Rabu, 30 Maret 2016

Pendidikan untuk Bertasawuf

Pendidikan untuk Bertasawuf
suteja
Maraknya kajian-kajian tentang tasawuf dewasa ini, dan kian bertambahnya minat masyarakat terhadap tasawuf, memperlihatkan bahwa sejak awal sejarah Islam di Nusantara tasawuf telah berhasil mengikat hati masyarakat. Pengaruh dan peranan tasawuf ternyata tidak pudar sejak dahulu sampai dengan sekarang, dengan catatan sedikit mengabaikan penyimpangan-penyimpangan yang dijadikan bahan kritik. Penyimpangan-penyimpangan yang lazim dijadikan bahan kritik dan juga introspeksi (muhasabah) adalah persoalan pemahaman tentang ma’rifatullah –yang dirumuskan secara berbeda oleh para sufi- dan kecenderungan meninggalkan kehidupan dunia yang ditampilkan –secara sadar atau tidak- oleh para penganut dan pengamal jam’iyah tarekat tertentu.
            Oleh para pengamalnya,  tarekat (thoriqoh) diyakini sebagai sesuatu yang identik dengan tasawuf islami  yang bersumber kepada Kitabullah dan al-Sunnah. Segala tindakan dan perilaku penganut tarekat selalu diatasnamakan sebagai mujahadah  dan riyadhah  yang tampak di permukaan inilah yang, oleh para ahli fiqh (fuqoha’) dipandang sebagai bentuk penyelewengan dan dituduh mengikuti cara-cara beragama kaum Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha, Animisme, Dinamisme dan lainnya dalam hal pensucian jiwa (tazkiyyat al-Nafs), yang cenderung mengabaikan hak-hak tubuh jasmani.
            Hal-hal lain yang, lazim dijadikan bahan kritik, sudah menjadi banjir keterlanjuran  tetapi harus segera dibendung dan dihentikan adalah sinkritisme  dalam bertasawuf. Di sisi lain, proses pembelajaran tasawuf selama ini baik di pesantren-pesantren dan perguruan tinggi Islam adalah bersifat memihak. Kaum pendidik (kyai, ustdaz, dosen) dalam hal pembelajaran tasawuf mencoba mentransfer pengetahuan yang diperoleh generasi sebelum mereka secara apa adanya  dan tidak berusaha mencoba melakukan analisis denagn merujuk kepada sumber orsinil  yang primer. Kaum pendidik, disadari atau tidak, selama ini mengajarkan pemahaman bertasawuf dari karya-karya  terjemahan dan bahkan buah pemikiran kaum orientalis.
            Faktor-faktor tersebut, termasuk pendukung kekeliruan-kekeliruan dalam bertasawuf sehingga dapat dengan mudah kaum  kritikus mengalamatkan tuduhan bahwa, tasawuf lahir dari hasil adaptasi dan kompromi (akulturasi) dengan budaya lokal. Tasawuf Islam dituduh mencontoh sistem kerahiban Nasrani, Yahudi, Hindu, dan Budha, serta penetrasi filsafat pantheisme.
            Tasawuf Islam model Rasulullah Muhammad SAW adalah intisari dari keseluruhan ajaran Islam (manifestasi ihsan). Di sisi lain tasawuf masih dipadang sebagai faham dan amaliah keagamaan yang cenderung individualistik dan mengabaikan hal-hal duniawi. Kedua tirik esktrim itu sampai sekarang belum bisa diubah dan akarnya yang sudah terhunjam berabad-abad di hati umat Islam, belum ada kekuatan mana pun yang berhasil mencabut sampai ke akar-akarnya.
            Pendidikan, dalam hal ini pencerahan pemahaman dengan merujuk secara langsung sumber-sumber primer yang orsinil dan otentik, mungkin bisa diharapkan menjadi solusi bagi kebuntuan dari usaha mempertemukan kedua kutub eksterim tersebut.  Disamping, dibutuhkan adanya tekad kuat dari setiap pribadi umat muslim untuk mengembalikan tasawuf kepada sumbernya, al-Quran dan al-Sunnah. Buku ini memberikan harapan baru bagi proses pencerahan pemahaman dan wawasan tentang tasawuf yang sebenar-benarnya, yakni tasawuf yang bersumber kepada wahyu Allah (al-Quran dan al-Sunnah). Sehingga dapat dihindari keraguan untuk bertasawuf secara praktis dan fleksibel  dan, yang sangat prinsip, terhindarnya perilaku bertasawuf praktis secara kondisional. (Allah a’lam bi al-Showab).
                         Cirebon,  JUNI  2014 M./Rajab 1435 H.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.