Rabu, 02 Maret 2016

KOMPETENSI PENDIDIK

kOMPETENSI PENDIDIK;
MENTELADANI  MUHAMMAD RASULULLAH  SAW
SUTEJA

A. PENDAHULUAN
            Muhammad lahir di kota Makkah, kota yang sangat penting dan terkenal di antara kota-kota di negeri Arab, baik karena tradisinya maupun karena letak goegrafisnya. Kota ini dilalui jalur perdagangan yang ramai, menghubungkanYaman di selatan dan Syria di utara. Dengan adanya Ka’bah di tengah kota Makkah menjadi pusat keagamaan Arab. Ka’bah adalah tempat mereka berziarah. Di dalamnya terdapat 360 berhala, mengelilingi berhala utama Hubal. Makkah kelihatan makmur dan kuat. Agama dan masyarakat Arab ketika itu mencerminkan realitas kesukuan masyarakat jazirah Arab dengan luas satu juta mil persegi.
            Muhammad adalah keturunan Bani HAsyim, suatu kabilah yang kurang berkuasa dalam suku Quraisy. Muhammad lahir dari keluarga terhormat yang relative miskin. Ayahnya bernama Abdullah anak Abdul Mutholib, seorang kepala suku Quraiys yang besar pengaruhnya. Ibundanya adalah Aminah binti Wahab dari Bani Zahrah.[1]
            Muhammad lahir dalam keadaan yatim karena ayahnya Abdullah meninggal dunia tiga bulan setelah dia menikahi Aminah. Muhammad diasuh oleh Halimah as-Sa’diyah sampai usia empat tahun. Setelah itu, kurang lebih dua tahun dia berada dalam asuhan ibu kandungnya. Ketiak berusia enam tahun, dia ditinggalkan ibundanya dan, dengan demikian,  dia menjadi yatim piatu.
            Setelah itu Abdul Muthaolib (kakeknya) mengambil alih tanggung jawab merawat Muhammad. Namun, dua tahun kemudian dia pun meninggal dunia. Tanggung jawab selanjutnya beralih kepada pamannya, Abu Tholib (anak Abdul Mutholib). Dia sangat disegani dan dihormati suku Quraisy dan penduduk Makkah secara keseluruhan tetapi dia miskin harta. 
            Dalam usia muda Muhammad hidup sebagai penggembala kambing keluarganya dan kambing penduduk Makkah. Ketika berusia 12 tahun  Muhammad ikut bergabung dengan kafilah dagang menuju  ke Syria (Syam). Kafilah itu dipimpin oleh Abu Tholib. Pada usia 25 tahun Muhammad berangkat ke Syria membawa barang dagangan saudagar wanita bernama Khadijah, yang kemudian menjadi istrinya. Muhammad menikahi Khadijah ktika berusia 25 tahun dan Khadijah berusia 40 tahun.
            Kebijaksanaan Muhammad mulai samakin nampak ketika dia berusia 35 tahun. Pada saat itu sedang berlangsung renovasi bangunan Ka’bah yang mengalami kerusakan berat. Di usia itu pula Muhammad mendapatkan gelar kharismatis dari masyarakat sebagai orang yang dapat dipercaya (al-Amin).
            Menjelang usianya yang ke 40 tahun, Muhammad sudah terlalu biasa mengasingkan diri (‘uzlah) dari keramaian masyarakat, melakukan tafakkur di gua Hira, beberapa kilometer di utara kota Makkah. Di sana mula-mula Muhammad menerima wahyu (17 Ramadhan 611 M.)  sebagai bukti kerasulannya. Khadijah adalah istrinya dan sekaligus orang yang pertama sekali mengimani kerasulan Muhammad. Disusul kemudian Abu Bakar dari pihak pria dewasa, Ali bin Abu Tholib (baru beruur 10 tahun) Zaid (bekas budak yang menjadi anak angkat Muhammad) dan Ummu Ayman (pengasuh Muhammad sejak ibunya Aminah masih hidup). Abu Bakr kemudian mengislamkan beberapa teman dekatnya seperti Usman bin ‘Affan, Zubair bin ‘Awwam, ‘Abdurrahman bin ‘Awf, Sa’ad bin Abu Waqash, dan Tholhah bin ‘Ubaydillah.
            Ketika melakukan dakwah secara terang-terangan Islam pun mendapatkan pengikut baru yang sangat membanggakan seperti Hamzah bin Abdul Mutholib (paman Nani  Muhammad) dan Umar bin al-Khoththob. Keduanya adalah orang kuat suku Quraisy. Keduanya memeluk Islam ketika tengah meningkatnya kekejaman perlakuan terhadap Islam.
            Pada tahun 10 dari kenabiannya, Muhammad ditingalkan untuk selamanya oleh dua orang yang sangat besar arti dan pengaruhnya bagi pengembangan dakwah islamiyah. Keduanya adalah Abu Tholib sang paman yang sangat melindunginya  dan Khadijah al-Kubro, sang itsri tercinta yang setia mendampingi dan juga melindunginya. Di tahun itu pula Allah memberikan karuniaNya yang sangat besar dengan meng-isro’-kan dan me-mi’roj-kan Muhammad. Dan, beberapa waktu sesudahnya Allah pun memerintahkan Nabi Muhammad beserta seluruh sahabtanya untuk hijrah ke Madinah.
Di Madinah Nabi Muhammad membentuk Negara Madinah. Dengan demikian Muhammad tidak saja nabi atau rasul Allah, tetapi juga kepala Negara dan kepala pemerintahan. Dengan kata lain, dalam diri nabi terkumpul dua kekuasaan sekaligus, kekuasaan spiritual dan kekuasaan duniawi. Kedudukannya sebagai rasul secara otomatis  merupakan kepala Negara.
Dalam rangka memperkokoh masyarakat dan negara baru itu, nabi SAW segera meletakkan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat. Dasar-dasar itu ialah : pembangunan masjid, ukhuwwah islamiyyah, dan hubungan persahabatan dengan pihak-pihak lain non muslim. Dasar-dasar itulah yang semakin  mengokohkan eksistensi, esensi dan juga fungsi Muhammad sebagai rahmatan lil ‘alamin.
ومآ أرسلناك إلاّ رحمة للعالمين (الأنبيآء : 107)
Artinya:
Dan tidaklah Kami (Allah) mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam (Q.S. al-Anbiya: 107)

            Muhammad adalah rahmat lil ‘alamin karena dia penyebab diperolehnya kebahagiaan manusia.  Muhammad adalah  rasul Allah yang salah satu fungsinya selalu memberikan petunjuk bagi manusia dalam usaha mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di akhirat.[2] Atau karena kehadirannya sebagai rasul sangat kondusif bagi umat manusia yang tengah berada dalam kebingungan intelektual di dalam menentukan baik-buruk, halal-haram, dan pahala-dosa. Di sisi lain kehadiran Muhammad dapat menjadi penangkal turunnya siksa secara langsung di dunia, sebagaimana yang dialami oleh para pelaku dosa dari umat terdahulu sebelum Muhammad.[3]

B.  PENDIDIK-AHLI DIDIK
Setidaknya ada empat ayat tentang Muhammad yang dapat disajikan dalam bagian ini.
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

Artinya:
Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Q.S. Ali ‘Imron: 144).

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا(40)
Artinya:
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S. al-Ahzab:40).


وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَءَامَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ(2)
Artinya:
Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan amal-amal yang saleh serta beriman (pula) kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang hak dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka. (Q.S. Muhammad: 2)

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ  وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا(29)

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku` dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu'min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar (Q.S. al-Fath : 29).

C. Pendidik Terbaik
Muhammad adalah rahmat bagi seluruh alam ciptaan Allah. Salah satu wujud rahmat Allah bagi ummat manusia adalah diangkatnya Muhammad sebagai nabi dan rasul-Nya. Karena tugas dan fungsinya maka dalam diri Muhammad terkumpul, otoritas  spiritual dan otoritas duniawi. Kedudukannya sebagai rasul secara otomatis  merupakan kepala Negara.[4] Otoritas spiritual adalah otoritas yang berkenaan dengan kemampuan untuk dapat mengenal dan memahami diri sepenuhnya sebagai makhluk spiritual maupun sebagai bagian dari alam semesta. Dengan memiliki otoritas  spiritual ini berarti Muhammad  memahami sepenuhnya makna dan hakikat kehidupan yang dijalani dan ke manakah dia akan pergi.
Muhammad, berdasarkan surat al-Anbiya : 107 di atas,  adalah pribadi yang berlimpah dengan kreativitas, intuisi, keceriaan, sukacita, kasih, kedamaian, toleransi, kerendah-hatian, serta memiliki tujuan hidup yang jelas, dan misi untuk membantu orang lain mencapai otoritas  spiritual ini. Pribadi yang demikianlah sesungguhnya yang sangat dibutuhkan dan harus dimiliki oleh setiap pendidik.
Muhammad adalah pendidik seluruh umat manusia. Muhammad yang dididik secara  langsung oleh Allah sang Maha Pendidik (rabb al-‘Alamin), dan kemudian diangkat menjadi pendidik secara langsung pula oleh Allah.  Muhammad sang pendidik telah berhasil meng-agama-kan manusia dan menjadikan manusia sebagai masyarakat beragama.
Dalam perspektif apa pun, tidak ada yang mempertentangkan, manusia adalah makhluk beragama (homo religius). Perbedaannya terletak pada motivasi, alasan, dan dasar beragama. Keberagamaan merupakan sesuatu yang fitri. 
Pada tahapan paling awal, keberagamaan adalah bersifat individual-personal. Agama adalah persoalan pribadi yang melibatkan akal, perasaan, dan kehendak. Al Quran menyatakan, agama atau keberagamaan memang sesuatu yang pribadi, namun kemudian dimiliki secara obyektif oleh masyarakat dan mengakumulasi dalam realitas sosial. Maksudnya, pengalaman religius sebagian besar ada dalam bentuk kognitif. Bila hal itu tidak dikomunikasikan, tidak akan diketahui orang lain. Dari sinilah terbentuk komunitas agama. Q.S. 110; al-Nahsr:2 menyatakan :
ورأيت الناس يدخلون في دين الله أفواجا (النصر: 2)
Di dalam agama terkandung harapan-harapan, sehingga apabila hal itu tidak tersedia, maka manusia akan meninggalkan dan mencari yang baru. Muhammad sebagai sang pendidik berhasil menanamkan kebutuhan manusia  terhadap agama bukan karena aspek fungsionalnya saja, tetapi juga panggilan ilahi. Muahmmad berhasil membawa  manusia bisa melakukan transendensi diri untuk mencapai apa yang ada di luar kemampuan dirinya. Sehingga agama Islam yang dibawa Muhammad  adalah "sebuah dunia", di mana manusia memenuhi hasrat atau keinginannya. Berawal dari itulah, kemudian lahir ritus-ritus atau amalan baik yang bersifat lahir maupun batin.
Keberhasilan Muhammad didalam mendidik ummat manusia sesungguhnya karena Muhammad mendapatkan didikan terbaik dari yang paling baik, secara langsung dari Allah Sang Maha Pendidik. Nabi SAW menyatakan :
أدّبني ربّي فأحسن تأديبي (رواه السّمعانيّ  عن ابن مسعود)[5]
Artinya:
Tuhanku (Allah) telah mendidikku (Muhammad), maka jadi baiklah hasil didikanku. (HR. al-Sam’ani dari Ibnu Mas’ud)

D. Kecerdasan Spiritual ;  OUT COME UNGGULAN
Keberhasilan Muhammad sebagai pendidik, sebagaimana diisyaratkan di dalam al-Quran sangat terkait langsung dengan tatacara umat Islam didalam  melakukan ibadah, baik mahdhah (ritual) maupun ghayr mahdhah (mu’amalh/ sosial). Pada tahapan paling awal umat Islam melakukan ibadah (peribadatan) kepada Allah  sebagai sebuah kewajiban yang harus dilakukan, karena jika tidak  akan menerima hukuman dari Tuhan (adzab dan neraka), dan jika dilakukan  akan menerima pahala dan surga. Menjalankan ibadah agama dengan motivasi karena ketakutan (fear motivation, khawf min Allah) menunjukkan kecerdasan spiritual yang paling bawah. Dilanjutkan dengan motivasi karena hadiah (reward motivation- roja’ ila Allah); sebagai kecerdasan spiritual yang lebih baik. Tingkatan ketiga adalah motivasi karena memahami bahwa manusialah yang membutuhkan untuk menjalankan ibadah agama (internal motivation-ihtiyaj ‘ala Allah). Dan, tingkatan kecerdasan spiritual tertinggi adalah ketika manusia menjalankan ibadah  karena  mengetahui keberadaan dirinya sebagai makhluk spiritual dan kebutuhan  untuk menyatu dengan Sang Pencipta berdasarkan kasih (love motivation-mahabbah ila Allah).

E. Materi  POKOK  PendidiKan  
Ada tiga unsur dalam diri manusia yaitu: ruh, akal, dan jasad. Kemulian manusia dibanding dengan makhluk lainnya adalah karena manusia memiliki unsur ruh ilahi. Ruh yang dinisbahkan kepada Allah. SWT sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Hijr ayat 29 yang artinya : "Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud". Ruh Ilahi inilah yang menjadikan manusia memiliki sisi kehidupan rohani. Dimana kecondongan ini juga dimiliki oleh semua manusia dalam setiap agama. Karena perasaan itu merupakan fitrah manusia.
Hakikatnya, manusia adalah makhluk spiritual yang hidup di alam materi. Muhammad diutus ke bumi untuk mengembalikan hakikat manusia yang sudah ternodai oleh berbagai pengaruh dan kepentingan materi dengan jalan mengembalikan kutamaan dan kemuliaan akhlak atau moralitas manusia. Nabi SAW bersabda:
إنّما بعثت لأتمّم مكارم الأخلاق (الحديث)


Artinya:
“Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus untuk menyempurnakan    kesempurnaan akhlak”. (al-Hadits).
إنّما بعثت لأتمّّم صالح الأخلاق (رواه البيهقيّ عن أبي هريرة )[6]
Artinya:
“Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus untuk menyempurnakan    kepatutan/kebaikan  akhlak”. (HR. al-Baihaqi dari Abu Hurairah ra.).

Nabi SAW memperbaiki dan menyemurnakan akhlak manusia tidak saja dengan ucapannya, melainkan dengan akhlak dirinya. Adapaun akhlak Nabi SAW sebagai ditegaskan oleh ‘Aisyah ra. adalah: "Sesungguhnya akhlak beliau SAW adalah Qur'an".
Ada lima hal paling pokok  yang diajarkan dan diteladankan Nabi Muhammad untuk membantu manusia  mengembalikan hakikat kemnauisaan manusia dan juga meningkatkan kecerdasan spiritualnya menuju  hidup dan berkembangnya  ruh ilahi sebagaimana fitrahnya yang semula, yaitu: Pertama, iman atau keyakinan. Dalam Islam hal ini adalah Syahadat. Setiap orang  dididik untuk  menyadari dan meyakini bahwa dia  adalah ciptaan Allah dan memiliki potensi yang luar biasa untuk menjadi dan memiliki apa pun yang diharapkan. Potensi dan peluang yang tidak terbatas inilah yang harus  dieksplorasi dan dikembangkan dalam rangka mewujudkan impian-impian  serta misi hidup  bagi sesama dan dunia pada umumnya.
Kedua, ketenangan dan keheningan, yaitu suatu upaya ritual untuk menurunkan frekuensi gelombang otak  sehingga mencapai relaks sampai tahap meditatif pada keheningan yang dalam. Muhamad mengajarkan cara untuk shalat khusyu’ dan tafakkur serta hudhur al-Qolb. Dalam Islam adalah shalat, yang sebenarnya merupakan tahap di mana otak kita membutuhkan istirahat untuk mencapai kejernihan dan ketenangan. Shalat lima waktu merupakan kebutuhan kita untuk memasuki frekuensi gelombang otak yang rendah, untuk mencapai kecerdasan yang lebih tinggi, kreativitas, intuisi dan tuntunan Ilahi. Pada frekuensi rendah juga terjadi peremajaan sel-sel tubuh (rejuvenation) sehingga kita menjadi lebih sehat dan awet muda.
Ketiga, tazkiyyatunnafs pembersihan diri, berupa detoksifikasi yaitu pembuangan racun-racun. Islam  menajarkan puasa. Karena puasa merupakan sebuah proses bagi manusia  untuk membersihkan tubuh dari segala racun-racun dan sisa pembuangan metabolisme tubuh, serta memberi waktu bagi tubuh kita untuk beristirahat. Jadi terlihat jelas bahwa berpuasa adalah kebutuhan mutlak seseorang untuk memelihara kesehatannya, selain bahwa puasa membantu kita untuk mencapai ketenangan (frekuensi gelombang otak yang rendah) sehingga kita dapat mencapai kesadaran tertinggi (superconsciousness). Oleh karena itu dalam Islam dikenal sebagai lailatul qadar. Suatu tahapan meditatif ketika seseorang mencapai supra-sadar. Artinya seseorang telah melalui tahap pemurnian dan menemukan keberadaan spiritualitasnya. Ketika tahap pembersihan diri tercapai, maka umat Islam merayakannya sebagai Idul Fitri atau kembali ke fitrah (sebagai makhluk spiritual yang suci dan murni).
Keempat, beramal dan mengucap syukur (Charity and Gratitude). Beramal bukan untuk kebutuhan orang lain semata. Justru kita butuh untuk melakukan amal karena terbukti dalam penelitian bahwa rasa iba dan kasih saying menstimulasi pembentukan hormon yang meningkatkan daya tahan tubuh dan kesehatan kita. Beramal dan mengucap syukur adalah sebuah pernapasan rohani, yang jika tidak kita lakukan maka kita akan mati secara spiritual dalam arti kita semakin tidak dapat mencapai tahapan aktualisasi diri atau pemenuhan diri yang sempurna. Dalam Islam dikenal sebagai zakat. Beramal atau berbuat baik pada sesama merupakan ciri kecerdasan spiritual seseorang atau aktualisasi diri menurut istilah Maslow, di mana kita memiliki misi untuk menolong sesama kita.
Kelima, penyerahan diri secara total. Ini adalah tahapan tertinggi dalam perjalanan spiritualitas seseorang, yaitu ketika dia sudah tidak punya rasa kuatir akan apa yang akan terjadi. Dia memiliki rasa pasrah secara total kepada Tuhan, karena sebagai makhluk spiritual, dia telah mencapai penyatuan dengan sang Pencipta. Kondisi demikian tersimbolisasikan dalam pelakasanaan rukun Islam kelima, yaitu hají.
F. Kepribadian  Hasil Didikan Muhammad
Lima tujuan pokok pendidikan Islam yang dibentuk oleh Muhammad adalah:[7] membantu pembentukan akhlak karimah, membantu mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat, menumbuhkan ruh ilmiah, mempersiapkan segi-segi teknis peserta didik (murid) dalam konteks mata pencaharian (ma’isyah), dan membantu mempersiapkan diri dalam mencari dan memelihara kemanfaatan rizki.     
 Adapun tujuan akhir pendidikan Islam biasanya dirumuskan dengan ungkapan yang singkat dan padat seperti: terbentuknya kepribadian muslim,[8] mendekatkan diri kepada Allah, dan menciptakan wujud kepasrahan total kepada Allah,[9] terwujudnya manusia sebagai hamba Allah,[10] terbentuknya kematangan dan integritas, kesmepurnaan pribadi. [11]
1. Mentawhidkan Allah
           Tauhid adalah mengesakan Allah SWT dalam ibadah dan mohon pertolongan. Seorang muslim hanya beribadah kepada Allah SWT dan hanya memohon pertolongan kepada Allah SWT. Kehidupan robany dalam Islam adalah yang berlandaskan tauhid yang intinya dapat tercakup dalam empat hal.
a). Pertama, tidak mencari tuhan selain Allah SWT .
قل إنّني هداني ربّي إلى صراط مستقيم دينا قيّما ملّة إبراهيم حنيفا  وما كان
من المشركين.(الأنعام )      
         Artinya:
Kataknlah: Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik. (QS: al-An'am: 161).

b). Kedua, tidak mengambil wali selain Allah SWT
قل أغير الله أتخذ وليّا فاطر السّمواتّ والأرض .... (الأنعام)
Artinya:
Katakanlah : Apakah akan aku jadikan pelindung selain Allah yang menjadikan langit dan bumi …. (QS: al-An'am:  14).
c). Ketiga, tidak mengharap hukum selain hukum Allah SWT

أفغير الله أبغي حكما وهو الذي أنزل إليكم الكتب مفصّلا ... (الأنعام)
Artinya:
Maka patutkah aku mencari hakim selain dari Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (al-Quran) kepadamu dengan terperinci? ...( QS: al-An'am:   114).
d). Keempat, tidak mengharap keridhoan selain dari Allah SWT
قل إنّ صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله ربّ العالمين. لا شريك  له
وبذالك أمرت وأنا أوّل المسلمين. (الأنعام)
Artinya:
Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah). (QS. Al-An’am: 162-163)

2. Ummat yang Patuh Mengikuti Tuntunan Allah
    Seorang muslim adalah yang melandaskan segala amalannya dengan syari'at. Karena syarat diterimanya sebuah amalan adalah harus memenuhi dua syarat yaitu : keikhlasan kepada Allah SWT semata dan harus sesuai dengan tuntunan Nabi SAW.  Allah SWT berfirman :
قل إن كنتم تحبّون الله فاتّبعوني يحببكم الله ويغفرلكم ذنوبكم


Artinya:
“Kataknlah (Muhammad) jika kamu sekalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad) niscaya Allah akan mencintai kamu sekalian dan mengampuni dosa-dosa kamu sekalian.

3. Ummat yang Menjaga Keseimbangan
Muslim adalah yang menjaga keseimbangan dalam beribadah dan menjalani kehidupannya. Kegiatan untuk akheratnya dan amal ibadahnya tidak sampai berlebihan dan tidak sampai melupakan urusan duniaannya apalagi hak-hak orang lain. Dia sholat, puasa, zakat, haji, berzikir, tapi juga mencari nafkah, bercanda dengan keluarga dan olahraga. Dalm hal ini ada hadits Nabi SAW tentang sikap Beliau SAW terhadap sahabatnya yang salah memahami ajaran sehingga ada yang ingin puasa terus tanpa berbuka, ada yang ingin qiyamulail tanpa istirahat, dan ada yang tidak ingin menikah. Nabi SAW bersabda: "Sesungguhnya aku adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah SWT tetapi aku puasa juga berbuka, aku qiyamulail juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. Dan barang siapa yang tidak menyukai sunahku, maka bukan termasuk golonganku". (HR: al-Bukhory dan Muslim)
4. Ummat yang Menjaga Kesinambungan
Setiap nafas seorang muslim hendaknya terus dipenuhi zikir dan bernilai ibadah. Perintah-perintah ibadah yang ada seperti ada sholat lima waktu, sholat jum'at, sholat hari raya, juga haji misalnya, itu semua menuntun muslim untuk menjaga hubungan yang berkesinambungan dan tidak terputus dengan Allah SWT. (QS: Al-Hijr: 99)
واعبد ربّك حتّى يأتيك اليقين (الحجر : 99)
Artinya :
Dan sembahlah Tuhanmu sehingga datang kepadamu yang diyakini (ajal).
5. Ummat yang Toleran
Meskipun ibadah dalam Islam itu sifatnya berkesinambungan, tetapi ada kemudahan dan tidak ada pemaksaan untuk melakukan amalan yang diluar kemampuan hamba. (QS: Al-Maidah: 6).
.... ما يريد الله ليجعل عليكم من حرج ...(المآئدة: 6)
Nabi SAW, sehubungan ayat tersebut di atas,  menegaskan :
إنما بعثتم ميسّرين ولم تبعثوا معسّرين (رواه الترمذيّ عن أبي هريرة)[12]
Artinya:
Sesungguhnya aku diutus kepada kamu sekalian sebagai )nabi( yang memmudahkan, dan aku tidak utus (sebagai nabi) yang menyusahkan kamu sekalian.

Kehidupan robany dalam ajaran Islam juga kita dapatkan adanya kelonggaran bagi muslim sesuai dengan tingkat keimanannya dan kemampuannya. Sehingga kita dapatkan kelonggaran Islam bagi orang yang hanya sanggup menjaga amalan yang wajib-wajib saja. Islam tidak menutup jalan bagi para pendosa yang ingin bertaubat. Disamping para pemilik keimanan yang tinggi seperti para sahabat Abu Bakar ra., Umar ra., Ustman ra. dan Ali ra. yang sanggup melaksanakan amalan-amalan sunah sebagai tambahan.
6. Memahami-Menghayati  Universalitas Islam
Muslim hendaknya memahami keuniversalan ajaran Islam, tidak sebatas dalam amalan ibadah. Segala aspek kehidupan muslim yang mencangkup urusan dunia atau akhirat harus berlandaskan ajaran Islam. Muslim tidak memisahkan antara masalah ibadah, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Kehidupan muslim bukan hanya di dalam masjid, tapi juga dapat mengikat hatinya dengan masjid meskipun jasadnya di luar masjid.
G. PENUTUP
            Tidak pernah diragukan, bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul Allah yang terakhir dan syari’atnya merupakan penyempurna seluruh syari’at nabi-nabi sebelumnya. Islam yang diturunkan kepada  Nabi Muhammad mencakup  ‘aqidah (keimanan), syari’ah, dan akhlak. Muhammad, selain nabi dan rasul adalah pemimpin negara, kepala pemerintahan, serta ahli didik dan sekaligus pelaku pendidik.
            Nabi Muhammad, sebagaimana disebutkan ayat ke-107 surat al-Anbiya’, adalah rahmatan lil ‘alamin. Atas dasar ayat itulah kemudian Islam sebagai agama nilai menyebut dirinya sebagai agama rahmatan lil ‘alamin,  karena memang jika diterima sepenuhnya nilai-nilai, aturan hukum, dan norma-norma yang dikandung ajarannya, akan menciptakan struktur masyarakat yang adil dan didasarkan pada etika.[13]
Kontribusi terbesar yang diberikan Muhammad sebagai pendidik adalah lahirnya kader-kader umat Islam yang tidak diragukan lagi kapatsitasnya dalam pengetahuan dan  wawasan, integritas moral yang kokoh, dan kesalehan sosial karena Muhammad mendidik umatnya berdasarkan wahyu Allah, yang kebenarannya bersifat otentik dan universal.
            Otentisitas dan universalitas ajaran Muhammad inilah kemudian yang memberikan inspirasi (sumber inspirasi) dunia pendidikan dalam proses pembentukan, pembinaan, dan pengembangan kepribadian yang ideal. Kepribadian yang didalamnya terdapat kesatuan yang utuh  antara aspek  iman, ilmu dan amal. Pribadi yang memiliki kompetensi secara individual, sosial, paedagogis, dan professional.  





[1] Heikal, Muhammad Husein, Sejarah Hidup Muhammad, terj., Jakarta, Litera Antarnusa, 1990, hal. 40..
[2] al-Baydhowi, Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil ,  juz II, hal. 48.
[3] al-Nawawi, Murah Labid,  juz II, hal. 47.
[4] Nasution, HArun, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, I, Jakarta, UI Press, 1985, hal. 101.
[5] al-Sayuthi, Jalal al-Din, al-Jami’ al-Shaghir fi Ahaddits al-Basyir wa al-Nadzir, hal. 13.
[6] al-Sayuthi, Jalal al-Din, al-Jami’ al-Shaghir fi Ahaddits al-Basyir wa al-Nadzir,  hal. 92,
[7] Al-Abrasyi, Mohammad ‘Athiyah,  Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam,  terj., Jakarta, Bulan Bintang, 1993.
[8] Marimba, Ahmad D, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung, al-Ma’arif, 1962, hal. 43.
[9] Fathiyah Hasan, al-Madzahib al-Tarbiyah ‘ind al-Ghazali, Maktabah Nahdlah, 1964, Mesir,hal. 167.
[10] Ali Ashrah, Horison Baru Pendidikan Islam,  Jakarta, Pustaka Firdaus, t.th., hal. 91.
[11] M. Noor Syam, Pengantar Filsafat Pendidikan, Surabaya, Usaha Nasional, 1973, hal. 76.
[12] al-Sayuthi, al-Jami’ al-Shaghir,  hal. 92.
[13] Rahman, Fazl, Islam,  terj., Bandung,  Pustaka, 1984,  hal. 54.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.