Selasa, 22 Maret 2016

TAUBAT (TAWBAT)

TAUBAT (TAWBAT)
SUTEJA
 Syeikh  Muhyiddin Jawi, yang diyakini oleh orang-orang Jawa sebagai wali kesepuluh setelah Wali Songo,[1] memandang bahwa manusia itu terdiri dari bahan dasar madzi, mani, wadi, dan ruh manikem. Apabila telah melewati 40 hari dalam rahim ibu, Allah memerintahkan malaikat untuk memperlihatkan kepada ruh itu tempat kembalinya, nasibnya, kematiannya, kemiskinannya, dan kekayaannya.  Setelah keempat unsur itu menyatu dengan ruh di dalam rahim ibu, unsur tanah berubah menjadi kulit, api menjadi daging, angin menjadi darah, dan air menjadi tulang.   Kemudian keempat unsur itu secara terpisah membentuk: nafsu ammarah, nafsu lawwamah, nafsu sufiyah, dan nafsu muthma’innah.[2] Untuk dapat mencapai kesempurnaan yang diajarkan para sufi, setiap orang harus melalui tahapan-tahapan tertentu yang dimulai dengan tawbat nasuha
  Tawbat  adalah tangga pertama dari berbagai Maqam sufi.[3] Bagi para salik, ia  adalah tangga pertama dalam perjalanan mencari Allah.[4]Tawbat  berarti meninggalkan perbuatan-perbuatan yang dicela oleh syara’ menuju perbuatan yang terpuji.[5] Syarat utama  taubat adalah adanya penyesalan terhadap kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat, meninggalkan keselahan secara  spontan dan kemauan untuk tidak mengulangi kesalahan.[6]  Bagi Abu Muhammad  Sahl bin ‘Abd. Allah al-Tusturi (w. 272/273 H.),[7]tawbat adalah sikap dan tindakan tidak menunda-nunda (تسويف), atau tidak melupakan dosa yang telah diperbuat.[8]
   Bagi Dzu al-Nun bin Ibrahim al-Mishri (w. 264H./861 M.)[9] taubat itu dilakukan karena seseorang salik mengingat sesuatu dan terlupakan mengingat Allah.[10] Dia kemudian membagi taubat menjadi taubat kelompok awam dan tawbat kelompok khash (awliya`).  Kelompok orang khash  melakukan pertobatan karena dia lupa mengingat Allah sedangkan kelompok awam bertobat karena mengerjakan perbuatan dosa.[11]  Bagi Dzu al-Nun bin Ibrahim al-Mishri, hakikat tawbat adalah keadaan jiwa yang merasa sempit hidup di atas bumi karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat.[12]
  Tawbat bagi orang awam dilakukan berkaitan dengan dosa-dosa yang dilakukan oleh tubuh jasmani. Bagi seorang pemula (mubtadi’), taubat dilakukan dalam usaha menyesali sifat-sifat tercela yang  merusak seperti dengki, sombong, riya’ dan sebagainya. Pada tingkatan selanjutnya atau mutawassith, taubat dilakukan dalam rangka menolak bujukan dan rayuan setan. Pada tingkat paling tinggi (muntahi) tawbat dilakukan karena kelengahannya dari mengingat Allah.[13]
   Al-Ghazali (w. 505 H./1111 M.) merumuskan hakikat tawbat sebagai  tindakan kembali dari kemaksiatan menuju kepada kepatuhan kepada Allah  dan meninggalkan jalan yang menjauhi Allah menuju kepada jalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Untuk itulah diperlukan tiga perangkat pokok berupa ‘ilmu hal dan ‘amal. [14] Taubat, baginya, tidak pernah ada ahirnya karena pada hakikatnya ia merupakan pengulangan-pengulangan meskipun tidak ada dosa yang mendahului sebagai penyebabnya.[15] Al-Ghazali menyarankan sebelum melakukan tawbat dari perbuatan maksiat, hendaknya seseorang terlebih dahulu melepaskan diri dari cinta dunia dan kekuasaan sebagai prasyarat mutlak. [16]
    Tawbat pada umumnya dimulai dengan meninggalkan perbuatan maksiat dan berpaling darinya. Kemudian dilanjutkan dengan meninggalkan baik ucapan ataupun perbuatan mubah yang tidak mengandung manfaat, membersihkan jiwa dari kecenderungan terhadap kehidupan duniawi agar dapat dengan mudah menuju kedekatan dengan Allah.[17]
   Di kalangan sufi diberlakukan  klasifikasi tawbat berdasarkan tingkatannya menjadi  tawbat  (توبة), inabah    ( إنابة )dan awbah (أوبة). Tawbat dimaksudkan bagi seseroang yang melakukan pertobatan karena  merasakan takut terhadap siksa Allah. Tingkatan kedua adalah inabah,  yaitu tawbat yang dilakukan karena dorongan mengharapkan pahala. Sedangkan tingkatan yang paling tinggi adalah awbah,  yaitu pertobatan yang dilakukan bukan atas dasar kedua alasan tersebut melainkan karena alasan menjaga dan memelihara perintah Allah.[18]Tawbat diperuntukkan bagi kalangan awam orang mu’min, inabat bagi para wali dan awbahbagi para nabi dan rasul Allah.[19]
 Tingkatan kedua adalah inabah  yang merupakan kelanjutan dari taubat. Dalam keadaan demikian seorang salik hendaknya kembali kepada al-Haqq dengan menjaga dan memelihara intensitas tawbat tingkatan awal. Kondisi kejiwaan seorang salik harus semakin tuma’ninah dan ridha`   kepada segala ketentuan Allah, sehingga akan merasakan kemudahan menjalani tingkatan yang terakhir yakni awbah.[20]Inabah  bagi al-Suhrawardi bukanlah hidayah yang bersifat umum, melainkan merupakan hidayah khusus bagi para salik yang benar-benar mencintai Allah (hubb Allah) di atas cintanya kepada selain Dia.[21] Hidayah khusus itu diperoleh berkat usaha yang sungguh dan terus menerus didalam mengendalikan hawa nafsu (mujahadah) dan latihan-latihan spritual (riyadhoh) yang dilakukan dengan baik dan benar sesuai tuntunan dan teladan Rasulullah SAW.[22]
Istilah tawbat yang berlaku di kalangan sufi adalah merupakan ketetapan hati untuk meninggalkan kehidupan duniawi guna mencurahkan dirinya demi mengabdi kepada Allah. Para sufi merumuskan tawbat sebagai usaha menyadari keadaan diri.
Abu Thalib al-Makkiy, seperti dikutip al-Ghazali, mengemukakan ada tujuhbelas dosa yang mengahruskan seseorang harus melakukan tawbat. Ketujuh belas dosa dimaksud diklasifikasikan sebagai berikut :[23]
1.    Empat dosa yang dilakukan oleh hati yaitu : syirik atau mensekutukan Allah, mengulang-ulang perbuatan dosa (maksiat), berputus asa terhadap rahmat Allah, dan merasa aman terhadap perilaku kufur;
2.    Empat dosa yang dilakukan oleh lidah yaitu : bersaksi palsu, menuduh  orang lain berzina, sihir, dan bersumpah palsu;
3.    Tiga dosa yang dilakukan perut yaitu : meminum minuman keras (khamr), mengkonsumsi harta anak yatim, dan mengkonumsi harta riba;
4.    Dua dosa yang dilakukan kemaluan (farji) yaitu : berzina dan homoseksual.


[1] Edi S. Ekajati, Naskah Syaikh Muhyiiddin  (Jakarta : P & K, 1984), h. 27.
[2]Ibid.,  h. 36.
[3] Al-Naqsyabandiy, Jâmi’ al-Ushul  fi al-Awliyâ’ wa Anwâ’ihim wa Awshâfihim wa Ushul Kull Thariq wa Muhimmât al-Murid wa Syuruth al-Syaykh wa Kalimât al-Shûfiyah wa Ishthilahihim wa Anwâ’  al-Tashawwuf  wa Maqâmâtihim  (Mesir : Dâr al-Kutub al-’Arabiah al-Kubrâ, t.th.), h. 15.
[4] Al-Qusyayri,  Op. Cit.,  h. 126.
[5]Ibid., h. 127.
[6]Ibid.,  h. 127.
[7] Siraj al-Din Abu Hafsh ‘Umar bin ‘Aly bin Ahmad al-Mishri, Thabaqât al-Awliyâ’  tahqiq : Mushthafa ‘Abd. al-Qadir ‘Atha’,  (Beirut : Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1998), h. 184.
[8] Al-Qusyayri, Op. Cit.,  h. 130.
[9] Al-Mishriy, Op. Cit.,  h. 173.
[10] Al-Kalabadzi,  Op. Cit.,  h. 109.
[11] al-Mishri, Op. Cit.,  h. 174.
[12] al-Qusyayri, Op. Cit.,  h. 131.
[13] al-Ghazali,   Ihyâ’, Op. Cit., J. IV, h.10-11.
[14]Ibid., h. 149.
[15]Ibid., h. 149.
[16] ‘Abd al-Qadir al-Jaylaniy,  al-Fath al-Rabbâniy (Kairo: al-Halabiy, t.th.), h. 220.
[17] al-Naqsyabandi, Op. Cit.,  h. 194.
[18] al-Qusyayri, Op. Cit.,  h. 129.
[19]Ibid.,  h. 130.
[20] al-Naqsyabandi,  Op. Cit.,  h. 195.
[21]al-Suhrawardi,Op. Cit., h. 305.
[22]Ibid.,  h.307.
[23] al-Ghazali,   Ihyâ’, Op. Cit., J. IV, h.17. 

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.