Senin, 21 Maret 2016

KEPRIBADIAN ORANG BERPUASA

KEPRIBADIAN ORANG BERPUASA
Oleh: Suteja
الحمد لله الذى أنزل على عبده الكتاب ولم يجعل له عوجا . وأشهد ألا اله إلا الله وحده لا شريك له  وأشهد أن محمدا عبد الله ورسوله
صلى الله عليه وعلى آله وصحبه ومن دعا بدعوته واستن بسنته إلى يوم القيامة .
يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
أمّا بعد ..

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ }
Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa, kualitas taqwa dapat dicapai dengan jalan  berpuasa. Puasa berarti meninggalkan makan, minum  dan kebutuhan nafsu seks. Kemampuan mengendalikan selera makan, minum dan nafsu seks adalah lebih berat dibandingkan mengendalikan kebutuhan terhadap yang lainnya. Mengingat, kebutuhan terhadap makanan dan nafsu seks merupakan kebutuhan primer manusia  dan  bersifat bawaan. Itulah sebabnya, norma puasa  yang prinsip dan berlaku untuk semua lapisan masyarakat manusia adalah meninggalkan makan, minum dan nafsu seks di siang hari.
Perilaku mementingkan nafsu seks sebagaimana ditegaskan Rasulullah SAW merupakan salah satu penyebab kehancuran bangsa-bangsa di dunia, dan hilangnya nilai-nilai kemanusian.
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ   رضي الله عنه  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ   صلى الله عليه وسلم }إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا، وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بْنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ{ رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Puasa dimulai semenjak  terbitnya fajar sidiq (waktu shubuh) sampai dengan tenggelamnya matahari (waktu maghrib). Inilah pembelajaan tentang manajemen waktu dan kedisiplinan.  Orang yang berpuasa akan terbentuk menjadi pribadi yang taat dan disiplin, sangat menghargai waktu dan tidak menyia-nyiakan peluang walau  satu menit sekalipun. Dia akan memanfaatkan setiap kesempatan dan peluang untuk berbakti dan beribadah kepada Allah, dimanapun dan dalam situasi dan kondisi  bagaimanapun. Tidak terbayang di hatinya untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna apalagi hal-hal yang membahayakan dan merugikan.
عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ  رَحِمَهُ اللَّهُ  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  صلى الله عليه وسلم} مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ{ رَوَاهُ مَالِكٌ وَأَحْمَدُ. وَرَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، ورَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

Selama siang hari setiap orang yang sedang berpuasa harus mampu menahan diri dari mengkonsumsi makanan atau minuman, meskipun milik sendiri dan dalam keadaan menyendiri.  Sebelum benar-benar tiba waktu maghrib, maka siapapun yang sedang berpuasa tidak akan berani makan atau minum, meskipun dalam keadaan sendirian dan tidak diketahui orang lain. Karena, ada Allah Dzat Yang Maha Mengetahui setiap yang diperbuat oleh makhluk ciptaan-Nya.  Ini berarti setiap ummat Islam dalam kesehariannya merasa selalu dekat, dan merasa selalu diawasi oleh Allah SWT. Inilah yang disebut maqam taqarrub dan  muraqabah.
Tata cara makan dan minum  mendidik orang yang berpuasa  untuk selalu meningkatkan kualitas ketakwaannya dengan membiasakan diri  berperilaku wara’. Wara’  adalah kehati-hatian mengutamakan mengkonsumsi makanan yang benar-benar halal dan meninggalkan makanan yang diragukan kehalalannya atau syubhat. Pribadi orang yang berpuasa akan selalu  hati-hati sebelum mengkomsumsi makanan atau minuman,  apakah makanan itu  benar-benar halal atau syubhat.  
Makanan yang dikonsumsi akan mempengaruhi pola pikir dan pola pikir akan mengendalikan perilaku seseorang.   Pola pikir dan perilaku keseharian dipengaruhi oleh makanan dan minuman yang dikonsumsi. Makanan yang halal akan melahirkan keselahan. Makanan yang baik dan berkualitas (tahyyib) akan melahirkan kecerdasan intelektual yang brilliant.
Setiap orang yang berpuasa akan merasaan betapa kelaparan itu menakitkan. Karenanya, orang yan berpuasa memilik kepekaan dan kepedulian terhadap setiap penderitaan yang dialami orang lain. Tidak pernah didalam dirinya keinginan untuk mengabaikan penderitaan atau nasib buruk orang lain, apalagi keinginan untuk menyakiti, menindas atau menganiaya. Maka, terjagalah dia dari nafsu serakah dan rakus terhadap hak milik orang lain.  Dia dikaruniai sifat qona’ah  dalam arti merasa nyaman dengan yang dimiliki sebagai rizki dan bagian dari Allah. Tidak berangan-angan terhadap susatu yang tidak jelas, tidak dihinggapi iri dan kecemburuan sosial yang kontra produktif.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو  رضي الله عنه  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  صلى الله عليه وسلم }قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ{ رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Pribadi orang yang berpuasa, dalam hal kekayaan, selalu bercermin kepada nasib orang-orang yang kurang beruntung, dan tidak merasa serba kekuarangan.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه  قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  صلى الله عليه وسلم } انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ ؛ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ { مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Puasa adalah salah satu ikhtiar yang menjadi tradisi (sunnah) nabawiah dalam proses pengendalian nafsu makan, minum dan nafsu seks. Para ulama salafus sholih dan juga sahabat Nabi SAW menjadikan puasa sebagai proses tazkiyatun nafs (pensucian jiwa) sebagai salah satu syarat untuk dekat dengan Allah SWT.
Kepatuhan dan ketaatan kepada setiap aturan, kemampuan memenej waktu, kedisiplinan, kemampuan tidak berdusta,  berhati-hati dalam masalah halal-haram, taqarrub  dan  muraqabah  adalah prasyarat dan  media untuk meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah SWT.  Taqwa adalah tujuan puncak ibadah puasa ramadhan.  Semua itu berawal dari  persoalan  kebutuhan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhan perutnya. Ketakwaan dan pola makan saling mempengaruhi satu dengan lainnya. Alhasil, setiap individu yang berpuasa ramadhan dengan benar dan baik akan tampak didalam kesehariannya sebagai pribadi yang taat aturan, jujur, tidak pernah menyia-nyiakan waktu, berhati-hati dalam memperoleh makanan dan kekayaan, merasa dekat dengan Allah, dan memiliki keyakinan bahwa dirinya selalu diawasi oleh Allah SWT. 

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.