Senin, 28 Maret 2016

. MADRASAH NIZAMIYAH

MADRASAH NIZAMIYAH

Prototipe Institusi Pendidikan Islam  di Abad V Hijriah
SUTEJA
Pemerintahan Bani Saljuq berhasil melahirkan pemerintahan Ghaznawi di Khurasan. Pemerintahan yang sukses nlengembangkan madzhab Ahlussunnh di belahan Timur Islam dalam merekrut anggota dan dukungan kuat masyarakat lapis bawah. Bani Saljuq adalah keturunan Saljuq bin Tuqaq, pemuka kabilah Turkeman, imigran dari Turkistan karena desakan kondisi perekonomian yang buruk dan tradisi perang antar suku.

Selama pemerintahan Saljuq madzhab  kalam Mathuridi dan  fikih  Hanafi mendominasi gerakan pemikiran keislaman. Namun, ia tidak memiliki pengaruh berarti, selain tradisi taqlid. Mengingat generasi awal Saljuq tidak tergolong generasi pecinta ilmu. Generasi awal Saljuq lebih menyukai peperangan fisik; sebagaimana kelompok nomaden pada umumnya.

Berbeda dengan generasi kedua, generasi awal Saljuq, diwakili oleh ’Amid al-Muluk al-Khundari, adalah generasi pengikut madzhab fikih Hanafi yang fanatis. Sedangkan generasi kedua, diwakili Nizam al-Muluk, wazir Aleppo Arselan Malik Syah, adalah pengikut madzhab fikih al-Syafi'i.  Sementara al-Khundari sendiri adalah seorang mu'tazili yang setia menyertai Tughrul Bik menghantam mazhab al-Asy'ariyah.[1]  Oleh al-Subuki ia dinilai sebagai penganut Musyabbihat dan Mujassimah. Peran al-Khundari[2]  sangat besar sekah dalam menancapkan kekuatan madzhab Mu'tazilah, mengutuk dan membantai madzhab Asy'ariyah, Syafi'iyah dan Ahlussunnah pada umumnya. Sejarah mencatat banyak pemuka-pemuka Asy'ariyah Khurasan ditangkap dan diekstradisi. Abu Qasim al-Qusyaeri sempat dipenjarakan selama satu bulan sampai dengan datang bantuan Abu Sahal. Namun Tughrul murka dan memerintahkan penangkapan Ali bin Muwaffiq untuk dipenjarakan. [3]

Usaha al-Khundari memperdayai al-Qusyairi, Imam al-Haramain dan kawan-kawan kemudian didokomentasikan oleh a1-Qusyairi sebagai catatan kelabu kelompok Asy'ariyah. Tulisan tangan itu berjudul Syikayat ahl al-Sunnah li ma nala hum min al-  mihnah. Dokumen itu dipublikasikan kE:' berbagai npeara dpllean harapan mendapatkan dukungan dari para pemuka dan tokoh agama Baghdad. Abu Bakr bin al-Husein bin All al-Baihaqi (387-485 H) salah seorang imam muhadits dan ahli faqih al-Syafi'i memberikan respect besar dan berhasil meyakinkan al-Khundan tentang jati diri Imam Abu Hasan al-Asy'ari.

Tughrul Bik meninggal tahun 455 H=1063 M. digantikan oleh saudaranya Aleppo Arselan dengan dibantu seorang wazir bernama  Abu All al-Hasan bin All bin Ishaq al- Tusi (Nizam al-Muluk). Sang wazir adalah pengikut setia madzhab al-Syafi'i.[4]  Angin segarpun mulai dihirup secara leluasa oleh kelompok Ahlussunnah. Arselan mulai memperlihatkan perlakuan istimewa bagi upaya kebangkitan madzhab al-Asy'ari melalui pendirian sekolah-sekolah yang menjamin masa depan dan kelanggengan madzhab al-Syafi'i dan al-Asy'ari. Madzhab al-Asy'ariyah dijadikan madzhab resmi bagi amaliah ka1am pemerintah dan rakyat. Pengajaran teo1ogi Asy'ariyah secara kurikuler di sekolah-sekolah Nizam al-Muluk merupakan aksi tandingan bagi teologi Mu'tazilah dan fikih Hanafiah. Sungguh sesuatu yang mengagumkan seorang Sultan pengikut fanaatis madzhab Hanafiah nlemberikan kepercayaan penuh terhadap seorang wazir pengikut fanatis madzhab al-Syafi'i,


[1] Ibnu 'Asakir, Tabyin Kizd al-Muftar fi ma Nusiba ila al-lmam al-Asy'ari, h. 108.
[2] Ahmad Amin, Dhuha al-Islam ,  h. 70.
[3] al-Subuki, Thabaqat,  vol. II, h. 271.
[4] Ibn Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, vol. II, 1966,  h. 33.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.