Rabu, 02 Maret 2016

CATATAN TENTANG NEGRIKU

CATATAN TENTANG NEGRIKU








KUMPULAN PUISI
FAIRUZ ‘AINUN NA’IM
Sekretaris umum PCI NU Maroko








KERJA BERANG
FAIUZABAD CIREBON FOUNDATION
JEP KAUKUS  MUDA NU









CIREBON 2014 M./1435 H.






Ah..... Ini Enak...
Matamu selalu berkedip melirik proyek
Kaupun menebar kode keamanan
Agar semua mendapat kresek
Milyaran sampai trilyunan
Lalu rakyat menghujat, kenapa kau lakukan ini?
Kau mengelak sekelebat kilat, “bukan aku...”
Dalam hati kau berujar “ah... ini enak...”

Ada lagi kau, sembunyikan matamu ke bawah
Menatap layar membentang tubuh-tubuh telanjang
Di tengah kerumunan rekan-rekanmu di meja sidang
Yang sedang khusyuk mendengar sampai-sampai pulas
Lalu rakyat kembali menghujat, kenapa kau lakukan ini?
Kau ini wakil kami, kau tak punya etika dan pekerti!
Kali ini kau tak mengelak tertangkap basah
Kaupun menyerah, sambil bergumam “ ah...ini enak...”

Dan di ruang yang lain, kau sibuk menghitung angka
Demi kenyamanan tidurmu dan obrolanmu
Kau ingin rumah rakyat nyaman untukmu, mewah untukmu,
Kau gelembungkan jarimu untuk gedong mewahmu
Kau bilang yang lama sudah tak nyaman
Sedang kau sendiri tak pernah datang untuk sidang’
Sesekali kau datang, kau hanya numpang mendengkur

Rakyat sekali lagi menghujat, kenapa kau tega lakukan ini?
Kau ini wakil kami, kenapa kau terus memperkaya diri?
Kenapa kau tega menyayat luka diatas duka kami?
Kaupun berujar dengan lugas
“ini demi peningkatan dan kenyamanan kinerja”
Maksudmu? Biar kau tertidur lebih pulas?
Bukan, biar aku bisa memaksimalkan tugasku
Oh, biar kau semakin membengkakkan uang kami?
Kaupun tersudut terusut
Sambil terus bergumam, “itu kan perasaan rakyat saja”...
“bagiku,ini enak...”




Fairuz ‘ainun na’im
Kenitra,20 november 2012


Apa Kabarmu Negeriku

Apa kabarmu para pemangku kursi empuk senayan?
Nampaknya sebagian dari kalian enggan beranjak darinya
Lantas kesana kemari mencari dukungan
Agar kembali lagi memperpanjang jabatan mengembalikan modal

Apa kabarnya para menteri kader partai?
Sudah senangkah jatah partaimu tercapai?
Tidak apa bukan ahli, yang penting partai senang
Atau barangkali untuk menutupi bangkai yang belum hilang?

Bagaimana keadaanmu papua tanah mutiara?
Apakah pesohor itu giat berkampanye di tanah surgamu?
Lalu mencampakkannya usai pesta pora politik itu sirna
Menenggelamkan lagi papua diantara janji-janji palsu

Lalu ibu pertiwi, masih tetapkah kau bersusah hati?
Seperti yang dikatakan lirik lagu tentangmu
Yang seringkali kita nyanyikan
Hanya dinyanyikan

Entahlah, dimana ujung dari kegelisahanmu
Entah dimana akhir kekejaman jiwa ini
Yang katanya mencintaimu
yang katanya denganan segala daya akan melindungi
Bergandeng-gandeng pulau bernama NKRI

Rabat, dini hari 19 Agustus 2014
















Benteng, Senja dan Pencarian

Ini takdir Tuhan
Tembok-tembok besar itu bukan sekadar hiasan
Mereka adalah peradaban
Mereka adalah pertahanan
Meski kejayaan jauh di belakang

Dan merah padam adalah pengingat
Kapan kita memulai
Kapan kita mengakhiri
Jejak, goresan dan perasaan

Seperti batu yang ditetesi air
Hati dan pikiran semakin dalam
Dan seringkali terlihat heran
Selalu terjadi terus mengalir

Maka semestinya
Makna sajakku tak pernah berakhir
Aku,kamu dan dia
Tak pernah berhenti memandang

Kenitra, 2 Maret 2014





















                                          Beranjak

Aku
tega
Kamu tega
Aku membiarkan diriku seperti ini
Kamu membiarkan dirimu seperti itu
Terus menerus
Matamu tak bisu
Begitu pula aku
Bahasa tubuh
Tampak lusuh
Sudahlah, lepaskanlah
Kita harus berbenah


Rabat, 13 avril 2014





























Berjalan Sendiri


Ramai, ramai di sekelilingmu
Gaduh, juga riuh
Bicara ini itu
Tak menentu

Ada yang taktahu
Ada yang tak pernah tahu
Bahkan tak mau tahu
Tentang nasibmu
Tentang perasaanmu

Ketika kau berbicara
Hanya angin yang seksama
Tanpa kau tahu salah apa

Kau bersama mereka
Tapi mereka tak bersamamu
Kau sendiri,
Berjalan sendiri.
Hanya debu jalanan
Dan daun yang berserakan
Yang setia menemani

Kau tahu tak ada yang merindukanmu
Rembulan pun pada mmelihatmu
Mentari enggan senyum untukmu
Sungguh pedih menindih hatimu

Tapi kau tak pernah benci
Pada mereka yang tak peduli
Pada jalanan yang tak mau mengerti
Tentang jejakmu yang menapaki

Kau selalui ngin meresapi
Setiap tetes embun kehidupan
Kau selalu ingin menikmati
Setiap kesejukan dalam hembusan
Kau selalurela
Terhadap sakit yang selalu mendera

Kau memang sendiri
Selalu berjalan sendiri
Setiap sudut telah mengerti


Kau teringat
Bahwa hidup haruslah bermanfaat
Sapalah setiap yang lewat
Kuburlah setiap kesumat

Tak perlu berlari
Dari segelas kehidupan yang pahit ini
Tak perlu marah
Bila kau bisa ramah
Tak perlu risau
Mengapa kau sendiri
Takada yang menemani
Karena Tuhan mengerti

Kenitra, 21 April 2013



























Cinta Merdeka

Teriak gegam gempita mengumandangkannya
Memelihara yang kita dapat
Menjaga dan melindungi
Apa yang seharusnya kita cintai

Kita saling mencintai,
Kita saling menyayangi,
Kita saling menghormati
Kita saling menghargai

Kita berbeda, kita bersatu
Kita berragam, kita mengenal
Kita berjuang, bersama-sama
Kita bersatu, kita merdeka

Menjaga ibu pertiwi
Merawat jati diri
Kita merebut kemerdekaan
Kita mencintai kemerdekaan

Rabat, dini hari 19 Agustus 2014























Dalam keheningan malam

Dalam keheningan malam,
ramai-ramai manusia menghentikan pergolakan lahir dan batinnya.
Dibawah siraman terik mentari,
manusia kadang saling menghujani nalar-nalarnya hingga berkecamuk.
Di kehangatan senja,
manusia mulai menepikan diri
dari segala kompleksitas yang ada pada dirinya.
Dalam dekapanNya,
manusia terlindung dari berbagai bentuk malapetaka
yang bisa saja ditimbulkan
dari seluruh gerak-gerik jiwa dan anggota tubuhnya.
Menyapa Sang Pemilik jagat raya
adalah fithrah manusia
yang mana dengan itu manusia benar-benar bisa memperlakukan dirinya,
dunia dan isinya.
Memohon pertolongan dan pengampunan
adalah keharusan diri
sebagai makhluk yang tak pernah steril dari dosa.

Rabat, dini hari 14 Agustus 2014.
























Dimana Indonesia?

Orang bilang negeriku kaya
Maka bangga menggelora di dada
Dan tak jarang aku jumawa
Dan ternyata mata
Hanya melihat dari satu jendela
Di Timur sana
Memang kaya
Membentang luas samudera
Menghijau hutan belantara
Sedang orang-orang Jakarta
Menjamah karena kuasa
Dan sejahtera
Hanyalah semu bagi penghuninya
Pembangunan
Adalah paradoks
Kita bisa saksikan
Jembatan baru yang menggandeng pulau itu
Terasa memudahkan
Sedang feri seperti tanpa riak
Nasionalisme
Barangkali hanya
Sebongkah kata
Yang maknanya entah kemana
Yang gunanya entah untuk apa
Timur sana adalah kumpulan permata
Kita beramai-ramai medatanginya
Tanpa menjamah jiwa-jiwa
Yang dipaksa mengakui kekalahannya
Lalu aku?
Sampai manakah mataku?
Sedalam apakah cintaku?
Setebal apakah tekadku?
Atau seacuh apa diriku?
Ibu pertiwi
Maafkan aku
Aku tahu bumimu tak cuma disini
Yang penuh sesak oleh keinginan tanpa rasa
Sedang di Timur itu
Tak ada hasrat sama sekali
Mereka hanya ingin saling mengerti
Kenitra, 9 Maret 2014


Gelisah
Kopi panas yang tersaji
Asapnya melambai
Meminta mulutmu
Menghampirinya dengan kelembutan

Tetapi kau tak bergeming
Matamu kosong
Mulutmu kelu
Wajahmu pucat pasi

Gadis berbulu mata lentik
Membuat jiwamu bergetar
Membuat langkahmu gamang
Menepikan seluruh gemerlap dunia

Yang kini bersemayam di hati
Adalah senyumnya yang tiada henti
Kerlingan matanya yang menawan
Rintihan suaranya yang indah

Kau tak dapat lenyapkan
Bayangan wajahnya
Hatimu mengisyaratkan cinta
Namun tak sanggup menumpahkan

Entah rasa yang harus kau bela
Ataukah suara mereka
Yang menghentikan langkahmu?
Mengubur rasa di relung hatimu



Kenitra,8 Desember 2013











Gelora Dada
Selalu saja mengendap-endap
Kau tak pernah menampakkan diri
Atau kau tak mampu muncul di hadapan siapapun?
Hanya bergayut tak menentu di setiap waktu

Cobalah tengadah pada langit hitam ramai
Bintang-bintang tak segan menebar senyumnya
Mereka mengajakmu membuka diri
Mengsiyaratkan agar kau keluar dari sudut hati
Menyambangi pemilik senyum penuh arti

Malam-malam kau lalui saja tanpa arti
Hanya angan saja yang terlintas di bayang
Mimpi-mimpi yang selalu membawamu terbang
Menghempasmu dari kesadaran diri

Sering kau bertanya
Untuk apa kau simpan semua ini?
Apa kau menunggu dirinya akan menyapamu dalam mimpi?
Sambil berharap mengukir pipinya untukmu?
Menunggu kerlingan matanya yang tajam menghunus dadamu?
Atau kau akan berfikir
Burung-burung itu akan menerbangkan suara hatimu?

Bangunlah.
Segeralah kau pergi menghampiri
Tumpahkanlah saratnya isi hati
Atau berhenti



Kenitra, 9 mei 2014












Getir

Entahlah
Angin dingin malam ini sedang menyelimuti kota ini
Menghampiri tubuh-tubuh lelah
Hinggap di jiwa-jiwa gelisah
Setelah asa indah harus musnah
Karena harapan terlalu berlimpah
Sedang jiwa dan raga belum terasah

Teriakan-teriakan masih tengiang
Lantunan semangat yang menggenang
Belum cukup untuk membawa kita terbang
Lebih tinggi dari setengah tiang
Dan lagi, kita terhempas di batu karang
Oleh kerasnya gelombang
Ah, memang malang
Ini pelajaran dari Tuhan
Agar kita bisa belajar, untuk menang

Rabat, 26 agustus 2013
























Hasrat

Aku mendorong, aku mengerahkan
Gumpalan-gumpalan untuk berjalan
Menelusuri garis-garis yang sudah terbentang
Yang akan kita pijak dan kita pegang

Menyusun barisan kata untuk bergerak
Menghimpun pikiran –pikiran untuk  membidik
Mengurai rasa, memberi kuasa
Menajamkan mata, menegakkan kepala

Kemudian aku menuju
Berjumpa menemui titikku



Kenitra, 26 juli 2014
            28 ramadan 1435





























Jangan Panggil Aku

Tak perlu berbisik jika akhirnya memekik
Tak usah bernada bila ternyata mendera
Aku bermimpi tentang keindahan
Tetapi yang hadir adalah kegelisahan

Aku tak perlu menoleh ke belakang, kepadamu
Aku tak ingin kau mengeja dan merangkai namaku
Kita pernah bertemu pada satu waktu
Kita sempat berbincang tentang firmanMu

Barangkali engkau bintang yang terlalu terang
Sedang aku tenggelam dalam gelap
Aku berteriak-teriak dengan kencang
Tetapi sapaanmu tak pernah hinggap

Rabat, dini hari 19 Agustus 2014



























Kita Kepada Domba

Sejauh apapun medannya
Akan ditempuh
Seterik apapun mentari
Akan dihadapi
Mencari rumput untuk kehidupan
Demikianlah ia namakan perjalanan

Lalu, ia rela dijadikan santapan
Oleh kita manusia
Yang sering enggan menggembala
Ia adalah symbol pengorbanan
Ia adalah contoh kehidupan

Dan kita mesti berkaca
Seberapa besar kita berbuat?
Seberapa ingin kita belajar?
Setangguh apa kita berjalan?

Kita mesti belajar kepada domba
Kita mesti bertanya kepada diri
Mampukah kita menjalani titahNya?

Tetouan, 1 Juni 2014





















Larut

Tak terdengar lagi teriakan
Kecuali berisik jari yang aku ciptakan
Tak ada lagi yang aku lihat
Selain apa yang aku tambat

Semakin lama semakin hening
Semakin dalam aku memekik
Belum cukup hanya terbaring
Maka aku rangkai sebuah larik

Pekat, hening dan gemerlap menjadi satu
Aku larut dan terpekur dalam malamku
Memaknai setiap laku yang berlalu
Menatap setiap waktu yang berlaku

Rabat, dinihari 23 agustus 2014


























Mau Kita Apakan Kemenangan ini?

Ramadan pergi berlalu
Sampai jumpa kita ucapkan
Semoga nanti kembali bertemu
Dengan kematangan yang (semoga) kita dapatkan

Selamat idul fitri
Selamat datang hari kemenangan
Waktunya saling mengikhlaskan
Menumbuhkan kembali jiwa yang fitri

Satu hari penuh arti
Maknanya berulang-ulang diperdengarkan
Kesuciannya berkali-kali kita ucapkan
Semoga kemenangan ini benar-benar dimiliki

Sedang, apa yang diharapkan untuk esok?
Apa yang akan dilakukan kini dan nanti?
Apakah satu hari hanya menikmati berbagai “kebaruan”?
Apakah hari fitri sesederhana kemenangan sebuah pertandingan?

Bagaimana kita memperlakukan kesucian?
Bagaimana kita memelihara fitri?
Apakah setelah ini kita akan merusak diri lagi?
Mari bertanya pada relung hati
Semoga Tuhan selalu memelihara dan menyayangi

Kenitra, 30 agustus 2014
Malam 3 syawal 1435 H















Melihat Apa
Bapak guru, ibu dokter dan pak polisi
Kalian adalah para pengabdi
Ustadz, Kyai dan ulama
Kalian adalah para penjaga agama

Tukang sapu, nelayan dan petani
Kalianlah pemelihara ibu pertiwi
Bupati, pejabat dan birokrat
Kalian adalah pelayan rakyat
Pelajar dan pemuda
Kalianlah para penerus bangsa

Apa yang mereka lakukan
Adalah apa yang akan dirasakan
Apa yang mereka perbuat
Adalah apa yang akan dinikmati rakyat

Bukan sebagai siapa mereka berdiri
Tak perlu mengatakan siapa kepada negeri
Karena rakyat butuh tindakan untuk dirasakan
Bukan nama, gelar atau pangkat untuk disematkan

Barangkali bolehlah rakyat muak dengan siapa
Begitu banyak dari mereka tak berbuat apa-apa
Yang selalu ingin rakyat adalah
Apa yang mereka lakukan, tanpa kenal lelah


Kenitra, 19 Juli 2014 M
Malam 22 ramadan 1435 H














Membaca Jalan
Pagi
Semuanya masih sepi
Hanya ada sampah berserakan
Dan daun-daun berguguran
Di jalanan
Lampu kuning temaram
Menerangi gelap di pagi buta
Sementara kabut menembus
Setiap pandangan mata
Pekat,
Dua-tiga langkah kaki berjalan
Memaksa manusia untuk waspada

Terik
Mentari mulai menatap
Menyinari bumi dan isinya
Sesekali menyengat
Setiap lalu lalng yang ada
Di setiap denyut nadi kota

Jalanan
Disitu ditampilkan pertunjukkan
Akan kau dapati
Tawa,duka,amarah
Akan kau rasakan
Semangat,gejolak dan cinta
Akan kau dengar
Keramaian,kebisingan dan nyanyian
Hingga keheningan
Di jalan,
Mata melihat apa yang terjadi
Menyaksikan apa yang dialami
Begitulah kisah yang tercipta
Sampai senja menjemput mereka pulang

Malam
Layar kehidupan belum habis
Meski dingin menusuk jiwa
Asap-asap daging mulai membumbung
Suara-suara gaduh pedagang mulai bertarung
Menyoraki penikmat kopi
Di deretan sepanjang jalan
Sebagin menikmati waktu rehat
Sebagian lain membuang waktu dan saku
Hingga lelah
Dan angin malam menemani pulang
Meski kisah setiap tanah
Tak akan sama
Meski manusia punya
Cara berbeda
Membuka dan menutup
Lembar hidup
Manusia hidup di bumi yang satu
Semua menuju bahagia

Kenitra, 19 oktober 2013



































Membuang Debu di Tahun Baru


selamat  tinggal
aku akan pergi
kita akan berpisah
tak bertemu lagi

sejuta peristiwa telah ku lalui
pahit dan getir sudah ku nikmati
sukacita telah aku arungi
sepanjang tahun ini

aku ingin membuang debu
yang masih melekat di hati
aku ingin menyapu kotoran
yang telah hinggap dalam diri

sebelum aku ayunkan langkah baru
sebelum aku buka lembar baru
aku ingin meminta ketulusan hati
kepada setiap manusia yang telah aku lukai

seringkali aku luput dan salah
yang aku sengaja maupun tak aku sengaja
langit dan bumi bersaksi pada setiap laku

kepada matahari dan bulan
kepada sungai dan lautan
kepada bukit dan gunung
kepada ilalang dan gurun
kepada seluruh jagat raya
maafkan aku yang selalu menyakiti
kasih sayang Tuhan selalu menghampiri


Kenitra, 8 Desember 2013










Menata Rindu

Jauh, Hilang, hingga mati
Semuanya sama
Membuat semuanya seperti sirna
Seperti bumi yang kehilangan wajahnya
Yang berseri

Kita,
Seringkali meratapi,menyesali
Mata,
Serasa tak mendapati
apapun yang ada di hadapannya

Lalu kita obati
Kita rajut tali-tali
Sekuat-kuatnya
Meyakini setebal baja
Bahwa doa lebih dari sekadar rangkaian kata

Dan air mata
Bukan hanya karena kita tak kuasa
Tetapi butiran-butirannya
Mengisyaratkan seluruh asa

Tuhan Maha Merasa
Dialah Sang penata hati
Agar tegar,besar dan berbinar


Kenitra, 3 Maret 2014














Mencari Wajah

Aku tak ingin aku mencederai
Aku tak ingin engkau membenci
Aku tak ingin kita saling menghardik
Maka jangan sampai kita saling membunuh

Aku menganggap kami benar
Engkau menyangka kalian benar
Dan nanti kita sama-sama buktikan
Bukan untuk menghabisi dan merendahkan

Mari biarkan rakyat tahu
Tetapi tidak dengan jalan palsu
Kita buka mata hati
Dia akan melihat dan meyakini

Haruskah nurani, harga diri dan ibu pertiwi
Ditepikan dari diri
Mestinya kita menyingkirkan kemenangan
Kita hadirkan kejujuran, keindahan dan keseimbangan


Kenitra, 6 juni 2014






















Menuju

Mari berjalan
Melintasi padatnya jalanan
Melewati riuhnya keramaian

Mari berkata
Menumpahkan segenap rasa dari dalam dada
Mencurahkan seluruh isi kepala

Mari tersenyum
Untuk menyaksikan kebahagiaan
Untuk merasakan keceriaan
Untuk mensyukuri anugerah Tuhan

Mari menangis
Untuk melukiskan kesedihan
Dalam menyadari setiap kesalahan
Demi memohon ampun kepada Tuhan

Mari bermimpi
Menembus batas langit tertinggi
Menggempur setiap tantangan
Kuatkan tekad dan keyakinan

Mari berjuang
Meraih seluruh mimpi
Menyeberang seluruh lautan
Mendaki di setiap bukit
Menerjang setiap ombak dan batu karang

Mari menyapa
Agar hati tetap terbuka
Selalu tenang dan tunduk
Kepada setiap kehendakNya
Tetap setia kepada titah dan aturanNya

Kawan,
Manusia pada akhirnya akan kembali
Selaksa peristiwa hanyalah jalan



Kenitra, 8 desember 2013


Pandanganku

Manusia punya banyak opini
Pada tiap-tiap masa
Pada tiap-tiap peristiwa
Dan itu adalah niscaya

Bagiku, ini adalah sikapku
Tentang apa yang dilakukan manusia
Tentang rangkaian ceritanya
Pahit, getir dan manis senyumnya

Yang aku gores adalah makna
Bukan sekadar jengkal kata
Yang panjang barisnya
Yang hanya memoles rupanya

Bagiku, ini adalah cintaku
Pada manusia, pada kehidupannya
Pada rumput hijau, pada rindang pohon
aku ingin merebah diatasnya, berteduh di rindangnya

Ini bagian dari hidupku
Dan aku ada di dalamnya
Aku menghidupinya, menghidupi pandanganku
Dia lebih hidup dan abadi dariku

Kenitra, 31 Juli 2014
            3 syawal 1435
















Pilar Tak Lagi Kokoh

Orang-orang itu selalu berkata
senyum tak pernah berhenti
melumuri wajah
rintih nan lembut
menghiasi tutur kata

Bapak-bapak bangsa
Menumpahkan darah untuk merdeka
Sedangkan kami
Saling menumpah darah dengan sesama

Memang kita berbeda-beda
Tetapi bukankah kita Satu
Bahasa, Tanah Air, Indonesia Raya

Pedoman sakti
Seperti kehilangan kaki
Sulit berpijak tegak di bumi pertiwi
Sedang bapak-bapak bangsa
Mengerahkan jiwa raga
Untuk menerbangkannya

Kesatuan
Yang dulu dirangkai dengan selaksa pengorbanan
Kita ceraikan pelan-pelan
Demi segelintir angan

Kini
Yang terjadi hari ini
Sungguh menggores hati
Para pendiri negeri
Para pembela ibu pertiwi
Kita tak usah membela diri
Mungkin kita tak tahu diri
Sementara kita hanya dituntut berbakti
Tidak untuk berjuang sampai mati


Ibu pertiwi
Maafkan kami
Yang tak berbakti
Yang telah mengoyak hatimu
Yang menggenangkan air mata
Yang menumpahkan darah
Di wajahmu yang berseri

Sekarang kami takut
Ditimpa kemarahanmu
Karena kini,
Pilarmu tak lagi kokoh
Karena kami sendiri
Yang menggempurnya

Tuhan
Tuntun kami
Menjaga dan mengasihi bumi pertiwi
Beserta seluruh isinya


Kenitra, 4 Maret 2014






























Potret Pena

Setiap jemari memiliki arti
Setiap hati mampu menerka
Setiap mata mampu menjaga
Goresan adalah titik temu selaksa cerita

Aku ingin menyimpan
Seribu bahkan sejuta
Untaian, hembusan dan jejak langkah
Dalam sketsa yang aku punya

Akan aku lukis
Senyuman para pengumpat
Rintihan para pengemban
Ketegaran para pejuang
Keteduhan para penyejuk
Seribu wajah penuh makna

Aku yakin dan ingin
Tak ada huruf yang sia-sia
Tak ada titik terbuang percuma
Semuanya mampu bercerita
Dengan ribuan jalan yang berbeda

Kenitra, 22 April 2014





















Refleksi

Roda-roda yang bergulir
Membawa kita kepada banyak perjalanan
Yang titik akhirnya
Hanya Sang Pemilik waktu yang tahu

Setiap aku sapu pandanganku
Kepada gerombolan daun yang terikat ramai
Ditunggui wanita tua
Selalu begitu hingga malam tiba
Meski tak semuanya mengubah raut muka

Para penjaja yang tiada henti
Berteriak agar tangis anak istri terhenti
Balada peminta-minta
Yang dipaksa oleh nasibnya
Atau tak punya alternatif cara

Pria paruh baya
Yang tenggelam bersama semangatnya
Tak ingin ditelan kepahitan
Rela bertaruh jiwa dan raga

Potret-potret yang aku tangkap
Lembaran-lembaran yang aku baca
Menggetarkan hati dan mata
Ingin rasanya aku memeluk sebuah tubuh
Yang tak pernah mengeluh
Meski beban meneteskan peluh
Bagiku,
Melihatmu adalah sumber ketegaran



Kenitra, dini hari, 6 Mei 2014










Sebuah Perjumpaan

Bagaimana aku bisa merasakan hembusannya
Kemudian terlelap membayangkan butir-butir cerita
Sesekali terjaga menyadari keadaan
Bercik-bercik air sedikit berbisik

Manusia mendapati kehadirannya
Di sebuah sudut yang dipenuhi peristiwa
Seperti samudera
Yang menyimpan seluruh kekayaannya

Matahari,
Mengawali cerita di pagi hari
Burung-burung menyambut
Kaki-kaki langit mulai tampak

Waktu, juga mata
Akan sama-sama menyaksikan
Sebuah sketsa tentang dua manusia
Yang berbicara tentang diri mereka
Dengan bahasa mereka
Pada satu kehendak


Kenitra, 26 Juli 2014
               28 Ramadan 1435


















Sejuta Romantisme Kota

Tampak ramai geriap para bintang
Diatas mata petarung kota
Memandang, meresapi hingga menantang
Selaksa tembok raksasa menghadang jiwa

Menara masjid menjulang di jantung keramaian
Tak jauh dari sisinya gereja tua berdiri kokoh
Taman segar berhias merpati adalah pertemuan
Sejuta langkah, gairah dan wajah

Tumpukan bata merah kokoh nan megah
Tak lenyap ditelan kaca-kaca yang melahirkan amarah bumi
Hiruk pikuk penuh bahasa pada wajah
Mengatakan lakunya pada negeri ini

Sementara angin berbisik lembut dan mesra
Menemani dua pasang mata penuh cinta
Sedang rembulan menampilkan manisnya
Kepada manusia dengan sejuta kisahnya

Di Istana, Sang Raja menduduki singgasananya
di jalan-jalan, ia menyapa rakyatnya
Cinta rakyat selalu menaunginya
Semoga Sang Raja selalu dalam lindunganNya

Di pembaringan kekal, para raja dan pengabdi
Terlelap pulas usai baktinya tuntas
Pemuda dan pemudi sanggup meneguhkan hingga nanti
Mampu melenyapkan hingga tak berbekas

Senja di ujung samudera adalah diri
Bersinar, meredup dan hilang
Hidup bukan untuk memuaskan diri
Manusia pergi untuk bersiap pulang


Rabat, Shubuh 5 Agustus 2014
                             8 Syawal 1435      







Semoga Tak Membuang Kata

Aku akan menulis tentangmu
Menggambarkan kehidupan manusia
Bicara tentang pahit-getir hingga manisnya
Segala peristiwa, pertarungan dan cinta

Namun aku tak hanya ingin itu
Jemari-jemariku tak sekadar menulis
Kalimat-kalimat bersayap
Menghabiskan banyak kata

Aku tak mampu menghiasi kata
Seperti mengikat peristiwa
Dengan balutan yang mengada-ada
Maka biarlah aku mengalirkannya

Aku selalu ingin setiap kata yang kueja
Tak ada yang sia-sia
Setiap kalimat yang terbentang
Tak ada yang terbuang

Kenitra, 26 Juli 2014
               28 Ramadan 1435





















Sepenggal Rahmat di Negeri Senja

Ramadan yang mulia
Ramadan yang membahagiakan
Begitulah ungkapan kita
Di sela-sela detik yang diberikan

Orang-orang berjubah, berkerudung dan bersorban
Bergegas tegas menuju paling utamanya peraduan
Bersimpuh, mengaku dan memohon
Kami yang sepanjang tahun berbalut keluputan

Gelapnya malam selalu diramaikan
Oleh jiwa-jiwa yang mencari kemenangan
Lantunan-lantunan firmanMu saling berkejaran
Mereka turun di malam seribu bulan

Semoga ini bukan satu-satunya waktu
Meski memang ini satu-satunya waktu
Dimana kasih sayang Kau limpahkan
Kepada seluruh penjuru jagat raya

Dan negeri, Kau berikan sepenggalnya
Untuk kami yang terus memohon dan meminta
Semoga ini adalah titik mula
Untuk hati agar tak berhenti menyapa



Kenitra, Pagi 26 juli 2014
               Pagi 28 ramadan 1435














Tentang Impian

Mari kita saksikan perahu-perahu merambat di bawah terik
Menahanan diri dari gaduh riuh dunia yang berisik
Cipratan-cipratan ombak memercik
Di bibir pantai, pasir-pasir asyik berbisik

Dibawah siraman rembulan nelayan membawa bahtera
Menembus ombak, menerjang badai yang menerpa
Kembali pada pagi dengan jaring berisi harapan
Mendarat lalu mengayun langkah dengan kemenangan

Seperti dia, manusia menjemput masa depan


Rabat, dini hari 19 Agustus 2014





























Sepotong Senja

Dibalik jendela
kereta yang berhenti
langit merekah
diatas bukit-bukit
yang bergandeng mesra

sementara,
angin menampar-nampar
semakin keras
bila semakin lama

dan bulan sudah mengintip
meski manusia belum kembali
dari panjangnya sebuah perjalanan
sambil mengingat dan menyadari
setiap detik dan detak yang penuh makna


Gare Ksar El Labir,13 November 2013
menikmati senja menuju tanger























Secangkir kopi, Sejuta harapan

Mulanya, aku kira,
yang bisa kubaca adalah
hanya teks-teks, buku, kitab suci, surat kabar
atau apapun yang berwujud tulisan.
Dan dari wujud tulisan yang aku baca
maka aku bisa menjadi tahu, menjadi pintar,
menjadi pandai atau semacamnya.
Tetapi pada kenyataannya,
firman Tuhan tentang membaca
tidak hanya kumaknai sebatas membaca teks saja
dan kitab suciku tidak berhenti pada perintah
untuk membaca saja
melainkan sampai pada anjuran untuk merenungi firmanNya.

Meskipun perenunganku terhadap kitab suci
ataupun petuah nabi
tidak seperti para cendekiawan muslim
 yang mumpuni pada bidang-bidang ilmu yang membantu
untuk proses interpretasi teks-teks suci tersebut,
setidaknya aku sedikit-sedikit bisa meraba-raba apa maksudNya.
Dan memang tujuan interpretasi suatu teks adalah untuk mengetahui dan memahami apa yang diinginkan teks tersebut.
Karena tidak semua manusia bisa dan punya keinginan untuk menginterpretasi firman Tuhan lebih dalam, maka Tuhan tidak menekankan itu sebagai sesuatu yang harus bagi setiap manusia, cukup sebagian orang saja yang melakukan tuntutan itu, dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku.
Dan Tuhan Yang Maha Pemurah dan Mengetahui pun tetap memberi apresiasi kepada siapa saja yang membaca firmanNya, walaupun satu hari hanya satu ayat dan mengkategorikannya sebagai bentuk ibadah seorang hamba kepada Tuhan.
Pepatah mengatakan, dengan membaca kita mampu membuka jendela dunia.
Dunia yang luasnya demikian itu bisa kita ketahui dengan membuka jendelanya, yaitu membaca. Firman Tuhan yang pertama kali turun kepada Sang Penerang dunia, Muhammad adalah mengenai urgensi membaca, dengan membaca manusia bisa mengetahui apa yang sebelumnya tak diketahui, terlebih bagi manusia yang mulanya tak mengetahui apapun. Melalui membaca, dia bisa menentukan sikap, pandangan dan memberi gagasan.

Selanjutnya, bagiku, membaca tidak hanya buku, tidak hanya kitab suci, tidak hanya teks dan sebagainya. Aku diberi mata oleh Tuhan untuk membaca sesuatu yang lebih dari sekadar tulisan, sekadar teks.
Tuhan berfirman bahwa tanda-tanda kekuasaannya adalah segala hal yang ada di langit dan bumi, bahwa segala hal yang ada di muka bumi patut kita baca, termasuk isinya – manusia dan kehidupannya- dapat ditangkap oleh mata.
Jalanan, bagiku adalah sesuatu yang sangat menggiurkan untuk ditonton, sesuatu yang sangat menarik untuk dinikmati, sesuatu yang sangat nyata yang tersaji di depan mata dan tentunya sesuatu yang sangat berharga untuk dibaca, dipelajari dan diresapi.
Juga di tepi-tepi jalan yang menangkap langkah-langkah manusia dan menanam ciptaan-ciptaan manusia.
Di tepi-tepi jalan itu berdiri congkak gedung-gedung tinggi para pemilik modal, adapula barisan bank-bank penyedia bunga yang duduk dengan elegan menyimpan kotak-kotak besi berisi kertas berharga yang bisa memenuhi kebutuhan manusia atau bahkan menawar harga dirinya, deretan warung makan yang berdiri berdesakkan karena sisa ruangnya diambil para pemilik modal, juga kafe-kafe yang menjulurkan kakinya dengan santai tanpa memakan ruang pejalan kaki dan masih banyak lainnya yang tak kalah pentingnya sebagai bagian dari roda kehidupan manusia. Semuanya sangat menguras perhatianku untuk tak pernah berhenti membacanya selagi mata terbuka.

Kafe, adalah tempat dimana orang bisa menikmati waktu santainya untuk beristirahat sejenak melepas lelah dari gerahnya kehidupan, dia juga adalah tempat orang-orang berkumpul untuk membicarakan sesuatu yang serius yang bisa memeras kepala agar terasa lebih ringan karena digelar di tempat yang tak ada papan presentasi ataupun meja rapat, atau dia adalah tempat bagi para pelajar dan mahasiswa melahap buku-buku pelajaran dan modul-modul perkuliahan untuk bersiap berperang melawan “ancaman” ujian, sebagai tempat menyisihkan atau lebih tepatnya membuang waktu bagi para juragan kontrakan, sekadar mencari jaringan wi-fi gratis, tempat menonton bareng pertandingan sepakbola liga-liga eropa dan kegiatan-kegitan bermalas-malasan lainnya.
Begitulah yang dapat aku baca dari kafe-kafe yang ada di maroko.
Maroko, disamping terkenal dengan sebutan negeri senja dan negeri seribu benteng, maroko dikenal sebagai negeri seribu kafe – orang-orang indonesia khususnya menyebutnya demikian – karena hampir di sepanjang jalan di pemukiman-pemukiman di setiap kota di maroko terdapat kafe, dimana konsep ini meniru mantan penjajahnya perancis, dimana kota-kota di perancis, khususnya paris, dihiasi oleh kafe-kafe.

Menurut pengamatanku mengenai kafe-kafe di maroko, kafe terbagi menjadi dua yaitu kafe kelas menengah kebawah yang terletak di pinggiran dan kafe kelas menengah keatas yang terletak di perkotaan.
Kafe jenis pertama adalah kafe yang merakyat yang harganya sangat terjangkau dengan fasilitas jaringan internet, yang menyediakan berbagai jenis minuman kopi dan lainnya dan terkadang menyediakan makanan ringan untuk sarapan atau sekadar cemilan.
Kafe-kafe ini dapat dijumpai di sepanjang jalan di pinggiran kota.
Soal harga kopi di jenis kafi ini semuanya sama, baik ukuran gelas besar atau kecil, harganya 6 dirham.
Contoh untuk kopi susu, baik ukuran gelas besar atau kecil harganya sama, yang membedakan adalah ketika gelas besar maka susunya lebih banyak dari ukuran gelas kecil.
Begitu juga harga minuman lainnya seperti jus yang berharga 7 dirham segelas. Kafe-kafe jenis ini juga menyediakan layar LED TV ukuran 34 inch lebih untuk tontonan pengunjungnya, melihat mayoritas penduduk maroko adalah pecinta sepakbola, setidaknya setiap kafe jenis ini menyediakan 4-5 TV .
Meskipun kafe rakyat, LED TV dan jaringan wi-fi gratis adalah fasilitas wajib demi memanjakan pengunjung. Sedang jenis kafe kedua yang berada di pusat-pusat kota, harganya 2 kali lipat lebih mahal meskipun fasilitas hampir sama, hanya lebih mewah dari kafe rakyat tadi, karena sasaran konsumen mereka adalah golongan elite.
Dan banyak dari kafe-kafe jenis ini didalamnya terdapat restoran yang menyajikan makanan ringan dan berat.
Kafe-kafe seperti ini menyajikan banyak jenis kopi dan minuman yang lebih variatif dan western  dari kafe rakyat, juga menu-menu hidangan ala eropa dan barat tersaji disini.
Dan yang sangat menarik mataku adalah kafe rakyat.
Aku atau teman-temanku yang mahasiswa berbeasiswa pas-pasan ini tidak hanya disuguhi secangkir kopi atau minuman lainnya yang siap untuk diminum.
Kita disajikan berbagai menu lainnya untuk disaksikan, dihayati dan diresapi. Menu-menu itu memang tak mengobati dahaga kita.
Menu-menu itu memang tak bias mengusir lapar kita.
Dan menu-menu itu bias kita hirup sebagai pelajaran yang ditransfer melalui sepasang mata kita menuju ke pikiran kemudian bersemayam di hati untuk dikaji.
Betapa di dalam kafe itu terdapat sangat banyak buku, guru dan pelajaran yang bisa kita jadikan ilmu dan bisa menggugah, mempertanyakan, memengaruhi bahkan mengubah sikap setiap manusia.
Pak tua yang berprofesi sebagai tukang semir sepatu itu menawarkan jasanya kepada setiap pelanggan yang duduk tentram menikmati secangkir kopi atau teh mint sembari matanya mengawasi setiap pasang kaki yang mengenakan sepatu atau sandal berwarna hitam yang dijadikan sasaran pekerjaan tangannya itu.
Meski tak setiap orang yang kakinya berpenampilan demikian berkenan menerima jasanya.
Pria paruh baya yang menggendong keranjang berisi kacang almond dan jenis biji-bijian atau kacang lainnya, menyodorkannya kepada setiap pelanggan kafe untuk dijadikan teman ngopi atau teman menonton.
Walau tak semua orang menerima pinangan kacang-kacang itu atau hanya sekadar meminatinya barang 1-2 dirham saja.
Tak lama, bocah kecil yang menjajakan tissue pada pelanggan untuk persediaan di toilet.
Sekadar informasi, model toilet tak seperti di indonesia yang menyediakan gayung dan ember untuk buang air kecil atau besar, disini hanya menyediakan tissue dan tidak semuanya menyediakan gayung atau ember atau terkadang hanya closet saja dan kadang tidak menyediakan tissue. Biasanya, bocah-bocah kecil yang menjajakan tissue  itu tak berhasil menjual dagangannya atau terkadang hanya satu dua bungkus seharga 1-2 dirham dan orang-orang di kafe lebih memilih mengasihaninya dengan memberinya uang tanpa membeli barang dagangannya.
Tak kalah semangat, pedagang pakaian singlet musim panas yang berjuang keras menawarkan dagangannya kepada para pelanggan kafe meski dia tahu hasilnya akan nihil karena mungkin mereka lebih memilih membelinya di pasar atau di toko-toko atau di tempat dimana mereka bisa mendatanginya sendiri atau kemungkinan yang paling besar bahwa para pelanggan tak akan membawa uang banyak hanya untuk sekadar menikmati secangki kopi seharga 6 dirham dan membeli singlet seharga 30-50 dirham.
Turut serta meramaikan perdagangan bebas kafe, orang-orang afrika yang mayoritas masih terdaftar sebagai mahasiswa menawarkan iphone-iphone cina baik baru maupun bekas atau pernak-pernik kalung dan gelang, dengan semangat berlipat sembari waspada terhadap perlakuan yang akan diterimanya. Ya, orang afrika disini masih diperlakukan diskriminatif oleh orang-orang arab.
Kalian tentu tahu bagaimana caranya bertindak diskriminatif terhadap orang yang berbeda suku atau bangsa.
Sebagian dari mereka yang melakukan hal demikian itu, katanya, adalah orang-orang yang menghabiskan uang beasiswanya untuk berfoya-foya. Entahlah, aku tak tahu menahu sebab-musabab itu. Juga -yang aku tak tega menyebutnya- peminta-peminta dengan berbagai macam keluhan yang diembannya yang melengkapi bacaan alamiku.

Dan dari tiap-tiap bacaan alami yang terbuka di depan mata itu setidaknya mengajarkanku tiga hal yaitu kepekaan, kepedulian dan keinginan untuk bertindak sesuatu.
Itu yang selalu tersaji pada setiap pelajaran apapun, menurutku.
Pelajaran-pelajaran itu mengajarkan kita untuk selalu berbuat apapun untuk sebuah harapan.
Aku benar-benar dituntut belajar lebih dari sekadar menghafal berbagai macam kaidah dan teori ilmiah maupun spiritual.
Aku lebih dekat kepada langkah yang mengisyaratkan untuk berjalan untuk mencapai sesuatu yang aku inginkan atau aku hanya menghentikan langkah karena merasa sudah cukup aku punya kaki yang bisa berdiri.
Atau sama seperti aku lebih dekat untuk bisa melihat apa yang sesungguhnya terjadi daripada sekadar mengetahuinya lewat membaca berita di koran atau menyaksikannya di televisi.
Entah apa namanya implikasi-implikasi yang aku rasakan itu, yang jelas semua yang aku lihat adalah mengenai banyaknya cara untuk menyambung hidup.
Baiklah, coba kita lihat bahwa satu kafe, tiap harinya menjadi saksi puluhan orang yang keluar masuk menyambung hidup dengan pekerjaannya masing-masing, di hadapan ratusan lainnya yang punya kondisi hidup yang lebih baik dari mereka.
Seorang anak kecil yang menawarkan tissue tidak lain bertujuan untuk mencukupi, memenuhi atau mengganti posisi orangtuanya dalam hal ekonomi mereka.
Kemungkinan pertama adalah mencukupi kebutuhan hidup dipastikan bahwa penghasilan orangtuanya tidak mencukupi seluruh isi rumahnya karenanya si bocah itu mengorbankan pendidikannya yang seyogyanya ia tempuh (meskipun pendidikan di maroko bebas biaya dari pendidikan dasar hingga perruruan tinggi jenjang doktoral) tetapi tidak dengannya karena penghasilan orangtuanya tidak cukup untuk membeli perlengkapan sekolahnya.
Namun, dengan pengorbanannya setidaknya bisa membantu meringankan beban pemenuhan kebetuhan keluargnya.
Dan yang kedua, bahwa tugas dia bukanlah menutupi kekurangan penghasilan atau mencukupi kebutuhan keluarganya tetapi dialah yang memenuhi kebutuhan keluarganya alias mengganti posisi orangtuanya dalam mencari nafkah untuk keluarga yang diakibatkan kondisi orangtuanya yang tidak memungkinkan untuk bekerja atau meninggal dunia.
Jelas tugas ini lebih berat terlebih jika masih ada adik-adiknya yang kecil yang juga semestinya masih membutuhkan kasih sayang orangtuanya.
Atau kemungkinan ketiga adalah si bocah itu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri dengan kenyataan bahwa dia adalah anak gelandangan yang tidak punya siapa-siapa lagi. Itu adalah sebagian dari cara menjaga kelangsungan hidup, seperti yang dimaksudkan oleh ajaran agama. Dan dibalik itu, tentunya ada keinginan untuk mengubah nasib diri dan keluarganya untuk lebih baik. Dengan tercukupinya kebutuhan hidup, dia dan keluarganya dapat makan yang cukup dan bergizi, berkehidupan layak, mendapatkan layanan kesehatan yang baik dan bisa mengenyam pendidikan yang baik dan layak.
Dan sekeping uang 2 dirham dari kita bisa mengantarkan bocah itu untuk mendapatkan semua mimpinya dan mewujudkan semua harapannya tentang bagaimana merasakan makanan yang baik setiap hari, bagaimana nikmatnya belajar bersama teman-teman di sekolah dan merasakan segarnya tubuh yang sehat dan kuat.
Dan seringkali mengeluarkan sekeping 2 dirham adalah ujian berat bagi kita atau bahkan menyepelekannya begitu saja atau bahkan kita sama sekali tak menggubris kehadirannya?
Bocah itu adalah bagian dari apa yang dikatakanNya dalam anjuranNya untuk bersedekah, bahwa sebagian dari harta kita adalah milik mereka, bahwa sebagian harta kita dianjurkan untuk disedekahkan kepadanya.
Ya, meski itu bukanlah sebuah kewajiban yang dituntut Tuhan tetapi apa yang kita lihat?
Apa yang kita lihat hanya sekadar anjuran maka kita sah-sah saja tak mengindahkannya?
Ataukah kita merasa tak butuh dengan apa yang ditawarkannya kepada kita? Dan ataukah ada kemungkinan-kemungkinan lain yang tidak menggunakan hati untuk merasakannya?
Itu semua pilihan yang tersaji untuk kita.
Untuk mata kita apakah mau melihat, untuk akal kita apakah mau berpikir dan untuk hati kita apakah mau merasa.
Mungkin aku, yang seringkali melihat bocah-bocah seperti itu atau siapapun yang sama dengannya masih belum benar-benar bisa untuk benar-benar membantu, meski aku melihat,berfikir dan punya kepekaan.
Tetapi setidaknya, jika kita mau merasakan pelajaran itu dengan baik, kita masih mau menggunakan hati kita dengan baik.
Dan aku masih berada dalam tahap mencoba merenungi pelajaran-pelajaran itu sembari aku memberi sesuatu untuk pelajaran itu.
Bahwa aku tidak hanya duduk tentram sambil menyeruput secangkir kopi. Sungguh kafe bukan sekadar tempat untuk menikmati secangkir kopi. Secangkir kopi menjadi saksi sampai manakah pelajaran yang kita dapat dan sudah berapa dari pelajaran itu bisa kita aplikasikan.
Dia menjadi saksi kejujuran hati kita kepada hidup yang beraneka rasa seperti jenis-jenis kopi yang disajikan waiter, kejujuran untuk meminum kopi pahit dalam keadaan manis dan meminum kopi susu dalam kondisi yang tak menentu.
Secangkir kopi itu mendatangkan sejuta hal yang bisa kita raih dengan jalan yang berwarna-warni, bermacam rasa dengan tingkatan kekentalan dan kelembutan yang bervariasi sesuai takaran yang diinginkan, menghadirkan aroma-aroma yang membangkitkan asa, yang bernama harapan.


















Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.