Senin, 28 Maret 2016

A. MANUSIA PERSPEKTIF AL-GHAZALI

A.    MANUSIA PERSPEKTIF AL-GHAZALI
sutejo inbu pakar
Manusia sempurna, menurut al-Ghazâlî,  adalah manusia yang bisa mencapai tujuan hidupnya, yaitu ma‘rifah ilâ Allâh. Tujuan hidup manusia adalah kesempurnaan jiwanya, yang bisa mengantarkan pada ma‘rifah. Dengan demikian kesempurnaan manusia terkait dengan substansi esensialnya, yaitu al-Nafs (jiwa). Karena jiwa mempunyai sifat dasar mengetahui dan  bisa mencapai puncak pengetahuan tertingginya, ma‘rifah kepada Allah.[1]
Al-Ghazâlî juga memberikan pengertian bahwa manusia paripurna adalah manusia yang mampu menggabungkan makna bâthin dengan makna zhâhir. Manusia paripurna adalah manusia yang cahaya ilmunya tidak menyebabkan padamnya cahaya wara’ (selektif didalam menentukan pilihan, tindakan) dan dalam mencapai hakikat tidak melampaui batasan-batasan syarî‘ah. Manusia seperti itu, menurutnya dibentuk oleh kesempurnaan jiwanya.[2]
Kesempurnaan manusia, menurut al-Ghazâlî, sangat ditentukan oleh al-Fadhâ'il (keutamaan-keutamaan), yakni berfungsinya daya-daya yang melekat pada diri manusia selaras dengan tuntutan kesempurnaannya. Al-Fadhâ’’il tersebut adalah: al-Hikmah sebagai keutamaan dari daya akal; al-Syajâ‘ah sebagai keutamaan dari daya al-Ghadab (nafsu untuk m,engungkapkan kemarahan); al-‘Iffah (kemampuan menahan diri) sebagai keutamaan dari daya al-Syahwah (kecenderungan memperturutkan selera terhadap materi); dan al-‘Adalah sebagai faktor penyeimbang dari ketiga daya tersebut.[3]
Al-‘adalah ini merupakan keseimbangan dari dua segi, yakni dari penempatan masing-masing keutamaan itu di antara kedua keburukan dan dari segi penempatan akal sebagai alat kontrol. Misalnya al-Ghadab dan al-sSahwah adalah dua kecenderungan yang inheren di dalam daya pendorong (al-Bâ’is) atau kehendak (al-Irâdah). Manusia terdorong untuk melakukan sesuatu tidak terlepas dari salah satunya, dari kecenderungan al-ghadab timbul keberanian untuk melakukan apa saja guna menentang sesuatu yang merugikannya. Sebaliknya, dengan kecenderungan al-syahwah, seseorang akan berusaha memiliki sesuatu yang menguntungkannya. Tanpa ada daya yang lebih tinggi yang menjadi sumber pertimbangan lain, maka al-Ghadab akan menimbulkan kebuasan, sedangkan al-Syahwah akan menjadi keserakahan. Karena itu, pada manusia sebagai makhluk moral ada akal yang berfungsi menangkap al-hikmah yang berfungsi pula untuk menempatkan sesuatu secara proporsional.[4]
Untuk bisa mendapatkan jiwa yang sempurna,  manusia harus melalui tiga langkah strategis. Pertama, al-Takhalliyyât, yaitu upaya pengosongan diri dari sifat-sifat tercela. Kedua, al-Tahalliyyât, pengisian kembali dengan sifat-sifat terpuji setelah pengosongan diri dari sifat-sifat tercela. Ketiga, melalui kedua upaya tersebut. Jika demikian, katanya, maka dalam diri manusia akan terbentuklah jiwa muthma’innah, yakni jiwa yang siap menerima tajallî Allah. Pada tahap ini manusia mengalami kesempurnaan jiwa, karena ia telah memperoleh pengetahuan abstrak tentang dunia metafisik.[5]


[1]al-Ghazâlî, Ma‘ârij al-Qudsi, (Kairo: Dâr al-Ma’arif, 1964), hal. 205; al-Ghazâlî, Kîmyâ’ al-Sa’âdah, dalam Majmû’ah Rasâ’il al-Imâm al-Ghazâlî, (Beirût: Dâr al-Fikr, 1998), hal. 420; M. Yasir Nasution, Manusia Menurut al -Ghazâlî, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1996), hal. 82.
[2]al -Ghazâlî, Misykât al-Anwâr, hal. 33.
[3]al -Ghazâlî, Mîzân al-‘Amal, (Kairo: Dâr al-Ma‘ârif, 1964), hal. 264.
[4] M. Amin Syukur dan Masyharuddin, Intelektualisme Tasawuf, hal. 186.
[5]al-Ghazâlî, Al-Imlâ’f î Isykalât al-Ih, (Beirût: Dâr al-Fikr, 1980), hal. 7.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.