Rabu, 02 Maret 2016

PENDIDIKAN KARAKTER DI INDONESIA

PENDIDIKAN  KARAKTER  DI INDONESIA
Oleh:
SUTEJA
Staff Pengajar IAIN SNJ Cirebon
A.   PENGANTAR
Karakter, dalam bahasa Inggris, dimaknai sebagai  kualitas mental atau moral seseorang yang dapat membedakan dia dari orang lain (mental or moral dualoities that make one person different form the other).[1] Karakter, dalam bahasa Yunani   berasal dari kata “charassein”  yang berarti mengukir  sehingga terbentuk sebuah pola. Karakter seseorang merupakan ciri khas dan bersifat natural dan mengakar sehingga ia menjadi penggerak atau pendorong seseorang bertindak, bersikap, berujar, dan memperoses sesuatu. Psikologi memandang karakter (character) atau watak sebagai istilah lain untuk kepribadian dari titik tolak etis atau moral, yang biasanya memiliki ikatan relatif tetap, misalnya kejujuran.[2]
Kosa kata Bahasa Arab yang identik degan karakter adalah  istilah akhlâq, yang merupakan jama’ dari kata  khuluqun  yang secara linguistik diartikan dengan budi pekeri, perangai, tingkah laku atau tabiat, tatakrama, sopan santun, adab dan tindakan.[3]  Tokoh-tokoh muslim semisal  Ibn Miskawaih (w. 421 H./1030 M) dan al-Ghazali (w. 505 H./1111 M.) merumuskan akhlak sebagai  sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan sebelumnya.
Karakter, dengan demikian, memiliki ciri-ciri tertentu. Pertama, perbuatan yang telah tertanam kuat dalam diri sesorang sehingga menjadi kepribadian.  Kedua, perbuatan yang dilakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran. Ketiga,  perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar. Hal tersebut murni atas dasar kemauan, pilihan dan keputusan yang bersangkutan. Keempat, perbuatan yang dilakukan dengan sesungguhnya, bukan main-main atau karena bersandiwara.
Karakter identik dengan kepribadian. Kepribadian dianggap ciri khas atau karakteristik atau sifat khas seseorang, yang bersumber dari hasil bentukan yang diterima dari lingkungan keluarga dan juga bawaan sejak lahir.[4]  Individu yang berkaarakter baik adalah individu yang biasa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap konsekuensi darikeputusan yang dibuatnya. Namun demikian, memiliki suatu karakter yang baik, tidak dapat diturunkan begitu ia dilahirkan, tatapi memerlukan proses panjang melalui pengasuhan dan pendidikan.
B. DASAR PENDIDIKAN KARAKTER   
Istilah pendidikan karakter masih mengalami kerancuan pengertian di dalam masyarakat. Ketidaktepatan pemaknaan terhadap pendidikan karakter antara lain: pendidikan karakter sama dengan mata pelajaran budi pekerti. Kedua,  pendidikan karakter merupakan tanggung jawab guru Bidang Studi  Agama dan PKn. Ketiga, pembelajaran pendidikan karakter akan menjadi mata pelajaran baru di kurikulum.  
Pendidikan karakter adalah proses pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa.[5]  Pendidikan karakter  dapat dimanai sebagai  sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu. Pendidikan karakter, dengan demikian,  adalah proses pengarahan dan pembimbingan terhadap peserta didik agar memiliki nilai baik dan berperilaku yang baik, untuk menjadi manusia yang seutuhnya.
Pembinaan karakter sangatlah penting dalam membangun kecerdasan, perasaan serta perilaku individu bagi perkembangan bangsa dan negara. Pendidikan karakter   adalah pendidikan yang terfokus kepada proses pembentukan kepribadian melalui pengetahuan moral (moral knowing),  perasaan (moral feeling), dan perilaku moral (moral behavior) yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang,  yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain,  dan kerja keras.
Proses pendidikan yang diselenggarakan di Indonesia tentunya harus selaras serta sejalan dengan landasan konstitusional Negara RI yaitu Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) yang berdasar pada Pancasila. Oleh karenanya, esensi pendidikan nasional harus mampu membentuk karakter serta kepribadian bangsa Indonesia.  Pembentukan karakter sendiri merupakan  salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal 1 UU Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003 menyatakan, di antara tujuan pendidkan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia.
Amanat UUSPN itu bermaksud agar pendidikan tidak semata-mata mampu mebentuk bangsa yang cerdas secara intelektual, melainkan juga mampu membentuk kepribadian dan karakter bangsa Indonesia. Sehingga, diharapkan, lahir benerasi bangsa yang tumbuh dan berkembang dengan karakater baik yang bernafaskan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan sebagaimana dikehendaki oleh ajaran universal agama-agama. Kecerdasan yang berlarater adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya.
Martin Luther King menyatakan, “intelligence plus character is the goal of education”. Pendidikan karakter, dalam dimensi lain, mengajarka kebiasaan cara berfikir dan berperilaku yang membantu seseorang untuk hidup dan bekerjasama sebagai keluarga, masyarakat dan bangsa, serta membantu orang lain untuk membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.[6]
Pendidikan karakter merupakan bentuk kegiatan manusia yang didalamnya terdapat tindakan mendidik yang diperuntukkan bagi generasi selajutnya.  Tujuan pendidikan karakter adalah membentuk penyempurnaan diri individu secara terus menerus dan melatih kemampuan diri menuju ke   arah hidup yang lebih baik.  Pendidikan karakter, dengan demikian, merupakan upaya yang sangat menjanjikan mampu memberikan jawaban terhadap persoalan pendidikan di Indonesia. Karenanya, ia harus terprogram dan terukur ketercapaiannya.
Pendidikan karakter, karenanya, harus  menekankan kepada tiga komponen karakter yang baik  yakni moral knowing (pengetahuan tentang moral), moral feeling (perasaan tentang moral) dan moral action (perbuatan bermoral). Dalam konteks proses pendidikan karakter di lembaga sekolah, tahapan moral knowing disampaikan guru atau pengajar. Adapun moral feeling dikembangkan melalui pengalaman langsung para peserta didik dalam konteks sosial dan personalnya. Sedangkan moral action meliputi setiap upaya sekolah dalam rangka menjadikan pilar pendidikan karakter rasa cinta Allah dan segenap ciptaan-Nya diwujudkan menjadi tindakan nyata. Hal tersebut diwujudkan melalui serangkaian program pembiasaan melakukan perbuatan yang bernilai baik menurut parameter ilahiah di lingkungan sekolah. Dalam mewujudkan moral action, sekolah memperhatikan tiga aspek lainnya terkait dengan upaya perwujudan materi pendidikan menjadi karakter pada diri peserta didik. Ketiga aspek tersebut meliputi kompetensi, keinginan serta pembiasaan di lingkungan lembaga sekolah.
Karena pendidikan karakter merupakan suatu habit (kebiasaann), maka pembentukan karkater sesorang itu memerlukan communities of character  yang terdiri dari keluarga, sekolah, masyarakat, institusi keagamaan, media, pemerintahan dan berbagai pihak yang mempengaruhi nilai-nilai generasi muda. Pembentukan karkater memerlukan pengembangan keteladanan yang ditularkan, inervensi melalui proses pembelajaran, pelatihan, pembiasaan terus menerus dalam jangka waktu yang panjang yang dilaksanakan secara konsisten dan penguatan.
Dasar hukum secara yuridis formal pendidikan karakter di lembaga sekolah adalah:[7]
1.    Undang-Undang Dasar 1945
2.    Undang-Undang  RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
3.    Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
4.    Permendiknas Nomor 39 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan
5.    Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
6.    Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan
7.    Rencana Pemerintah Jangka Menengah Nasional 2010-2014
8.    Renstra Direktorat Pembinaan SMP Tahun 2010-2014.

C. ORIENTASI DAN TUJUAN PENDIDIKAN KARAKATER 
Karakter adalah kualitas kepribadian dan ia bukan sesuatu yang sudah jadi (isntant), melainkan melalui proses pendidikan yang dilaksanakan secara sungguh-sungguh (ijtihâd), kreatif, innovative (ibdâ’, ibtikâr), konsisten (istiqâmah) terus menerus (muwâdzabah), berkesinambungan (mudâwamah), dan berhati-hati (ihtiyâth).  Pendidikan ini harus dimulai sejak di lingkungan terkecil dalam keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan sekolah.
 Lembaga pendidikan  sekolah  sebagai salah satu institusi  yang tumbuh dan berkembang secara indigenous pada lingkungan masyarakat Indonesia, telah banyak memberikan sumbangsih berharga terhadap pembentukan serta pengembangan karakter serta kepribadian warga negara. Proses pemebelajarannya dikemas secara menyeluruh, sehingga mampu mengembangkan ketiga ranah domain dalam pendidikan karkater.
Segala sesuatu yang dilakukan guru adalah mempengauhi karakter peserta didik.  Guru dapat membantu dalam membentuk karakter peserta didik dengan cara memberikan keteladanan, pembiasaan dan pelatihan (penguatan). Kesempatan ini dimiliki oleh guru ketika memberikan materi atau bahan ajar kepada peserta didik, disamping dalam pergaulan sehari-hari selama mereka berada di lingkungan sekolah. Guru harus mamp menjadi inspirator, motivator, dinamisator, dan evaluator yang kritis, inovatif, dan produktif dalam membangkitkan semangat peserta didik.
Pembentukan karakater, secara psikologis dan sosiologis, meliputi seluruh potensi individu peserta didik yakni: kognitif, afektif, konatif  dan psikomotor dalam konteks interaksi sosial kultural dalam keluarga, masyarakat dan sekolah dan belangsung sepanjang hayat. Sehingga dapat dielompokkan menjadi olah hati, olah fikir, olah raga dan kinestetik, serta olah rasa dan karsa.  Kesemuanya harus bersumber kepada nilai luhur budaya bangsa Indonesia, yang bertujuan membina kepribadian generasi muda.
Penyelenggaraan pendidikan karakter di lembaga sekolahah harus berpijak pada nilai-nilai dasar karakter dasar manusia sebagai hamba dan khalifah Tuhan.  Selanjutnya direduksi menjadi nilai-nilai yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri. Pendidikan karakater juga harus berpijak pada nilai-nilai universal agama. Pendidikan karakater di lembaga sekolah, dengan demikian, memiliki tujuan yang pasti apabila berpijak kepada kedua nilai universal tersebut, yakni nilai-nilai universal kemanusiaan (insaniah) dan ketuhaan (ilahiah). Para psikoloog merumuskan beberapa nilai karakter yang seharusnya diajarkan, antara lain: cinta Allah dan cinta segala ciptaan Allah, tanggungjawab (amânah), jujur (shidq), hormat (waqârah) dan santun (ulfah),  kasih sayang (rahmah), peduli (ihtimâm), kerja sama (ta’âwun fi al-Birr), keadilan (‘adâlah), kepemimpinan (riâsah, qudwah), rendah hati (tawâdhu’), toleransi (tasâmuh), cinta damai serta cinta persatuan.
Secara praksis, disain besar pendidikan karakter tentang pengembangan karakter yang berlangsung dalam konteks suatu satuan pendidikan  yang menggunakan pendekatan kholistik   dapat dibagi ke dalam empat pilar, yakni kegiatan belajar-mengajar di kelas, kegiatan keseharian dalam bentuk budaya satuan pendidikan, kegiatan ko-kulikuler dan/atau ekstrakulikuler, serta kegiatan keseharian di rumah dan dalam masyarkat.
Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di  kelas  masing-masing, pengembangan karakter dilaksanakan dengan adanya proses penyampaian materi pelajaran dengan menggunakan metode yang variatif dan suasana yang menyenangkan.  Proses berikutnya ialah pembiasaan yang dilaksanakan pada seluruh kegiatan serta lingkungan sekolah. Adapun pembiasaan yang dilaksanakan di sekolah diantaranya: shalat dzuhur  berjamaan di masjid sekolah, shalat dhuha dan pembacaan al-Quran secara bersama-sama sebelum memulai jam pertama pelajaran sekolah, mengikuti pelajaran tepat waktu., pembatasan komunikasi selama berada didalam lingkungan sekolah, disiplin waktu, dan sebagainya.  Selain pembiasaan dan kegiatan belajar mengajar, di lingkungan sekolah  diselenggarakan pula beberapa kegitan ekstrakulikuler.
Para pakar pendidikan sepakat dan sependapat pentingnya upaya peningkatan pendidikan karakter pada jalur pendidikan sekolah. Sebagian pakar menyarankan penggunaan pendekatan pendidikan moral yang dikembangkan di negara-negara Barat, seperti pengembangan moral kognitif, analisis nilai, dan klarifikasi nilai. Sebagian yang lain menyarankan penggunaan pendekatan tradisional melalui penanaman nilai-nilai sosisal tertentu dalam diri peserta didik. [8]
Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, penyelenggaraan pendidikan karakter di lembaga sekolah harus melibatkan seluruh komponen yang terakit. Komponen yang dimaksud adalah: kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, pengelolaan bahan ajar, pengelolaan sekolah, pelaksanaan kegiatan kokurikuler, pemberdayaan sarana dan prasarana, pembiayaan, serta etos kerja seluruh warga sekolah.
Pendidikan karakter harus dirancang dan dilaksanakan secara bertujuan untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku yang berhubungan dengan Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan. Nilai-nilai tersebut kemudian terinternalisasikan kedalam fikiran, sikap, perasaan, ucapan, dan perbuatan  berdasarkan norma-norma agama, budaya dan adat istiadat.
Tujuan pendidikan karakter adalah pemahaman nilai dalam diri peserta didik dan tata kehidupan bersama (kebersamaan) yang lebih menghargai perbedaan dan kemajemukan.  Pendidikan karakater juga bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulai peserta didik secara utuh, terpadu dan seimbang sesuai dengan standar kompetensi lulusan. Peserta didik, dengan demikian, diharapkan mampu mengembangkan dan meningkakan potensi kepribadiannya melalui penerapan  pegetahuannya, mengkaji dan menginternalisasikan serta mempersonalisasikan nilai-nilai karakter dan akhlak mulia, yang terwujud dalam perilaku sehari-hari.
Secara insitusional, pendidikan karakter  mengarah pada pembentukan budaya sekolah yaitu, penerapan nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan sehari-hari dan symbol-simbol yang diaplikasikan seluruh warga sekolah. Budaya sekolah adalah ciri khas, karakter dan citra sekolah yang akan dirasakan oleh para pengguna (users) dan masyarakat pada umumnya.[9] Keberhasilan pendidikan karakter sangat membantu bagi keberhasilan akademik.[10] Secara global,  internalisasi pendidikan karakter di lembaga sekolah merupakan kekuatan yang sangat membantu upaya membendung dan menyaring budaya negative dari luar. Pendidikan karakter di lembaga sekolah menjadi sangat urgen karena, berperan dalam melestarikan dan memperjuangkan nilai-nilai mulia agama dan budaya luhur bangsa Indonesia.
Namun demikan, perlu ditetapkan indicator yang dapat mengukur keberhasilan pendidikan karakter di lembaga sekolah. Bebebarapa indikator dimaksud adalah :
1.        Mengamalkan ajaran agama dengan patuh dan konsisten, sesuai dengan tahap perkembangan remaja
2.        Menyadari kekurangan dan kelebihan diri sendiri
3.        Memiliki dan menunjukkan sikap percaya diri
4.        Mematuhi aturan-aturan social yang berlaku di masyarakat
5.        Menghormati kemajemukan dan perbedaan
6.        Membiasakan hidup jujur dalam ucapan dan tindakan
7.        Menjauhi prasarangka buruk
8.        Memiliki dan menunjukkan kemampuan berfikir logis, kritis, dan kreatif
9.        Memiliki kebiasaan belajar secara mandiri
10.    Memiliki dan menunjukkan kemampuan analisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari
11.    Memanfaatkan lingkungan secara benar dan baik
12.    Menerapkan hidup hemat, bersih, disiplin serta mampu memanfatkan waktu luang
13.    Mampu berkomunikasi dan berinteraksi secara sehat dan santun dengan siapapun
14.    Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan sehari-hari, serta menghargai perbedaan
15.    Menujukkan ketrampilan berbicara, membaca, menyimak, dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa asing
16.    Menguasasi pengetahuan yang dibutuhkan untuk melanjutan pendidikan
17.    Memiliki jiwa kewirausahaan.[11]

Pendidikan karakter merupakan proses pembentukan karakter yang memberikan dampak positif terhadap perkembangan emosional, spiritualitas, dan kepribadian seseorang.  Oleh sebab itu, pendidikan karakter atau pendidikan moral itu merupakan bagian penting dalam membangun jati diri sebuah bangsa. Kemendiknas menentukan  18 nilai yang harus disisipkan dalam proses pendidikan di Indonesia yaitu:  religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. 
Sekolah yang berhasil dalam pendidikan karakter adalah sekolah yang mampu menciptakan budaya sekolah berlandaskan nilai-nilai  karakter baik dan akhla mulia.  Indikator ini akan  menjadi parameter keberhasilan sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan karakter dalam rangka enyiapkan generasi muda bangsa Indonesia yang setiap terhadap budaya bangsa dan bersikap hati-hati didalam menghadapi kenyataan masuknya budaya dan pengaruh negative dari manapun. Lembaga pendidikan sekolah bertugas meberikian pencerahan intelektual dan penjernihan hati. Selain itu, lembaga sekolah bertugas mebangun fondasi yang kokoh dalam membangun karakter peserta didik di tengah era globalisasi dan modernisasi. Lembaga sekolah, masyarakat dan keluarga harus bersinergi dalam mensuseskan internalisasi pendidikan karakter. Sekolah berada di garda terdepan dalam pembentukan karakter peserta didik.  
D, REKOMENDASI
Lahirnya pendidikan karakter bisa dikatakan sebagai sebuah usaha untuk menghidupkan kembali jiwa spiritual  yang ideal. Tujuan utama pendidikan adalah untuk membentuk karakter. Pendidikan karakter dapat dijadikan sebagai strategi untuk mengatasi pengalaman yang selalu berubah sehingga mampu membentuk identitas setiap individu yang kokoh terbentuknya   perubahan   ke arah kemajuan tanpa harus bertentangan dengan norma yang berlaku..   
Pendidikan karakter merupakan aspek penting bagi generasi penerus. Seorang individu tidak cukup hanya diberi bekal pembelajaran intelektual belaka tetapi juga harus diberi pembelajaran  moral dan spiritual. Pendidikan karakter  diberikan  seiring dengan perkembangan intelektual peserta didik. .  Pendidikan karakter di sekolah dapat dimulai dengan memberikan contoh teladan bagi peserta didik  dengan diiringi pemberian pembelajaran  sehingga dapat membentuk individu yang berjiwa sosial, berpikir kritis, memiliki dan mengembangkan cita-cita luhur, mencintai dan menghormati orang lain, serta adil dalam segala hal.
Persoalan pendidikan karakter di Indonesia  sejauh ini menyangkut pendidikan moral dan dalam aplikasinya terlalu membentuk satu arah pembelajaran khusus sehingga melupakan mata pelajaran lainnya, dalam pembelajaran terlalu membentuk satu sudut kurikulum yang diringkas kedalam formula menu siap saji tanpa melihat hasil dari proses yang dijalani.  Guru  pun cenderung mengarahkan prinsip moral umun secara satu arah, tanpa melibatkan partisipasi peserta didik  untuk bertanya dan mengajukan pengalaman empiriknya.   
Sejauh ini dalam proses pendidikan di Indonesia yang berorientasi pada pembentukan karakter individu belum dapat dikatakan tercapai karena dalam prosesnya pendidikan di Indonesia terlalu mengedepankan penilian pencapaian individu dengan tolak ukur tertentu terutama logik-matematik sebagai ukuran utama yang menempatkan seseorang sebagai warga kelas satu.  Dalam prosesnya pendidikan karakter yang berorientasi pada moral dikesampingkan dan akibatnya banyak kegagalan nyata pada dimensi pembentukan karakter individu. Indonesia, misalnya,  terkenal di pentas dunia karena kisah yang buruk seperti korupsi dengan moralitas yang lembek.
 Pilar utama dan menjadi komponen terpenting dalam membangun sebuah bangsa dan negara yang terhormat, dan mandiri dibangun mulai dari keluarga.Hal yang selalu musti dipertimbangkan adalah bahwa,  menumbuhkan karakter mulia pada diri anak diperlukan interaksi yang baik antara orang tua, sekolah, dan masyarakat. Lingkungan rumah, sekolah, dan keseharian anak-anak harus menerapkan strategi pengembangan karakter dan perilaku agar terbentuk kepribadian anak yang baik.
Proses belajar yang tidak menyentuh karakter bukanlah disebut sebagai pendidikan. Maka menumbuhkan karakter baik pada peserta didik  membutuhkan  tiga strategi pokok pengembangan karakter dan perilaku. Strategi yang dimaksud  adalah keteladanan, pembiasaan, dan disiplin. Menumbuhkan karakter bukan dilakukan melalui lisan, melainkan perbuatan. Mematuhi rambu-rambu lalu lintas, setiap  orang tua juga harus melakukannya dalam kehidupan sehari-hari dengan tidak melanggar peraturan selama berada di jalan raya.  Ketegasan yang mendidik juga perlu diterapkan agar menumbuhkan kepercayaan antara anak dan orang tua, guru, serta masyarakat.  Orang tua  dan guru harus menjaga konsistensi terhadap keputusan yang telah ia tetapkan.
RUJUKAN
Asmani, Jamal Ma’mur, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah, Jakarta, DIVA Prss, 2011 
Baalbaki, Rohi, al-Mawrid a Modern Arabic-English Dictionary,  Beirut,  Dar el-Ilm li al-Malayin, 1988
Daulan, Haidar Putra, Historisitas dan Eksistensi Pesantren, Sekolah dan Madrasah, Yogjakarta, Tiara Wacana, 2001.
Evison, Alan, Oxford Learner’s Pocket Dictionary, Oford Unversity Press, 1983   
Kemendiknas RI, Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama, Jakarta, 2010.
Kesuma, Dharma Cepi Triatna, Johar Permana, Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah,  Bandung,  PT. Remaja Rosdakarya, 2012.
Khan, Yahya, Pendidikan Karakter Berbasis Potensi Diri; Mengdongkrak Kualitas Pendidikan, Yogjakarta, Pelangi Publishing, 2010
Koesoema A., Doni, Pendidikan Karakater; Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, Jakarta, Grasindo, 2010
Poerwadarminta, I.R., Etika Filsafat Tingkah Laku,  Jakarta, Bina Aksara, 1986.
_______________________, Logika Filsafat Berfikir,  Jakarta, Rineka Cipta, 1984.
Sallis, Edward, Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan, terj., Ahmad Ali Riyadi, dkk., Yogjakarta, IRCiSoD, 2011.
Samani, Muchlas dan Hariyanto,  Konsep dan Model Pendidikan Karakter, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2012.
Sudjana, Nana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah, Bandung, Sinar Baru Algensindo, 2008
Suyono, Ariyono, Kamus Antropologi, Jakarta, Akademika Presindo, 1999.
Tim Widyautama, Kamus Psikologi, Jakarta, Widyautama, 2010
Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 14 tentang  Guru dan Dosen
Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 19 tentang Standar Pendidikan Nasional
Wibowo, Agus, Manajemen Pendidikan Karakter di Sekolah, Yogyakarta. Pustaka Pelajar, 2013.




[1] Evison, Alan, Oxford Learner’s Pocket Dictionary, Oford Unversity Press, 1983, hal. 59.  
[2] Tim Widyautama, Kamus Psikologi, Jakarta, Widyautama, 2010, hal. 46
[3] Baalbaki, Rohi, al-Mawrid a Modern Arabic-English Dictionary,  Beirut,  Dar el-Ilm li al-Malayin, 1988, hal.521.
[4] Koesoema A., Doni, Pendidikan Karakater; Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, Jakarta, Grasindo, 2010, hal. 79-80.
[5]Samani, Muchlas dan Hariyanto,  Konsep dan Model Pendidikan Karakter, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2012, hal. 45.

[6] Khan, Yahya, Pendidikan Karakter Berbasis Potensi Diri; Mengdongkrak Kualitas Pendidikan, Yogjakarta, Pelangi Publishing, 2010, hal. 1-2.
[7][7] Kemendeiknas RI, Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama, Jakarta, 2010.
[8] Kemendiknas, Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama
[9] Lihat Koesoema, Pendidikan Karakater,  hal. 135.
[10] Asmani, Jamal Ma’mur, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah, Jakarta, DIVA Prss, 2011, hal. 43-44.
[11] Diolah dari berbagai sumber

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.