Rabu, 23 Maret 2016

Pesantren Wali Songo

Pesantren Wali Songo  
oleh : 
Suteja
     Wali Songo  dan komunitas pesantren selalu loyal pada missinya sebagai pewaris Nabi Muhammad yang terlibat secara fisik dalam rekayasa sosial. Misi utama mereka adalah menerangkan, memperjelas, dan memecahkanpersoalan-persoalan masyrakat, dan memberi modelidealbagi kehidupan sosial agama masyarakat. Model Wali Songo  yang diikuti oleh para ulama di kemudian hari telah menunjukkan integrasi antara pemimpin agama dan masyarakat yang membawa mereka pada kepemimpinan proaktif dan effektif. Pendekatan dan kearifan Wali Songo  kini terlembagakan dalam esesni budaya pesantren dengan kesinambungan ideologi dan kesejarahannya.
       Keberhasilan pendidikan Islam  Wali Songo  terhadap pendekatan penguasa tercermin dalam menyatukan unsur pemimpin agama dan negara. Dikotomi antara ulama dan raja, sebagaimana diteladankan oleh para pemimpin sesudah Nabi Muhammad (Khalifah Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali)   tidak mendapatkan ruang dan tempat dalam ajaran dasar Wali Songo. Ajaran ini, sebagaimana dikemukakan Abdurrahman Wahid, adalah warisan Sunan Kalijaga sebagai grand desinger dan kemudian dipopulerkan oleh Sultan Agung.[1] Namun demikian seperti dikemukakan di atas, pendidikan Wali Songo  mudah ditangkap dan dilaksanakan.
     Wali Songo dan kyai Jawa adalah agent of social changer  melalui pendekatan kultural. Ide cultural resistence   juga mewarnai kehidupan intelektual pendidikan pesantren. Subjek yang diajarkan di lembaga ini adalah kitab klasik yang   diolah dan ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikut, yang sekaligus merujuk kepada keampu-an kepemimpinan kyai-kyai.
          Isi pengajaran kitab-kitab itu menawarkan kesinambungan tradisi yang benar mempertahankan ilmu-ilmu agama dari sejak periode klasik dan pertengahan.  Memenuhi fungsi edukatif, materi yang diajarkan di pesantren bukan hanya memberi akses pada santri rujukan kehidupan keemasan warisan peradaban Islam masa lalu, tapi juga menunjukkan peran hidup yang mendambakan kedamaian, keharmonisan dengan masyarakat, lingkungan dan bersama  Tuhan.
Tujuan itu secara sederhana seperti dikemukakan Mastuhu,[2]  adalah menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan, berakhlak mulia, bermanfaat bagi masyarakat atau berkhidmat kepada masyarakat dengan jalan menjadi kawula atau aabdi masyarakat tetapi rasul (pelayan masyarakat sebagaimana kepribadian Nabi Muhammad), mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dala kepribadian, menyebarkan agama atau menegakkan Islam dan kejayaan umat Islam di tengah-tengah masyarakat, dan mencintai ilmu dalam rangka mengembangkan kepribadian Indonesia.
Karena konsep di atas pula pesantren selalu tegar menghadapi hegemoni dari luar. Pesantren-pesantren tua biasanya selalu dihubungkan dengan kekayaan mereka berupa kesinambungan ideologis dan historis, serta mempertahankan budaya lokal. Denominasi keagamaan dalam pendidikan pesantren yang Syafi’i- Asy’ari-Ghazalian-Oriented   terbukti sangat mendukung terhadap pengembangan dan pelaksanaan konsep cultural resistance.


[1] Abdurrahman Wahid,  “Principles of Pesantren Educatuon”, dalam, Manfred Oepen and Wolfgang Karcher (Ed.,), the Impact of Pesantren (Jakarta : P3M, 1988), h. 198. 
[2] Mastuhu,  Op. Cit.,  h. 55-56.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.