Selasa, 08 Maret 2016

Karakter Kepribadian Muslim

Karakter  Kepribadian Muslim
SUTEJA
Pribadi muslim adalah pribadi yang menyerahkan diri serta jiwa raga untuk tinduk dengan sepenuh hatinya kepada Allah.[1] Kepribadian seorang muslim yang ideal adalah kepribadian  yang didalamnya terdapat berbagai kelebihan.[2] Kelebihan dimaksud  adalah   akidah yang bersih, kebiasaan ibadah yang benar dan baik berdasarkan syariat,  akhlak yang baik, badan yang sehat, pola berpikir yang moderat, memiliki kemampuan mencari nafkah dan memberikan manfaat kepada orang lain.
Secara sederhana ciri-ciri kepribadian muslim dapat ditengarai dari perilaku keseharian seseorang  dalam beribadah baik ibadah langsung kepada Allah (mahdhah) maupun ibadah sosial (ghyar mahdhah). Ibadah langsung kepada Allah terkait langsung dengan perilaku membersihkan hati dari segala akhlak tercela (takhallî) dan menghiasinya dengan akhlak terpuji dan berbagai keutamaan (tahallî). Ibadah sosial atau amal saleh merupakan indikator keimanan.
Ibadah sosial dapat ditengarai dari kualitas seseorang dalam berkomunikasi dan menjalin relasi dengan orang lain serta  amal saleh. Amal saleh adalah amal yang lahir dari akidah islamiah dan memberikan manfaat kepada orang lain. Setiap muslim yang beriman yang sebenar-benarnya dalam pekataan, perbuatan dan komitmen  dan gemar beramal saleh adalah pribadi yang sehat.  Dialah pribadi  yang bahagia dan sekaligus  membahagiakan orang lain.
 Setiap individu yang mengamalkan rukun-rukun Islam secara konsisten (istiqãmah) adalah pribadi  muslim yang ideal karena ia   merupakan perwujudan  dari penghayatan dan pengamalan seluruh rukun Islam yaitu:  syahadat, sahalat, puasa, zakat dan haji. Berikut ini akan diuraikan secara singkat tipe pribadi berdasarkan rukun Islam.

1.   Kepribadian Syahãdat
Kepribadian muslim adalah cermin penghayatan pengucapan dua kalimat syahadat, mengerjakan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan ramadhan, dan haji ke baitullah bagi yang mampu. Kepribadian muslim menimbulkan banyak karakter ideal.[3]  Kepribadian muslim menimbulkan banyak karakter ideal sebagai  manifestasi dari masing-masing rukun Islam.
Karakter ideal, dari dua kalimat syahadat    akan melahirkan pribadi yang memiliki kekhususan sendiri.  Kepribadian syahadatain ini selalu  berusaha   menghilangkan dan membebaskan diri dari segala belenggu atau dominasi selain dari Allah SWT, selalu cinta dan mematuhi perintah rasul Allah  dan menjauhi larangannya, serta berusaha menteladani tingkah lakunya yang mulia.  
2. Kepribadian Mushallî
Kepribadian muslim terdapat dalam diri yang mendirikan shalat fardhu. Setiap pribadi yang mendirikan shalat dengan benar dan baik, akan terpancar dari dirinya keutamaan-keutamaan. Misalnya, kemampuan berkomunikasi dengan Allah dan sesama manusia. Dia dapat menanggalkan segala identitas kebesarannya di hadapan Allah dan terhindar dari sifat takabur. Selain itu, dia merupakan pribadi yang selalu menebarkan keselamatan dan kasih sayang kepada sesama manusia.
Karakter muslim yang mendirikan shalat selalu meperhatikan kebersihan dan kesucian lahir dan batin seperti didalam syariat wudhu. Dia dapat memusatkan konsentrasi dan mengendalikan jiwa karena shalat mensyaratkan kekhusyu’an dan hudhûr al-Qalb.  Pribadi ini terbiasa untuk  mematuhi aturan dan norma sebagaimana terkandung dalam tatacara shalat berjama’ah  yang mensyaratkan keabsahan shalat untuk mengikuti gerakan imam. Dia juga terdidik untuk menjadi pemimpin yang dapat diikuti oleh semua kalangan.

3. Kepribadian Shãimun
Pribadi muslim adalah pribadi yang taat melakasanakan ibadah puasa di bulan ramadhan. Pribadi ini dapat dicirikan dari sifat-sifat mulia sebagai keutamaan. Misalnya kemampuan menahan kecenderungan mengkonsumsi sesuatu yang bukan seharusnya dan kemampuan mengendalikan diri dari godaan birahi  (syahwat), Keuatamaan lain yang tidak  kalah pentingnya adalah pola makan, minum dan istirahat yang terprogram dan teratur. Keutamaan yang sangat mulia adalah kejujuran baik terhadap diri sendiri, orang lain dan kejujuran dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT.
Pribadi shâimun (yang mengerjakan puasa) ditandai pula dengan kegairahan melaksanakan ibadah atau amalan-amalan yang sunnah atau mustahabb. Dia juga memiliki kemampuan mengisi waktu luang dengan hal-hal  yang bermanfaat   untuk dirinya sendiri. Demikian juga kecenderungan terhadap hal-hal  yang mendatangkan manfaat bagi kehidupan orang lain, karena dalam dirinya tumbuh subur rasa simpati dan empati. Kepeduliannya terhadap masalah-masalah  sosial kemasyarakatan selalu terasah. 
4. Kepribadian  Muzaki
Pribadi muzakki  sebagai ciri pribadi muslim terpancar dari kesanggupannya menyadari kepemilikan harta kekayaan yang didalamnya ada hak sesama manusia, baik dari kelompok peminta-minta ataupun lainnya. Kesadaran terhadap kepemilikian harta itu kemudian melahirkan keikhlasan untuk mendermakan harta kekayaan baik dengan zakat, sedekah ataupun infaq demi kepentingan bersama dalam kerangka mencapai mardhâtillâh.  Sifat kikir atau bakhil  dalam diri pribadi muzakki perlahan tapi pasti terkikis secara terus menerus. 
Dirinya terjauh dari  kecenderungan  dan keinginan memupuk kekayaan untuk kepuasaan diri sendiri. Perilaku dalam proses pencarian kekayaan jauh dari sikap menghalalkan segala cara karena pemahaman bahwa harta yang halal mensyaratkan cara perolehan yang halal pula (halâl li ghayrih). Manakala sesuatu yang  halal  tercampur dengan sesuatu yang haram maka akan menjadi haram secara keseluruhan.
5. Kepribadian Haji
Ciri pribadi muslim berikutnya tergambar dari kepribadian haji. Haji adalah rukun Islam yang kelima atau terakhir. Diposisikannya haji pada urutan terakhir menunjukkan kesempurnaannya diantara rukun-rukun Islam yang lainnya. Ibadah haji mensyaratkan kesiapan yang sangat prima, karena didalamnya ada  ketentuan yang mencerminkan pengalaman puncak ibadah seseorang. Ibadah haji mensyaratkan kesiapan dalam berbagai hal seperti kekuatan motivasi (niat), kesiapan fisik termasuk kesehatan berbeda dengan puasa yang justeru mengharuskan kemampuan menahan lapar dan haus sepanjang hari.
Ibadah haji juga mensyaratkan  kesiapan dan kecukupan harta berbeda dengan  ibadah puasa yang tidak membutuhkan modal harta. Berbeda dengan  ibadah shalat yang sekadar membutuhkan pakaian penutup aurat dan air untuk bersuci, serta tempat secukupnya. Atau ibadah zakat yang mengharuskan pengeluaran sekadar sesuai ketentuan (nishâb).
Berbeda denan ibadah sahalat  ibadah haji mensyaratkan kesiapan fisik untuk melakukan pergerakan dari satu tempat ke tempat lain yang membutuhkan banyak tenaga dan stamina yang prima.  Ibadah haji juga  membutuhkan  pelengkap seperti alat transportasi dan fasilitas akomodasi memadai.
Prateknya, ibadah haji mensyaratkan setiap pribadi untuk mempau beradaptasi dan berkomunikasi dengan siapa dengan tidak memandang perbedaan kulit, ras, atau negara asal setiap orang. Ibadah haji adalah ibadah yang mendidik setiap pribadi mampu memposisikan diri sebagai makhluk Allah yang sama dan sederajat di hadapan Allah. Tidak memadang seseorang dari keturunan (nasab), keilmuan, kekayaan, status sosial dan bahkan usia sekalipun.


[1] Jaenudin, Psikologi Kepribadian,  hal. 181.
[2] Jaenudin, Psiklologi Kepribadian,  hal. 93-96
[3] Mujib,  Fitrah dan Kepribadian Islam Sebuah Pendekatan Psikologis,  hal. 196

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.