Senin, 07 Maret 2016

. PESANTREN TEMPO DULU

PESANTREN TEMPO DULU
OLEH: SUTEJA

Pesantren adalah adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya modal keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari.[1] Pengertian tradisional di sini menunjuk bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan agama (Islam) telah hidup sejak 300 – 500 tahun lalu dan telah menjadi bagian yang mengakar dalam kehidupan sebagian besar umat Islam Indonesia, dan telah mengalami perubahan dari masa ke masa. Tradisional bukan berarti tetap tanpa mengalami perubahan.
Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang unik di Indonesia.[2]  Lembaga pendidikan ini telah berkembang khususnya di Jawa selama berabad-abad. Pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pusat penyebaran agama Islam lahir dan berkembang semenjak masa-masa permulaan kedatangan agama Islam di Nusantara. Lembaga ini berdiri untuk pertama kalinya di zaman  Wali Songo.  Syaikh Mawlana Malik Ibrahim atau Mawlana Maghribi (w.1419 M.) dianggap sebagai pendiri pesantren yang pertama di Jawa.[3] Syaikh Mawlana Malik Ibrahim  dipandang  sebagai Spiritual Father Wali Songo,  gurunya guru tradisi pesantren di tanah Jawa.[4] Menyusul kemudian pesantren Sunan Ampel di daerah Kembangkuning  Ampel Denta Surabaya, yang pada mulanya hanya memiliki tiga orang santri atau murid.[5] Pesantren Sunan Ampel inilah yang melahirkan kader-kader Wali Songo  seperti Sunan Giri (Raden Paku atau Raden Samudro). Sunan Giri setelah tamat berguru kepada Sunan Ampel dan ayahandanya sendiri  (Mawlana Ishak)   kemudian mendirikan pesantren di Desa Sidomukti Gresik.  Pesantren itu sekarang lebih dikenal dengan sebutan Pesantren Giri Kedaton. Pesantren Giri Kedaton sebagai pesantren yang termasyhur di wilayah Jawa Timur. Para santri yang datang untuk belajar di sana berasal dari daerah yang sangat beragam seperti : Madura, Lombok, Bima, Makasar, dan Ternate (Halmahera), selain daeri daerah-daerah di Jawa Timur sendiri. Sampai dengan abad ke-17 M. pesantren ini masih tetapharum dan didatangi oleh para santri untuk menimba ilmu agama Islam di sana. [6]
Raden Fatah adalah murid Sunan Ampel. Setelah mendapatkan ijazah dari sang guru ia mendirikan pesantren di Desa Glagah Wangi, sebelah Selatan Jepara (1475 M.=880 H.). Di Pesantren ini pengajarannya terfokus kepada ajaran tasawwuf para  wali  dengan sumber utama Suluk Sunan Bonang. Sedangkan kitab yang dipergunakan adalah Tafsir al-Jalalayn.[7] Ketika Demak dipimpin oleh Sultan Trenggono (memerintah antara 1521–1546 M.=928–953 H.)  Fatahillah (Fadhilah Khan) yang dipandang ‘alim dan dihormati masyarakat dipercaya untuk mendirikan pesantren di Demak.[8] Satu abad setelah masa Wali Songo,  abad XVII M., Mataram memperkuat pengaruh ajaran  Wali Songo, dengan. mulai membuka kelas khusus bagi para santri untuk memperdalam ilmu agama Islam (kelas takhashshush) dengan spesialiasi cabang ilmu tertentu,  serta  pengajian tarekat,[9] atau pesantren tariqat.[10] Reformasi itu terjadi ketika Mataram dipimpin oleh  pemerintahan Sultan Agung, yang dikenal sebagai Sultan Abdurrahman dan Khalifatullah Sayyidina Penotogomo ing Tanah Jawi  (memerintah 1613-1645 M. = 1022-1055 M.) dengan menyediakan menyediakan tanah perdikan bagi kaum santri serta memberi iklim sehat bagi kehidupan intelektualisme keagamaan (Islam) hingga mereka berhasil mengembangkan tidak kurang dari 300 buah pondok pesantren.[11] Kenyataan ini identik dengan dinamika dan  kemajuan yang dinikmati Madrasah Nidzamiyah Baghdad ketika pada masa-masa keemasannya di bawah kepemimpinan al-Ghazali.
Pada tahap-tahap pertama, dengan demikian, pendidikan pesantren memang masih memfokuskan  kepada upaya pemantapan iman dengan latihan-latihan ketarikatan  daripada menjadikan dirinya sebagai pusat pendalaman Islam sebagai ilmu pengetahuan atau wawasan.  Seperti banyak dikemukakan dalam perjalanan sejarah, bahwa seputar abad ke-17 dan 18 M., dimana pesantren mulai dirintis, kondisi masyarakat pada umumnya masih demikian kental dengan tradisi mistik yang kuat.[12] Eksistensi pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan Islam mistik saat itu  dikarenakan oleh sebab-sebab  yang berasal dari  luar pesantren.  Sebab-sebab  dimaksud adalah  langkanya literatur keislaman di Jawa ketika itu sebagai konsekuensi logis dari  kurangnya kontak antar umat Islam di Jawa dengan Timur Tengah, yang disebabkan oleh politik pecah belah Belanda yang tengah berusah keras  menunjang penyebaran agama Kristen di Nusantara.[13]
Pesantren dalam bentuknya semula tidak dapat disamakan dengan lembaga pendidikan madrasah atau sekolah seperti yang dikenal sekarang ini.  Perkembangan selanjutnya menunjukkan pesantren sebagai satu-satunya lembaga pendidikan tradisional yang tampil dan berperan sebagai pusat penyebaran sekaligus pendalaman agama Islam bagi pemeluknya secara terarah.[14] Abad ke-19 M. adalah abad permulaan adanya kontak umat Islam di Indonesia dengan dunia Islam, termasuk  Timur Tengah. Selain kontak melalui jamaah haji Indonesia, juga melalui sejumlah pemuda Indonesia yang belajar di Timur Tengah (Makkah).  Mereka sebagian besar berasal dari keluarga pesantren.[15] Di antara mereka yang sukses secara gemilang adalah Syaikh Nawawi Tanara Banten (w. 1897 M.),  Syaikh Mahfudz al-Tirmisi (w. 1919 M.),  Syaikh Ahmad Chothib Sambas (asal Kalimantan),  dan Kiai Cholil Bangkalan (w. 1924 M.= 1343 H.). Pada abad ke-19 M. mereka adalah orang-orang yang mengisi kedudukan sebagai  imam dan pengajar di Masjid Haram Makkah al-Mukarromah.[16]
Generasi pertama  itu kemudian melahirkan para santri sebagai murid langsung, yang selanjutnya dikenal sebagai generasi kedua dalam jajaran pelopor dan pendiri pesantren di Jawa dan Madura.  Mereka adalah  KH. A. Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang (1871-1947 M.=1288–1367 H.),  KH. Abdul Wahab Hasbullah (Surabaya),   dan KH. Bisyri Syamsuri.  Pada tahun 1899 M.=1317 H., KH. A. Hasyim Asy’ari mendirikan Pesantren Tebuireng.  Pesantren itu  menawarkan panorama yang berbeda dari pesantren-pesantren lain sebelumnya. Ia mencoba merefleksikan hubungan berbabagai dimenasi yang mencakup ideologi, kebudayaan serta pendidikan.[17] Pendirian pesantren ini dipandang sebagai upaya penting komunitas pesantren karena mulai memperlihatkan sikap pesantren menentang hegemoni penjajah. Boleh dijuga diasumsikan motivasi politik yang ditujukan Pesantren Tebuireng adalah manifestasi kesadaran diri dan percaya diri paling tertinggi dari kaum pesantren.[18]
Pada awal abad XX M., Pesantren Tebuireng di bawah pimpinan   KH. A. Wahid Hasyim (1916 M.= 1335 H.)  berhasil melakukan perubahan  yang radikal  secara kelembagaan berkenaan dengan kurikulum pesantren.  Dia memasukkan pendidikan persekolahan (komunitas pesantren menyebutnya sistem madrasi) dengan mendirikan Madrasah Nidzamiyah di dalam lingkungan pesantren.  Di madrasah itu diajarkan berbagai mata pelajaran yang oleh seluruh komunitas pesantren saat itu dihukumi haram dan yang mempelajarinya divonis kafir. Mata pelajaran yang dimaskud  adalah :  Berhitung, Ilmu Bumi, Sejarah, Bahasa Melayu, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Belanda.
Perkembangan pada masa-masa selanjutnya berhasil mencatat pesantren sebagai lembaga pendidikan agama (Islam) yang mampu melahirkan suatu  lapisan  masyarakat  dengan tingkat kesadaran dan pemahaman keagamaan (Islam)  yang relatif utuh dan lurus.[19]  Sebagai salah satu lembaga pendidikan yang memegang peranan penting dalam penyebaran ajaran agama (Islam) prinsip dasar pendidikan dan pengajaran pesantren adalah pendidikan rakyat. Dan, karena tujuannya memberikan pengetahuan tentang agama,  maka ia tidak memberikan pengetahuan umum.[20]



[1] Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, Jakarta,  INIS, 1994, 55.
[2] Abdurrahman Mas’ud, “Sejarah dan Budaya Pesantren”, dalam, Ismail Huda SM, ed., Dinamika Pesantren dan Madrasah, Yogjakarta,  Pustaka Pelajar, 2002,  3.
[3] Kafrawi,  Pembaharuan SistimPendidikan Pondok Pesantren sebagai Usaha Peningkatan Prestasi Kerja dan Pembinaan Kesatuan Bangsa, Jakarta, Cemara Indah, 1978, 17.
[4] Abdurrahman Wahid,  Bunga Rampai Pesantren, Jakarta,  Dharma Bhakti, 1399 H., 52.
[5] Marwan Saridjo, Sejarah Pondok Pesantren, Jakarta,  Dharma Bhakti, 1982,  25.
[6] Abu Bakar Atjeh, dalam Marwan Saridjo, Sejarah Pondok Pesantren, 25.
[7] Mahmud Yunus,  Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta, Dharma Bhakti, 1982, 257.
[8] Marwan Saridjo, Sejarah Pondok Pesantren,  27.
[9] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, 257.
[10] Ensiklopedi Islam, Jakarta,  Ikhtiar Baru, 1993 .
[11] Abdurrahman Saleh, dkk.,  Pedoman Pembinaan Pondok Pesantren, Jakarta,  Binbaga Islam, 1982,  6.
[12] Abu Bakar & Shohib Salam, “ Pesantren Babakan Memangku Tradisi dalam Abad Modern “, dalam, Agus Sufihat, dkk., Aksi-Refleksi Khidmah NahdhatulUlama 65 Tahun, Bandung, PW NU Jawa Barat, 1991, 44.
[13] M. Natsir, Islam dan Kristen di Indonesia, Jakarta,  Bulan Bintang, 1969,  21.
[14] Slamet  Effendy Yusuf, dkk.,  Dinamika Kaum Santri Menelusuri Jejak dan Pergolakan internal NU, Jakarta,  Rajawali, 1983, 4.
[15] Slamet  Effendy Yusuf, dkk.,  Dinamika Kaum Santri  4.
[16] Zamakhsyari Dhofier,  Tradisi Pesantren, Jakarta,  LP3ES, 1982,  85
[17] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Bandung,  Remaja Rosda Karya, 1992,  194.
[18] Abdurrahman Mas’ud,  Sejarah dan Budaya Pesantren,  20.
[19] Slamet,  Dinamika Pesantren, 4.
[20] Djumhur, I,  Sejarah Pendidikan, Bandung,  CV Ilmu, 1976, 111-112.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.