dia menyediakan tanah perdikan bagi kaum santri serta memberi iklim sehat bagi kehidupan intelektualisme keagamaan (Islam) hingga berhasil mengembangkan tidak kurang dari 300 buah pondok pesantren.[11]
Pada tahap-tahap pertama pendidikan pesantren memang masih memfokuskan dirinya  kepada upaya pemantapan iman dengan latihan-latihan ketarikatan  daripada menjadikan dirinya sebagai pusat pendalaman Islam sebagai ilmu pengetahuan atau wawasan.  Sebagai contoh Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon. Pesantren tertua di Jawa Barat ini  didirikan pada tahun 1817 M. oleh Ki Jatira (salah seorang murid Maulana Yusuf dan sekaligus  utusan Kesultanan “Hasanuddin” Banten).  Seperti banyak dikemukakan dalam perjalanan sejarah, bahwa seputar abad ke-17 dan ke-18 M., dimana pesantren mulai dirintis, kondisi masyarakat pada umumnya masih demikian kental dengan tradisi mistik yang kuat.[12]
Eksistensi pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan Islam mistik saat itu  dikarenakan oleh sebab-sebab  yang berasal dari  luar pesantren.  Sebab-sebab  dimaksud adalah  langkanya literatur keislaman di Jawa ketika itu sebagai konsekuensi logis dari  kurangnya kontak antar umat Islam di Jawa dengan Timur Tengah, yang disebabkan oleh politik pecah belah Belanda yang tengah berusah keras  menunjang penyebaran agama Kristen di Nusantara.[13]
Perkembangan ilmu di pesantren sangat tergantung kepada kealiman kyainya. Kyai dan ulama Indonesia pada umumnya memasukkan dan mengajarkan ilmu agama di pesantren masing-masing setelah mempelajarinya di Mekkah, Madinah, Kairo, Baghdad, ataupun pesantren-pesantren lain yang memiliki ilmu yang lebih luas. Bahkan, ada yang  melakukan studi sendiri dengan alat yang telah mereka  miliki. [14]
Perkembangan pada masa-masa selanjutnya berhasil mencatat pesantren sebagai lembaga pendidikan agama (Islam) yang mampu melahirkan suatu  lapisan  masyarakat  dengan tingkat kesadaran dan pemahaman keagamaan (Islam)  yang relatif utuh dan lurus.[15]  Di sisi lain,  sebagai salah satu lembaga pendidikan yang memegang peranan penting dalam penyebaran ajaran agama (Islam) prinsip dasar pendidikan dan pengajaran pesantren adalah pendidikan rakyat. Dan, karena tujuannya memberikan pengetahuan tentang agama,  ia tidak memberikan pengetahuan umum.[16]
Abad ke-19 M. adalah abad permulaan adanya kontak umat Islam di Indonesia dengan dunia Islam, termasuk  Timur Tengah. Selain kontak melalui jamaah haji Indonesia, juga melalui sejumlah pemuda Indonesia yang belajar di Timur Tengah (Makkah).  Mereka sebagian besar berasal dari keluarga pesantren.[17] Di antara mereka yang sukses secara gemilang adalah Syaikh Nawawi Tanara Banten (1815-1879 M./1230-1314 H.),  Syaikh Mahfudz al-Tirmisi (w. 1919 M.),  Syaikh Ahmad Chothib Sambas (asal Kalimantan),  dan Kiai Cholil Bangkalan (w. 1924 M.). Pada abad ke-19 M. mereka adalah orang-orang yang mengisi kedudukan  sebagai  imam dan pengajar di Masjid Haram Makkah al-Mukarromah.[18]
Generasi pertama orang Indonesia yang belajar di Tanah Arab itu,  hanya menyerap sebagian tradisi keilmuan yang ada, terutama yang cocok dengan budaya lamanya khususnya tasawuf, kosmologi, tarekat dan ilmu-ilmu gaib terkait, juga ilmu fiqh.[19] Generasi  pertama  itu kemudian melahirkan para santri sebagai murid langsung,  yang selanjutnya dikenal sebagai generasi kedua dalam jajaran pelopor dan pendiri pesantren di Jawa dan Madura.  Mereka adalah  KH. A. Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang (1871-1947 M.),  KH. Abdul Wahab Hasbullah (Surabaya),    dan KH. Bisyri Syamsuri. 
Pesantren Tebuireng didirikan oleh KH. A. Hasyim Asy’ari pada tahun 1899 M.  Pesantren itu  menawarkan panorama yang berbeda dari pesantren-pesantren sebelumnya. Ia mencoba merefleksikan hubungan berbabagai dimensi yang mencakup ideologi, kebudayaan serta pendidikan.[20] Namun demikian, ia tetap menyuarakan kebangkitan moralitas dan kebangkitan ilmu (pendekatan keilmuan) yang sesuai dengan ajaran al-Ghazali.[21] Karenanya, kaitan antara  al-Ghazali dengan pesantren adalah kaitan yang hidup sampai pada masa kini.[22]
Pengamatan terhadap kurikulum yang dipergunakan pendidikan pesantren, ditemukan kebenaran anggapan bahwa pondok pesantren dengan  kurikulum yang dikenal sekarang memang sudah ada sejak zaman walisongo (Abad ke-15 dan 16 M.).[23]  Di antara naskah-naskah Islam paling tua, dari Jawa dan Sumatera, yang masih ada sampai sekarang  (dibawa ke Eropa sekitar tahun 1600 M.) ditemukan tidak adanya kesinambungan ajaran-ajaran ketuhanan atau aqidah, fiqih dan tasawuf.[24]
Kitab-kitab karya al-Ghazali merupakan kitab yang paling banyak dipelajari sebagai rujukan dalam mendalami rasionalisme kalam sunni dan ilmu fiqhnya,  dengan intuisi  kaum sufi.[25]  Ihya’ ‘Ulum al-Din  karya al-Ghazali Karya-karya al-Ghazali,   yang tertuang dalam Ihya’ ‘Ulumal-Din, merupakan karya fikih-sufistik yang sangat mendominasi kurikulum pendidikan pesantren. Sepanjang tujuh abad lamanya (abad ke-13 sampai ke-19 M.), fikih-sufistik itu berkelindan dengan mistik Jawa dan budaya-budaya lain di Indonesia, sehingga ia tidak hanya memasuki dunia pesantren, tetapi juga seluruh kehidupan umat Islam Indonesia.
Kaitan antara al-Ghazali dan pendidikan pesantren masih tetap hidup dan dinamis. Ajaran al-Ghazali, seperti yang tertuang dalam  Ihya’ ‘Ulum al-Din, Bidayat al-Hiadayah,  dan Minhaj al-‘Abidin  merupakan  ajaran yang bersifat baku di dalam kajia-kajian di pesantren.[26]   Beberapa pesantren mendasarkan pemilihan materi pendidikan dan pengajarannya kepada pendapat al-Ghazali dalam karya utamanya  Ihya’ ‘Ulum al-Din  yang membagi ilmu dalam dua kategori yaitu ilmu akhirat dan ilmu dunia.[27]  Konsepsi dan sifat ilmu itu membawa pengaruh kepada sikap dan pemberian nilai terhadap ilmu itu sendiri ataupun tokohnya dan juga nilai mempeljarainya dan cara belajarnya. Ilmu di pesantren tidak dipandang sebagai value-free   tetapi full of value.
Selain kitab-kitab karya al-Ghazali, sampai saat ini di seluruh pesantren masih sangat kuat pengaruh kitab Ta’lim al-Muta’allim fi Thariq al-Ta’allum karya al-Zarnuji. Kitab ini merupakan pedoman bagi santri dalam menuntut ilmu di pesantren, bersama-sama dengan kyai dan sesama santri. Di antara materi kitab ini adalah adanya penekanan untuk menghormati dan mematuhi guru dan  kitab-kitab yang diajarkannya.[28] Karena itu,  pemberian ilmu yang bersifat penalaran akal di pesantren agak tersingkir, dan sebaliknya hal-hal yang bersifat dogmatis lebih mendalam.[29]



[1] Karel A. Steenbrink,  Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia Abad  ke-19,  Jakarta, Bulan Bintang, 1984, hal. 173.
[2] Shihab, Ali,  Islam Sufistik,  Bandung, Mizan, 2001, hal. 36.
[3] Kafrawi,  Pembaharuan SistimPendidikan Pondok Pesantren sebagai Usaha Peningkatan Prestasi Kerja dan Pembinaan Kesatuan Bangsa  (Jakarta : Cemara Indah, 1978), h. 17.  Syaikh Mawlana Malik Ibrahim  dipandang  sebagai Spiritual Father Wali Songo,  gurunya guru tradisi pesantren di tanah Jawa (Abdurrahman Wahid,  Bunga Rampai Pesantren  (Jakarta : Dharma Bhakti, 1399 H., h. 52. )
[4] Marwan Saridjo, Sejarah Pondok Pesantren  (Jakarta : Dharma Bhakti, 1982), h. 25.
[5] Abu Bakar Atjeh, seperti dinukil Marwan,  melukiskan bahwa pesantren Giri Kedaton sebagai pesantren yang termasyhur di wilayah Jawa Timur. Para santri yang datang untuk belajar di sana berasal dari daerah yang sangat beragam seperti : Madura, Lombok, Bima, Makasar, dan Ternate (Halmahera), selain daeri daerah-daerah di Jawa Timur sendiri. Sampai dengan abad ke-17 M. pesantren ini masih tetapharum dan didatangi oleh para santri untuk menimba ilmu agama Islam di sana. (Marwan Saridjo, h. 25).
[6] Mahmud Yunus,  Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia  (Jakarta : Dharma Bhakti, 1982), h. 257. Ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran Ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salif ortodoks. Ia menguasai ilmu fiqh, ushuluddin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat cinta. 9Mastuki,  Intelektualisme Pesantren,  hal. 24.)
[7] Marwan Saridjo Op. Cit., h. 27.
[8] Abdullah bin Nuh,  Sejarah Islam di Jawa Barat Hingga Masa Kejayaan Kesultanan Banten,  (Bogor, 1961), hal. 11-12.              
[9] Mahmud Yunus, Op. Cit.,  h. h. 257.
[10] Lihat Ensiklopedi Islam  (Jakarta : Ikhtiar Baru, 1993).
[11] Abdurrahman Saleh, dkk.,  Pedoman Pembinaan Pondok Pesantren  (Jakarta : Binbaga Islam, 1982), h. 6.
[12] Abu Bakar & Shohib Salam, “ Pesantren Babakan Memangku Tradisi dalam Abad Modern “, dalam, Agus Sufihat, dkk., Aksi-Refleksi Khidmah NahdhatulUlama 65 Tahun  (Bandung : PW NU Jawa Barat, 1991), h. 44.
[13] M. Natsir, Islam dan Kristen di Indonesia  (Jakarta : Bulan Bintang, 1969), h. 21.
[14] Pada wal abad ke-20 M., Pesantren Tebuireng di bawah pimpinan  KH. A. Wahid Hasyim   sejak tahun 1916 M  telah berhasil melakukan perubahan  yang radikal  secara kelembagaan berkenaan dengan kurikulum pesantren.  Dia memasukkan pendidikan persekolahan dengan mendirikan Madrasah al-Nidzamiyah di dalam lingkungan pesantren.  Di madrasah itu diajarkan berbagai mata pelajaran yang oleh seluruh komunitas pesantren saat itu dihukumi haram dan yang mempelajarinya divonis kafir. Mata pelajaran yang dimaskud  adalah :  Berhitung, Ilmu Bumi, Sejarah, Bahasa Melayu, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Belanda. (Abu Bakar Atjeh,  Sejarah Hidup KH.A. Wahid Hasyim dan Karangan Tersiar,  Jakarta, Panitia Buku Peringatan KH.A. Wahid Hasyim, 1987, hal. 95 dan 98).
[15] Slamet  Effendy Yusuf, dkk.,  Dinamika Kaum Santri Menelusuri Jejak dan Pergolakan internal NU.,  h. 4.
[16] Djumhur, I,  Sejarah Pendidikan  (Bandung : CV Ilmu, 1976, cetakan ke-6), h. 111-112.
[17] Slamet  Effendy Yusuf, dkk.,  Dinamika Kaum Santri Menelusuri Jejak dan Pergolakan internal NU,  h. 4.
[18] Zamakhsyari Dhofier,  Tradisi Pesantren  (Jakarta : LP3ES, 1982), h. 85.
[19] Martin Van Buinessen,  Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat,  (Bandung, Mizan,  1999), hal. 32.
[20] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam  (Bandung : Remaja Rosda Karya, 1992), h. 194. Pendirian pesantren ini dipandang sebagai upaya penting komunitas pesantren karena mulai memperlihatkan sikap pesantren menentang hegemoni penjajah. Boleh dijuga diasumsikan motivasi politik yang ditujukan Pesantren Tebuireng adalah manifestasi kesadaran diri dan percaya diri paling tertinggi dari kaum pesantren. (Abdurrahman Mas’ud,  Sejarah dan Budaya Pesantren,  h. 20).
[21] Abdurrahman Wahid,  “Antara Tasawuf Sunni dan Tasawuf Falsafi”,  dalam Alwi Shihab, Islam Sufistik,  (Bandung: Mizan,  2001), hal. xxiv-xxv.
[22] Abdurrahman Wahid,  “Antara Tasawuf Sunni dan Tasawuf Falsafi”,  dalam Alwi Shihab, Islam Sufistik,  (Bandung: Mizan,  2001), hal. xxiii.
[23] Abdurrahman Wahid, “Martin Van Bruinessen dan Pencariannya”, dalam Martin Van Bruinessen, Ikitab Kuning Pesantren dan Tarekat,  hal. 13.
[24] Martin Van Bruinessen, Ikitab Kuning Pesantren dan Tarekat,  hal. 190.
[25]  Nurcholis Madjid, “ Tasauf dan Pesantren”, dalam, Dawam Rahardjo, Pesantren dan Pembaharuan,  Jakarta, LP3ES,  1988, hal. 105.
[26] Abdurrahman Wahid, “Antara Tasawuf Sunni dan Tasawuf Falsafi”,  dalam Alwi Shihab, Islam Sufistik,  (Bandung: Mizan,  2001), hal. xxiii.
[27] Hbib Chirzin,  “Agama Ilmu dan Pesantren”, dalam,  Dawam Rahardjo, Pesantren dan Pembaharuan,  Jakarta, LP3ES,  1988, hal. 84.
[28] al-Zarnuji,  Ta’lim al-Muta’allim fi Thariq al-Ta’allum , hal. 26-27.
[29] Madjid, Nurcholis,  “Keilmuan Pesantren Antara Materi dan Metodologi”,  dalam, Majalah PESANTREN, No. Perdana, Oktober/Desember, 1984, hal. 18. 

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.