Rabu, 30 Maret 2016

TASAWUF SEBELUM AL-GHAZALI



TASAWUF SEBELUM AL-GHAZALI
SUTEJA
 Sebelum al-Ghazali, sebenarnya Al-Muhasibi adalah penulis sufi pertama dari barisan terkemuka yang untuk sebagian besar membentuk pola seluruh pemikiran selanjutnya. Bagian terbesar tulisan al-Muhasibi berkenaan dengan disiplin diri (muhasabah) dan karyanya, al-Ri’ayah li Huquq Allah, secara khusus berpengaruh besar pada keputusan al-Ghazali untuk menulis Ihya’ ‘Ulum al-Dîn.[1]
Karya lain al-Muhasibi, Kitab al-Washaya (atau al-Nasha’ih) yang berisi rangkaian nasihat-nasihat tentang tema-tema kezuhudan cukup berpengaruh pada tasawuf al-Ghazali. Pengantar karya al-Muhasibi ini bersifat otobiografis, dan dengan baik sekali telah terkandung dalam pemikiran al-Ghazali ketika menulis al-Munqidz min al-Dhalal.[2] Osman Bakar[3] menguatkan bahwa, pada kenyataannya, ciri otobiografis al-Munqidz al-Ghazali telah dibentuk pada bagian pengantar Kitab al-Washaya al-Muhasibi.[4]
Sufi moderat lain sebelum al-Ghazali adalah Abu Nashr al-Sarraj (w. 378 H./988 M.). Ia merupakan salah seorang penulis teks tertua tentang tasawuf. Karyanya, Kitab al-Luma’, adalah sebuah buku yang sangat berharga mengenai pengantar doktrin-doktrin dan praktek-praktek para sufi, yang berisi banyak kutipan dari berbagai sumber. Karya al-Sarraj tersebut juga memberikan perhatian khusus pada ungkapan-ungkapan teknis kaum sufi di antaranya adalah ungkapan-ungkapan ekstatik Abu Yazid al-Busthami yang interpretasinya dikutip kata demi kata oleh al-Junaydi. Al-Sarraj menutup bukunya itu dengan uraian panjang dan terinci tentang kekeliruan-kekeliruan teori dan praktik yang dilakukan oleh beberapa sufi.[5]
Al-Sarraj hidup tak jauh dari masa keemasan al-Muhasibi dan al-Junaydi. Al-Sarraj juga telah berupaya dengan keras dan sungguh-sungguh membuktikan bahwa tasawuf sepenuhnya sesuai dengan al-Qur’an, Sunnah dan syariah. Banyak sufi terkemuka menjadi muridnya, baik secara langsung maupun tidak langsung.[6]
Sufi moderat lain yang sangat penting sebelum al-Ghazali adalah Abu Thalib al-Makki (w. 386 H./996 M.). Karya terkenalnya adalah Qut al-Qulub yang memiliki pengaruh besar bagi tulisan-tulisan tasawuf di masa setelahnya. Karyanya tersebut mengandung lebih banyak argumen yang berhati-hati dan lebih sedikit kutipan yang aneh namun sangat penting sebagai usaha pertama dan sangat berhasil untuk membangun desain menyeluruh tasawuf ortodoks. Sebagaimana al-Muhasibi, Abu Thalib al-Makki telah dipelajari secara hati-hati oleh al-Ghazali dan memberikan pengaruh yang besar atas cara pemikiran dan tulisan al-Ghazali di mana ia banyak sekali bersandar kepada karya al-Makki ini.[7]
Al-Kalabadzi termasuk sufi moderat lain sebelum al-Ghazali. Karyanya yang terkenal dan dibaca banyak orang sampai kini serta menjadi kompedium yang paling berharga tentang tasawuf adalah al-Ta‘arruf li Madzhab Ahl al-Tashawwuf. Al-Kalabadzi telah berupaya menemukan suatu jalan tengah dan dapat mendamaikan ortodoksi dan tasawuf. Menurut A.J. Arberry bahwa al-Kalabadzi telah membuka jalan yang selanjutnya diikuti oleh seorang sufi yang merupakan teolog terbesar: Al-Ghazali, yang karyanya, Ihya’ ‘Ulum al-Dîn, akhirnya mampu mendamaikan yang skolastik dan yang mistik.[8]
Munculnya berbagai aliran yang membingungkan dan adanya pertentangan antara syariah dan tasawuf pada abad III dan IV Hijriyah  mendorong Abu ‘Abd al-Rahman al-Sulami (w. 421 H./1021 M.)   tampil memadukan aspek-aspek esoterik dan eksoterik Islam dan ia mampu menciptakan penggabungan dan saling ketergantungan antara tasawuf dan syariah. Michael Chodkiewicz[9] mengatakan bahwa al-Sulami tidak hanya memadukan antara fikih dan tasawuf, tetapi juga antara beberapa disiplin dan kajian yang berlainan dalam tasawuf. Al-Sulami adalah orang pertama yang menulis tentang sejarah hidup para sufi yang sistematis melalui karyanya yang berjudul al-Thabaqat al-Shufiyyah. Karya al-Sulami yang lain adalah al-Futuwwah, sebuah buku kecil yang mengulas perpaduan antara syariah dan tasawuf.[10]
Sufi lain sebelum al-Ghazali yang perlu disebutkan di sini adalah Abu al-Qasim al-Qusyayri (w. 465 H./1072 M.). Ia adalah sufi terkemuka dari Ahli Sunnah dan karyanya yang terkenal adalah al-Risalah. Kitab ini ditulis oleh al-Qusyayri didorong oleh rasa keprihatinannya atas penyimpangan yang ada dalam tasawuf, baik dari segi akidah maupun moral. Al-Risalah ditulisnya untuk mengembalikan tasawuf kepada jalur yang benar seperti tasawuf para guru golongan sufi yang telah membangun kaidah-kaidah mereka di atas prinsip-prinsip tauhid yang benar. Dengan kaidah-kaidah tersebut, mereka memelihara akidah-akidah mereka dari bid’ah dan dekat dengan tauhid kaum Salaf dan Ahli Sunnah. Karya al-Qusyayri tersebut memberikan gambaran umum yang cermat dan mengagumkan tentang ajaran dan praktik tasawuf dari sudut pandang seorang teolog Asy’ariyyah.[11]
Sufi moderat lainnya sebelum al-Ghazali adalah Abu al-Hasan ‘Ali ibn ‘Usman al-Hujwiri (w. 465 H./1072 M.). Ia adalah sufi Persia yang terkenal dengan karyanya yang berjudul Kasyf al-Mahjub.[12] Karyanya tersebut bertujuan untuk mengemukakan sebuah sistem tasawuf yang komprehensif, bukan hanya untuk menghimpun sejumlah ujaran para guru sufi, namun mendiskusikan dan menjelaskan juga tentang doktrin-doktrin dan praktek-praktek para sufi. Al-Hujwiri adalah seorang sufi Sunni dan pengikut madzhab Hanafi yang mencoba menjelaskan teologinya dengan satu corak tasawuf tingkat tinggi yang memberikan tempat utama bagi fana’. Namun, ia tetap bersikap moderat untuk menghindari kecenderungan pantheis. Ia sering memperingatkan para pembacanya agar tetap menaati syariah (hukum Islam) sebagaimana yang dicontohkan oleh semua sufi yang mencapai derajat kesucian yang tinggi.[13]
Sufi-sufi moderat sebelum al-Ghazali, sebagaimana yang telah diuraikan di atas, mempunyai peranan yang sangat penting dalam upaya mendamaikan tasawuf dan syariah, dan mempertahankan ortodoksi Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah. Pengaruh mereka atas perkembangan tasawuf di kemudian hari, khususnya di dunia Sunni, sangat besar. Karya-karya mereka dibaca secara luas oleh banyak Muslim, dan dikaji serta dikutip oleh banyak sufi dan ulama sesudah mereka[14] termasuk yang tampak dalam pemikiran dan karya-karya al-Ghazali.
Abad VII Hijriyah  tasawuf  mulai memasuki Andalus  sehingga lahirlah tokoh besar Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabi al-Tha’i (560–638 H.) dengan pemikirannya tentang al-insan al-kamil. Dialah tokoh pencipta wihdat al-wujud  yang mengklaim dirinya sebagai Khotam al-Awliya’.  Karya-karyanya yang terkenal antara lain: al-Futuhat al-Makkiyyah, Fsuhsush al-Hikam, dan Ruh al-Quds. Di Turki muncul tokoh Jalal al-Din al-Rumi sang pencipta Thariqah Mawlawiyah.
         Tasawuf di abad VIII-IX Hijriyah nyaris tidak mengalami perkembangan yang bermakna selain aktivitas men-syarah kitab-kitab karya Ibnu ’Arabi dan Ibn al-Faridh. Hampir tidak ada  pembaharuan dalam pemikiran di kalangan para sufi di abad ini. Tasawuf di era al-Rumi ditandai dengan pergumulan pemikiran kedua tokoh wujudiyah tersebut. Salah satu karya monumental dari abad ini adalah kitab karya ‘Abd. Al-Wahhab bin Ahmad bin ‘Ali bin Muhammad al-Sya’rani (898-973 H/1492-1565 M.) yaitu al-Thabaqat al-Kubra’. Muhammad Baha’ al-Din al-Naqsyabandi (900-971 H./1317-1388 M.) muncul di abad ini sebagai tokoh pendiri Thariqoh al-Naqsyabandiyah,  thariqoh yang di kemudian hari banyak diminati bangsa Indonesia.
   Sufi yang terkenal sebagai pencipta dan penganut faham al-Wujudiyah  adalah: Abu Yazid al-Basthami,  Sahal bin ‘Abdullah al-Tusturi, al-Turmudzi (dikenal al-Hakim), Ibnu ‘Atha’ Allah al-Sakandari, Ibnu Sab’in, Ibnu al-Faridh, al-Hallaj, al-Khathib, Ibnu ‘Arabi, al-Rumi, al-Jili, al-‘Iraqi, al-Jami, al-Suhrawardi, dan Bayazid al-Anshari. Madzhab al-Hulul, Wihdat al-Wujud, dan  al-Ittihad berkeyakinan bahwa, sufi dapat mengetahui hal-hal gaib sebagaimana Allah. Tujuan madzhab ini adalah mencapai maqom nubuwwah kemudian berakhir pada titik puncak tetinggi yaitu sampai kepada maqam uluhiyah dan maqam rububiyah. Karenanya, dalam beribadah, sufi tidak memiliki tujuan mencari sorga dan menghindar dari neraka, melainkan semata-mata karena Allah sebagai Dzat yang disembah dan untuk mencapai peleburan diri (fana’) dengan Allah: Inilah sorga para sufi yang sesungguhnya. Para sufi meyakini Nabi Muhammad SAW, seperti akidah yang dianut Ibn ‘Arabi, adalah satu-satunya makhluk Allah yang  telah sampai derajat uluhiyah dan bertahta di ‘arasy Allah SWT  dan beliau adalah nur  yang darinya tercipta semua ciptaan Allah.


[1] Noer, Kautsar Azhari, Tasawuf Perenial,  191.
[2] Arberry, A.J., Sufism: An Account of the Mystics of Islam,  London, George Allen & Unwim Ltd., 1979,  46-47.
[3] Bakar, Osman, Tawhid and Science: Essays on the History and Philosophy of Islamic Science,  Malaysia, Nurin Enterprise, 1991
[4] Noer, Tasawuf Perenial,   191.
[5] Noer, Tasawuf Perenial, 192-193.
[6] Noer, Tasawuf Perenial,  193.
[7]Noer, Tasawuf Perenial, 193-194
[8]Noer, Tasawuf Perenial, 194-195.
[9] Michael Chodkiewicz, “Pengantar”, dalam Abû ‘Abd al-Rahmân al-Sulamî, Futuwwah: Konsep Pendidikan Kekesatiaan di Kalangan Sufi, terj.,  Bandung, al-Bayan, 1992,  9.
[10]  Noer, Tasawuf Perenial, 195-196.
[11] Noer, Tasawuf Perenial,  196.
[12] Sistematika karya al-Hujwirî, Kasyf al-Mahjûb, sebagian didasarkan pada Kitab al-Luma’ karya al-Sarraj dan kedua kitab ini serupa dalam rancangan umumnya, dan rincian-rincian tertentu dalam karya al-Hujwirî jelas dipinjam dari karya al-Sarraj. (Nicholson, “Pengantar Penerjemah”, dalam al-Hujwirî, Kasyf al-Mahjub: Risalah Persia Tertua tentang Tasawuf, terj. Suwardjo Muthary dan Abdul Hadi W.M., (Bandung: Mizan, 1993, 12). 
[13] Noer, Tasawuf Perenial,   197.
[14] Noer, Tasawuf Perenial, 197-198.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.