Selasa, 08 Maret 2016

SEJARAH ILMU

Sejarah ilmu pada dasarnya nerupakan sejarah pemikiran umat manusia yang terlepas dari persoalan asal usul kebangsaan maupun agama. Sejarah ilmu harus diurut berdasarkan kronologis waktu. Sejarah ilmu mengikuti urutan dan pembagian kurun waktu dari satu zaman ke zaman berikutnya. Zaman tertua dari pertumbuhan ilmu ialah Zaman Kuno yang, menurut The Liang Gie, terbentang antara tahun 4.000 sebelum Masehi sampai tahun 400 Masehi.[1]  Zaman Kuno itu dapat dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, antara  tahun 4.000 -  600  S.M.(Masa Mesir dan Babilon). Kedua, antara  tahun 600- 30  S.M. (Masa Yunani Kuno), dan ketiga antara tahun 30  S.M.-  400  M.(Masa Romawi).
Kemunculan ilmu pengetahuan Eropa bermula pada akhir abad keenam (VI) dan kelima (V) sebelum Masehi, ketika failosof-failosof Yunani menempati pantai dan pulau-pula Meditarenian Timur.[2] Pada masa sebelumnya peradaban Mesir Kuno, Mesopotania, India dan Belahan Dunia Barat tidak peduli terhadap ilmu. Di Eropa ilmu mendapatkan kemajuan yang berkesinambungan selama 500 tahun, kendatipun pada sebagian periode tersebut ilmu mendapat perhatian yang lebih sedikit di kalangan elite budaya.
Eropa mulai mengenal karya-karya mereka meskipun melalui cuplikan-cuplikan atau nukilan-nukilan singkat yang dibuat oleh para pengarangyang hidup belakangan. Seleksi-seleksi pun dilakukan sehingga menjadikannya tampak lebih rasional dan lebih ilmiah daripada hanya sekedar pembenaran. Namun demikian, tampaknya para failosof Yunani lebih tertarik kepada penjelasan tentang fenomena pencerahan inderawi daripada mengedepankan Konsep-konsep praktis. Sejak saat itulah, mulai  terjadi keterputusan budaya mitologis dengan kebudayaan mereka sendiri dan budaya kuno yang mendahuluinya.  Dalam keadaan demikian, mereka dipandang telah memposisikan diri sebagai perintis kemajuan ilmu pengetahuan dan sikap ilmiah Eropa modern.
Penghujung abad kelima sebelum Masehi mulai adanya penyelidikan yang lebih canggih. Tetapi, masih berupa penjelasan-penjelasan spekulatif mengenai fenomena akal sehat ketimbang argumen yang benar-benar teknis tentang pengalaman-pengalaman yang muncul. Ada dua disiplin yang dipelajari pada waktu dan mendekati kematangannya, yaitu ilmu kedokteran dan matematika.
Romawi menjelang akhir periode pra-Kristen berhasil memunculkan paradoks bagi para sejarawan ilmu. Karena, perhatian yang besar terhadap berbagai disiplin keilmuan tidak diimbangi dengan kekuatan melahirkan seorangpun ilmuwan dari bangsa Romawi. Keadaan demikian disebabkan asumsi yang naif bangsa Romawi terhadap ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan, bagi mereka, hanya cocok untuk spekulasi yang  bersifat sementara (causal speculation) dan cocok untuk teknik-teknik praktis. Penyebab  lain yang dicoba dianalisis para ahli adalah soal kentalnya tradisi magic  masyarakat Romawi dan sistem perbudakan yang menghambat bagi inovasi undustri.
Peradaban Yunani-Romawi mencapai penggenapan siklusnya pada sekitar tahun 1.000 M. Setengah abad berikutnya di Eropa sering disebut Abad Gelap (A Dark Age).  Di awal abad 11 M. sebagian besar orang terpelajar mengenal dan memahami ilmu kuno. Pada abad ke-12 M. dialami suatu proses pencerahan yang sebagian disebabkan oleh pergaulan dengan peradaban Islam yang lebih tinggi yang terdapat di Spanyol dan Palestina dan sebagian lagi disebabkan oleh  perkembangan berbagai kota dengan kelas atasnya yang melek huruf. Dari periode ini muncullah karangan-karangan spekulatif perdana tentang filsafat alamiah.
Abad ke-13 berdiri universitas-universitas dan zaman kebesaran pengetahuan skolastik. Thomas Aquinas dan Riger Bacon termasuk dalam zaman ini. Akan tetapi, dalam tahun 1350-an Eropa dilanda bencana ekonomi dan sosial. Filsafat alamiah dan fakta-fakta khusus dipelajari terutama yang berhubungan dengan agama.
Kebudayaan Islam adalah kebudayaan yang paling relevan bagi ilmu Eropa.[3] Hal demikian dikarenakan adanya kontak-kontak cultural yang intensif antara negara-negara Arab dengan Eropa Latin pada masa-masa yang menentukan. Penaklukan yang dilakukan oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW mulai abad ke-7 M. hingga abad ke-10 M. telah membuat  bahasa Arab menjadi bahasa kaum terpelajar bagi bangsa-bangsa ‘ajam mulai dari Persia hingga Spanyol. Disamping dibawanya kedamaian dan kemakmuran bagi negeri-negeri yang diduduki, seperti perpustakaan Cordova (Spanyol) yang memiliki 500. 000 buah buku.
Kontak antara Islam dan Eropa Latin, dengan demikian, jelas-jelas berlangsung melalui Spanyol dimana kaum Kristiani dan Yahudi dapat bertindak sebagai perantara dan penterjemah.  Mulai sejak abad ke-12 M. dilakukan penterjemahan secara besar-besaran dari kitab-kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Latin, mulai bidang astrologi dan mistik (tasawwuf) hingga bidang kedokteran dan akhirnya filsafat dan ilmu pengetahuan (sains). Rute lain, meskipun kecil, adalah Italia melalui hubungan dagang Tunisia.
Filsafat dan ilmu yang dikenal di  dunia  Barat dewasa ini berasal dari zaman Yunani Kuno.[4]  Filsafat  ilmu  sampai tahun 1990-an telah berkembang begitu pesat sehingga menjadi satu bidang pengetahuan yang amat luas dan sangat mendalam.  Filsafat ilmu   lazim dikenal sebagai sebuah kajian atau disiplin ilmu tentang ilmu pengetahuan yang dikalim sebagai ilmu Eropa.[5]Ilmu  adalah ciptaan bangsa Eropa.  Meskipun   peradaban-peradaban lain memberikan berbagai kontrbusi yang penting kepadanya, dan walaupun di masa kini semua bangsa berpartisipasi dalam penelitian,   ilmu alam secara khas adalah ciptaan Eropa dan koloni-koloni kulturalnya.[6]
 Ilmu Eropa dapat dijelaskan melalui keadaan-keadaan ketika para ilmuwan menggarap   bahan-bahan yang diwarisi selama dua fase berturut-tururt,  fase renaisans dan fase revolusi dalam Filsafat Alam.   Hal itu   mencakup  prinsip-prinsip dasar pengenalan dunia alamiah  (natural world) melalui argumen-argumen demostratif, prinsip yang pertama kali dicapai oleh peradaban Yunani kemudian diadopsi oleh perdaban Islam.
Pada abad ke-17 M. terjadi  perumusan kembali yang radikal terhadap objek-objek, metode-metode dan fungsi-fungsi pengetahuan alamiah (the natural sciences). Objek baru adalah fenomena yang teratur di dunia tanpa sifat-sifat manusiwi dan spiritual. Metode-metode barunya  merupakan penelitian yang kooperatif. Sedangkan fungsi-fungsi barunya adalah gabungan dan pengetahuan ilmiah serta kekuasaan industrial.Target sasaran revalousi ini ialah pendidikan tradisional yanglebih tinggi yang lazim dikenal Skolastik.
Para “nabi” dan tokoh-tokoh revolusioner abad ini adalah Francis Bacon (di Inggris)  dan  Galileo Galilie (di Italia). Mereka memiliki tekad yang sama  terhadap dunia alamiah dan studinya. Mereka melihat  alam sebagai sesuatu yang tidak mempunyai sifat-sifat manusiawi dan spiritual.  Tidaklah mungkin adanya dialog dengan alam.  Tujuan-tujuan penelitian yang masih mempertahankan pengaruh magis dalam idealisasi failosof tradisional digantikan dengan dmoniasi alam demi keuntungan manusia.  Pengetahuan diharapkan akan lebih bermanfaat ketika dihadapkan kepada  perbaikan-perbaikan kecilindustri dan ilmu kedokteran, serta tidak bersifat merusak.
Revolusi dalam filsafat mengubah bentuk ilmu Eropa menjadi sesuatu yang unik. Di masa sekarang filsafat kemudian disuntikkan ke dalam perkembangan ilmu yang sedang tumbuh subur.   Mulanya memang perlahan-lahan, tetapi kemudian aktivitas  sintesis mampu menciptakan satu jenis ilmu baru yang ditandai dengan gaya baru aktivitas sosial dalam bidang penelitian dengan jiwa menciptakan etos kerja yang menentingkan kebaikan umum.Keberhasilan filsafat baru itu terbukti nyata menjalang akhir abad ke-17 M. Namun demikian, lagi-lagi yang mesti dicatat, ilmu Eropa tetap berhutang budi pada keberhasilan-keberhasilan masa lampau dan karakter khususnya yang mempunyai andil pada metafisika dan metode-metodenya.
Dengan berakhirnya Zaman Pencerahan dunia memasuki Zaman Modern mulai abad ke-17 M. Pengertian ilmu yang modern dan berlainan dengan ilmu lama  atau klasik mulai berkembang dalam abad ini. Perkembangan itu terjadi karena perkembangan tiga hal pokok yaitu : (1) perubahan alam pikiran manusia, (2) kemajuan teknologi, dan (3) lahirnya metode ilmiah. Pasa sejarawan menyebut  abad ke-17 M. sebagai the Century of Genius  (abad orang-orang berbakat luar biasa).[7]Gilbert , Kepler, Harvey, Galileo, Boyle, Newton, dan Bacon serta Decrates merupakan orang-orang jenius  yang turut mewarnai dinamika ilmu pengetahuan pada abad ini.
Sejak abad ke-17 M. ilmu sudah memisahkan diri dari Filsafat.Para ilmuwan melakukan kegiatannya tidak saja menggunakan akal atau rasionanya, juga melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat praktis-empiris.Mereka mulai menggunakan teknik observasi yang cermat, percobaan yang diulang-ulang, dan wawancara secara lisan maupun tulisan dalam rangka mengumpulkan pengetahuan ilmiah. Para ilmuwan Eropa sejak Zaman Modern berganusng-angsur meninggalkan alam pikiran lama yang masih mempercayai takhayul, penjelasan-penjelasan magis dan mengikuti alam mistik. Para cendekiawan dan ilmuwan mulai berpegang pada kemampuan akal (rasio) sepenuhnya untuk menjelaskan berbagai gejala alam  atau menyelesaikan sesuatu masalah. Kemampuan akal selanjutnya didukung oleh perkembangan teknologi lalu menjadi perpanjangan dari hasil kemajuan kemampuan berfikir manusia.Akhirnya, kemampuan akal manusia itu diperkuat oleh data metode ilmiah yang berdasarkan pengamatan (observasi) dan percobaan (eksperimen).
Ilmu telah meisahkan diri dari Filsafat.Ilmu dalam pengertiannya sebagai pengetahuan merupakan suatu sistem pengetahuan sebagai dasar teoritis untuk tindakan praktis.Ilmu, dengan demikian, pengetahuan yang memiliki struktur tersendiri.Ilmu sebagai sekumpulan pengetahuan sistematik terdiri dari komponen-komponen yang saling berkaitan.
Setelah abad ke-20 M. pertumbuhan ilmu di dunia mengalami ledakan. Hampir setiap tahun puluhan penemuan dari hasil  penelitian para ilmuwan muncul.  Sejak tahun1901 hasil penemuan itu memberikan sumbangan besar bagi kemanusiaan dari mulai Ilmu Alam, Ilmu Kedokteran, Ilmu Kimia, dan Ilmu Ekonomi. Prestasi-prestasi ilmiah di awal abad ke-20 M. terlalu besar bahkan untuk di-katalog-kan.
B. Sumbangan Islam terhadap Ilmu Pengetahuan
Sejarah telah membuktikan bahwa adanya sikap konservatif terhadap pandangan-pandangan baru, telah menghantarkan peradaban ke dalam masa-masa kegelapan.  Sejarah Islam telah mencatat bahwa masa keemas-an Islam (The Golden Age of Islam) terjadi pada masa pemerintahan Dinasti Abbas (Abbasiyah), yang sangat terbuka terhadap perkembangan berbagai pemikiran baru.  Bersamaan dengan dilarangnya belajar-mengajar filsafat, umat Islam mengalami kemunduran, hingga terpuruk ke dalam belenggu penjajahan Negara-negara Barat.  Timbulnya kesadaran baru di kalangan umat Islam untuk keluar dari belenggu penjajahan, tidak lepas dari keberanian beberapa pembaharu dunia Islam seperti Jamaluddin al Afghani  dan Muhammad Abduh, yang menganjurkan agar umat Islam kembali mempelajari filsafat dan membuka diri kepada munculnya ide-ide baru.Berangkat dari uraian diatas, maka dalam tulisan berikut ini akan dipa-parkan bagaimana sumbangan peradaban Islam pada masa keemasannya dahulu terhadap perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan, dengan maksud untuk meluruskan pandangan bahwa Umat Islam itu seolah-olah anti ilmu pengetahuan dan teknologi.



[1] The Liang Gie,  Sejarah Ilmu,  Yogjakarta, Sabda Persada, 1988, hal.  29.
[2]Revertz,  Jerome R.,  Filsafat Ilmu Sejarah & Ruang Lingkup Bahasan, terj.,  Yogjakarta,  Pustaka Pelajar, hal. 7.
[3]Ravertz, Sejarah Filsafat Ilmu,  hal. 19.
[4]The Liang Gie,  Pengantar Filsafat Ilmu, Yogjakarta, Liberti, 200,  hal. 1.
[5]The Liang Gie,  Pengantar Filsafat Ilmu,  hal. 65.
[6] Ravertz, Sejarah Filsafat Ilmu, hal.  27.
[7] Byrnes, Joseph A.,  “The 17th Century”, dalam, J. Sherwood Weber, ed.,  Good Reading,  1980, hal. 48.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.