Rabu, 02 Maret 2016

EMPATI UNTUK KEARIFAN LOKAL WONG CERBON

EMPATI UNTUK KEARIFAN LOKAL WONG  CERBON

Sutejo ibnu Pakar

Kelompok kecil (creative minority) warga nashdhiyyin Cirebon telah berani, bertanggungjawab dan konsisten melakukan gebrakan baru ang konstruktif dengan menyeneggalaran Halaqah Kitab Iqadz al-Himam (Inspirator Training) setiap malam Kamis di Kantor NU Kota Cirebon. Kegiatan yang sudah  memasuki tahun  ketiga ini  dimotivasi oleh sebuah keprihatinan kaula muda NU yang merasakan kehausan warga nahdhiyyin dan warga Cerbon umumnya, terhadap proses pemelajaran yang keluarga dari prinsip  belajar sepanjang hayat,  dan pembelajaran yang  memberdayakan dan mencerahkan;  meskipun banyak keprihatinan-keprihhatinan lainnya. Halaqah ini diikuti dan bahkan difasilsitasi (didanai) secara keseluruhan oleh kelompok muda yang menjadi penggagas dan penanggungjawab, peserta dan penikmat kajian dua mingguan ini. Bersyukur gedung kantor NU Kota Cirebon dan peserta kajian sama-sama ikhlas menerima.

Maraknya kajian-kajian tentang tasawuf dewasa ini, dan kian bertambahnya minat masyarakat terhadap tasawuf, memperlihatkan bahwa sesungguhnya masyarakat bangsa Indonesia masih tetap membutuhkan nilai-nilai spiritual sebagai inti kesadaran keagamaan dan keberagamaan. Aspek kepercayaan, keimanan dan keyakinan lazimnya dimaknai sebagai aspek kejiwaan (batiniah) yang sangat fundamental karena berfungsi sebagai motivator keislaman.  Keislaman adalah perilaku keseharian seseorang yakni wujud atau manifestasi kualitas keimanan dan keyakinan. Kedua aspek tersebut manakala sudah menyatu secara harmonis,  maka akan muncul sebagai sebuah keindahan amal atau akhlak yang disebut ihsan.

Sejak awal sejarah kedatangan Islam di wilayah Nusantara diwarnai oleh ruh   tasawuf  yang dipercaya mewakili aspek ihsan dan   telah berhasil mengikat hati masyarakat. Pengaruh dan peranan tasawuf ternyata tidak pudar sejak dahulu sampai dengan sekarang. Metode dakwah dan style  pada pendakwah (da’i) yang santun dan akomodatif  terhaap budaya local masyarakat Nusantara semakin memposisikan tasawuf sebagai juru bicara Islam yang sangat amanah. Pada pendakwah Islam  yang tiba di Nusantara adalah para penganut tasawuf.  Mereka adalah pengikut dan pengamal jam’iyah tarekat  dari para syek atau guru mursyid  kenamaan semisal Abdul Qodir al-Jaylani, Abu al-Hasan al-Syadzali, Ahmad al-Rifa’i, Ahmad al-Badawi Najmuddin al-Kubro, Jalaluddin al-Rumi, Bahauddin al-Naqsyabandi, dan lain-lain. Sanad keilmuan mereka  dalam bidang fikih  adalah heterogen ada penganut madzhab Imam Malik, Abu Hanifah, al-Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal.  Mereka juga berasal dari negaa yang berbeda-beda seperti Samarqand (sekarang dikenal Uzbekistan atau Kazakstan), Mesir dan Afrika, dan Asia, disamping dari Persia dan Hindustan.

Walisanga adalah generasi pertama peletak dasar-dasar keislaman bangsa Nusantara yang sangat bepengaruh. Semangat pluralism atau  Islam multikultur generasi walisanga sangat kental sekali dan, tidak diragukan, mereka sangat percaya diri. Mereka menyebarkan ajaran  Islam tetapi tidak pernah khawatir apalagi takut kalau ajaran Islam tidak  diterima, atau ditolak oleh bangsa Nusantara. Seluruh unit kebudayaan lokal masyarakat mereka pilih dan mereka tetapkan sebagai media dan alat untuk penyebaran Islam rahmatan lil ‘alamin. Ruh multikultur inilah yang berhasil mengislamkan bangsa Nusantara tetapi tidak pernah melakukan dehumanisasi  bangsa Nusantara. Islam menjadi agama baru bangsa Nusantara tetapi jati diri bangsa Nusantara tetap dijaga, dipelihara dan utuh tidak mengalami degradasi sedikit pun.
Generasi kedua adalah generasi pesantren tradisional, atau generasi jam’iyah Muhamadiyah (1912) dan NU (1926) yang mulai memberlakukan filterisasi terhadap aspek-aspek kebudayaan yang ditetapkan Walisanga, dengan dalih menjauhkan sinkretisme  dari Islam. Generasi ini, pada awalnya,  berusaha menjauhkan wayang dan kesenian pada umumnya dari Islam pesantren. Generasi ini pula yang mendirikan tembok pemisah antara komunitas santri dan non-santri, atau pesantren dan non pesantren, santri sarungan dan santri pantaloon, santri kampung dan santri kota, muslim tradisional dan muslim modern.  Meskipun sebatas pada tataran formalitas (lahiriah)  dan tidak essensial (hakikat). Generasi ketiga adalah generasi abad 20 Masehi yang menghendaki arabisasi  terhadap Islam yang dibawaRasulullah SAW, dengan dalih puritanisme (gerakan pemurnian); yang sebenarnya purifikasi  ala Muhmmad bin Abdul Wahhab. Kaula muda NU Cerbon, yang diwadahi oleh Halaqah Iqadz al-Himam malam Kamis, adalah institusi kepedulian dalam upaya mengembalikan (refresh) metode dakwah generasi Walisanga.
Heteroginitas  para pendakwah genrasi awal itu  pada akhirnya menjadi salah satu faktor penguat ke-bhinneka tunggal ika-an bangsa Indonesia dengan berbagai perbedaan dan kekhususan masing-masing. Rasa meghormati dan menghargai perbedaan. Kmauan dan kemampuan menerima berbagai perbedaan dan menikmatinya sebagai rahmat (kasih sayang) Allah itulah karakteristik Islam rahmkatan lil ‘alamin  yang didatangkan ke bumi Nusantara oleh Dewan Walisanga. Kaula muda NU Cerbon yang diwadahi oleh Halaqah Iqadz al-Himam malam Kamis, tegas  Ketua ISNU Kota Cirebon Prof. Dr. KH. Jamali Sahrodi M.Ag.,  telah berhasil   memprakarsai, kalau tidak harus dikatakan mememberikan teladan,  dan melakukan langkah startegis melanjutkan teladan generasi pertama sebagai wujud kepedulian dan empati membangun warga Cerbon yang kreatif, inovatif, dan akomodatif dalam semangat al-Muhafdaoh  ‘ala al-Qodim al-Sholoh wa al-Akhdzu bi al-Jadid l-Ashlah. Halaqah yang sudah berjalan hamper  tiga tahun ini, akan tetap berlangsung sepanjang masa. Kepengurusaan PC NU boleh saja berganti tetapi kegiatan kajian kitab di kantor NU ini harus tetap berjalan, istiqomah dan mudawamah. Karena halaqah ini adalah empati kaum muda NU  dan merupakan asset NU untuk masyarakat dan bangsa, Prof. Jamali optimis. (ibnupakar@gmail.com)


Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.