Rabu, 30 Maret 2016

DZIKRULLAH vs. MA’RIFATULLAH



DZIKRULLAH vs. MA’RIFATULLAH
SUTEJA
  Dzikrullah itu bisa dilakukan secara lisan, dengan hati, dengan pikiran, ataupun dzikr dengan seluruh anggota tubuh. Adapun tujuan atau target yang hendak dicapai oleh seseorang yang melakukan dzikr (al-dzâ`kir) lazimnya adalah karena mengharapkan pahal dari Allah. Tetapi ada juga yang berkeinginan keras agar dapat hudhûr kepada Allah dan ada pula yang berkemauan keras agar  diberi kemampuan  membuka hijâb atau penghalang seseorang dengan Allah.   
Kekuatan dzikr yang mengulang-ulang menyebut asma Allah secara langsung melahirkan kekuatan ilahiah yang sangat kuat pada diri seseorang. Akibatnya, pada tahapan istighrâq (fanâ` dan baqâ`` ) rûh robbânî seseorang akan naik ke atas menemui al-Khâliq di ‘alam al-amr, alam yang tidak memiliki ruang dan waktu.  Istighrâq  adalah salah satu keistimewaan seorang hamba yang telah mencapai derajat wali Allah  seperti yang dimiliki oleh Muhammad Baha` al-Din al-Naqsyabandi.[1]  Maqâm istigrâq (fanâ` dan baqâ`) merupakan tingkatan tertinggi bagi hamba yang menuju jalan Allah. Maqâm ini dicapai setelah seorang hamba melampaui tiga tahapan sebelumnya yaitu, tawbah nasuhâ, istiqâmah, serta mujâhadah dan riyâdhah dengan cara melanggengkan diam, melanggengkan puasa, melanggengkan melek (tidak tidur) dan ‘uzlah. ‘Uzlah,   akan mendatangkan setidaknya empat karunia Allah,  yaitu terbukanya tabir gaib yang menghalangi mata hati dari wajah Allah, turunnya rahmat Allah, semakin kuatnya cinta kepada Allah, dan ucapan yang selalu benar.
Abu Yazid al-Busthami (w. 261 H./874 M.) menegaskan bahwa, wali yang sempurna ialah orang yang telah mencapai ma’rifah yang sempurna tentang Allah, ia telah terbakar oleh api Tuhannya.[2] Ma’rifah yang sempurna akan membuat wali sirna ke dalam sifat-sifat ketuhanan. Wali yang sempurna akan melihat keajaiban qudrat Allah, akan dapat menyaksikan rahasai-rahasia alam, dapat menyaksikan sesuatu yang terjadi pada masa lalu, dan juga masa depan.[3]
Kasyf  atau inkisyâf  merupakan maqâm seorang wali yang sudah ma’rifat Allâh dengan mata hatinya. Maqâm kasyf ini diberikan oleh Allah   kepada hamba-Nya yang telah memiliki cinta (mahabbat Allâh) yang tulus dan bersih dari pengaruh hawa nafsu. Adapun cirinya adalah menjalankan syariat dengan baik, hatinya terbebas dari kehidupan duniaiwi, akhlaknya baik dan terpuji,  secara lahir dan batin  mampu menjauhkan diri dari  kehidupan duniawi, tidak mengharapkan apapun dalam beribadah kecuali ridha-Nya, serta melanggengkan mujâhadah dan riyâdhah.[4]
Kasyf, bagi al-Ghazali, adalah metode yang tertinggi yang dikaruniakan Allah  kepada orang ‘ârif, sufi dengan cara penyaksian dengan cahaya yakin. Pengetahuan orang ‘ârif berada di atas pengetahuan ahli kalam dan pengetahuan ahli kalam berada satu tingkat di atas pengetahuan orang awam.[5] Seseorang yang berhasil mencapai kasyf  telah terjun dalam gelombang berbagai hakikat realitas, mengarungi pantai keutamaan dan amal ibadah, bersatu dengan kesucian tauhid, serta mewujudkan keikhlasan yang benar-benar tulus. Tidak ada lagi yang tersisa dalam dirinya. Bahkan kemanusiaannya pun telah menjadi padam. Kecenderungannya pada tabiat-tabiat kemanusiaan pun telah sirna.[6]
Mahabbah dan ma’rifah merupakan kembar dua. Keduanya melukiskan betapa dekatnya hubungan seorang sufi dengan Tuhan. Mahabbah melukiskan keakraban dalam bentuk cinta, sedangkan ma’rifah melukiskan keakraban dalam bentuk musyâhadah (melihat Tuhan) dengan hati sanubari.[7]  Tahapan puncak yang dicapai oleh sufi dalam perjalanan spiritualnya itu ialah ketika ia mencapai ma’rifah dan mahabbah. Ma’rifah dimulai dengan mengenal dan menyadari jatidiri. Dengan mengenal dan menyadari jatidiri, niscaya sufi akan kenal dan dasar terhadap Tuhannya. Hal ini dijelaskan oleh Nabi di dalam haditsnya: Barangsiapa mengenal dirinya, niscaya ia akan mengenal Tuhannya.[8]
Kesempurnaan ma’rifah ialah dengan mengetahui asmâ’ Allah, tajalli Allah, taklif Allah  terhadap hamba-Nya, kesempurnaan dan kekurangan wujud alam semesta, mengetahui diri-sendiri, alam akhirat, sebab dan obat penyakit batin.[9] Menurut al-Ghazali,  tingkat ma’rifah tertinggi yang harus dicapai seorang sufi adalah memandang Allah  secara langsung dengan mata hati yang telah bebas dan bersih dari segala noda dan godaan duniawi. Akan tetapi kesempurnan seorang sufi belum tercapai dengan pengasingan diri dari segala kesibukan hidup kemasyarakatan  (‘uzlah), dan berdzikir mengingat Allah. Bahkan ketika terlibat dalam arus kehidupan dunia nyata ini memancarkan asmâ’ Allah  yang Mulia melalui amal  perbuatan nyata sehingga keesaan Allah  Yang Mutlak dapat dipandang sebagai keanekaragaman yang memenuhi alam kehidupan yang dipandang dalam keesaan Mutlak.[10]
Rabi’ah al-‘Adawiah adalah pelopor  yang memperkenalkan cita ajaran tasawuf yakni ajaran tentang terbukanya tabir penyekat alam gaib sehingga sang sufi bisa mengalami menyaksikan (musyâhadah) dan berhubungan langsung dengan dunia gaib dan Dzat Allah. Ia menjadikan musyâhadah sebagai tujuan utama tasawuf,   yakni menghayati alam gaib dan bertatap langsung dengan wajah Allah  melalui pengalaman kejiwaan sewaktu dalam keadaan fanâ` fi Allâh.[11]  Dia  menggariskan tujuan utama para sufi, yakni menghayati ma’rifah langsung bertatap muka dengan Allah, atau bahkan bila mungkin bersatu dengan-Nya.[12]  Rabi’ah berusaha memalingkan  secara drastis tujuan hidup umat Islam. Ibadah tidak lagi didasarkan pada motif atau  perasaan takut akan siksa neraka dan mengharapkan pahala atau sorga.  Tetapi, untuk ma’rifah dan melihat keindahan wajah Allah  secara langsung bertatap muka alias musyâhadah.[13]
Penguasaan ilmu gaib (kasyf) dan ma’rifah pada Dzat Allah  merupakan kebanggan dan kebesaran sufi dari segala-galanya. Maka, dunia dan apa saja selain Allah  adalah hijâb atau penghalang yang menjadikan buram serta mengotori hati manusia.[14] Untuk mencapai penghayatan ma’rifah dimaksud sufi disyaratkan menjalankan laku fakir (faqr) dalam arti mengosongkan hati dari segala sesuatu selain Allah .[15]
Ma’rifah berarti mengetahui Tuhan dari dekat sehingga hati sanubari melihat Tuhan. Ma’rifah bukan hasil pemikiran manusia tetapi bergantung kepada kehendak dan rahmat Tuhan. Ma’rifah adalah pemberian Tuhan kepada sufi yang sanggup menerimanya. Alat untuk memperoleh ma’rifah oleh kaum sufi disebut sirr.[16] Ma’rifah melukiskan keakraban dalam bentuk musyahadah (melihat Tuhan) dengan hati sanubari.[17]
Ma’rifah akan menimbulkan mahabbah. Mahabbah merupakan puncak dari maqâmât yang ditempuh oleh sufi. Di sini bertemu antara kehendak Tuhan dan kehendak manusia. Kehendak Tuhan ialah kerinduan-Nya untuk ber-tajallî pada alam, sedangkan kehendak insani ialah kembali kepada esensinya yang sebenarnya, yakni Wujud Mutlak. Cinta adalah penyebab kembalinya semua manifestasi kepada esensinya yang semula dan yang hakiki, karena atas dorongan cinta mereka ingin kembali ke asalnya. [18]
Mahabbah, menurut  al-Jili, dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu: mahabbah al-’awwam, mahabbah al-shifatiyah (mahabbah al-syuhada’) dan mahabbah dzatiyah (mahabbah al-muqarrabin).[19] Orang awam atau orang kebanyakan, menurut al-Jili, mencintai Allah karena kebaikan-Nya dan karena mengharapkan Allah berkenan menambahkan karunia-Nya. Sementara para syuhadâ mencintai Allah semata-mata karena mereka dapat merasakan kemuliaan dan keindahan Allah. Mereka tidak berkeinginan dapat membuka hijâb antara dirinya dan Allah. Sedangkan kelompok muqorrobin mencintai Allah karena benar-benar merindukan Dzat Allah.
Penghayatan ma’rifah  memuncak sampai yang demikian dekatnya dengan Allah  sehingga ada segolongan mengatakan hulûl, segolongan lagi mengatakan ittihâd, dan ada pula yang mengatakan wushûl (sampai ke tingkat Tuhan).  Kesemuanya itu (hulûl, ittihâd, ataupun wushûl) dalam pandangan al-Ghazali merupakan  kesalahan memaknai ma’rifah.[20] Ia bahkan membatasi ma’rifah hanya sampai pada fanâ` (ecstasy) yang tengah-tengah, yang masih menyadari adanya perbedaan fundamental antara manusia dan Tuhan yang transenden, mengatasi alam semesta. Yaitu hanya sampai penghayatan dekat dengan Tuhan (qurb), sehingga kesadaran diri sebagai yang sedang ma’rifah tetap berbeda dengan Tuhan yang dima’rifatinya.
Mahabbah menghasilkan rindu dendam (syawq), yakni perasaan ingin bertemu dengan yang dicintai. Perasaan demikian baru mereda dan berubah menjadi kegembiraan ketika yang dicintai telah dapat ditemukan.[21] Setelah itu kemudian maqâm sama’,  yakni mendengarkan segala sesuatu yang dapat mengantarkan orang yang sedang rindu kepada Yang Dirindunya, yakni Allah, sehingga pada suatu waktu ia tenggelam (fanâ`) dalam Yang Dirindukannya itu.[22] Mukasyafah ‘Arifin Billah menyebutnya dengan  istilah rina wengi hubbi Allah, rina wengi anis bi Allah, rina wengi ‘asyiq bi Allah  (siang  malam senantiasa cinta kepada Allah, siang malam senantiasa dekat mesra dengan Allah, siang malam selalu rindu dendam kepada Allah).[23]  Maksudnya, seorang hamba yang benar-benar mencintai Allah  sepanjang hari dan sepanjang malam ia selalu rindu ingin bertemu Dia.
Tujuan utama dan  idealisme tasawuf telah diungkapkan Rabi’ah. Bahkan ruh utama pendorong kehidupan batin para sufi juga telah diulas secara indah dan jitu olehnya, yaitu  cinta rindu yang penuh emosional terhadap Allah. Cinta rindu pendorong kegandrungan untuk bertatap muka dan ber-‘asyiq ma’syuq atau bahkan kalau mungkin bersatu dengan Allah, Dzat Yang Dicintai. Cinta rindu (syawq) yang menimbulkan kegelisahan hati antara takut dan harap yang memuncak dalam penghayatan mabuk (sukr) yang disebut uns  adalah ruh kehidupan batin para sufi.
Al-Palimbani berpendapat bahwa ma’rifat Allâh  secara langsung di dunia adalah mungkin mesti memandang dengan sebenar-benarnya hanya dapat terjadi di akhirat. Menurutnya, ma’rifat Allâh adalah surga di dunia. Menjalani ma’rifat Allâh  di dunia membuat seseorang lupa akan surga di akhirat. [24]  Seorang sâlik  yang telah mampu mencapai ma’rifah, berarti telah mendapatkan anugerah dari Allah. Ia mengalami hidup di alam yang serba tenang dan tentram. Oleh karenanya, ia tidak menginginkan lagi kehidupan duniawi yang serba hiruk pikuk, karena hawa nafsunya yang biasanya sangat mempengaruhi jalan hidupnya telah ia kuasai sepenuhnya. Pada saat itulah, ia kembali ke asal hidupnya semula di hadirat ilahi untuk sementara.
Seorang sâlik  yang telah mencapai tingkatan ‘ârif  bi Allâh  dituntut kemantapan mentalnya, tidak boleh mengaku atau mengada-ada suatu tingkatan yang belum ia capai. Ketidakjujuran batin ini akan menyebabkan murka Allah  dan ia akan kembali ke derajat orang kebanyakan. Tetapi, bila sudah mengalami ma’rifah benar-benar, ia boleh memberitahukannya kepada orang lain yang dapat memahaminya, namun merahasiakan adalah lebih baik daripada membukanya.
Seorang sâlik yang telah mencapai tingkat ma’rifah, dalam pandangan Mukasyafah ‘Arifin Billah dimungkinkan akan mengeluarkan ungkapan-ungkapan yang dianggap aneh dan menyimpang dari syariat oleh orang kebanyakan atau orang-orang yang tidak memahami ajaran para sufi. Ungkapan dimaksud dalam dunia tasawuf lazim disebut syath atau syathahât. Abu Yazid al-Busthami (yang mengaku Tuhan berbicara dengan melalui lisannya) ketika ia mengalami fanâ`. Ungkapan tersebut masih sebatas pemberitahuan tingkat dan derajatnya sebagai hamba yang sudah ma’rifah, yang mengkalim dirinya sudah menembus ‘âlam malakût, ‘âlam jabarût, ‘âlam rûh, ‘âlam akhîrat dan ‘âlam amr.   Ungkapannya sama sekali tidak mencerminkan keberpihakannya terhadap al-Busthami ataupun al-Hallaj yang mengaku bersatu dengan  Tuhan. Namun demikian, al-Ghazali  menyarankan hendaknya seorang sufi menjaga akhlak kesufiannya dengan tetap berpegang teguh kepada syariat dan tidak mengeluarkan kata-kata  yang mengandung maksud-maksud  lazimnya ungkapan syathahât.[25]
Seorang salik yang telah mencapai tingkatan ma’rifah harus bekerja keras mengolah batin meskipun tanpa bimbingan guru, maka ia harus faham benar berbagai tanda-tanda  batin lalu mempertebal rasa yakin kepada Allah, seraya mempertinggi kewaspadaan dan menyempurnakan dzikr Allâh.
Sebagaimana dikemukakan di atas, tasawuf mempunyai dasar pikiran khusus yaitu mencari hubungan langsung  dengan dunia gaib, dan memuncak pada cara ma’rifah pada Dzat Allah. Para sufi yang mendapatkan anugerah ilmu kasyf  berarti mengalami dan menguasai ilmu gaib. Maka, para sufi berhasil mengalami penghayatan kasyf dan  dalam kalangan masyarakat sufi dipuja sebagai wali Allah.[26]  Para ahli ma’rifah, menurut al-Ghazali, bangkit dari dataran rendah suatu metafor ke puncak Kenyataan. Begitu naik, mereka melihat langsung secara tatap muka tidak ada sesuatu pun kecuali hanyalah Allah. [27]  Mereka, ahli ma’rifah, telah beridiri tegak di dalam maqâm penglihatan langsung kepada Tuhan.[28]  Kepada mereka yang telah dekat sedekat-dekatnya dengan Allah,  senantiasa faqr dan berharap kepada-Nya, sebagaimana ditegaskan al-Suhrawardi,  Allah  memberikan derajat ma’rifah dan mukâsyafah. Hal ini semata-mata karena hati mereka benar-benar bersih dan dipenuhi dengan cahaya yakin (nûr al-yaqîn).[29]
Ulama sufi merumuskan tentang kondisi seseorang yang melihat cahaya atau nur ilahi kedalam tiga kondisi sebagai berikut:[30]
1.    Kelompok manusia yang dapat melihat Nur Allah dari kejauhan. Mereka adalah kategori kelompok Ahl  al-Islâm (maqâm al-Islâm).
2.    Kelompok manusia yang dapat melihat Nur Allah dari dekat. Mereka adalah kategori kelompok Ahl Murâqobah (maqâm al-Imân).
3.    Kelompok manusia yang dapat melihat Nur Allah dan menyatu dengannya. Ahl Ma’rifat (maqâm al-Ihsân).
Wali ma’rifah yang sejati adalah wali yang telah mencapai tingkatan ma’rifat Allâh dengan mata hatinya dan dialah yang disebut manusia sempurna. Dalam hal ini Mukasyafah ‘Arifin Billah tidak sependapat dengan pendirian al-Busthami, ataupun konsep al-Hulûl dari al-Hallaj. Bagi al-Suhrawardi, meyakini adanya al-hulûl sebagaimana konsep diajarkan al- Hallaj  adalah merupakan perbuatan orang zindiq.[31] Al-Junayd menegaskan bahwasanya ajaran al-hulûl muncul dari pemahaman para pemeluk Nasrani dalam mentafsirkan konsep     nâsût dan lâhût. Kesalahan itu juga berlaku bagi ajaran yang dibawa oleh  Abu Yazid al-Busthami yang diketahui sebagai hasil dari perjalanan rûhaninya mengalami fanâ`  dan ketika merasa telah dapat menyaksikan Dzat Allah  (ghalabat al-syuhûd). Kedua ajaran tersebut sangat bertentangan dengan ajaran rasul Allah, Muhammad SAW.[32] 
Ma’rifah dalam dunia tasawuf memang merupakan  kenikmatan  dan kelezatan terbesar yang khusus diperuntukkan bagi hati. Hati yang sudah ma’rifah kepada Allah   akan bahagia dan tidak sabar ingin segera berjumpa dengan Dia.  Ma’rifah   adalah  nikmat yang tidak pernah berhenti, karena hati tidak pernah rusak meskipun jasad manusia telah mati.[33]


[1] al-Naqsyabandi, Jami’ al-Ushul,  5.
[2] Badawi, ‘Abd. al-Rahman, Syathahât al-Shûfîah, Beirut, Dar al-Qalam, 1976, 105.
[3] Badawi, Syathahât al-Shûfîah,  211.
[4] Wawancara  dengan Wagimin, pada tanggal 6 Januari 2003.
[5] al-Ghazali, Abu Hamid,  al-Munqidz,   7.
[6] al-Ghazali, Abu Hamid,  Ihyâ`, J. IV,  256.
[7] Nasution, Harun,  Op.Cit.,  68.
[8] ibn ‘Arabi,  Op.Cit.,  J. II,  101.
[9] ibn ‘Arabi,   299-319.
[10] al-Ghazali,  Abu Hamid, Ihyâ`,  juz III, 186.
[11] Simuh,  Op.Cit., 30.
[12] Simuh, 32.
[13] Simuh, 31.
[14] Simuh, 32.
[15] Simuh, 32.
[16] Nasution, Harun, Op.Cit.,  68-69.
[17] Nasution,  68.
[18] ibnu ‘Arabi,  Fushuh al-Hikam, 327-329.
[19] al-Jiylîy, al-Insân al-Kâmil fî Ma’rifat al-Awâkhir wa al-Awâil, 181.
[20] al-Ghazali, Abu Hamid,  al-Munqidz, 32.
[21] ibnu ‘Arabi, Op.Cit.,  364.
[22] ibnu ‘Arabi,   366-367.
[23] Muhammad Nuruddaroin, Bayt Dua Belas,  19.
[24]Abd.  al-Shamad al-Palimbani, Op.Cit., ,  J. I, 21.
[25] al-Ghazali, Abu Hamid, al-Âdâb fî  al-Dîn,  Beirut,  Dar al-Fikr, 1996,  5.
[26] Simuh,  Op.Cit.,  h. 226.
[27] al-Ghazali, Abu Hamid,  Misykât al-Anwâr,   Beirut,  Dar al-Fikr, 1996,  113-114; al-Ghazali,Abu Hamid,  al-Jawâhir, Cairo,  1345 H., 103-105.
[28] Martin Lings, Syaikh  Ahmad al-‘Alawi Wali Sufi Abad 20,  terj.,  Bandung,  Mizan, 1993, 127.
[29] al-Suhrawardi,  ‘Âwârif al-Ma’ârif,   Indonesia,  Makatabah Usaha Keluarga Semarang, t.th., 301.
[30] al-Husayniy, Ahamd bin Muhammad, Iqâdz a-Himam fi  Syarh al-Hikam, 199.
[31]al-Husayniy,  Iqâdz a-Himam fi  Syarh al-Hikam,  384.
[32] Ibid.,  h. 8-9.
[33] al-Ghazali, Abu Hamid,  Kîmîâ’ al-Sa’âdah, Beirut,  Dar al-Fikr, 1996, 9-10.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.