Selasa, 29 Maret 2016

KEDUDUKAN AKAL

KEDUDUKAN Akal
SUTEJA

Faktor utama  yang menyebabkan manusia menjadi makhluk paling mulia adalah potensi akalnya. Apabila syara’ dapat dianalogikan dengan sinar matahari, maka akal adalah cahaya bintang-bintang.  Ia dapat menunjukkan dan mengantarkan manusia kepada kemaslahatan duniawi dan kebahagiaan ukhrawi. [1] 

Amanat kekhalifahan  yang dibebankan Allah kepada  Adam adalah bukti penghormatan terhadap potensi intelek manusia, yang secara fungsional menentukan masa depan dan nasibnya.  Dengan akalnya,  manusia dapat qurb dengan Allah.[2]  Akal merupakan media bagi ilmu pengetahuan dan ilham. Akal ini pula yang diberi kepercayaan (amanah) untuk memimpin aspek-aspek hewani agar bisa menyadari misi kehidupannya di dunia ini. Akal jenis ini, oleh al-Ghazali, disebut  akal muktasab atau  akal mustafad, seperti dimaksudkan hadits Nabi SAW yang berbunyi :
إذا تقرّب الناس بأبواب البرّ فتقرّب أنت بعقلك .[3]
Konsepsi keberadaan dan keesaan Allah dapat dicapai melalui akal. Walaupun demikian, akal yang tidak memiliki persiapan tidak akan dapat mengetahui nama-nama-Nya dan tidak pula dapat memahami dengan baik hubungan Allah dengan semua ciptaan-Nya,  dan sebaliknya. Itulah sebabnya  mengapa pemikir-pemikir Yunani meskipun menguasai permalasahan-permalasahan intelektual secara mendalam, mereka tidak sampai pada ilmu dan keyakinan yang benar menegani Tuhan dan hubungan-Nya dengan maklhluk.
Keistimewaan akal dibandingkan penglihatan lahiriah (mata kepala) adalah:[4]
1.  Akal dapat   mengetahui (idrak)  sesuatu selain dirinya.
2.  Sesuatu yang dekat dan jauh bagi akal adalah  sama saja.
3. Akal dapat mengetahui kehidupan di ‘arasy, kursi, ‘alam samawi serta ‘alam malakut (alam yang dapat dicapai dengan kekuatan akal).
4. Akal dapat mengetahui bagian luar dan bagian dalam serta hakikat sesuatu.
5. Akal dapat mengetahui hal-hal yang  bersifat  indrawi dan juga non indrawi seperti suara, bau, rasa, panas, dingin, rasa senang dan bahagia, rasa sedih dan gelisah, rasa rindu, kehendak, dan lain-lain.
6.  Akal dapat mengetahui sesuatu yang tidak memiliki batas akhir
7. Akal dapat mengetahui pergerakan dan perubahan yang bersifat kuantitatif dan kualitatif.



[1] al-Ghazali, Abu Hamid bin Muhammad, Rawdhat al-Thablibin wa ‘Umdat al-Salikin,  h. 22.
[2] al-Ghazali,  Mizan al-‘Amal,  Mesir, Maktabah al-Jund, 1966, h. 19.
[3] al-Ghazali,  Mizan al’Amal, h. 123.
[4] al-Ghazali, , Misykat al-Anwar,  h. 3-5. 

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.