Selasa, 01 Maret 2016

ZIARAH KE MAKAM SUNAN GUNUNG JATI

                                        ZIARAH KE MAKAM SUNAN GUNUNG JATI
Aura sakral terasa di komplek Astana Sunan Gunung Jati Cirebon. Ucapan doa dan dzikir keluar tak henti-henti dari mulut para peziarah. Sebagian yang lain membaca ayat-ayat suci al-Qur’an. Kesucian semakin bertambah manakala sejumlah peziarah yang sedang mengalami ekstase dalam kondisi dzikrullah dengan ayunan kepala dan tubuh seraya menyebut keesaan dan kebesaran Tuhan. Seorang ibu yang kulit mukanya mulai mengeriput, terus meneteskan air mata, tak sedikit di antara mereka, terus memilin butir-butir tasbih di tangan kanannya seraya memejamkan mata demi menjaga kekhusyukan.
Tiap hari, ratusan peziarah berdatangan. Mereka datang tidak hanya dari wilayah III Cirebon, peziarah juga datang dari daerah lain di Jawa dan luar Jawa. Sering pula terlihat peziarah mancanegara, seperti peziarah dari Cina. Peziarah dari Cina, biasanya datang untuk nyekar ke makam Putri Nio Ong Tien, Putri Kaisar Hong Gie dari Dinasti Ming yang diyakini sebagai salah satu istri Sunan Gunung Jati. Mereka membakar hio dan melakukan persembahyangan sesuai tradisi agamanya.
Dalam waktu-waktu tertentu, peziarah yang datang ke komplek Astana sangatlah banyak jumlahnya. Menariknya, siklus itu berjalan secara periodik setiap tahun, seperti di bulan Syawal, Maulid atau 1 Muharram, atau setiap malam Jum’at biasa maupun Jum’at Kliwon. Para pengamat dan peneliti akan terheran-heran melihat ratusan bahkan sampai ribuan orang datang untuk melakukan ziarah, sehingga komplek Astana dipenuhi oleh peziarah yang datang secara bergantian. Semua peziarah yang datang memiliki berbagai tujuan dan motivasi, mulai dari yang sifatnya sederhana seperti hanya berwisata melihat bangunan arsitektur yang unik dan benda-benda purbakala, sampai dengan yang memiliki keinginan-keinginan yang berat, seperti peziarah yang sedang menghadapi persoalan dalam hidup, usahanya bangkrut atau ingin naik pangkat, mendapat jodoh dan sebagainya. Mereka yang datang berziarah ke komplek Astana Sunan Gunung Jati ingin memperoleh barokah (ngalap berkah) dari karomah atau kemuliaan sang sunan dan para luluhur Cirebon yang dikuburkan di komplek Astana Sunan Gunung Jati.
Bagi peziarah, makam para wali khususnya diyakini memiliki karomah atau nilai kekeramatan yang tidak dimiliki oleh orang-orang biasa, karena kepribadian para wali semasa hidupnya yang mencurahkan seluruh jiwa raganya untuk menyebarkan dan menegakkan ajaran Islam. Karena nilai kekeramatan itulah makam-makam tersebut dipercaya dapat mempermudah terkabulnya doa yang dipanjatkan. Begitu juga dengan makam Sunan Gunung Jati yang dipercaya memiliki derajat karomah yang sangat tinggi. Pertautan masa yang teramat jauh berabad-abad lamanya antara Sunan Gunung Jati dengan peziarah khususnya bukanlah masalah yang akan mengurangi keyakinan. Mereka berkeyakinan bahwa peninggalan sang wali bisa digunakan sebagai media untuk berkomunikasi dalam rangka mengharapkan ‘berkah dan karomah’. Salah satunya adalah dengan cara ziarah mengunjungi makam dan peninggalan beliau.
Ziarah adalah sebuah fenomena yang selalu disaksikan oleh manusia sepanjang sejarah anak Adam. Ziarah tidak terbatas hanya pada masyarakat muslim atau umat beragama lainnya. Akan tetapi menjadi perhatian berbagai macam masyarakat dengan berbagai kecenderungan pikirannya. Melakukan ziarah adalah tindakan yang disengaja oleh setiap pelakunya. Orang yang melakukan ziarah disebut peziarah. Mereka adalah salah satu “aktor kehidupan” yang memerankan sebuah panggung drama kehidupan, yang memiliki hasrat, harapan dan kehidupan yang unik. Mereka menciptakan dunia dan struktur sosialnya sendiri, termasuk dunia simbolnya.
Berbagai kajian dapat digunakan untuk mengungkap fenomena peziarah. Salah satunya adalah dengan kajian disiplin ilmu komunikasi. Setiap praktek komunikasi pada dasarnya adalah suatu representasi budaya. Komunikasi dan budaya adalah dua entitas yang tak terpisahkan, sebagaimana yang dikatakan Edward T. Hall, “budaya adalah komunikasi dan komunikasi adalah budaya” (Mulyana, 2005:14). Budaya dan komunikasi mempunyai hubungan yang timbal balik. Diskursus tentang komunikasi, tidak dapat terhindar dari diskursus budaya.
Ziarah dan peziarahnya merupakan suatu kehidupan yang unik dan merupakan subkultur budaya yang khas. Fenomena sosial tersebut dapat ditinjau dari proses interaksi simbolik di antara mereka. Pendekatan interaksi simbolik sebagai suatu pendekatan komunikasi dapat digunakan untuk menjelaskan bagaimana peziarah berinterkasi dengan sesama peziarah, dengan para kuncen (juru kunci makam) dan mungkin berinteraksi dengan “yang ada di dalam kubur”. Pendekatan interaksi simbolik tidak hanya menganalisis kehadiran manusia di antara sesamanya, tetapi juga motif, sikap, juga nilai yang mereka anut.
Seperti komunitas lainnya, para peziarah di komplek Astana Sunan Gunung Jati mempunyai budaya tersendiri yang meliputi seluruh perangkat nilai dan perilaku mereka yang unik. Mereka menciptakan panggung-panggung sendiri yang membuatnya bisa tampil sebagai sebuah komunitas. Pada panggung inilah, mereka keluar dari panggung kehidupan sebenarnya yang dijalani sehari-hari. Panggung-panggung ini berkemampuan menjadi pemompa semangat (motivasi), pemberi solusi pada masalah yang sedang dihadapi (to solve the problems), dan memberikan sedikit pelepas dahaga serta menjadi pegangan dalam menjalani peran di panggung kehidupan yang sebenarnya yakni kehidupan sehari-hari. Bagaikan seorang aktor, mereka menunjukkan atribut mereka melalui bahasa verbal, maupun nonverbal, busana, pembawaan diri, pernik atau aksesoris dan alat atau simbol-simbol lainnya.

Ziarah ke makam Sunan Gunung Jati Cirebon adalah sebuah tradisi yang masuk kedalam budaya keagamaan umat Islam khususnya. Para paziarah yang datang untuk melakukan aktivitas tahlilan, dizkrullah ataupun memanjatkan doa kepada Allah SWT, latar belakang kehidupan mereka sangat beragam dari mulai kelas petani, nelayan, pedagang, pengusaha, karyawan swasta, PNS, TNI, POLRI, Presiden/Wakil Presiden, dan bahkan para kyai dan ulama. Mereka datang dengan berbagai kepentingan (motivasi atau niat) yang hanya dapat dipahami dari ungkapan-ungkapan atau bahasa verbal maupun nonverbalnya.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.