Rabu, 13 April 2016

من عرف نفسه عرف ربّه

MENGENALI DIRI UNTUK MENGENALI ALLAH
                                                                         SUTEJA
Kebahagiaan  hakiki para sufi muntahi (al-’Arif billah) adalah ketika  berjumpa (musyahjadahj) dengan Allahj, al-Khaliq, al-Mahbub (Kekasih Abadi). Oleh karenanya, menjadi pribadi mukmin dengan jiwa yang muthmainnah dan suci menjadi target pengembangan pribadi setiap individu (QS. al-Fajr (89): 27-28). Para Sufi mendapat ketentraman dan kebahagiaan melalui penyucian jiwa (tazkiyyat al-Nafs), melepaskan diri dari  ketergantungan pada kehidupan hedonistik untuk mendekatkan diri pada Alah. Selebihnya, ia senantiasa merasakan kehadiran-Nya, bahkan  bersatu   dengan-Nya. Bersatu yang dimaksud adalah meng-internalisasi-kan sifat-sifat  Allah di dalam diri yang termanifestasikan dalam bentuk  akhlak terpuji, kemudian menjalankan tugas dan peran sebagai khalifah   Allah SWT.
Setiap orang yang ingin mengenal dirinya dan keajaiban karya Allah SWT dalam dirinya minimal harus memiliki tiga kriteria. Pertama, memiliki pengetahuan bahwa hanya Allah yang dapat membuat manusia menjadi sempurna. Kedua, memiliki pengetahuan bahwa ilmu Allah luasnya tidak terbatas. Ketiga, memiliki pengetahuan bahwa ada kebenaran sekecil apapun pada setiap ciptaan Allah. “Jika kita ingin mengenal diri, maka ketahuilah dua hal dengan sebenar-benarnya, pertama,  hati, dan kedua, jiwa (ruh). 
Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh kesiapannya mengenal Allah, tetapi dalam kesiapannya mengenali hatinya. Jika manusia telah mengenali hatinya, maka ia telah mengenali dirinya sendiri. Jika ia telah mengenali dirinya sendiri, maka ia telah mengenal Tuhannya.Untuk mendapatkan ketiga kriteria di atas tidak ada jalan kecuali harus berusaha melalui berbagai jalan, salah satunya melalui jalan yang ditawarkan dalam ilmu tasawuf, yakni thoriqot (tarekat).
Musuh manusia  itu empat yaitu dunia, syaitan, diri sendiri, dan hjawa nafsu
Senjata   dunia adalah: makhluk. Untuk mengalahkanya adalah ‘uzlah
Senjata syaitan adalah perut kenyang. Untuk engalahkannya adalah menahan rasa lapar
Senjata jiwa  adalah berjaga tidur. Untuk megalahkannya adalah berjga di malam hari


Senjata hawa nafsu adalah ucapan Untuk megalahkannya adalah dengan diam (tidak berbicara) dari yang tidak perlu

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.