Rabu, 02 Maret 2016

MENGENAL TOKOH-TOKOH SUFI


MENGENAL TOKOH-TOKOH SUFI
SUTEJO IBNU PAKAR
Allah adalah Tuhan yang Wâjib al-Wujûd.  Dzat yang Wâjib al-Wujûd  itu mempunyai kekhususan  yang tidak dimiliki oleh ciptaanNya. Allah  tidak membutuhkan ikatan dengan apapun. Allah  bukanlah jisim dan bukan pula ‘aradh, serta tidak terbagi-bagi (juziyyat). Jism bukanlah sesuatu yang tunggal tetapi ia tersusun dari jawhar-jawhar. Jawhar (subsantansi,  atau  essensi) itu  adalah unsur atau bagian terkecil yang tidak dapat dibagi lagi. Sedangkan ‘aradh adalah sifat yang melekat pada jisim dan jawhar. Allah tidak menerima ke”tidak ada”an.  Allah tidak memiliki sifat berubah, karena perubahan hanya terjadi pada alam ciptaan-Nya. Allah adalah Dzat yang qadîm dan azalîy.[1]
Ahli Filsafat (Failosof) mencari dan berusaha menemukan, serta  meyakini adanya Tuhan dengan menggunakan rasio. Para ahli kalam (teoloog) mencari dan mengimani adanya Allah dengan menggunakan mengandalkan kerja akal, tetapi sesekali menyandarkan hasil kerja akal mereka kepada wahyu (al-Quran atau al-Sunnah).   Ahli  tasawwuf tidak menggunakan pendekatan logika untuk membuktikan adanya Tuhan.  Mereka menggunakan pengetahuannya didasarkan pada isyrâq  ataupun al-Hadas al-Sûfîy. Yang bisa dicapai dengan jalan mengendalikan hawa nafsu (mujahadah) dan memperbanyak perenungan-perenungan (kontemplasi, tafakkur), kemudian hasil pengetahuan mereka diperkuat dengan ayat-ayat al-Quran yang dipandangnya sesuai dengan pendirian mereka, dengan meninggalkan ayat-ayat lain yang menganjurkan kerja rasio. Para sufi, yang dikenal sebagai komunitas ahli al-Dzawq  meyakini Allah dengan menggunakan intuisi.
Tokoh-tokoh terkenal pada masa awal adalah Thoyfur bin ‘Isa bin Adam bin Syarwan, Abu Yazid al-Busthomi (w. 263 H.), Dzu al-Nun al-Mishri (245 H.), al-Hallaj (w. 309 H.), Abu Sa’id al-Khozzor (226 - 277 H.), Abu Abdullah bin Ali bin al-Husein (al-Hakim),  al-Turmudzi (w. 320 H.), dan Abu Bakr al-Syibli (w. 334 H.).  Tokoh—tokoh inilah yang berpengaruh besar lepada generasi sesudahnya seprti Abu al-Faydh Tsawban bin Ibrohim Dzu al-Nun al-Mishri (w. 245 H.). Dia murid ahli kimia Jabir bin Hiyan. Pada periode ini muncul terminologi mahabbah dan ma’rifat, maqom dan ahwal sufi. Muncul pula  masalah-masalah yang menjadi kajian penting dalam dunia sufi yaitu ilmu al-Batin dan ilmu al-Ladunni, selain masalah ittihad.[2]
Masa sesudahnya tasawuf mulai dicampuri dengan falsafat Yunani. Maka, muncullah istilah-istilah al-Hulul, al-Ittihad, dan  wihdat al-Wujud,  serta al-Faydh dan al-Isyroq. Tokoh-tokoh berperan pada periode ini adalah Abu Mughits al-Hasan bin Manshur al-Hallaj (244 - 309 H.),  al-Suhrawardi (w. 578 H.),  Ibn ‘Arabi (w. 638 H.),  Ibn al-Faridh (w. 632 H.), dan  Ibn Sab’in (w. 667 H.). Mereka adalah para sufi yang tergolong sufi failosof, karena mereka menganut madzhab tasawuf falsafi.  Mereka adalah cendekiawan muslim yang mengenal filsafat Yunani Kuno, dan karenanya mereka termasuk ulama yang ahli dalam bidang teologi Dari merekalah  kemudian  muncul  istilah-istilah al-Hulul, al-Ittihad, dan  wihdat al-Wujud,  serta al-Faydh dan al-Isyroq. Tokoh-tokoh berperan pada periode ini adalah Abu Mughits al-Hasan bin Manshur al-Hallaj (244 - 309 H.),  al-Suhrawardi (w. 578 H.),  Ibn ‘Arabi (w. 638 H.),  Ibn al-Faridh (w. 632 H.), dan  Ibn Sab’in (w. 667 H.).
Abu Hamid al-Ghazali (450 -  505 H.),  yang muncul anatara Abad V dan awal abad VI Hijriah, datang  membawa perubahan baru di dunia tasawuf; dengan mengkompromikan budaya Persia kedalam Ahlussunnah.  Dia sufi terkenal dalam bidang kasyf dan ma’rifat.  Abad V Hijriah sampai awal abad VII Hijriah muncul pula ‘Abd.  al-Qadir al-Jaylani (w. 561 H.) pendiri Thoriqoh al-Qodiriyah  yang mendapatkan ijazah  tasawuf dari al-Hasan al-Bashri dari  al-Hasan bin Ali bin Abu Tholib.  Pada masa ini pula muncul istilah-istilah yang tidak lumrah (syath/sytathohat) dari al-Suhrawardi dan Abu al-Fath Muhyiddin bin Husein (459-587 H.), Abdurrohim bin ‘Utsman (w. 604 H.) yang memdofikasi budaya Persia Kuno dan Yunani serta Neoplatonismo  kedalam ajarannya tentang al-Faydh, yang dijadikan karakter khusus Thoriqoh al-Suhrawardiyah seperti dalam kitab Hikmat al-Isyroqiyah, Hayakil al-Nur, al-Talwihat al-‘Arsyiyah, dan al-Maqomat.
  Abad VII Hijriah  tasawuf  mulai memasuki pemikiran-pemikiran Andalus  sehingga liarlah tokoh besar Syekh al-Akbar Ibn ‘Arabi al-Tho’i (560–638 H./1240 M.) dengan pemikirannya tentang al-Insan al-Kamil. Dialah tokoh pencipta wihdat al-Wujud  yang mengklaim dirinya sebagai Khotam al-Awliya’. Karya-karyanya yang terrenal antara lain: al-Futuhat al-Makkiyyah, Fushsush al-Hikam, dan Ruh al-Quds.
Ibnu ‘Arabîy (w. 638 H./1240 M.) misalnya meyakini bahwa wujud ini pada hakikatnya hanyalah satu yakni Wujud Allah yang Mutlak. Wujud Yang Mutlak ini kemudian menampakkan diri dalam tiga martabat, yaitu martabat ahadîyah, martabat wahdânîyah, dan martabat tajallîy syuhûdîy.[3] Dia  meyakini bahwa Allah adalah Wujud Yang Mutlak dan mujarrad (murni), tidak bernama dan tidak bersifat. Karena itu, Allah  tidak dapat dipahami dan dikhayalkan.  Oleh karenanya, ia  menolak anggapan kalau Tuhan dapat diketahui dengan tanpa melalui alam ciptaan-Nya.




[1]‘Abd. al-Salâm al-Tawbîkhîy, al-‘Aqîdah fî al-Qurân, Tharâblûs, Jam’îyat al-Da’wah al-Islâmîyah al-‘Ālamîyah, 1986, hal. 134-137.
[2] Ibn Taymiyah, Majma’ al-Fatawa, juz I,  h. 363
[3]Ahmad Daudy, Allah dan Manusia dalam Konsepsi Syeikh Nuruddin ar-Raniry, Jakarta, Rajawali, 1983, hal. 64.h. 74-75.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.