Selasa, 22 Maret 2016

Ma’rifatullah

Tasawwuf bemula dari amalan-amalan praktis, yakni laku mujahadah dan riyadhoh, atau dari keinginan mencari jalan agar bertemu muka (Musyahadah) secara langsung dengan Tuhan. Tujuan tasawwuf, ialah sampai pada Dzat Yang Haq atau Yang Mutlak, atau bahkan bersatu dengan Dia. Para sufi tidak akan sampai pada tujuannya terkecuali dengan laku mujahadah yang dipusatkan untuk mematikan segala keinginannya selain kepada Allah, dan menghancurkan segala kejelekannya dan menjalankan bermacam riyadhoh yang diatur dan ditentukan oleh para sufi sendiri.[1]
Essensi tasawwuf adalah berusaha dengan sungguh-sungguh memutuskan keinginan-keinginan terhadap keindahan kehidupan duniawi. Pertama-tama yang sangat penting dijalankan calon sufi atau seorang salik, adalah mensucikan hati secara total terhadap apa saja selain Allah, dan pada akhirnya bila sang salik dapat menjalankannya dengan baik, sampailah ia kepada Maqam ma’rifatullah.[2]
Ma’rifatullah itu bukan semata-mata buah dari kontemplasi spekulatif tentang Allah, melainkan berkat latihan-latihan spiritual (riyadhoh) yang dilakukan melalui praktek tarekat shufi.[3] Ma’rifat memang merupakan  kenikmatan  dan kelezatan terbesar, sebagai karunia Allah. Hati yang sudah ma’rifat kepada Allah selalau merasakan  kebahagiaan dan sekaligus selalu tidak  sabar ingin segera berjumpa dengan Dia (Allah). Ma’rifatullah adalah  nikmat yang tidak pernah berhenti, karena hati tidak pernah rusak..[4]Allah A’lam bi al-Showab.



[1]Abdul Hakim Hasan, al-Tasawwuf fi al-Syi’r  al-‘Arabi, h. 20
[2] al-Mulqin, Op. Cit., h. 187.
[3] Abd. Shamad al-Palimbani,  Syar al-Salikin,  J. IV, h. 103.
[4] al-Ghazali, Kimia’ al-Sa’adah  (Beirut : Dar al-Fikr, 1996), h. 9-10.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.