Selasa, 08 Maret 2016

SUMBANGAN ISLAM TERHADAP ILMU PENGETAHUAN

Sumbangan Islam terhadap Ilmu Pengetahuan
SUTEJA
Sejarah telah membuktikan bahwa adanya sikap konservatif terhadap pandangan-pandangan baru, telah menghantarkan peradaban ke dalam masa-masa kegelapan.  Sejarah Islam telah mencatat bahwa masa keemas-an Islam (The Golden Age of Islam) terjadi pada masa pemerintahan Dinasti Abbas (Abbasiyah), yang sangat terbuka terhadap perkembangan berbagai pemikiran baru.  Bersamaan dengan dilarangnya belajar-mengajar filsafat, umat Islam mengalami kemunduran, hingga terpuruk ke dalam belenggu penjajahan Negara-negara Barat.  Timbulnya kesadaran baru di kalangan umat Islam untuk keluar dari belenggu penjajahan, tidak lepas dari keberanian beberapa pembaharu dunia Islam seperti Jamaluddin al Afghani  dan Muhammad Abduh, yang menganjurkan agar umat Islam kembali mempelajari filsafat dan membuka diri kepada munculnya ide-ide baru.Berangkat dari uraian diatas, maka dalam tulisan berikut ini akan dipa-parkan bagaimana sumbangan peradaban Islam pada masa keemasannya dahulu terhadap perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan, dengan maksud untuk meluruskan pandangan bahwa Umat Islam itu seolah-olah anti ilmu pengetahuan dan teknologi.
1. Filsafat dan Ilmu Pengetahuan.
Istilah filsafat  mulai dikenal pada zaman Yunani kuno, berasal dari kata philo yang berarti cinta dan sophia yang berarti kebenaran.  Jadi orang yang mempelajari filsafat adalah orang yang cinta kebenaran.  Untuk mencapai kebenaran seseorang harus mempunyai pengetahuan.  Sese-orang yang mengetahui sesuatu, dapat dikatakan telah mencapai kebenaran tentang sesuatu tersebut menurut dirinya sendiri, meskipun apa yang dianggapnya benar itu belum tentu benar menurut orang lain. Pengetahuan tidak sama dengan ilmu, karena ilmu adalah bagian dari pengetahuan.   Seseorang yang mengetahui cara memainkan berbagai alat musik atau cara menggunakan berbagai alat untuk melukis, tidak dapat dikatakan memiliki ilmu bermain musik atau ilmu melukis.  Oleh karena bermain musik dan melukis bukanlah ilmu melainkan seni.   Demikian pula orang yang memiliki pengetahuan tentang adanya kebangkitan/kehidupan setelah kematian, tidak dapat dikatakan memiliki ilmu tentang kehidupan setelah kematian, oleh karena hal tersebut telah berada di luar batas pengalaman manusia dan hal demikian itu telah menjadi urusan agama. 
TOKOH-TOKOH  PERADABAN ISLAM
 Ada dua  pendapat mengenai sumbangan peradaban Islam terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan, yang terus berkembang hingga saat ini.  Pendapat pertama mengatakan bahwa orang Eropah belajar filsafat dari filosof Yunani seperti Aristoteles, melalui kitab-kitab yang disalin oleh St. Agustine (354–430 M), yang kemudian diteruskan oleh Anicius Manlius Boethius (480–524 M) dan John  Scotus.  Pendapat kedua menyatakan bahwa orang Eropah belajar filsafat orang-orang Yunani dari buku-buku filasafat Yunani yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh filosof Islam seperti Al-Kindi dan Al-Farabi.  Terhadap pendapat pertama Hoesein (1961) dengan tegas menolaknya, karena menurutnya salinan buku filsafat Aristoteles seperti Isagoge, Categories dan Porphyry telah dimusnahkan oleh pemerintah Romawi bersamaan dengan eksekusi mati terhadap Boethius, yang dianggap telah menyebarkan ajaran yang dilarang oleh negara.
Seandainya kitab-kitab terjemahan Boethius menjadi sumber perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan di Eropah, maka John Salisbury, seorang guru besar filsafat di Universitas Paris,  tidak akan menyalin kembali buku Organon karangan Aristoteles dari terjemahan-terjemahan berbahasa Arab, yang telah dikerjakan oleh filosof Islam. Sebagaimana telah diketahui, orang yang pertama kali belajar dan mengajarkan filsafat dari orang-orang sophia atau sophists (500 – 400 SM) adalah Socrates (469–399 SM), kemudian diteruskan oleh Plato (427–457 SM).  Setelah itu diteruskan oleh muridnya yang bernama Aristoteles (384–322 SM).  Setelah zaman Aristoteles, sejarah tidak mencatat lagi generasi penerus hingga munculnya Al-Kindi pada tahun 801 M.  Al-Kindi banyak belajar dari kitab-kitab filsafat karangan Plato dan Aristoteles.  Oleh Raja Al-Makmun dan Raja Harun Al-Rasyid pada Zaman Abbasiyah, Al-Kindi diperintahkan untuk menyalin karya Plato dan Aristoteles tersebut ke dalam Bahasa Arab.
1. al-Kindi
Sejarawan  menempatkan al-Kindi sebagai filosof Arab pertama yang mempelajari filsafat.  Ibnu al-Nadhim mendudukkan al-Kindi sebagai salah satu orang termasyhur  dalam filsafat alam (natural philosophy).   Buku-buku al-Kindi membahas mengenai berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti geometri, aritmatika, astronomi, musik, logika dan filsafat.  Ibnu Abi Usai’bia menganggap al-Kindi sebagai penterjemah terbaik kitab-kitab ilmu kedokteran dari Bahasa Yunani ke dalam Bahasa Arab.   Disamping sebagai penterjemah, al-Kindi menulis juga berbagai makalah.  Ibnu Al-Nadhim memperkirakan ada 200 judul makalah yang ditulis Al-Kindi dan sebagian diantaranya tidak dapat dijumpai lagi, karena raib entah kemana.  Nama Al-Kindi sangat masyhur di Eropah pada abad pertengahan.  Bukunya yang telah disalin kedalam bahasa Latin di Eropah berjudul De Aspectibus berisi uraian tentang geometri dan ilmu optik, mengacu pada pendapat Euclides, Heron dan Ptolemeus.  Salah satu orang yang sangat kagum pada berbagai tulisannya adalag filosof kenamaan Roger Bacon.
Beberapa kalangan beranggapan bahwa al-Kindi bukanlah seorang filosof sejati.  Ibrahim Madzkour,  seorang sarjana filsafat lulusan Peran-cis yang berasal dari Mesir, beranggapan bahwa Al-Kindi lebih tepat dika-tegorikan sebagai seorang ilmuwan (terutama ilmu kedokteran, farmasi dan astronomi) daripada seorang filosof.  Hanya saja karena Al-Kindi yang pertama kali menyalin kitab Plato dan Aristoteles kedalam Bahasa Arab, maka ia dianggap sebagai orang yang pertama kali memperkenalkan filsafat pada Dunia Islam dan kaum Muslimin. Meskipun pada beberapa hal Al-Kindi sependapat dengan Aristoteles dan Plato, namun dalam hal-hal tertentu Al-Kindi memiliki pandangan tersendiri.  Al-Kindi tidak sependapat dengan Aristoteles yang menyatakan bahwa  waktu dan benda adalah kekal.  Dan untuk membuktikan hal tersebut Al-Kindi telah menggunakan pendekatan matematika. 
Al-Kindi tidak sepaham pula dengan Plato dan Aristoteles yang menyatakan bahwa bentuk merupakan sebab dari wujud, serta pendapat  Plato yang menyatakan bahwa cita bersifat membiakkan.  Menurut Al-Kindi alam semesta ini merupakan sari dari sesuatu yang wujud (ada).  Semesta alam ini merupakan kesatuan dari sesuatu yang berbilang, ia juga bukan merupakan sebab wujud.
2. Al-Farabi
Sepeninggal Al-Kindi, muncul filosof-filosof Islam kenamaan yang terus mengembangkan filsafat.  Filosof-filosof itu diantaranya adalah : Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rushd, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh dan Muhamad Iqbal.Al-Farabi sangat berjasa dalam mengenalkan dan mengembangkan cara berpikir logis (logika) kepada dunia Islam.  Berbagai karangan Aristoteles seperti Categories, Hermeneutics, First dan Second Analysis telah diterjemahkan Al-Farabi kedalam Bahasa Arab.  Al-Farabi telah membicarakan berbagai sistem logika dan cara berpikir deduktif maupun induktif.   Disamping itu beliau dianggap sebagai peletak dasar  pertama ilmu musik dan menyempurnakan ilmu musik yang telah dikembangkan sebelumnya oleh Phytagoras.  Oleh karena jasanya ini, maka Al-Farabi diberi gelar Guru Kedua, sedang gelar guru pertama diberikan kepada Aristoteles. 
Kontribusi lain dari Al-Farabi yang dianggap cukup bernilai adalah usahanya mengklassifikasi ilmu pengetahuan.  Al-Farabi telah memberikan definisi dan batasan setiap ilmu pengetahuan yang berkembang pada zamannya.  Al-Farabi mengklassifikasi ilmu kedalam tujuh cabang yaitu : logika, percakapan, matematika, fisika, metafisika, politik dan ilmu fiqhi (hukum). 
1.    Ilmu percakapan (khithobah) dibagi lagi kedalam tujuh bagian yaitu : bahasa, gramatika, sintaksis, syair, menulis dan membaca.  Bahasa dalam ilmu percakapan dibagi dalam : ilmu kalimat mufrad, preposisi, aturan penulisan yang benar, aturan membaca dengan benar dan aturan mengenai syair yang baik.  Ilmu logika dibagi dalam 8 bagian, dimulai dengan kategori dan diakhiri dengan syair (puisi). 
2.    Matematika dibagi dalam tujuh bagian yaitu : aritmetika, geometri, astronomi, musik, hizab baqi (arte ponderum) dan mekanika. 
3.    Metafisika dibagi dalam dua bahasan, bahasan pertama mengenai pengetahuan tentang makhluk dan bahasan kedua mengenai filsafat ilmu.
4.    Politik dikatakan sebagai bagian dari ilmu sipil dan menjurus pada etika dan politika.  Perkataan politieia yang berasal dari bahasa Yunani diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab menjadi madani, yang berarti sipil dan berhubungan dengan tata cara mengurus suatu kota.  Kata ini kemudian sangat populer digunakan untuk menyepadankan istilah masyarakat sipil menjadi masyarakat madani.
Ilmu Agama dibagi dalam ilmu fiqh dan imu ketuhanan/kalam (teologi).Buku Al-Farabi mengenai pembagian ilmu ini  telah diterjemahkan kedalam Bahasa Latin untuk konsumsi Bangsa Eropah dengan judul De Divisione Philosophae.  Karya lainnya yang telah diterjemahkan kedalam Bahasa Latin berjudul De Scientiis atau De Ortu Scientearum.  Buku ini mengulas berbagai jenis ilmu seperti ilmu kimia, optik dan geologi.
3. Ibnu Sina
Ibnu Sina dikenal di Barat dengan sebutan Avicienna.  Selain sebagai seorang filosof, ia dikenal sebagai seorang dokter dan penyair.  Ilmu pengetahuan yang ditulisnya banyak ditulis dalam bentuk syair.  Bukunya yang termasyhur Canon, telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin oleh Gerard Cremona di Toledo.  Buku ini kemudian menjadi buku teks (text book) dalam Ilmu Kedokteran yang diajarkan pada beberapa perguruan tinggi di Eropah, seperti Universitas Louvain dan Montpelier.  Dalam kitab Canon, Ibnu Sina telah menekankan betapa pentingnya penelitian eksperimental untuk menentukan khasiat suatu obat.  Ibnu Sina menyatakan bahwa daya sembuh suatu jenis obat sangat tergantung pada ketepatan dosis dan ketepatan waktu pemberian.  Pemberian obat hendaknya disesuaikan dengan kekuatan penyakit.
Kitab lainnya berjudul Al-Shifa diterjemahkan oleh Ibnu Daud (di Barat dikenal dengan nama Avendauth-Ben Daud) di Toledo.  Oleh karena Al-Shifa sangat tebal, maka bagian yang diterjemahkan oleh Ibnu Daud terbatas pada pendahuluan ilmu logika, fisika dan  De Anima. Ibnu Sina membagi filsafat atas bagian yang bersifat teoritis dan bagian yang bersifat praktis.  Bagian yang bersifat teoritis meliputi :  matematika, fisika dan metafisika, sedang bagian yang bersifat praktis meliputi :  politik dan etika.   Dalam hal logika Ibnu Sina memiliki pandangan serupa dengan para filosof Islam lainnyanya seperti Al-Farabi, Al-Ghazali dan Ibnu Rushd, yang beranggapan bahwa logika adalah alat filsafat. Berbeda dengan  filosof-filosof Islam pendahulunya yang lahir dan besar di Timur, Ibnu Rushd dilahirkan di Barat (Spanyol).  Filosof Islam lainnya yang lahir di barat adalah Ibnu Bajah (Avempace) dan Ibnu Thufail (Abubacer).
4. Ibnu Bajah dan Ibnu Thufail
Ibnu Bajah dan Ibnu Thufail merupakan pendukung rasionalisme Aris-toteles.  Menurut Ibnu Thufail, manusia dapat mencapai kebenaran sejati dengan menggunakan petunjuk akal dan petunjuk wahyu.   Pendapat ini dituangkan dengan baik dalam cerita Hayy ibn  Yaqdzhan, yang menceritakan bagaimana Hayy yang tinggal pada suatu pulau terpencil sendirian tanpa manusia lain dapat menemukan kebenaran sejati melalui petunjuk akal, kemudian bertemu dengan Absal yang memperoleh kebenaran sejati dengan petunjuk wahyu.  Akhirnya kedua orang ini bisa menjadi sahabat.
5. Ibnu Rushd
Ibnu Rushd yang lahir dan dibesarkan di Cordova, Spanyol meskipun seorang dokter dan telah mengarang Buku Ilmu Kedokteran berjudul Colliget, yang dianggap setara dengan kitab Canon karangan Ibnu Sina, lebih dikenal sebagai seorang filosof. Ibnu Rushd telah menyusun tiga  komentar mengenai Aristoteles, yaitu : komentar besar, komentar menengah dan komentar kecil.  Ketiga komentar tersebut dapat dijumpai dalam tiga bahasa : Arab, Latin dan Yahudi.  Dalam komentar besar, Ibnu Rushd menuliskan setiap kata dalam Stagirite karya Aristoteles dengan Bahasa Arab dan memberikan komentar pada bagian akhir.  Dalam komentar menengah ia  masih menyebut-nyebut Aritoteles sebagai Magister Digit, sedang pada komentar kecil filsafat yang diulas murni pandangan Ibnu Rushd.
Pandangan Ibnu Rushd yang menyatakan bahwa jalan filsafat merupakan jalan terbaik untuk mencapai kebenaran sejati dibanding jalan yang ditempuh oleh ahli agama, telah memancing kemarahan  pemuka-pemuka agama, sehingga mereka meminta kepada Khalifahh yang memerintah di Spanyol untuk menyatakan Ibnu Rushd sebagai atheis.  Sebenarnya apa yang dikemukakan oleh Ibnu Rushd sudah dikemukakan pula oleh Al-Kindi dalam bukunya Falsafah El-Ula (First Philosophy).  Al-Kindi menyatakan bahwa kaum fakih tidak dapat menjelaskan kebenaran dengan sempurna, oleh karena pengetahuan mereka yang tipis dan kurang bernilai.
6. Al-Ghazali
Pertentangan antara filosof yang diwakili oleh Ibnu Rushd dan kaum ulama yang diwakili oleh Al-Ghazali semakin memanas dengan terbitnya karangan Al-Ghazali yang berjudul Tahafut-El-Falasifah, yang kemudian digunakan pula oleh pihak gereja untuk menghambat berkembangnya pikiran bebas di Eropah pada Zaman Renaisance.  Al-Ghazali berpendapat bahwa mempelajari filsafat dapat menyebabkan seseorang menjadi atheis.  Untuk mencapai kebenaran sejati menurut Al-Ghazali hanya ada satu cara yaitu melalui tasawuf (mistisisme).  Buku karangan Al-Ghazali ini kemudian ditanggapi oleh Ibnu Rushd dalam karyanya Tahafut-et-Tahafut (The Incohenrence of the Incoherence).
Kemenangan pandangan Al-Ghazali atas pandangan Ibnu Rushd telah menyebabkan dilarangnya pengajaran ilmu filsafat di berbagai perguruan-perguruan Islam.  Hoesin (1961) menyatakan  bahwa pelarangan penyebaran filsafat Ibnu Rushd merupakan titik awal keruntuhan peradaban Islam yang didukung oleh maraknya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini sejalan dengan pendapat Suriasumantri (2002) yang menyatakan bahwa perkembangan ilmu dalam peradaban Islam bermula dengan berkembangnya filsafat dan mengalami kemunduran dengan kematian filsafat. Bersamaan dengan mundurnya kebudayaan Islam, Eropah mengalami kebangkitan.  Pada masa ini, buku-buku filsafat dan ilmu pengetahuan karangan dan terjemahan filosof Islam seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina dan Ibnu Rushd diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin.  Pada zaman itu Bahasa Latin menjadi bahasa kebudayaan bangsa-bangsa Eropah.  Penterjemahan karya-karya kaum muslimin antara lain dilakukan di Toledo, ketika Raymund menjadi uskup Besar Kristen di Toledo pada Tahun  1130 – 1150 M. 
Hasil terjemahan dari Toledo ini menyebar sampai ke Italia.  Dante menulis Divina Comedia setelah terinspirasi oleh hikayat Isra dan Mikraj Nabi Muhammad SAW.  Universitas Paris menggunakan buku teks Organon karya Aristoteles yang disalin dari Bahasa Arab ke dalam Bahasa Latin oleh John Salisbury pada tahun 1182.  Seperti halnya yang dilakukan oleh pemuka agama Islam, berkembangnya filsafat ajaran Ibnu Rushd dianggap dapat membahayakan iman kristiani oleh para pemuka agama Kristen, sehingga sinode gereja mengeluarkan dekrit pada Tahun 1209, lalu disusul dengan putusan Papal Legate pada tahun 1215 yang melarang pengajaran dan penyebaran filsafat ajaran Ibnu Rushd.
Pada Tahun 1215 saat Frederick II menjadi Kaisar Sicilia, ajaran filsafat Islam mulai berkembang lagi.  Pada Tahun 1214, Frederick mendirikan Universitas Naples, yang kemudian memiliki akademi yang bertugas menterjemahkan kitab-kitab berbahasa Arab ke dalam Bahasa latin.  Pada tahun 1217 Frederick II mengutus Michael Scot ke Toledo untuk mengumpulkan terjemahan-terjemahan filsafat berbahasa latin karangan kaum muslimin.  Berkembangnya ajaran filsafat Ibnu Rushd di Eropah Barat tidak lepas dari hasil terjemahan Michael Scot.  Banyak orientalis menyatakan bahwa Michael Scot telah berhasil menterjemahkan Komentar Ibnu Rushd  dengan judul de coelo et de mundo dan bagian pertama dari Kitab Anima. 
Pekerjaan yang dilakukan oleh Kaisar Frederick II untuk menterje-mahkan karya-karya filsafat Islam ke dalam Bahasa Latin, guna mendorong pengembangan ilmu pengetahuan di Eropah Barat, serupa dengan pekerjaan yang pernah dilakukan oleh  Raja Al-Makmun dan Harun Al-Rashid dari Dinasti Abbasiyah, untuk mendorong pengembangan ilmu pengetahuan di Jazirah Arab  Setelah Kaisar Frederick II wafat, usahanya untuk mengembangkan pengetahuan diteruskan oleh putranya.  Untuk tujuan ini putranya mengutus orang Jerman bernama Hermann untuk kembali ke Toledo pada tahun 1256.  Hermann kemudian menterjemahkan Ichtisar Manthiq karangan Al-Farabi dan Ichtisar Syair karangan Ibnu Rushd. 
Pada pertengahan abad 13 hampir seluruh karya Ibnu Rushd telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin, termasuk kitab tahafut-et-tahafut, yang diterjemahkan oleh Colonymus pada Tahun 1328.  Pada pertengahan abad 12 kalangan gereja melakukan sensor terhadap karangan Ibnu Rushd, sehingga saat itu berkembang 2 paham yaitu paham pembela Ibnu Rushd (Averroisme) dan paham yang menentangnya.  Kalangan yang menentang ajaran filsafat Ibnu Rushd ini antara lain pendeta Thomas Aquinas, Ernest Renan dan Roger Bacon.  Mereka yang menentang Averroisme umumnya banyak menggunakan argumentasi yang dikemukakan oleh Al-Ghazali dalam kitabnya Tahafut-el-Falasifah.  Dari hal ini dapat dikatakan bahwa apa yang diperdebatkan oleh kalangan filosof di Eropah Barat pada abad 12 dan 13, tidak lain adalah masalah yang diperdebatkan oleh filosof Islam. 
  Uraian diatas menunjukkan kepada kita betapa besar sumbangan peradaban Islam terhadap pengembangan filsafat dan ilmu pengetahuan, yang kita kenal sekarang. Meskipun sampai saat ini masih terdapat kecenderungan untuk menafikan pengaruh peradaban Islam terhadap perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan.  Diantaranya sebagaimana ungkapan Rene Sedillot, yang menyatakan bahwa sumbangsih peradaban Islam terhadap peradaban umat manusia, hanyalah berupa pembakaran perpustakaan dan penebangan hutan tanpa sejengkal tanah pun ditanami.
Semangat mencari kebenaran yang dirintis oleh pemikir Yunani dan hampir padam oleh karena jatuhnya Imperium Romawi, hidup kembali dalam kebudayaan Islam.  Wells (1951) menyatakan bahwa jika orang Yunani adalah Bapak Metode Ilmiah, maka kaum muslimin adalah Bapak Angkat Metode Ilmiah.  Metode Ilmiah diperkenalkan ke dunia barat oleh Roger Bacon (1214 – 1294) dan selanjutnya dimantapkan sebagai paradigma ilmiah oleh Francis Bacon (1561 – 1626).
Semangat para filosof dan ilmuwan Islam untuk mengembangkan ilmu pengetahuan tidak lepas dari semangat ajaran Islam, yang menganjurkan para pemeluknya belajar segala hal, sampai ke Negeri Cina sekalipun, sebagaimana perintah Allah SWT dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW. Mengenai pertentangan yang terjadi antara kaum filosof dengan kaum tasawuf, mengenai alat yang digunakan dalam rangka mencari kebenaran sejati, yang terus berlanjut hingga saat ini, seharusnya dapat dihindari, bilamana  kedua belah pihak menyadari bahwa Tuhan telah menganugerahi manusia dengan potensi akal (baca otak) dan hati/kalbu.  Kedua potensi itu bisa dimiliki oleh seseorang dalam kadar yang seimbang, namun dapat pula salah satu potensi lebih berkembang daripada lainnya. 
Orang yang sangat berkembang potensi akalnya, sangat senang menggunakan akalnya itu untuk memecahkan sesuatu.  Orang demikian ini lebih senang melakukan olah rasio daripada olah rasa dalam pencarian kebenaran sejati dan sangat berbakat menjadi pemikir atau filosof.  Sementara itu orang yang sangat berkembang potensi hati atau kalbunya, sangat senang mengeksplorasi perasaannya untuk memecahkan suatu masalah.  Orang demikian ini amat suka melakukan olah rasa daripada olah rasio, untuk menemukan kebenaran sejati dan sangat berbakat menjadi seniman atau ahli tasawuf.
Oleh karena itu seharusnya tidak perlu terjadi pertentangan antara ahli filsafat dan ahli tasawuf, karena keduanya adalah anugerah tuhan yang seharusnya diterima dengan penuh rasa syukur.   Seharusnya filosof dan ahli tasawuf dapat hidup berdampingan dengan damai, dan saling melengkapi diantara keduanya, sebagaimana cerita Ibnu Thufail dalam Hayy-Ibnu Yakdzhan, yang telah diuraikan sebelumnya sebelumnya.
d. islam  TIDAK MENGENAL DIKHOTOMI
   Ilmu-ilmu Islam dapat didefinisikan dengan berbagai pola, yang masing-masing pola akan memiliki sesuatu sebagai subyek. Dengan demikian, subyek akan ditentukan dengan pola pendefinisian tadi. Di bawah ini adalah pola-pola yang muncul untuk mendefinisikan ulum Islami:[1]
1.Serangkaian ilmu yang membahas seputar agama Islam; pokok maupun cabangnya, sekaligus hal-hal yang menjadi pendahuluan bagi hasil pokok dan cabang tersebut, yaitu al-Qur’an dan Sunnah. Yang termasuk ilmu-ilmu tersebut ialah: Ilmu Qira’ah, Hadits, Tafsir, Ilmu Kalam Naqli, Fiqih, dan Ilmu Akhlaq.
2.Ilmu-ilmu yang tercantum di atas, ditambah serangkaian ilmu yang menjadi pendahuluan baginya, seperti: Ilmu-ilmu linguistik Arab (Sharaf, Nahwu, Lughoh Ma’ani, Bayan, Badi’, dan sebagainya), Ilmu Rijalul Hadits, Ilmu Dirayah Hadits, Ilmu Kalam Akli, Ilmu Akhlaq akli, Hikmah Ilahiyah, Mantiq, dan Ushul Fiqh.
3.Disiplin-disiplin ilmu yang mempelajarinya bagaimanapun juga termasuk dalam kewajiban agama, walaupun sekadar wajib kifa’i.
Berdasarkan definisi ketiga di atas, ulum Islami akan mencakup mayoritas Ilmu Alam dan Ilmu Matematika yang dibutuhkan oleh masyarakat Islam. Sementara itu, al-Ghazali menyebut empat sistem klasifikasi ilmu yang berbeda:
1.    .Pembagian ilmu menjadi bagian teoritis dan praktis.
2.    Pembagian pengetahuan yang dihadirkan (hudhûri) dan yang dicapai (hushûli).
3.    Pembagian ilmu-ilmu religius (sya’iyah) dan intelektual (aqliyah).
4.    Pembagian ilmu menjadi fadhu ‘ain dan fardhu kifayah.[2]
Dengan demikian, ilmu yang wajib dituntut oleh setiap mukallaf ada tiga jenis, yakni ilmu tauhid, ilmu batin (sirr) yang berkaitan dengan kalbu dan jalan-jalannya, ilmu ibadah lahir yang berkaitan dengan badan dan harta.Lebih lanjut, al-Ghazali memberikan arahan bahwasanya ilmu yang paling bermanfaat adalah ilmu yang dapat menghantarkan manusia untuk mencapai kebahagiaan ukhrawi. Ada beberapa jenis keutamaan yang harus dipersiapkan manusia untuk mencapai kebahagiaan, dalam empat kategori, yang setiap kategori mencakup empat kebahagiaan.[3]
Pertama, menurut al-Ghazali, keutamaan rohani (al-fadlail al-nafsiah) adalah iman dan akhlak yang baik. Iman dibagi atas ilmu mukasyafah (pengetahuan tentang wahyu), dan ilmu muamalah (ilmu pengetahuan agama). Jadi, iman dianggap sinonim dengan ilmu. Akhlak yang baik terdiri empat kebajikan utama, terdiri dari: hikmah (kebijaksanaan), ‘iffah (menahan diri), syaja’ah (keberanian), dan ‘adalah (keadilan). Keempat keutamaan jiwa akhirnya dapat diperkecil menjadi iman atau ilmu dan semua sifat jiwa yang terpuji. Keduanya merupakan sarana terdekat menuju kebahagiaan.
Kedua, keutamaan jasmani (al-fadlail al-jismiyah) juga dianggap sebagai sarana yang esensial bagi tercapainya kebahagiaan. Karena tanpa itu, keutamaan jiwa tidak dapat tercapai dengan sempurna. Meskipun sama pentingnya, derajat keutamaan jasmani berda di bawah kebaikan jiwa. Keutamaan jasmani adalah kesehatan, kekuataan, panjang usia, dan kerupawanan. Ketiga, keutamaan luar badan (al-fadlail al-kharijiyah) adalah kekayaan, pengaruh, keluarga, dan keturunan. Semuanya tidak esensial hanya berguna bagi kebahagiaan.
Keempat, keutamaan bimbingan Allah (al-fadlail al-taufiqiyah) adalah berupa petunjuk Allah (hidayah), pengarahan Allah (rusyd), pimpinan Allah (tasdid), dan penguatan Allah (ta’id). Taufik di sini berarti persesuaian perintah Allah dengan kemauan manusia tentang apa yang benar. Fungsi fadhilah ini ialah menggabungkan fadlilah jasmani dan fadlilah luar jasmani dengan jiwa. Oleh karena itu, taufik dipandang sebagai sarana hakiki bagi kebahagiaan.
Keempat keutamaan di atas saling berkaitan satu sama lain atau saling menyempurnakan untuk menuju kebahagiaan sejati, yakni kebahagiaan ukhrawi. Jalan yang lurus ditempuh untuk menuju kebahagiaan yang hakiki itu ialah ilmu dan amal. Ilmu ialah untuk menentukan apa-apa yang harus dipersiapkan menuju kebahagiaan tersebut, sedangkan amal ialah untuk membersihkan jiwa dari keinginan-keinginan duniawi yang dapat memalingkan manusia dari kebahagiaan tersebut.   Dan mencapai kebahagiaan itu melalui latihan-latihan kerohanian (riyadhah) adalah jalan yang paling selamat bagi al-Ghazali  untuk mencapai kebahagiaan. Inilah jalan para sufi, orang-orang shalih, shiddiqin, dan para nabi.[4]
Ilmu dan amal mempunyai makna yang jelas dalam etika al-Ghazali. Dalam al-Qur’an dan al-Hadits, amal berarti perbuatan baik apapun yang berhubungan dengan pribadi lahir (zhahir), maupun batin manusia, tetapi yang menyangkut batin ini dilukiskan kurang rinci, sebab tidak semua orang bisa melakukannya. Menurut al-Ghazali, para ahli fiqih Muslim mentitikberatkan pada alam diri lahir dengan mengabaikan amal batin. Kaum sufi memberikan perhatian seimbang kepada kedua jenis amal, kecuali yang berhubungan dengan politik. Oleh karena itu, dalam etika sufi al-Ghazali, kata ‘amal mempunyai konotasi yang amat luas ia mencakup amal lahir (al-’amal al-zhahirah) dan amal batin (al-‘amal al-bathiniyah). Masing-masing terbagi dua, amal lahir terbagi dalam amal ibadat ditujukan kepada Allah (ibadat), dan amal baik yang harus dilakukan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat (adat). Sedangkan amal batin dibagi dalam amal pemurnian jiwa (tazkiyat al-nafs) dari perangai yang tercela, dan amal memperindah jiwa (tahliyat al-qalb) dengan sifat-sifat yang baik. Amal yang empat jenis ini membentuk keseluruhan aspek praktis etika al-Ghazali.[5]
Kita sadar bahwa serangkaian ilmu yang membahas seputar agama dalan hal-hal yang menjadi pendahuluan bagi mereka, memang wajib untuk dipelajari dan dikaji, karena mengenali pokok agama (ushuluddin) merupakan kewajiban bagi setiap pribadi muslim, sementara mengenali cabang agama (furu’udin) merupakan wajib kifa’i. Mengenali al-Qur’an dan Sunnah juga wajib, karena tanpa keduanya tak akan didapatkan pengenalan tentang pokok maupun cabang agama. Demikian pula disiplin-disiplin ilmu yang menjadi pendahuluan bagi serangkaian ilmu di atas, juga menjadi wajib berdasarkan muqadimatul wajib.
Semestinya, di kalangan ilmuwan Islam terdapat orang-orang yang senantiasa menguasai disiplin-disiplin ilmu tersebut, bahkan orang-orang yang mengembangkannya. Para ilmuwan Islam sepanjang empat belas abad, telah berusaha semaksimal mungkin untuk terus memperluas jangkauan ilmu-ilmu di atas, dan sebagaimana yang nantinya akan menjadi jelas bagi kita, mereka telah mencapai kesuksesan yang menonjol sekali. Kini kita menyadari bahwa ilmu yang merupakan kewajiban bagi segenap umat Islam, tidaklah terbatas pada apa yang telah disebutkan di atas, melainkan juga mencakup segala macam ilmu yang menjadi syarat atas terselesaikannya setiap kebutuhan dan kepentingan masyarakat Muslim.  Hal itu lebih dikarenakan, Islam merupakan agama yang tidak membatasi dirinya pada sejumlah norma-norma etik yang bersifat individual personal, melainkan merupakan agama yang berusaha untuk membangun sebuah masyarakat sempurna.
Apa saja yang dibutuhkan oleh sebuah masyarakat, Islam telah mewajibkannya. Misalnya sebuah masyarakat membutuhkan dokter, maka menuntut ilmu kedokteran akan menjadi wajib kifa’i; artinya harus terdapat dokter sebanyak yang dibutuhkan oleh masyarakat, jika tidak, maka setiap orang dalam masyarakat tersebut bertanggung jawab dan harus mencurahkan upayanya demi menghasilkan angka yang mencukupi, yaitu dengan mendatangkan dokter-dokter dari luar yang resikonya jauh lebih tinggi.
Begitu pula dengan ilmu politik, ekonomi, industri, dan sebagainya. Jika pada kondisi tertentu keterjagaan sebuah masyarakat Islam tergantung pada penguasaan terhadap tahap-tahap tertinggi dari teknologi, maka Islam akan mewajibkan pengkajian terhadapnya. Dengan demikian, pada prinsipnya, segala ilmu yang dibutuhkan oleh sebuah masyarakat Islam akan menjadi wajib kifa’i bagi setiap pribadi untuk menuntutnya.  Ilmu-ilmu yang—garis besarnya—berkembang di kalangan kebudayaan Islam, mencakup ilmu yang menurut Islam wajib atau bahkan haram sekalipun. Sebagaimana kita ketahui, jika ilmu yang mengkaji tentang perbintangan menerangkan prinsip-prinsip yang bersangkutan dengan mekanisme benda-benda angkasa dan memperkirakan kejadian-kejadian yang diperhitungkan, seperti gerhana, cuaca, dan hal semacam itu (astronomi), tetap merupakan disiplin ilmu yang diperbolehkan oleh agama. Sementara itu, ilmu perbintangan yang mengkaji tentang hal-hal di luar perhitungan matematis dan menjelaskan hubungan yang terselubung antara kejadian-kejadian kosmik dengan kejadian di bumi (astrologi), merupakan disiplin ilmu yang dilarang oleh agama. Meski demikian, kedua ilmu ini pernah berkembang di lingkungan kebudayaan Islam.[6]
Dari keempat definisi di atas, jelaslah bahwa ilmu-ilmu Islam telah digunakan pada beberapa arti yang sebagian dari arti tersebut lebih luas dari sebagian yang lain. Harus disadari bahwa sesungguhnya budaya Islam merupakan sebuah budaya yang eksklusif (unik) di antara budaya-budaya yang tersebar di seantero bumi, memiliki ciri dan gelora tersendiri. Demi membantu kita mengenali budaya Islam sebagai budaya yang sedemikian hebat, maka haruslah kita memperhatikan animo yang mewarnai kebudayaan tersebut, arah gerak, serta nilai-nilai yang menonjol padanya.
Jika dalam beberapa hal di atas itu budaya Islam berbeda dengan budaya-budaya selainnya, itu akan merupakan tanda orisinalitas budaya Islam. Tetapi mengambil keuntungan dari budaya di sekitarnya sama sekali tidak bertentangan dengan orisinalitas budaya Islam, bahkan mustahil suatu budaya muncul tanpa menggunakan beberapa hal dari budaya-budaya sebelumnya. Lagipula penggunaan itu sendiri memiliki dua cara yang berbeda: menelan sebuah budaya asing ke dalam lingkaran kebudayaan tersebut. Atau menyerap hal-hal dari budaya lainnya, seperti sebuah sel hidup yang menyerap zat makanan dari benda-benda di sekitarnya. Penyerapan yang terjadi oleh budaya Islam dari budaya Yunani, India, Persia, dan sebagainya merupakan contoh bagi cara yang kedua tersebut.  Menurut penilaian para ahli sejarah budaya, budaya Islam merupakan salah satu dari budaya terbesar yang pernah muncul di muka bumi. Tentunya, budaya agung ini pertama kali dicetuskan oleh Nabi  Muhammad SAW di kota Madinah. Layaknya setiap sel hidup yang berkembang, budaya itu muncul secara diam-diam tanpa disadari oleh mereka yang berada di sekitarnya.[7]


[1]Muthahhari, Murtadha, Pengantar Menuju Logika, terjemahan Asynai ba Ulume Islami, Duruse Mantiq oleh al-Habsyi,  Bangil, Yapi, 1994, hal. 12—14.
[2]Lebih rinci lihat Osman Bakar, Hierarki Ilmu, Bandung, Mizan, 1998, hal.  231-250.
[3] Kamil, M. Abul Quasem, Etika al-Ghazali: Etika Majemuk Di dalam Islam, (terj.)  J. Mahyuddin,  Bandung: Pustaka, 1988, hal.  55-59.
[4] Ali, Yunasril, Perkembangan Pemikran Falsafi dalam Islam,  Jakarta: Bina Aksara, 1991), hal. 76.
[5] Qasem. Etika al-Ghazali: Etika Majemuk Di dalam Islam,  terj., Bandung, Pustaka, 1988, hal. 63.
[6] Muthahhari, Pengantar Menuju Logika, Bangil, Yapi, 1994, hal. 14.
[7] Muthahhari, Pengantar Menuju Logika,  Bangil, Yapi, 1994, hal. 15.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.