Rabu, 02 Maret 2016

TASAWUF AL-GHAZALI, TASAWUFNYA NU

TASAWUF AL-GHAZALI, TASAWUFNYA NU
SUTEJP IBNU PAKAR

Tasawuf adalah nuansa baru dalam (keberagamaan) Islam. Islam telah menentukan secara tegas konsep dan metode zuhud dengan landasan utama Kitabullah dan al-Sunnah. Tasawuf hadir memperkuat konsep zuhud  dan kaum sufi mereduksi zuhud  sebagai sebuah disiplin yang teramat ketat dalam bentuk perilaku keseharian  meninggalkan orientasi duniawi secara keseluruhan dan hanya berpaling kepada orientasi  ukhrawi. Siapapun tidak akan menolak konsep zuhud. Berbeda dengan tasawuf yang tidak selalu diterima oleh semua lapisan masyarakat muslim.[1]
Tasawuf memiliki eksitensi, gerakan, sistematika  organisasi,  landasan formal ajaran, serta rujukan tersendiri. Tasawuf berhasil menciptakan pemimpin dan pembimbing ruhani sendiri dalam strutkur yang independen dan ditaati oleh semua murid dan pengikutnya dengan ghirah dan fanatisme  yang tidak terkalahkan oleh pengaruh-pengaruh luar layaknya sebuah ta’ashub.[2]
Tasawuf dikenal banyak orang dalam dua kategori. Pertama, tasawuf akhlaqi  dianggap memagari dirinya dengan al-Qur’an dan al-Sunnah serta menjauhi penyimpangan-penyimpangan yang menuju kepada kesesatan dan kekafiran. Keduatasawuf falsafi yang dianggap telah memasukkan ke dalam ajaran-ajarannya unsur-unsur filosofis dari luar Islam, seperti dari Yunani, Persia, India dan Kristen serta mengungkapkan ajaran-ajarannya dengan memakai istilah-istilah filosofis dan simbol-simbol khusus yang sulit dipahami oleh orang banyak..
Tasawuf, dipandang dari aspek pendidikan kepribadian, adalah institusi dalam Islam yang telah berjasa dalam upaya peningkatan kualitas kepribadian muslim sebagaimana yang diajarkan oleh Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Tasawuf mengajarkan setiap diri muslim untuk berlaku zuhud (tidak tergila-gila terhadap duniawi-materi), taqwallah, ‘iffah (mampu menahan diri dari meminta-minta), qona’ah (sabar dalam setiap situasi dan kondisi, berusaha membersihkan jiwa), istiqomah  dalam keimanan, mencintai rasul Allah dan orang-orang salih, selalu mengingat Allah (dzikrullah), membiasakan diri melakukan hal-hal yang disunnahkan secara kontinyu, menyayangi setiap makhluk ciptaan Allah,  sabar, tawakal kepada Allah dan segala kebaikan serta amal salih yang dapat membantu tercapainya kesempurnaan keimaman dan keislaman dalam rangka menuju kualitas ihsan.[3]  
Penulis tasawuf awal seperti al-Sarraj (w. 378 H./988 M.), al-Kalabadzi (w. 390 H./1000 M.), Abu Nu’aim (w. 430 H./1038 M.), dan al-Qusyairi (w. 465 H./1072 M.) menandaskan bahwa tasawuf merupakan ekspresi murni tentang ekspresi rohani ajaran Islam. Ia merupakan perwujudan yang teramat sempurna dari nilai-nilai ruhaniah.[4] Mereka mengemukakan bahwa kaum sufi mempunyai keyakinan sebagaimana yang dirumuskan oleh para ahli ilmu kalam (teologi).[5] Mereka juga mengikuti aturan sebagaimana yang dirumuskan oleh para fuqaha’ (ahli hukum Islam), dengan metode dan pengalaman yang sepenuhnya sesuai dengan al-Qur’an dan al-Sunnah.[6] Mereka tafsirkan dan rujukkan ucapan kaum sufi yang terlihat kurang taat-asas (inkonsisten), dan meninggalkan hal-hal yang tidak sesuai. Al-Kalabadzi khususnya mencoba menunjukkan bahwa kepercayaan yang dipegang orang-orang sufi tidaklah berbeda dengan kepercayaan Ahl al-Sunnah.
Hal ini sebagaimana tergambar dalam ulasan al-Sarraj bahwa sufi adalah wakil Allah di bumi, wali-wali dari rahasia-Nya dan pengetahuan-Nya serta ciptaan-Nya yang terbaik. Mereka itu adalah pilihan Tuhan, teman-teman yang mulia dan orang-orang yang paling dicintai; muttaqun, sabiqun, abrar, muqarrabun, abdal dan siddiqun semuanya berasal dari mereka. Orang-orang sufi tidak memilih salah satu cabang ilmu pengetahuan dan meninggalkan yang lainnya (seperti orang-orang yang hanya menekuni hadits, fiqh dan zuhd). Mereka benar-benar membatasi diri mereka sendiri untuk mencapai beberapa ahwal wa maqamat. Mereka adalah sumber berbagai macam ilmu pengetahuan dan perwujudan dari sublimasi semua kebajikan (akhlaq al-syarifah), lama seindah yang baru.[7]
Pemikiran tasawuf al-Ghazalî, bagi generasi penerusnya, dianggap telah maju jauh ke depan. Selain mencoba menafsirkan tasawuf dan mencoba merujukkannya pada ajaran Islam, sebagaimana juga dilakukan para pendahulunya, ia juga mencoba menafsirkan ajaran Islam dengan titik pandang, pengalaman dan praktek sufi. Ia menegaskan bahwa apabila Islam dipahami dengan baik maka pelaksanaannya juga tidak berbeda dengan apa yang dilakukan oleh para guru sufi. Inilah yang dilakukannya dengan karya terbesarnya, Ihya’ ‘Ulum al-Din. Hasilnya adalah bahwa apa yang dianggap terbaik oleh ajaran Islam adalah identik dengan tasawuf.[8]
Karya ‘Abd. al-Qadir al-Jaylani (w. 561 H./1166 M.) dan Syihab al-Din al-Suhrawardi (w. 632 H./1234 M.) meneguhkan dan memperkuat citra di atas. Namun demikian, mereka sendiri mendisasosiasikan diri dengan aspek spekulatif dari karya al-Ghazalî. Ibn ‘Arabi mengikuti langkah al-Ghazali, dan melaksanakan tugas lebih jauh dalam penafsiran kepercayaan dan praktik Islam dalam titik pandang pengalaman dan intuisi sufi. Ibn ‘Arabi telah memainkan fungsi ini dalam skala besar dalam karyanya yang panjang lebar, al-Futuhat al-Makkiyah. Di sini, ia menginterpretasikan kepercayaan Islam secara keseluruhan dan mempraktekkannya sendiri dengan sudut pandang filosofinya wahdat al-wujud. Ia juga memberi interpretasi lain yang lebih dekat dengan pandangan tokoh muslim pada umumnya (penerimaan teologi). Hal ini sebenarnya tidak mewakili pemikiran Ibn ‘Arabi yang sesungguhnya. Suatu pemaparan yang lebih jelas, khususnya pada pokok masalah yang fundamental, ditemukan dalam karyanya Fushus al-Hikam yang berisi esensi pemikiran filosofisnya.[9]
Abu al-Qosim  al-Junayd al-Baghdadi  (w. 299 H.) adalah tokoh yang dianggap sebagai pelopor tasawuf yang terkenal dengan ajarannya tentang tawhid, ma’rifat dan mahabbah. Dialah imam dan guru para syekh sufi generasi sesudahnya.[10]  Pengaruh Al-Junayd  kemudian diikuti oleh Dzu al-Nun al-Mishri dan muridnya, al-Syibli. Menyusul kemudian Abu Sulayman al-Daroni (w. 205 H.), Ahmad bin al-Hawari, Abu ‘Ali al-Husain bin Manshur bin Ibrahim, Abu al-Hasan Sirr bin al-Mughlis al-Saqothy (w. 253 H.), Sahal bin ‘Abdullah al-Tusturi (w. 273 H.), Abu Mahfudz Ma’ruf al-Kurkhi (w. 412 H.), Muhammad bin al-Hasan al-Azdi al-Sullami, dan Muhammad bin al-Husein bin al-Fadhl bin al-‘Abbas Abu Ya’la al-Bashri al-Shufi (w. 368 H.).
Tokoh-tokoh terkenal pada masa awal adalah Thoyfur bin ‘Isa bin Adam bin Syarwan, Abu Yazid al-Busthami (w. 263 H.) pencipta al-Ittihad, Abu al-Faydh Tsawban bin Ibrohim Dzu al-Nun al-Mishri (245 H.) pencipta ma’rifat, al-Husein bin Manshur al-Hallaj (244-309 H.)  pencipta al-Hulul, Abu Sa’id al-Khazzar (226 - 277 H.), Abu Abdullah bin Ali bin al-Husein (al-Hakim) al-Turmudzi (w. 320 H.), dan Abu Bakr al-Syibli (w. 334 H.).  Tokoh—tokoh inilah yang berpengaruh besar kepada generasi sesudahnya seperti   Dzu al-Nun al-Mishri. Dia murid ahli kimia Jabir bin Hiyan. Pada periode ini muncul terminologi mahabbah dan ma’rifat, maqom dan ahwal sufi. Muncul pula  masalah-masalah yang menjadi kajian penting dalam dunia sufi yaitu ‘ilmu bathin dan ‘ilmu laduni, selain masalah ittihad.[11]
        Masa sesudahnya tasawuf mulai dicampuri dengan falsafat Yunani. Maka, muncullah istilah-istilah al-hulul, al-ittihad, dan  wihdat al-wujud,  serta al-faydh dan al-isyroq. Tokoh-tokoh berperan pada periode ini adalah Abu Mughits al-Husein bin Manshur al-Hallaj (244-309 H.),  al-Suhrawardi (w. 578 H.),  Abu Bakr Muhy al-Din Muhammad bin ‘Ali bin ‘Arabi al-Hatimi al-Tha’i al-Andalusi (560-638 H.) pencipta wihdat al-wujud, [12] Abu Hafsh ‘Umar bin ‘Ali al-Hamwi atau Ibn al-Faridh (566- 632 H.), dan  Quthb al-Din Abu Muhammad ‘Abd. Al-Haqq bin Ibrahim bin Muhammad bin Sab’in al-Isybili al-Mursi (614-669 H.).
            Abu Hamid al-Ghazali (450-505 H.) pencipta kasyf,  yang muncul antara Abad V dan awal abad VI Hijriyah, datang  membawa perubahan baru di dunia sufi, dengan mengkompromikan budaya Persia ke dalam Ahlussunnah.  Dia sufi terkenal  dalam bidang kasyf dan ma’rifat.  Mulai abad V Hijriyah sampai awal abad VII Hijriyah muncul thoriqoh al-Qodiriyah (w. 561 H.) yang mendapatkan ijazah tasawuf dari al-Hasan al-Bashri dari  al-Hasan bin Ali bin Abu Thalib.  Pada masa ini pula muncul istilah-istilah yang tidak lumrah (syath/sytathohat) dari Syihab al-Din Abu al-Futuh Muhy al-Din bin Husein al-Suhrawardi (459-587 H), Abu al-Fath Muhyiddin bin Husein (459-587 H.), dan Abdurrohim bin ‘Utsman (w. 604 H.). al-Suhrawardi berhasil  memdofikasi pemikiran agama-agama Persia Kuno dan Yunani serta Neoplatonisme  ke dalam ajarannya tentang al-faydh yang dijadikan karakter khusus Thoriqoh al-Suhrawardiyah seperti dalam kitab Hikmat al-Isyroqiyah, Hayakil al-Nur, al-Talwihat al-‘Arsyiyah, dan al-Maqomat.  Dialah sufi pencipta madzhab isyraqiyah.[13]
Tasawuf al-Ghazali adalah termasuk tasawuf Sunni, bahkan di tangan al-Ghazalilah jenis tasawuf ini mencapai kematangannya. Lebih jauh Mahmud berpendapat bahwa para pemimpin Sunnî pertama telah menunjukkan ketegaran mereka dalam menghadapi gelombang pengaruh gnostik barat dan timur, dengan berpegang teguh kepada spirit Islam, yang tidak mengingkari tasawuf yang tumbuh dari tuntunan al-Qur'ân, yang selain membawa syariah juga menyuguhkan masalah-masalah metafisika. Mereka mampu merumuskan tasawuf yang Islami  dan mampu bertahan terhadap berbagai fitnah yang merongrong akidah Islam di kalangan sufi. Tasawuf Sunni akhirnya beruntung mendapatkan seorang tokoh pembenteng dan pengawal bagi spirit metode Islami, yaitu al-Ghazali yang menempatkan syariah dan hakikat secara seimbang.[14] 
Di tangan al-Ghazali perkembangan Tasawuf Sunni  menjadi kian luar biasa. Berangkat dari pemahamannya yang memuaskan terhadap kajian fiqh, ushul fiqh dan ilmu kalam serta ketidakpuasannya terhadap metode pencarian kebenaran yang ditawarkan filsafat membuat konsep tasawuf Islam umumnya dan Tasawuf Sunni, khususnya menjadi demikian merangsang minat masyarakat. Konsep tasawuf dalam perspektif al-Ghazali adalah konsep tasawuf yang memadukan secara tepat antara fikih sebagai perwakilan aspek eksoteris dengan etika dan estetika sebagai perwujudan dari dimensi esoteris sebagaimana yang nampak dalam Ihya' `Ulum al-Din.
Mungkin yang tertinggal dari konsep tasawuf yang diketengahkan al-Ghazali adalah keengganannya untuk mengikutsertakan wacana-wacana filosofis. Bahkan dengan tegas al-Ghazali menyebutkan bahwa jalan ideal untuk mencapai  kebenaran  adalah perilaku tasawuf, bukan tindakan-tindakan filsafati. Dampak dari keengganannya melibatkan unsur-unsur filsafat, menjadikan tasawuf  al-Ghazali nampak kurang greget di mata sebagian pakar tasawuf kontemporer. Namun pada akhirnya, sejarah tidak dapat memungkiri betapa besar jasa al-Ghazali yang metode bertasawufnya masih relevan dalam pergantian zaman.[15]
Memang bangunan tasawuf al-Ghazali tidak sepenuhnya dianggap demikian. Karena, dalam kenyataannya, pada masa sebelum al-Ghazali telah banyak tokoh sufi moderat yang telah berhasil mendamaikan antara tasawuf dan ortodoksi. Dan pada pasca al-Ghazali pun ternyata konflik antara tasawuf dan ortodoksi terus terjadi dan kadang-kadang justeru lebih keras daripada yang terjadi sebelumnya.[16]





[1] Dzahir, Ihsan Ilahi, al-Tashawwuf al-Mansy’ wa al-Mashadir, Lahor, Syabkah al-Dif’‘an al-Sunnah, 1987/1941, 45.
[2] Dzahir, Ihsan Ilahi, al-Tashawwuf al-Mansy’ wa al-Mashadir, Lahor, Syabkah al-Dif’‘an al-Sunnah, 198, 6.
[3] Aydin, Feriduddin, Mawqif ibn ‘Abidin min al-Sufiyyah wa al-Tassawwuf, Istambul, 1993, 31
[4] al-Saraj, al-Luma’,  Kairo, Dar al-Kutub al-Hadisah, 1380 H./1960 M.,19 dan 40;  al-Qusyairi, Abu al-Qasim, al-Risalah al-Qusyairiyah, Kairo, 1972, 20-21; Abu Nu’aim, Hilyat al-Awliya’,  Beirut, Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1980,I,  21-28.
[5]  al-Kalabadzi, Abu Bakr Muhammad,  al-Ta‘arrûf li Madhab Ahl al-Tashawwuf,   Kairo, al-Halabi, 1380 H./1960 M., 33-82.
[6] al-Kalabadzi, al-Ta‘arrûf li Madhab Ahl al-Tashawwuf, 84-86; al-Saraj, al-Lumâ’,  105-146.
[7]al-Sarraj, al-Luma, Kairo, Dar al-Kutub al-Hadisah, 1380 H./1960 M.,19 dan 40. al-Qusyairi, Abu al-Qasim, al-Risalah al-Qusyairiyah, Kairo, t.k., 1972, 20-21; Abu Nu’aim, Hilyat al-Awliya’,  Beirut, Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1980,I,  21-28.
[8]Muhammad ‘Abd al-Haqq al-Anshari, Antara Sufisme dan Syari’ah,   89.
[9] Margareth Smith, Pemikiran dan Doktrin Mistis,  267-268.
[10] al-Thabaqat al-al-Shufiyah, 31.
[11] Ibn Taymiyah, Majma’ al-Fatawa, juz I,  h. 363
[12] Ibn ‘arabi adalah termasuk tokoh yang sangat dihormati dan dimuliakan oleh para guru thariqah al-Naqsyabndiyah karena keutamaan-keutamaan dan karamah  yang dimilikinya (al-Khani, Muhammad bin ‘Abdullah,  al-Bahjah al-Saniyah fi Adab al-Thariqah al-Naqsyabandiyah,  56).
[13] Bakir, Abu al-’Azayim Jad al-Karim, Thalai’ al-Shufiyah, 2006, 17
[14] Mahmud,  ‘Abd al-Qadir, al-Falsafah al-Shufiyyah fi al-Islam,  Kairo, Dar al-Fikr al-‘Arabi, 1967, 1 dan 151; M. Zurkani, Jahja, Teologi al-Ghazali: Pendekatan Metodologi,  Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1996, . 218-219.

[15] Umaruddin, M.,  The Ethical Philosophy of al-Ghazzali, New Delhi,1996, 123-156.

[16] Noer, Kautsar Azhari , Tasawuf Perenial,  198-201.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.