Rabu, 30 Maret 2016

ISLAM NUSANTARA



 ISLAM NUSANTARA
SUTEJA
Islam datang  pertama kali di Indonesia melalui jalur perdagangan yang dilakukan oleh para saudagar Arab. Jalan-jalan yang dilalui para saudagar itu adalah melewati jalan laut dari Aden menyusuri pesisir pantai India Barat dan Selatan, jalan darat dari Khurasan, kemudian melalui Khutan, padang pasir Gobi, menyeberang Sungtu, Nansyu, Kanton, kemudian menyeberangi Laut Cina selatan dan memasuki gugusan pulau-pulau Melayu melalui pesisir timur Semenanjung Melayu. Dengan demikian Islam datang ke gugusan pulau-pulau Melayu melalui lautan India dan juga Laut Cina secara langsung dari negeri Arab.[1]
Penyebaran  Islam di Melayu, termasuk Nusantara, diakui oleh  sebagian besar ahli menggunakan pendekatan sufistik. Mereka berhasil mengislamkan sejumlah besar penduduk. Faktor utama  keberhasilannya  adalah kemampuan para sufi menyajikan Islam dalam kemasan yang atraktif khususnya dengan menekankan perubahan dalam kepercayaan dan praktek keagamaan lokal. Betapa signifikan peran yang dimainkan para sufi  dalam proses islamisasi.[2]
Bagi ‘Abbas Muhammad ‘Aqqad, kepulauan Indonesia merupakan tempat paling layak untuk membuktikan kenyataan bahwa Islam diterima dan berkembang di tengah-tengah penduduk yang menganut agama lain.  Di setiap penjuru negeri terdapat bukti nyata betapa keteladanan yang baik berperan dalam penyebaran Islam tanpa menggunakan kekerasan.[3]
Masuknya Islam ke Pulau Jawa  tidak dapat dilepaskan dari konteks masuknya Islam di Nusantara. Tokoh-tokoh yang dianggap berperan dalam penyebaran Islam di Jawa sering disebut sebagai Wali Songo.  Berdirinya kerajaan Islam di Jawa –dengan tokoh sentral para wali penyebar Islam- tidak dapat dilepaskan dengan kondisi Pasai yang menjadi dearah persinggahan para penyebar Islam dari Tanah Arab. Ketika Kerajaan Pasai sedang mengalami kemunduran dan Malaka direbut Portugis,  muncullah tiga kerajaan yang bertugas mempertahankan panji-panji Islam di gugusan Pulau Melayu. Ketiga negara itu adalah Aceh di Sumatera bagian utara, Ternate di Maluku dan Demak di Jawa.[4]
Masuknya orang-orang Jawa menjadi penganut Islam, menurut cerita rakyat Jawa karena peran dakwah Wali Songo yang sangat tekun dan memahami benar-benar kondisi sosio-kultural masyarakat Jawa, sehingga mereka mampu berbuat banyak dan menakjubkan. Tampaknya, mereka menggunakan pendekatan kultural dan edukasional, sehingga sampai kini dapat disaksikan bekas-bekasnya seperti pertunjukan wayang kulit dan wayang purwa, pusat pendidikan Islam model pondok pesantren, arsitektur masjid dan filosofinya, tata ruang pusat pemerintahan, dan sebagainya. [5]
Tampaknya, para wali itu dalam dakwah keagamaannya menggunakan pola yang akomodatif, sehingga islamisasi di tanah Jawa mengesankan banyak orang.  A. Jones menyebutkan, awal mula perkembangan Islam di Indonesia dan khususnya di Jawa adalah dalam bentuk yang sudah bercampur baur, unsur-unsur India, Persia, terbungkus dalam bentuk praktek-praktek keagamaan.[6]  Lantas, sesampainya di Jawa, praktik-praktik keagamaan yang sudah tidak murni lagi itu bercampur pula dengan berbagai variasi praktek keagamaan setempat, baik kepercayaan agama/kepercayaan lokal, Hindu, ataupun Budha.
Para wali itu diidentikkan dengan tokoh  kharismatik yang lazim dikenal sebagai penganut ajaran ulama-ulama sufi. Berperannya para sufi di dalam penyebaran Islam tampak sekali dalam peran menyatukan umat Islam, disinyalir terkait erat dengan kejatuhan Baghdad di tangan bangsa Mongolia pada tahun 1258 M. Penyebaran tariqat-tariqat sufi ternyata sampai pula di tanah Jawa, sehingga banyak dijumpai orang-orang Jawa, Sunda, Madura dan lainnya yang beragama Islam menjadi pengikut tariqat-tariqat tersebut.
Ajaran tasawuf sudah berkembang pertama kalinya di Aceh pada abad ke-17 M. Paham itu telah dibawa oleh para pedagang Melayu sehingga sampai di Demak dan Banten. Paham Syekh Siti Jenar juga diperkenalkan pada sebagian masyarakat yang mempelajari agama, mengingat sebagian besar penduduk daerah ini menganut  madzhab Syafi’iyah dalam bidang fikih. Sedangkan ajaran tasawuf yang diajarkan dan berkembang sampai dengan sekarang adalah ajaran al-Ghazali.[7]
Berdasarkan Babad Cirebon, Purwaka Caruban Nagari,   ketika Kerajaan Pasai mengalami kemunduran, adalah seorang warga Pasai bernama Fadhilah Khan (wong agung saking Pase) datang ke Pulau Jawa terutama Demak dan Cirebon (1521 M.)[8] Setelah Kerajaan Demak beridiri, Islam tersebar demikian cepat ke seluruh pelosok Pulau Jawa. Keharuman nama Demak sebagai basis penyebaran Islam di Pulau Jawa sesungguhnya tidak lepas dari peran Wali Songo. Meskipun tidak membawa bendera tertentu, kecuali Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, metode dakwah yang digunakan para wali itu adalah penerapan metode yang dikembangkan para ulama sufi Sunni dalam menanamkan nilai-nilai ajaran Islam melalui keteladanan yang baik sebelum berkata-kata.[9] Al-Ghazali menyatakan bahwa  hakikat  tasawuf adalah ilmu dan amal yang membuahkan akhlak terpuji, jiwa yang suci dan bukan ungkapan-ungkapan teoritis belaka.[10]


[1] Wan Husein Azmi,  “Islam d Aceh dan Berkembangnya Hingga Abad XVI”, dalam A. Hasymi, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia  (Bandung : al-Ma’arif, 1993), h. 181-182.
[2] Azyumardi Azra,  Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII  dan XVIII: Melacak Akar-akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia, (Bandung : Mizan, 1995), h. 35.
[3] Abbas Muhammad ‘Aqqad, al-Islâm fî al-Qur’an al-‘Isyrîn: Hâdhirûh wa Mustaqbaluh  (Kairo : Dar al-Kutub al-Hadistah, 1954), h. 7.
[4] Tuanku Abdul Jalil, “Kerajaan Islam Perlak Poros Aceh-Demak”, dalam A. Hasymi,  Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, (Bandung: PT al-Ma`arif, 1993), h. 273.
[5] Uka Tjandrasasmita, “Peninggalan Kepurbakalaan Islam di Pesisir Utara Jawa”, dalam al-Jami’ah No. 15 (Yogjakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1977).
[6]A. Jones, “Tentang Kaum Mistik dan Penulisan Sejarah”, dalam,  Taufik Abdullah (ed.), Islam di Indonesia, (Jakarta : Tintamas, 1974).
[7] M. Solihin,  Sejarah dan Pemikiran Tasawuf di Indonesia  (Bandung : Pustaka Setia, 2001), h. 69.
[8]Uka Tjandrasasmita, “Proses Kedatangan Islam dan Munculnya Kerajaan-kerajaan Islam di Aceh”,  dalam A. Hasymi,  Op.Cit.,  h. 367.
[9] Alwi Shihab, Islam Sufistik (Bandung: Mizan, 2001), h. 38.
[10] Abu Hamid al-Ghazali, al-Munqidz min al-Dhalâl  (Kairo: Silsilat al-Tsaqafah al-Islamiah, 1961), h. 42 dan 46.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.