Minggu, 27 Maret 2016

PASAR SUMBER BENTUKAN MBAH KUWU CERBON (2)

PASAR SUMBER  BENTUKAN MBAH KUWU CERBON (2)
Tipologi Tanah Pasar 
oleh: Sutejo ibnu Pakar


Pemilihan dan penetapan lokasi oleh Kanjeng Sunan Kalijaga terjadi di awal abad ke-16 Masehi (tahun 1500 an) sudah melampaui teori tatakota paling modern sekalipun. Masyarakat dari berbagai penjuru daerah dan kota mudah mengenali dan mendatangi lokasi Pasar Sumber (yang sekarang "dibakar atau terbakar"- perlu investigasi serius, teliti, cermat dan berkseinambungan dengan satu tujuan menemukan kebanaran).

Pemilihan dan penetapan tanah untuk dijadikan lokasi aktivitas masyarakat, apakah untuk sentra ekonomi, pendidikan, tempat ibadah ataupun aktivitas sosial lainnya, tidak dapat dipisahkan dari teori-teori yang dimiliki seorang Mbah Kuwu dan atau Kanjeng Sunan Kalijaga. Kesamaan antara kedua tokoh tersebut adalah keduanya sama-sama ahli dalam bidang irigasi. Lokasi pasar sumber dipilih du atas tanah yang berada di atas sungai atau kali Cipager. Kali Cipager adalah salah satu sungai besar di wilayah III Cirebon tetapi tidak mampu menampung debit air kiriman dari Gunung Ciremai. Penetapan lokasi Pasar Sumber di atas Sungai Cipager, dipastikan para pedagang tidak pernah terancam kekhawatiran meluapnya air dari sungai Cipager, karena berada di atas ketinggian yang lebih dari permukaan sungai.

 Sama halnya dengan lokasi pusat pemerintahan yang harus menghadap ke arah Utara (arah laut) dan rumah kediaman penguasa, termasuk pemuka agama, harus menghadap ke arah Selatan (arah gunung). Arah mata angin pusat pemerintahan dan pusat perokonomian (yang digambarkan oleh Balai Desa dan Pasar Sumber) harus harmonis, karena penguasa dan rakyat tidak boleh saling merugikan.

Mengapa peusat pemerintahan dan sentra ekonomi rakyat (pasar rakyat0 harus menghadap ke utara dan berada di sebelah sealatan jalan umum? Jawa Barat dan Cirebon khususnya, memiliki dua kekayaan alam yang sangat menumental yakni gunung dan lautan. gunung berada di dataran tinggi ( selatan) dan laut berada di dataran rendah (utara). Kaidah umum semua kajian antropologi budaya dan juga atronomi dan astrologi, perjalan hidup dan nasib setiap inividu sangat ditentukan oleh pilihannya menentukan lokasi rumah dan lokasi tempat mencari nafkah termasuk pasar. 

Posisi rumah yang baik, sehat dan harmonis dengan alam adalah posisi rumah yang menghadap ke arah utara dan atau selatan. Maka layak kalau Balai Desa dan Pasar Sumber berada di sebelah selatan jalan umum dan menghadap ke arah utara. Posisi pasar Sumber menghadap ke utara dengan maksud supaya tidak membelakangi letak Kraton Pakungwati (sekarang kraton Kasepuhan) Cirebon, pusat pengkaderan Buyut Trusmi (cicit Pangeran Cakrabuwana) di Trusmi, pusat perguruan tasawuf di  Gunung Jati, serta makam-makam para wali Cerbon yang berada di wilayah Utara, serta  selalu siap sedia mengabdi kepada penggusten penguasa dan wali-wali  Crebon (pitutur leluhur Cerbon).


 Di awal abad 18 Masehi Belanda datang ke Nusantara dengan VOC-nya. VOC adalah komunitas pedagang yang didatangkan khusus oleh kerajaan Hindia Belanda untuk menguras habis sumber daya dan kekayaan alam Nusantara. Mereka para pedagang yang memiliki keahlian baik tentang irigasi. Mereka pun sepakat untuk mempertahankan lokasi pasar Sumber di tempat itu (pasar yang sekarang dibakar).  VOC, sebagaimana Mbah Kuwu dan Kanjueng Sunan, memiliki keyakinan dan prediksi yang tepat bahwa, tanah 6yang dijadikan lokasi pasar sumber memiliki ikatan metafisika/supra rasional yang kuat dengan karakter ummat manusia. Tanah Pasar Sumber memiliki karakter (mewakili Gusti Allah) mengalirkan rsizki duniawi kepada manusia yang secara kodrati (fithrah) menyukai harta dan kekayaan duniawi. ikatan itulah yang menyebabkan, mengapa lokasi pasar Sumber harus diposisikan di dekat Majsid dan Balai Desa Sumber, alias di blok Pasar Sumber.

Para pedagang dan ilmuwan Tionghoa juga mememiliki keyakinan yang sama. Mereka meyakini bahwa, posisi Pasar Sumber yang terletak di sebelah Selatan jalan umum sangat mendukung bagi perolehan kemudahaan mencari nafkah duniawi (feng shui). Para pedagang dan setiap individu yang terlibat dalam aktivitas di pasar akan mendapatkan kemudahan dan kekayaan dengan mudah (damai di hati). Memindahkan lokasi (relokasi) pasar Sumber ke lokasi baru dimanapun dan kapanpun tidak saja membangkang, tepatnya mengkhianati  amanah Mbah Kuwu Crebon Girang , Kanjeng Sunan dan Nyi Gede Sumber, tetapi juga  bertabrakan dengan teori ilomuwan-ilmuwan Belanda dan Tinghoa


     

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.