Rabu, 30 Maret 2016

O N T O L O G I



O N T O L O G I
 SUTEJA  (IAIN CIREBON)

PENDAHULUAN
Filsafat, terutama Filsafat Barat muncul di Yunani semenjak kira-kira abad ke 7 S.M.. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai berpikir-pikir dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada agama lagi untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.
Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales dari Mileta (sekarang di pesisir barat Turki). Tetapi filsuf-filsuf Yunani yang terbesar tentu saja ialah: Sokrates, Plato dan Aristoteles. Sokrates adalah guru Plato sedangkan Aristoteles adalah murid Plato. Bahkan ada yang berpendapat bahwa sejarah filsafat tidak lain hanyalah “Komentar-komentar karya Plato belaka”. Hal ini menunjukkan pengaruh Plato yang sangat besar pada sejarah filsafat.
Filsafat merupakan pengetahuan yang menjadi pokok pangkal segala pengetahuan yang tercakup di dalamnya empat persoalan : metafisika (ontologi), etika, agama, dan antropologi.[1] Pembahasan filsafat oleh para ahli kemudian dikelompokkan ke dalam bidang-bidang pembahasan yang sering disebut sebagai cabang filsafat yaitu :
1.       Ontologi atau metafisika, yaitu filsafat tentang hakekat yang ada di balik fisika, tentang hakekat yang bersifat transenden, di luar atau di atas jangkauan pengalaman manusia;
2.       Logika, yaitu filsafat tentang pikiran yang benar dan yang salah;
3.       Estetika, yaitu filsafat tentang kreasi yang indah dan yang jelek;
4.       Epistemologi, yaitu filsafat tentang ilmu pengetahuan;
5.       Filsafat-filsafat khusus seperti filsafat hukum, filsafat sejarah, filsafat alam, filsafat agama, filsafat manusia, filsafat pendidikan dan lain sebagainya.[2]
Namun demikian, perlu dicatat bahwa pada garis besarnya filsafat  itu mempunyai tiga cabang besar, yaitu teori pengetahuan (epistemology), teori hakikat (ontology), dan teori nilai (axiology).  Teori pengetahuan membahas bagaimana cara memperoleh pengetahuan. Teori hakikat membahas semua obyek dan hasilnya (pengetahuan filsafat). Teori nilai membicarakan guna pengetahuan.
Ontologi merupakan salah satu di antara lapangan kajian kefilsafatan yang paling kuno. Awal mula alam pikiran Barat sudah menunjukkan munculnya perenungan di bidang ontologi. Yang tertua di antara segenap failosof Barat yang kita kenal ialah orang Yunani yang bernama Thales (625-545 S.M.) disusul kemudian Anaximandros (610-545 SM.), Anaximandros (610-545 SM.), Anaximenes (585-528 SM.), Dn Demokritus  (460-360 SM.).
Ontologi dapat mendekati masalah hakekat dari dua sudut pandang. Orang dapat mempertanyakan kenyataan itu tunggal atau jamak. Yang demikian merupakan pendekatan kuantitatif. Atau orang dapat mempertanyakan tentang “apakah yang merupakan jenis kenyataan itu?”. Yang demikian disebut pendekatan kualitatif.
Parmenides  mengatakan, kenyataan itu tunggal adanya dan segenap keanekaragaman, perbedaan serta perubahan bersifat semu belaka. Dewasa ini sistem monistik ini tidaklah umum dianut orang. Karena, justru perbedaanlah yang merupakan kategori dasar segenap kenyataan yang ada dan tidak dapat disangkal lagi kebenarannya. Tetapi, ada juga orang yang berpendirian bahwa pada dasarnya segala sesuatu itu sama hakekatnya. Pendirian ini dianut oleh para pendukung paham monisme  dewasa ini. Monisme menganggap  hanya terdapat satu realitas dasar yang mutlak, yang mungkin jiwa, benda, materi, Tuhan atau substansi bentuk yang tidak diketahuidan bersifat netral.[3]
ASAL USUL SESUATU
Ontologi adalah cabang filsafat metafisika yang berkaitan dengan hakekat dari kenyataan terakhir (substansi pertama) atau sumber hidup segala makhluk.[4] Secara simpel Ahmad Tafsir mendefinisikan ontologi sebagai ”teori hakikat yang membicarakan hakikat benda”.[5] Ontologi merupakan bagian dari teori hakekat.[6] Ia sering disebut metafisika,[7] dan metafisika sering disebut ontologi yang berarti ilmu haikikat. [8]  
Ontologi dianggap sangat penting karena dengannya orang menyeldidiki alam wujud ini dan  bagaimana keberadaannya yang sebenarnya. Ilmu ini dianggap penting sebab dari pengalaman manusia sehari-hari ternyata bahwa untuk melihat, mengukur atau menetapkan bagaimana keadaan yang sebenarnya dari benda itu, maka manusia selalu dikacaukan oleh dua hal yaitu: ketidak-tepatan (relativitas) yang ada pada benda yang dinilai dan ketidak-tepatan (relativitas) yang ada pada pencaindra manusia.
Ontologi adalah salah satu cabang dari filsafat teoritis, disamping logika, filsafat alam (kosmologi), dan filsafat tentang manusia (antropologi).[9] Ontologi menyoroti persoalan-persoalan pokok tentang obyek yang menjadi telaahan ilmu, wujud hakiki dari obyek tersebut dan hubungan antara obyek-obyek tersebut dengan manusia yang berfikir, merasa dan mengindra. Pada prinsipya, ontologi mempertanyaakan apakah hakekat sesuatu yang nyata itu.
Dalam persoalan ontologi orang juga menghadapi  masalah tentang bagaimanakah kita menerangkan hakikat dari segala yang ada itu? Kenyataan petama berupa sesuatu materi atau benda dan kenyataan kedua berupa non-materi. Selanjutnya ontologi mempersoalkan bagaimanakah hakikat dan hubungan antara dua macama kenyataan itu?
Ontologi ingin menjawab pertanyaan; Apa sebenarnya realitas benda-benda ? Apakah sesuai dengan penampakkannya (appearance) atau sesuatu yang tersembunyi di balik penampakkan itu?  Menjawab pertanyaan ini muncul empat atau lima aliran, yaitu materailsme, idealisme, skepticisme, dan agnoitisisme. Loiuis O. Kattsof  mengajukan lima airan untuk menjawab pertanyaan ini. Kelima aliran itu ialah: naturalisme, materialisme, idealisme, hylomorfisme, dan positivisme logis.[10] Sedangkan Hasbullah Bakry (1981:45) mengajukan empat aliran yaitu: dualisme, materialisme, idealisme, dan agnosticisme.[11] Bagian ini hanya akan membahas aliran-aliran : materialisme, dualisme, idealisme, skepticisme, dan agnoticisme.
1.       materalisme  (NATURALISME)
Aliran tertua ini berpendapat bahwa hakikat benda itu adalah materi, atau benda itu sendiri. Rohani, jiwa, spirit dan sebagainya itu muncul dari benda. Roh, jiwa atau spirit hanyalah merupakan akibat dari materi atau benda. Rohani itu tidak ada seandainya benda itu tidak ada. Roh dan jiwa baginya bukanlah hakikat.
Menurut materialisme hakikat manusia adalah materi. Manusia itu hakikatnya adalah seperti yang kelihatan. Rohani manusia memang ada, tetapi bukan hakikat. Kepuasaan dan kebahagiaan manusia terletak pada badan, jika badan hancur maka selesailah manusia itu. Roh manusia hilang bersama badan. Materailisme, dengan demikian, tidak pernah mempersoalkan sorga dan neraka, ataupun kehidupan akhirat.
Materialisme biasanya diakitkan dengan teori atomistic atau atomisme. Dalam bentuknya yang kuno (klasik). Menurut teori ini semua benda tersusun dari sejumlah bahan yang disebut unsur. Thales (625-545 S.M.),  atas perenungannya terhadap air yang terdapat dimana-mana, ia sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal usul dari segala sesuatu. Anaximandros (610-545 SM.) menganggap asal usul segala sesuatu adalah aperion  alias sesuatu yang tidak terbatas. Heraklitus  menganggap asal usul segala sesuatu adalah api. Anaximenes (585-528 SM.) beranggapan asal usul sesuatu adalah udara. Demokritus  (460-360 SM.) menganggap asal usul segala sesuatu adalah atom-atom  yang banyak jumlahnya tak dapat dhitung dan amat halus.[12]
Materailsme menyimpulkan tentang atomistik sebagai berikut :
a.       bahwa yang nyata hanyalah berupa atom-atom dan gerakannya.
b.       Atom-atom itu bersifat abadi dan tidak berubah-ubah wujudnya dan tidak rusak.
c.        Atom-atom dan gerakannya itu hanya dapat diperkirakan menurut jumlahnya.
d.       Atom-atom itu bertingkahlaku dalam berkumpulnya dan berpisahnya menurut undang-undang yang tetap.
e.        Semua keadaan dan kejadian dapat dijelaskan selengkapnya dari tingkahlaku atom-atom itu.
2.       idealisme
idealisme berpendapat sebaliknya, bahwa hakikat sesuatu itu adalah rohani, jiwa, atau spirit. Alasannya adalah : (1) nilai roh itu lebih tinggi daripada materi atau benda, (2)  manusia iti lebih dapat memahami dirinya daripada dunia luar dirinya, dan (3) materi itu merupakan kumpulan energi yang menempati ruang; benda tidak ada, yang ada hanyalah energi itu saja.
Idealisme beranggapan bahwa, roh adalah hakikat yang sebenarnya. Materi hanyalah badan (tempat), bayangan, jelamaan atau penamapakkan saja. Aliran ini menganggap materi itu sebenarnya tidak ada. Materi adalah kumpulan energi yang menempati ruang, dan energi itu adalah jenis rohani.
Idealisme memandang segala kenyataan ini termasuk manusia sebagai roh. Roh itu tidak saja menguasai manusia secara perseorangan tetapi roh juga yang menguasai kebudayaan manusia.
Aliran idealisme merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan sejarah pemikiran manusia. Plato adalah tokoh idealisme yang sangat terkenal. Dia menyatkan bahwa, alam cita-cita, alam fikiran (idea) itulah yang merupakan kenyataan yang sebenarnya. Adapun alam nyata yang menempati ruang ini hanyalah merupakan bayangan saja dari alam idea itu.
Hakikat, bagi pandangan idealis, adalah roh. Paha mini akan berujung kepada sorga dan neraka, serta Tuhan. Asal usul manusia, baginya, adalah dari Yang Hidup (Tuhan).  Karenanya, mati adalah kelanjutan dari hidup di dunia.  
Perkembangan selanjutnya mencatat adanya beberapa aliran idealisme yaitu:
a.       Idealisme Subjektif. Aliran ini beranggapan bahwa  manusia perseorangan sebagai produsen dari alam kenyataan. Roh manusia juga sakti menentukan jalannya proses kenyataan.
b.       Idealisme Objektif.  Aliran ini beranggapan bahwa roh manusia itu hanya sebagai satu bagian saja dari roh umum yang menggerakkan kenyataan ini.
c.         Idealisme Rasionalistis.  Aliran ini beranggapan bahwa roh itu ialah akal dan akal yang dimaksud adalah fikiran.
d.       Idealisme Etis.  Aliran ini mengagap bahwa roh yangdimaksud disini adalah akal praktis yang berlaku dalam penilaian etika.


3. DUALISME
Aliran dualisme  berpendapat bahwa, alam wujud ini terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal usulnya, yaitu hakikat materi  dan hakikat rohani. Aliran dualisme  berkeyakinan bahwa, alam wujud ini terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal usulnya, yaitu hakikat materi  dan hakikat rohani. Kedua macam hakikat itu masing-masing bebas dan berdiri sendiri, sama-sama azali  dan abadi. Hubungan antara keduanya itulah yang menciptakan kehidupan dalam alam ini. Baginya materi bukan muncul dari roh, dan roh bukan muncul dari benda. Keduanya sama-sama hakikat.   Di zaman aufklarung  Descrates  dan Spinoza  mengakui aliran serba dua dan mengenal adanya dua hakikat yang bersifat kerohanian dan kebendaan. Namun keduanya mengakui bahwa kerohanian lebih penting dari kebendaan.
4.       skeptisisme
Skeptisisme meragukan kemampuan manusia untuk mengetahui hakikat sesuatu.
5.       agnoticismE
Agnoticisme menyerah sama sekali. Mereka berpendapat bahwa, manusia tidak dapat mengetahui hakikat benda. Aliran ini selalu menyangkal dengan tegas adanya suatu kenyataan mutlak yang bersifat transenden. 
Tokoh agnoticisme modern Heidegger mengatakan satu-satunya yang ada itu ialah manusia karena hanya manusialah satu-satunya yang dapat memahami dirinya sendiri. Jadi dunia ini adalah dunia bagi manusia.
 Tokoh agnoticisme modern  yang lain, Jaspers menyangkal adanya sesautu yang transenden. Baginya, yang mungkin itu hanyalah transcenderen  yakni bahwa  manusia berusaha memahami dirinya sendiri dengan membawakan dirinya yang belum sadar kepada kesadaran yang sejati (menemukan wujud kemanusiaan manusia yang sejati). Baginya, transcendent (sesuatu yang mutlak) itu tidak ada sama sekali.
PENUTUP
Ontologi merupakan teori tentang hakikat. Ontologi sering disebut metafisika. Pemahaman yang baik mengenai masalah-masalah ontologi merupakan keharusan manakala seseorang ingin memahami secara menyeluruh dunia tempat dia hidup dewasa ini, terlepas seseorang itu  berkcenderungan meyakini bahwa yang benar itu adalah dualisme, materialisme, idealisme, skeptisisme, ataupun agnotisisme.
Pandangan ontologi secara praktis akan menjadi masalah utama di dalam pendidikan. Sebab, anak bergaul dengan dunia lingkungannya dan mempunyai dorongan yang kuat untuk mengerti sesuatu. Anak-anak, baik di masyarakat maupun di sekolah selalu menghadapi realitas (kenyataan), objek pengalaman : benda mati, benda hidup. Bagaimana asas-asas pandangan religius, keagamaan tentang adanya makhluk-makhluk hidup yang berakhir dengan kematian, bagaimana kehidupan dan kematian dapat dimengerti. Begitu pula realitas semesta, dan eksistensi manusia yang memiliki jasmani dan rohani. Bahkan bagaimana sebenarnya eksistensi Tuhan Maha Pencipta.
        Memang bukanlah tugas dan kewajiban lembaga pendidikan (sekolah/madrasah) semata-mata membimbing pengertian anak-anak untuk memahami realitas dunia yang nyata ini. Sekolah berkewajiban untuk membina kesadaran tentang kebenaran yang berpangkal atas realitas itu. Ini berarti realitas itu sebagai tahapan pertama, sebagai stimulus untuk menyelami kebenaran. Potensi berfikir kritis anak-anak wajib dibina secara sistematis untuk mengerti kebenaran itu.  Mereka harus mampu mengerti perubahan-perubahan di dalam lingkungan hidupnya baik tentang adat istiadat, tata sosial dan pola-pola masyarakat, maupun tentang nilai-nilai moral dan hukum. Daya pikir yang kritis akan sangat membantu pengertian tersebut. Kewajiban pendidikan melalui latar belakang ontologis  ini ialah membina daya pikir yang tinggi dan kritis.


ASPEK ONTOLOGI
     Aspek ontologi dari ilmu pengetahuan tertentu hendaknya diuraikan secara :
a.       Metodis; Menggunakan cara ilmiah
b.       Sistematis; Saling berkaitan satu sama lain secara teratur dalam suatu keseluruhan
c.        Koheren; Unsur-unsurnya tidak boleh mengandung uraian yang bertentangan
d.       Rasional; Harus berdasar pada kaidah berfikir yang benar (logis)
e.        Komprehensif; Melihat obyek tidak hanya dari satu sisi/sudut pandang, melainkan secara multidimensional – atau secara keseluruhan (holistik)
f.         Radikal; Diuraikan sampai akar persoalannya, atau esensinya
g.       Universal; Muatan kebenarannya sampai tingkat umum yang berlaku di mana saja.



ASPEK EPISTEMOLOGI
        Epistemologi juga disebut teori pengetahuan atau kajian tentang justifikasi kebenaran pengetahuan atau kepercayaan.
1.       Pengamatan dan teori untuk menemukan kebenaran
2.       Pengamatan dan eksperimen untuk menemukan kebenaran
3.       Falsification atau operasionalism (experimental opetarion, operation research)
4.       Konfirmasi kemungkinan untuk menemukan kebenaran
5.       Metode hipotetico – deduktif
6.       Induksi dan presupposisi/teori untuk menemukan kebenaran fakta
7.       Menemukan kebenaran dari masalah

     Untuk memperoleh kebenaran, perlu dipelajari teori-teori kebenaran. Beberapa alat untuk memperoleh atau mengukur kebenaran ilmu pengetahuan adalah sbb. :
*       Rationalism; Penalaran manusia yang merupakan alat utama untuk mencari kebenaran
*       Empirism; alat untuk mencari kebenaran dengan mengandalkan pengalaman indera sebagai pemegang peranan utama
*       Logical Positivism; Menggunakan logika untuk menumbuhkan kesimpulan yang positif benar
*       Pragmatism; Nilai akhir dari suatu ide atau kebenaran yang disepakati adalah kegunaannya untuk menyelesaikan masalah-masalah praktis.
Teori
*       Teori merupakan pengetahuan ilmiah mencakup penjelasan mengenai suatu sektor tertentu dari suatu disiplin ilmu, dan dianggap benar
*       Teori biasanya terdiri dari hukum-hukum, yaitu : pernyataan (statement) yang menjelaskan hubungan kausal antara dua variabel atau lebih
*       Teori memerlukan tingkat keumuman yang tinggi, yaitu bersifat universal supaya lebih berfungsi sebagai teori ilmiah

Tiga syarat utama teori ilmiah :
1. Harus konsisten dengan teori sebelumnya
2. Harus cocok dengan fakta-fakta empiris
3. Dapat mengganti teori lama yang tidak cocok dengan pengujian   empiris dan fakta









[1] Bakry, Hasbullah,  Sistematika Filsafat,  Jakarta, Widjaya, 1981, hal. 11.
[2] Anshari, Endang Saefudin, Ilmu, Filsafat dan Agama, Surabaya, Bina Ilmu,  1985,  hal. 94-95.
[3] Saefullah H.A., Ali, Filsafat dan Pendidikan,  Surabaya, Usaha Nasional, 1403 H., hal.   187.
[4] Saefullah H.A., Ali, Filsafat dan Pendidikan,  Surabaya, Usaha Nasional, 1403 H., hal. 190.
[5] Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum Akal dan HAti sejak Thales sampai James,  Bandung, Remaja Rosdakarya, 1990, hal. 32.
[6] Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum, hal. 33.
[7] Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum, hal. 34.
[8] Bakry, Hasbullah,  Sistematika Filsafat,  Jakarta, Widjaya, 1981, hal. 44.
[9]  Bakry, Hasbullah,  Sistematika Filsafat,  Jakarta, Widjaya, 1981, hal. 12.
[10]  Kattsof, Louis O., Pengantar Filsafat, terj., Yogjakata, Tiara Wacana, 1992, hal. 216-235.
[11] Bakry, Hasbullah, Sisematika Filsafat, 1981, hal. 45.
[12] Bakry, Hasbullah,  Sistematika Filsafat,  Jakarta, Widjaya, 1981, hal. 47-48.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.