Rabu, 23 Maret 2016

geografis pesantren

geografis  pesantren 
oleh: suteja
Sejarah mencatat, akibat keberhasilan pendidikan pesantren dalam menanamkan keikhlasan kepada para santrinya telah banyak memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Beberapa pesantren tua seperti dikemukakan di atas telah berhasil memberikan teladan dengan melakukan konfrontasi secara fisik dengan penjajah. Hal ini dapat dicermati juga melalui letak geografis beberapa pesantren di  tanah Jawa yang sejak semula nyata-nyata menampakkan perlawanan dengan sentra-sentra kekuatan dan ekonomi penjajahan Belanda di Indonesia.  Pesantren Tebuireng Jombang  (Jawa Timur)  letaknya tepat berhadapan dengan salah satu pabrik gula terbesar yang terletak  di Desa Cukir Jombang.  Fenomena ini menunjukkan bahwa sejak semula pesantren telah menyatakan konfrontasi dengan kemajuan teknologi Barat yang secara langsug mempengaruhi pola fikir dan prilaku santri waktu itu.
Di wilayah Jabawa Barat terdapat pesantren tua yang terletak di Desa Babakan Kecamatan Ciwaringin Cirebon. Pesantren ini berdiri sejak tahun 1817. Ketika terjadi Perang Diponegoro di Jawa tengah (1825-1830),  yang dipimpin oleh  Syaykh Abdurrahim putra Amangkurat III dari hasil pernikahan dengan seorang putri Kyai dari Desa Tingkir,  Ki Jatira (kyai yang sebenarnya putra Banten dan utusan kesultanan Mawlana Hasasnuddin Banten) dan para santri pesantren itu tengah berjuang keras melawan Belanda yang bermarkas di Gunung Jaran Desa Gempol Kecamatan Ciwaringin. Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun Cirebon (didirikan KH.  Syathori) adalah salah satu pesantren di wilayah kawedanan Arjawinangun yang sebagian bangunan fisiknya mempergunakan tanah bekas pabrik gula yang dibangun  Belanda (regendom). KH. Ahmad Syathori termasuk salah seorang santri KH. Jawhar ‘Arifin Balerante yang tergolong kirtis. Dia juga belajar hadits/ilmu hadits dan fiqih Maliki kepada Syakykh Muhammad ‘Alawiy al-Malikiy di Madinah. Semasa penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang, sang kyai ini kerapkali keluar masuk penjara karena perlawananya terhadap kekuasaan kolonial.
Beberapa pesantren lain yang juga memposisikan diri berkonforntasi dengan kekuatan penjajah misalnya: Pesantren Kempek Ciwaringin (didirikan oleh K. Harun), Pesantren Balerante Palimanan (didirikan seorang putr bangsawan bernama Cholil), Pesantren Sukun Sari Plered (Weru Kidul), Buntet Pesantren di Mertapada Wetan Kecamatan Astajanapura, dan Pesantren Gedongan Desa Ender Astanajapura. Letak geografis semua pesantren tersebut  mendekati pabrik gula  yang pada masa itu  merupakan  pusat perkonomian Belanda  yang dijadikan tumpuan eksploitasi kekuatan infrastruktur rakyat Indonesia.



Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.