Rabu, 13 April 2016

ISLAM NUSANTARA

ISLAM NUSANTARA
SUTEJA
Abad pertama islamisasi Asia Tenggara berbarengan dengan masa merebaknya tasawuf abad pertengahan dan pertumbuhan tarekat. Beberapa tokoh yang berpengaruh secara signifikan antara lain: al-Ghazali (450-505 H./1058-111 M.), yang telah menguraikan konsep moderat tasawuf  akhlaqi  yang dapat diterima di kalangan para fuqaha’, Ibnu ‘Arabi (560-638 H./1164-1240 M.), yang karyanya sangat mempengaruhi ajaran hampir semua sufi, serta para pendiri tarekat semisal ‘Abd. al-Qadir al-Jaylani (470-561 H./10771-165 M.) yang ajarannya menjadi dasar tarekat Qadiriyah, Abu al-Najib al-Suhrawardi (490-563 H./1096–1167 M.),  Najmudddin al-Kubra (w. 618 H./1221 M.) yang ajarannya sangat berpengaruh terhadap tarkeat Naqsyabandiyah, Abu  al-Hasan al-Syadzali (560-638 H./1196-1258 M.) sufi asal Afrika dan pendiri tarekat Syadzaliyah,  Bahauddin al-Bukhari al-Naqsyabandi (717-781 H./1317-1389 M.), dan ‘Abdullah al-Syattar (w. 832 H./1428 M.).
Islam yang diterima orang-orang Asia Tenggara yang pertama memeluk Islam barangkali sangat diwarnai oleh berbagai ajaran dan amalan sufi.  Di Indonesia dan khususnya di Jawa, awal mula perkembangan agama (Islam)  adalah  dalam bentuk  yang sudah bercampur baur dengan  unsur-unsur India dan Persia,  terbungkus dalam praktik-praktik keagamaan. Islam yang datang ke Indonesia dan khususnya di Jawa adalah Islam yang bercorak sufistik.   
Islam datang masuk ke Indonesia melalui jalur mistisisme India dan disambut oleh kepercayaa lama yang sudah berkembang yaitu Hindu, Buddha dan anismisme. Namun lama kelamaan Islam berhasil menajdikan dirinya sebagai  nafas kepercayaan-kepercayaan lama tersebut. Terlebih-lebih setelah berdirinya kerajaan Islam Demak dipimpin Sultan al-Fattah yang didukung sepenuhnya oleh Dewan Walisongo.
Para sufi (wali), ulama dan kyai di tanah Jawa  cenderung bersikap simpatik dan akomodatif terhadap tradisi budaya lokal. Tradisi mendoakan orang yang sudah meninggal atau menghormati arwah para leluhur dalam agama-agama Jawa, juga dilestarikan. Bahkan sekarang mendapatkan bentuknya yang khas karena adanya islamisasi budaya.

Islam berhasil melakukan akulturasi islamisasi budaya lokal. Segala bentuk tradisi dan budaya lokal tidak satupun yang luput dari usaha besar, termasuk didalamnya upacara:  selametan  orang yang meninggal dunia (tahlilan), upacara nujuh bulan ibu hamil, tradisi sedekah bumi, tradisi nadran, dan sebagainya. (ibnu pakar).

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.