Rabu, 02 Maret 2016

PENDIDIKAN UNTUK BERTASAWUF

PENDIDIKAN UNTUK BERTASAWUF
SUTEJO IBNU PAKAR


Masyarakat terdidik dapat dipahami sebagai komunitas manusia  yang telah mendapatkan pendidikan.  Pendidikan adalah bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa kepada yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaannya. Ketika telah mencapai kedewasaanya, maka tiba gilirannya untuk memberikan bimbingan kepada yang belum dewasa. Maka pendidikan akan terus berjalan sepanjang  sejarah kehidupan manusia.  Pendidikan adalah  proses  interaksi individu dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik yang berlangsung sepanjang hayat sejak manusia lahir. Warisan sosial merupakan bagian dari lingkungan masyarakat dan alat bagi  pengembangan manusia yang terbaik dan inteligen, untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya.
Manusia terdidik adalah manusia yang telah mencapai kedewasaanya. Sementara ukuran kedewasaan masih menjadi sebuah perdebatan dan tidak memiliki ukuran yang jelas dan pasti. Maka dibuatlah sebuah legalitas berdasarkan tingkatan pendidikan formal. Dan ijazah maupun sejenisnya, nampaknya menjadi pilihan solusi untuk menentukan antara ”manusia terdidik” dan ”manusia tak terdidik”. Sehingga bisa dilihat siapa yang ”terdidik” dan siapa yang ”tak terdidik”. Persoalannya kemudian tidak cukup sampai disitu. Seringkali substansi pendidikan justru dilupakan. Sudah cukup bagi siswa untuk menghafal apa yang diajarkan guru, kemudian menulis ulang jika ditanyakan dalam ujian. Baginya, yang penting mendapat nilai bagus agar bisa lulus dan mendapat pengakuan sebagai ”manusia terdidik” tanpa peduli terhadap pemahaman dan aplikasinya dan dalam keadaan demikian terjadilah pembelengguan karena pendidikan hanya sebatas transfer pengetahuan. Mestinya, pendidikan harus diposisikan sebagai media pmembeban  karena pendidikan adalah upaya untuk memperoleh pengetahuan dan menjadi proses transformasi yang diuji dalam kehidupan nyata.
Halaqah-halaqah dan kajian-kajian kitab klasik di lingkungan warga nahdhiyyIn Cirebon berikhitar untuk  mengetahui sesuatu yang sebenarnya sudah diketahui warga nahdhiyyin tentang tasawuf dan atau tarekat. Dan yang terpenting, lanjutnya, kajian-kajian justru dimaksudkan untuk membekali pengetahuan konsptual yang untuk dipedomani  bagi perilaku dan amaliah bertasawuf warga nahdhiyyin. Bila perlu, sesuai dengan semangat pembudayaan, kajian-kajian itu   mampu menciptakan pengetahuan baru. Bila warga nahdhiyyin  seirus benar-benar ingin beRikhtiar dalam pembudayaan. Pembudayaan adalah  latar belakang  sejarah kemanusiaan dan  peradaban umat Islam yang pernah mengalami puncaknya di zaman pemerintahan Bani ‘Abbasiyah di abad pertengahan masehi.
Pendidikan adalah proses pembudayaan. Kebudayaan merupakan hasil dari kegiatan manusia, tetapi kebudayaan juga menstrukturisasi tingkah laku manusia. Kebudayaan dari satu pihak memungkinkan pengembangan lebih lanjut, tetapi dari lain pihak juga membatasi apa yang akan dicapai. Maka masalahnya kemudian adalah  bagaiman warga nahdhiyyin  tetap menjadi subyek dari kebudayaan, yang mampu mentransformasikan kebudayaan secara mudawanmah.
Paradigma   humanistik memandang manusia sebagai ”manusia”,  yakni makhluk ciptaan tuhan dengan fitrah-fitrah tertentu. Sebagai makhluk hidup ia harus melangsungkan, mempertahankan, dan mengembangkan hidup.  Sebagai makhluk batas (antara hewan dan malaikat), ia memiliki sifat-sifat kehewanan (nafsu-nafsu rendah) dan sifat-sifat kemalaikatan (budi luhur), sebagai makhluk dilematik ia selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan dalam hidupnya; sebagai makhluk moral, ia bergulat dengan nilai-nilai; sebagai makhluk pribadi, ia memiliki kekuatan konstruktif dan destruktif; sebagai makhluk sosial, ia memiliki hak-hak sosial; sebagai hamba tuhan, ia harus menunaikan kewajiban-kewajiban keagamaannya.
Kajian Kitab klasik di NU Kota ini  adalah  proses pembudayaan yang bersifat  universal, bukan sekedar transfer ilmu pengetahuan melainkan lebih pada menanamkan dan membangun kebudayaan hingga akan terbangun masyarakat terdidik, masyarakat yang cerdas dan berbudaya dalam arti  memiliki pilihan-pilihan serta mampu menentukan dan merealisasikan pilihan-plihannya itu.  Warga nahdhiyyin harus menjadi bangsa yang mandiri dengan pilihan-pilihannya











Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.