Senin, 07 Maret 2016

KEILMUAN PESANTREN

KEILMUAN PESANTREN
SUTEJA

Mata rantai keilmuan dan pesantren adalah bersumber dari pemahaman dan interpretasi Wasli Songo  terhadap ajaran Islam. Mereka adalah para guru tariqat sufi yang merujuk kepada pemikiran dan doktrin kesalehan al-Ghazali (w. 450- 505 H / 1106-1111 M.). Al-Ghazali adalah ulama dan sufi yang  besar pengaruhnya. Dialah  pembela dan penyebar ajaran teologi al-Asy’ari dan fiqh al-Syafi’i.  Ketika dipercaya menjadi rektor Universitas Nidzamiyah Baghdad pada masa keemasan peradaban Islam, dia menampakkan keberaniannya dengan tidak mengikuti pola pemikiran sang guru yaitu Imam al-Haramaian yang, pada zamannya, dianggap lebih mu’tazili ketimbang tokoh-tokoh mu’tazilah. Dia justru mengikuti pola-pola al-Baqillani dan al-Asy’ari. Dialah penyebar doktrin al-Asy’ari  ke seluruh penjuru dunia, termasuk dunia belahan timur dan Nusantara.  Dari sudut pandang ini bisa dipastikan mata rantai kesejaharan, ideologis ataupun budaya pesantren dengan tradisi intelektual dengan para ulama sufi tempo dulu tetap terjaga, terpelihara, serta tetap lestari.
Rujukan ideal keilmuan pendidikan pesantren cukup komprehensif  meliputi inti ajaran dasar Islam itu sendiri yang bersumber dari al-Quran dan al-Sunnah. Kelengkapan rujukan itu kemudian dibakukan ke dalam tiga sumber atau rujukan pokok yaitu al-Asy’ariyah untuk inti ajaran dasar Islam bidang teologi, al-Syaf’iyah untuk bidang hukumIslam (fiqh) dan al-Ghazaliyah untuk akhlak atau etika Islam dan tasawwuf. Tradisi keilmuan pesantren sampai sekarang nampaknya tidak pernah bergeser dari aspek essensinya. Dawam Rahardjo, dalam hal ini, menaruh kepercayaan besar terhadap alumni-alumni pesantren yang memperoleh pendidikan di dunia Barat dan bekerja di beberapa sektor dan kantor swasta dan negara di Indonesia.[1]
            Pesantren dalam perkembangannya masih tetap disebut sebagai lembaga keagamaan yang mengajarkan dan mengembangkan ilmu-ilmu  keislaman. Pesantren dengan segala dinamikanya dipandang sebagai lembaga pusat perubahan masyarakat melalui kegiatan dakwah, seperti tercermin dari berbagai pengaruh pesantren terhadap perubahan dan pengembangan kepribadian individu santri, sampai pada pengaruhnya terhadap politik di antara pengasuhnya (kyai) dan pemerintah.
            Pesantren dari sudut paedagogis tetap dikenal sebagai lembaga pendidikan agama Islam, lembaga yang terdapat di dalamnya proses belajar mengajar. Fungsi pesantren dengan demikian lebih banyak berbuat untuk mendidik santri. Hal ini mengandung makna sebagai usaha membangun dan membentuk pribadi, masyarakat dan warga negara. Pribadi yang dibentuk adalah pribadi muslim yang harmonis, mandiri, mampu mengatur kehidupannya sendiri, tidak bergantung kepada bantuan pihak luar, dapat mengatasi persoalan sendiri, serta mengendalikan dan mengarahkan kehidupan dan masa depannya sendiri. Pesantren dalam hal ini bertugas membentuk pribadi  muslim yang  harmonis dalam hubungannya dengan Tuhan, sesama dan lingkungan yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan tetangga dekat.
            Pendidikan pesantren memiliki berbagai macam dimensi : psikologis, filosofis, relijius, ekonomis, dan politis, sebagaimana dimensi-dimensi pendidikan pada umumnya. Tetapi,[2] pesantren bukanlah semacam madrasah atau sekolah, walaupun di dalam lingkungan pesantren telah banyak pula didirikan unit pendidikan klasikal dan kursus-kursus. Berbeda dengan sekolah atau madrasah, pesantren memiliki    kepemimpinan, ciri-ciri khusus dan semacam kepribadian yang diwarnai oleh  karakteristik pribadi kyai, unsur-unsur pimpinan pesantren, dan bahkan aliran keagamaan tertentu yang dianut.  Pesantren  juga memiliki pranata tersendiri yang memiliki hubungan fungsional dengan masyarakat dan hubungan tata nilai dengan tradisi atau kultur masyarakat.
            Pesantren sejak awal kelahirannya  telah menjadikan pendidikan sebagai way of life. Pembentukan kepribadian muslim yang dilakukan oleh pesantren justru hampir seluruhnya terjadi di luar ruang belajar.  Hubungan, interaksi, dan pergaulan sehari-hari santri dengan kyai, atau santri dengan sesamanya, bahkan santri dengan masyarakat  di sekitar lingkungan pesantren adalah sumber pembelajaran utama dalam kerangka pembentukan kepribadian muslim yang dicita-citakan.   Pola hubungan santri-kyai dan santri-santri sebagai proses pembentukan kepribadian muslim dalam pendidikan pesantren adalah merupakan kesinambungan dan pelestarian tradisi, budaya, serta nilai-nilai Islam yang ditanamkan oleh Wali Songo  yang memposisikan ajaran mereka sebagai ajaran para ulama sebelumnya yang memiliki mata rantai bersambung (istishal al-Sanad)  dengan Rasulullah, Muhammad SAW.
            Tujuan pendidikan pesantren bukan untuk mengerjakan kepentingan kekuasan (powerfull), uang, dan keagungan duniawi. Kepada para santri ditanamkan bahwa belajar atau menuntut ilmu adalah semata-mata karena melaksanakan perintah Allah dan rasul-Nya, mencari keridoan Allah, serta menghilangkan kebodohan, sebagai sarana memasyaraktkan ajaran Islam di muka bumi dalam wujud amar ma’ruf nahyu munkar.[3]  Diantara cita-cita pesantren adalah latihan untuk dapat berdiri sendiri dan membina diri agar tidak menggantungkan sesuatu  kecuali kepada Allah.[4] Pesantren, dengan demikian, lebih mengutamakan faktor keikhlasan hati baik dari pihak santri dan wali santri, ataupun dari pihak kyai,  para pengajar, dan komponen pimpinan pesantren. Konsep ikhlas dalam pendidikan pesantren  merupakan konsep kerelaan hati berbuat baik dalam bentuk apapun, tanpa mengharap imbalan atau upah dari makhluk ciptaan Allah. Konsep ikhlas yang dianut oleh komunitas pesantren selama berabad-abad merupakan warisan Wali Songo  sebagai kepanjangan dari ajaran tasawwuf al-Ghazali.
            Konsep ikhlas dipandang sudah teruji sepanjang sejarah perkembangan umat Islam Idonesia. Para  santri dan  alumni pesantren yang ikhlas dalam arti sesungguhnya dinilai telah berhasil dan lulus dalam kancah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang menawarkan janji-janji menggoda tentang  kemewahan duniawi baik berupa jabatan, pangkat, kedudukan, popularitas, uang, kekayaan bendawi, serta kepuasan-kepuasan psikologis yang sifatnya tidak kekal. Konsep ikhlas dalam tradisi pesantren mendorong para santri mengejar  kebahagaiaan ruhhaniah yang  kekal, yaitu kedamaian dan ketentraman, karena kedekatan dengan Tuhan sebagai bersihnya hati dan beningnya pikiran dari ambisi mengejar kepuasaan duniaiwi.   Ikhlas merupakan pintu pertama menuju terbentuknya kepribadian muslim yang harmonis baik dalam kehidupan duniawi dan ukhrawi. Keharmonisasn pribadi berawal dari hati yang bersih dari ketergantungan kepada selain Allah (syirik) dan prasangka buruk (su’u dzan) kepada sesama, serta keragu-raguan dalam bertindak. Kondisi kejiwaan inilah yang paling  pertama ditanamkan sejak santri baru memulai mengikuti pembelajaran di dalam lingkungan pendidikan pesantren.
Sejarah mencatat, akibat keberhasilan pendidikan pesantren dalam menanamkan keikhlasan kepada para santrinya telah banyak memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Beberapa pesantren tua seperti dikemukakan di atas telah berhasil memberikan teladan dengan melakukan konfrontasi secara fisik dengan penjajah. Hal ini dapat dicermati juga melalui letak geografis beberapa pesantren di  tanah Jawa yang sejak semula nyata-nyata menampakkan perlawanan dengan sentra-sentra kekuatan dan ekonomi penjajahan Belanda di Indonesia. Zamakhsyari Dzofir mencatat bahwa Pesantren Tebuireng Jombang  (Jawa Timur)  letaknya tepat berhadapan dengan salah satu pabrik gula terbesar yang terletak  di Desa Cukir Jombang.  Fenomena ini menunjukkan bahwa sejak semula pesantren telah menyatakan konfrontasi dengan kemajuan teknologi Barat yang secara langsug mempengaruhi pola fikir dan prilaku santri waktu itu.[5]  Di wilayah Jabawa Barat terdapat pesantren tua yang terletak di Desa Babakan Kecamatan Ciwaringin Cirebon. Pesantren ini berdiri sejak tahun 1817 M. Ketika terjadi Perang Diponegoro di Jawa tengah (1825-1830),  yang dipimpin oleh  Syaykh Abdurrahim putra Amangkurat III (dari hasil pernikahan dengan seorang putri Kyai dari Desa Tingkir),  Ki Jatira (kyai yang sebenarnya keturunan  Banten dan utusan kesultanan Mawlana Hasasnuddin Banten) dan para santri pesantren itu tengah berjuang keras melawan Belanda yang bermarkas di Gunung Jaran Desa Gempol Kecamatan Ciwaringin. Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon (didirikan KH. Ahmad Syathori) adalah salah satu pesantren di wilayah kawedanan Arjawinangun yang sebagian bangunan fisiknya mempergunakan tanah bekas pabrik gula yang dibangun  Belanda (regendom). KH. Ahmad Syathori termasuk salah seorang santri KH. Jawhar ‘Arifin Balerante yang tergolong kirtis. Dia juga belajar hadits/ilmu hadits dan fiqih Maliki kepada Syakykh Muhammad ‘Alawiy al-Malikiy di Makkah al-Mukarromah. Semasa penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang, sang kyai ini kerapkali keluar masuk penjara karena perlawananya terhadap kekuasaan kolonial. Beberapa pesantren lain yang juga memposisikan diri berkonforntasi dengan kekuatan penjajah. Misalnya  Pesantren Kempek Ciwaringin (didirikan oleh K. Harun), Pesantren Balerante Palimanan (didirikan seorang putra bangsawan dari Banten bernama Cholil), Pesantren Sukun Sari Plered (Weru Kidul), Buntet Pesantren di Desa Mertapada Kulon  Kecamatan Astajanapura, dan Pesantren Gedongan Desa Ender Astanajapura.  Letak geografis semua pesantren tersebut  mendekati pabrik gula  yang pada masa itu  merupakan  pusat perekonomian Belanda  yang dijadikan tumpuan eksploitasi kekuatan infrastruktur rakyat Indonesia.



[1] Dawam Rahardjo, Pesantren dan Pemebaharuan, Yakarta,  LP3ES, 1988,  7.
[2] Dawam Rahardjo, Pesantren dan Pemebaharuan,  27.
[3] al-Jurjani,  Ta’lim al-Muta’allim fi Thariq al-Ta’limwa al-Ta’allum,   3.
[4] Abdurrahman Wahid, dalam, Manfred Oepen and Wolfgang Karcher,  the Impact of Pesantren, Jakarta,   42.
[5] Zamakhsyari Dzofir,  Tradisi Pesantren, Jakarta,  LP3S, 1985, 101.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.