Senin, 28 Maret 2016

FITHRAH MANUSIA

 FITHRAH
SUTEJA
banyak argumentasi yang dikemukakan oleh para ahli yang menafsirkan ayat-ayat Allah SWT dan hadits Rasul mengenai makna fitrah. Para ahli mulai memformulasikan makna fitrah, tiap-tiap formulasi yang dihasilkannya melalui kajian argumentasi yang kuat. Pemaknaan tentang konsep fitrah pada dasarnya ingin membuktikan hakikat manusia yang dalam Islam tercermin dalam konsep fitrahnya. Konsep fitrah yang disodorkan Islam tentang hakikat manusia  tentunya akan berbeda dengan konsep fitrah menurut Kristen yang menyatakan bahwa manusia lahir dengan seperangkat dosa warisan, yakni dosa asal yanhg diakibatkan perbuatan Adam. Kemudian di lain pihak kalangan pemikir barat yang menciptakan aliran behaviorisme dalam psikologinya memandang bahwa manusia terlahir tidak mempunyai kecenderungan baik maupun buruk (netral), yang kemudian teori ini terkenal dengan tabula rasa.
Islam mempunyai pandangan tersendiri tentang konsep manusia, hal ini terekan dalam ayat-Nya yang kemudian menimbulkan beberapa penafsiran diantara para pemikir islam. 
Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS, Ar-Rum : 30).
.
Dalam sebuah hadits, fitrah juga diungkapkan dalam berbagai bentuk dan makna. Salah satu hadits yang mengungkapkan fitrah manusia (hakikat manusia) yaitu hadits yang berbunyi :
ما من مولود الا على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه (رواه مسلم)
"Tidak seorangpun dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani, dan majusi' (HR. Muslim) (Muhaimin, 1993 : 26)

         Beberapa pemikir islam mengemukakan teorinya tentang fitrah dari penafsiran ayat dan hadits, diantaranya :
Pertama, fitrah  berarti kesucian (thuhur), menurut Al-Auzai, fitrah adalah kesucian dalam jasmani dan rohani. Pemaknaan didukung oleh hadits nabi :
"Lima macam tentang kategori kesucian, yaitu berkhitan, memotong rambut, mencukur kumis, menghilangkan kuku dan mencabut bulu ketiak" (Mutafakkun Alaih)
Tetapi bila di kaji dari konteks pendidikan, kesucian pada hadits tersebut terlalu menekankan pada kesucian jasmani dan kurang memperhatikan kesucian jiwa, padahal pemaknaan fitrah lebih di prioritaskan pada pemaknaan jiwa. Sebagaimana dikatakan oleh Ismail Razi  al-Faruqi bahwa :
"Manusia di ciptakan dalam keadaan suci, bersih dan dapat menyusun drama kehidupan, tak perduli di lingkungan, masyarakat, keluarga macam apapun dia lahirkan. Islam menyangkal setiap gagasan mengenai dosa asal, dosa tanggung jawab dan dosa penebusan, serta keterlibatan dalam rasial"
dengan pemaknaan kesucian psikis ini berarti setiap manusia lahir dengan membawa potensi suci. Suci bukan berarti kosong atau netral (tidak memiliki kecenderungan) sebagaimana yang dipahami oleh John Locke atau aliran filsafat behaviorisme ataupun dosa warisan nenek moyang seperti dalam agama kristen, tetapi suci berarti bersih jiwa manusia dari segala dosa waris atau dosa asal. Dengan kefitrian ini, manusia lahir selalu beratribut baik, dan kebaikan itu harus tetap terjaga melalui aktualisasi dan aktivitas sehari-hari, sebagaimana yang di kehendaki oleh al-Fathir (pencipta).
Kedua, fitrah berarti potensi ber-islam. Pemaknaan ini dikemukakan oleh Abu Hurairah bahwa fitrah berarti beragama islam. Pendapat ini berpijak pada hadits Nabi SAW :
"Bukankah aku telah menceritakan kepadamu pada sesuatu yang Allah menceritakan kepadaku dalam kitab-Nya bahwa Allah mwnciptakan Adam dan anak cucunya untuk berpotensi menjadi orang-orang islam" (H.R Iyadh Humar)
Dalam pemaknaan ini maka anak kecil yang mati sebelum baligh akan masuk surga karena ia dilahirkan dalam keadan islam walaupun ia terlahir bukan dari keluarga islam. Pemaknaan tersebut menunjukkan tujuan penciptaan fitrah (konstitusi dan watak) manusia adalah agar ia mampu menerima Islam. Islam merupakan "isi" asal watak dan konstitusi manusia yang pada gilirannya akan melahirkan kebudayaan. Kehidupan manusia dianggap fitri apabila ia memahami dan melaksanakan ajaran-Nya, tanpa islam berarti kehidupannya telah berpaling dari fitrah asalnya.ibnu Taimiyah memandang bahwa semua anak terlahir dalam keadaan fitrah yakni suatu keadaan bawaan, dan lingkungan sosial itulah yang menyebabkan adanya perubahan (penyimpangan) dari keadaan awal (fitrah). Sedangkan pemaknaan Al-Islam (fitrah) bagi Abu Said Al-Khudri tidaklah tepat, sebab kika manusia lahir membawa agama Islam, mengapa pada tahap berikutnya terdapat manusia yang kafir ? dan mengapa dalam Al-Qur'an dinyatakan bahwa ada suatu kaum yang khusus diciptakan sebagai penghuni neraka ? untuk menetralisir penafsiran tersebut, fitrah lebih tepat diartikan sebagai potensi ber-islam.
Ketiga, fitrah berarti mengakui ke-Esaaan Allah SWT (tauhid). Manusia yang lahir menurut Islam membawa potensi tauhid atau paling tidak manusia  berkecenderungan untuk meng-esakan Allah serta berusaha treys menerus untuk mencari dan mencapai ketauhidan tersebut.
Al-Qur'an menggambarkan atau memberikan informasi tentang fitrahnya manusia yang memiliki watak dan rasa al-tauhid walaupun masih dalam alam immateri (alam ruh). Hal tersebut telah di ilustrasikan dalam dialog antara Allah dengan  ruh.  

dengan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan Tiadalah mereka orang-orang yang beriman. (Q.S. al-A’rof: 72)

Dari pemaknaan ayat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pengakuan tauhid merupakan sesuatu yang primer dan fitri dalam diri manusia karena sudah ada sejak alam ruh. Sedangkan kalangan mu'tazilah memandang bahwa tauhid itu merupakan hasil usaha melalui penelaahan wahyu dan perenungan. Oleh sebab itu interpretasi mereka terhadap fitrah yakni potensi bawaan manusia yang dapat berkembang menjadi manusia bertauhid atau musyrik. Tauhid syiriknya tergantung pada pilihan diri manusia sendiri.
Keempat, fitrah berarti kondisi selamat (al-salamah) dan kontinuitas (al-istiqomah), hal ini disandarkan pada hadits Nabi SAW :
"Sesungguhnya Aku (Allah) meciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (continue dan selamat). Maka setanlah yang menarik kepada keburukan" (H.R. Iyadh Humar)
Bagi Abdul Barr, jika manusi lahir ke dunia, fitrah tidak mengandung iman dan kufur, juga tidak mengenal Allah ataupun mengingkari-Nya. Fitrah hanyalah berarti keselamatan dalam proses penciptaan, watak dan strukturnya. Iman dan kufurnya baru tumbuh setelah melewati masa akal baligh. Perolehan keimanan di tempuh melalui jalan pendidikan atau dakwah.
Kelima, fitrah berarti perasaan yang tulus atau ikhlash. Pemaknaan tulus ini merupaka konsekuensi fitrah manusia yang berpotensi islam (bertauhid). Pemaknaa tulus disini berdasarkan sabda Nabi SAW :
"Tiga perkara yang menjadikan keselamatan yaitu ikhlash berupa fitrah Allah yang diciptakan dari-Nya, sholat berupa agama dan taat berupa perisai" (H.R. Abu Hamid)
Keenam, fitrah berarti kecenderungan untuk menerima kebenaran. Secara fitri, manusia cenderung dan berusaha mencari serta menerima kebenaran walau hanya memalui hati kecilnya. Fitrah membuat manusia berkeinginan fitri secara kodrati cenrderung pada kebenaran hanif, sedangkan pelengkapnya adalah al-qolb (hati) sebagai pancara keinginan terhadap kebenaran, kebaikan dan kesucian. Maka dari sinilah tampak bahwa tujuan hidup manusia adalah dari, oleh dan untuk kebenaran mutlak. Kebenara mutlak hanyalah Allah SWT, karena Ia Dzat Yang Maha Al-Haq. Dengan demikian, Allah merupakan asal dan tujuan dari segala kenyataan.
Ketujuh, fitrah berarti potensi untuk beribadah dan makrifat kepada Allah. Manusia diperintahkan untuk beribadah agar ia mengenal Allah. Pengenalan ini merupakan indicator pemanknaan fitrah. Hal ini disebabkan bahwa fitrah merupakan watak asli manusia sedangkan watak itu terlihat melalui aktifitas tertentu, yaitu ibadah. Dengan demikian ibadah meupakan aktualisasi diri dan ekspresi suci yang tertinggi, yang dapat menentukan eksistensinya. Firman Allah SWT :
 mengapa aku tidak menyembah (Allah) yang telah menciptakanku dan yang hanya   kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? (Q.S. 36 Yasin : 22)
Kedelapan, fitrah berarti ketetapan atau takdir asal manusia mengenai kebahagiaan dan kesengsaraan. Dalam konteks ini manusia berpotensi untuk menjadi orang yang baik atau buruk, bahagia atau celaka. Bahagia atau celakanya tergantung pilihan dan aktivitas manusia itu sendiri dalam mengaktualisasikan fitrahnya. Firman Allah SWT :
 Artinya:
dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya) Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q.S. 91  al-Syams:  7 – 10)
Firman Allah tersebut menunjukkan bahwa bahagia seseorang tetap ditentukan  oleh dirinya sendiri, bukan dari awal penciptaannya. Perbuatan yang baik akan mendapat balasan y6ang baik (membahagiakan) sedangkan perbuatan yang jahat akan mendapat balasan yang merugikannya.
Kesembilan, fitrah sebagai tabiat atau watak asli manusia (human potensie). Watak atau tabiat menurut Ikhwanul Shofa adalah daya nafs kulliyah yang menggerakkan tubuh atau jasad manusia.
Dari pengertian ini, Ibnu Taymiyah membedakan antara fitrah dengan tabiat. Fitrah menurutnya merupakan potensi bawaan yang berlabel Islam dan berlaku untuk semua manusia. Sedangkan tabiat merupakan sesuatu yang di tentukan atau ditulis oleh Allah melalui ilmu-Nya, atau dengan kata lain fitrah manusia pasti sama yaitu ber-islam, tapi tabiatnya berbeda-beda. Fitrah lebih luas cakupannya dari pada tabiat. Fitrah hanya memiliki satu potensie sedangkan tabiat memiliki beberapa potensi.
 Potensi  alamiah  tabiat manusia dapat diklasifikasikan mejadi dua bagian, yaitu : Pertama, potensi  baik merupakan potensi asli tabiat manusia, sebab potensie ini bersumber dari fitrah. Statement tersebut dapat di buktikan dengan kisah Nabi Adam dan Hawa di surga. Mereka berdua pada prinsipnya memilki tabiat yang baik, yaitu enggan melanggar larangan Allah SWT, namun dengan godaan iblis, tabiat yang baik itu di masuki oleh tabiat buruk sehingga mereka berdua di keluarkan dari surga. Kedua, potensi tabiat yang buruk. Bentuk-bentuk potensi buruk ini merupakan kelemahan dari manusia. Tabiat ini sulit teraktualisasikan dari tabiat baiknya, sebab tabiat baik lebih dekat dengan fitrah. Semakin erat tingkat interaksi tabiat dengan fitrah maka semakin baik pula tingkat aktualisasinya.
Dari beberapa tingkat pemaknaan fitrah tinjauan dari penafsirannya beberapa ayat   yang dilontarkan oleh beberapa pemikir Islam tersebut di atas, memberikan definisi fitrah sebagai berikut :
"Fitrah adalah wujud organisasi dinamis  yang terdapat pada diri manusia dan terdiri atas system-sistem psykopisik yang dapat menimbulkan tingkah laku, system tersebut memiliki citra unik (misalnya al-Islam) yang telah ada sejak awal penciptaannya."

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.