Rabu, 24 Februari 2016

METODE PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN TRANSPERSONAL

TAREKAT;
METODE  PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN  TRANSPERSONAL

A. PENGANTAR
Tasawuf adalah ajaran tentang latihan pengendalian diri (mujâhadah al-Nafs) sehingga manusia mencapai kualifikasi jiwa dekat  (qurb)  dan ma’rifat kepada Allah  sebagai hasil puncak dari proses pensucian jiwa (tazkîyat al-Nafs).  Para sufi memanadang mujâhadah al-Nafs  sebagai prioritas sebelum seseorang melanjutkan pengembaraannya menuju mendekati Allah.  Mujâhadah al-Nafs,  bagi Imam al-Qazzâz,  dibangun diatas kesederhanaan dalam pemenuhan kebutuhan primer manusia. Ia harus dimulai dari kebiasaan tidak makan kecuali dalam keadaan lapar,  tidak tidur kecuali benar-benar dibutuhkan dan tidak berbicara kecuali benar-benar dibutuhkan.[1]
Para sufi memiliki cara-cara yang harus dilakukan untuk mensucikan jiwa. Metode ini merupakan serangkaian pengamalan ibadah yang harus dilakukan secara istiqâmah.  Pengalaman ibadah   memungkinkan terjadinya transformasi jiwa, dari jiwa yang rendah ke jiwa yang lebih tinggi. 
Setiap orang yang mampu menghiasi amaliah lahiriahnya dengan mujâhadah al-Nafs  maka Allah akan membaguskan ruhnya dengan dikaruniai kemampuan musyâhadah. Oleh karena itu,  setiap murid memiliki tugas untuk mememrangi hawa nafsunya karena ibadahnya murid tidak lain adalah mujâhadah al-Nafs. Setiap murid yang tidak memulai sesutau dengan mujahadah  maka dipastikan dia tidak akan dapat mendapatkan jalan benar menuju Allah sama sekali.[2]
Pengamalan ibadah memungkinkan terjadinya transformasi jiwa, dari jiwa yang rendah ke jiwa yang lebih tinggi.  Setiap murid tarekat, dengan demikian,  memiliki tugas untuk membersihkan diri dari pengaruh  hawa nafsu (mujâhadah al-Nafs). Murid yang tidak berhasil melakukan  mujahadah  al-Nafs dipastikan tidak akan mendapatkan jalan benar menuju dan mendekati Allah.[3]  
Allah SWT menegaskan urgensi mujãhadah  atau jihãd al-Nafs.
وَالَّذِينَ جَاهَدُواْ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Artinya:
Dan orang-orang yang berjuang di jalan Kami, niscaya akan Kami tunjukkan mereka ke jalan Kami.  Dan Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. al-‘Ankabũt : 69).

Jihãd al-Nafs,  dalam ayat tersebut,  adalah segala bentuk ketaatan terhadap  perintah Allah.[4] Mereka yang bersungguh-sungguh di jalan Allah,   akan diberi kemampuan untuk dapat sampai (wushûl) di hadirat Allah dan akan ditambahkan baginya petunjuk  menuju kebaikan (sulûk al-Khayr). [5]   Mereka berhak memperoleh posisi kebersamaan (ma’îyah) dan kedekatan (qurbah) dengan Allah SWT.[6]   Posisi ma’îyah atau kebersamaan dalam arti merasa selalu bersama Allah, kedekatan, dan keakraban dengan  Allah kemudian melahirkan rasa rindu bertemu dan mengenali Allah (ma’rifatullãh).    
Ma’rifatullãh dan ma’rifaturrasûl adalah pengalaman sufistik yang, oleh psikologi kepribadian, dipandang sebagai sebuah pencapaian pengalaman puncak. Pengalaman puncak, dalam psikologi,[7]  dialami oleh seseorang yang berhasil dalam proses aktulisasi diri. Pengalaman ini dapat merubah kepribadian seseorang dari kehinaan kepada keluhuran.[8]   Secara kejiwaan, seseorang yang sedang menjalani pengalaman sufistik merasakan seolah-olah ada kehendak kemanusiaannya yang terhenti  persis seperti sedang menemukan kekuatan dari luar dirinya yang menekannya dengan sangat kuat.
Seorang sãlik merasakan limpahan cahaya Allah dalam hatinya sehingga terdorong untuk selalu mengingat (dzikir) Allah. Dzikrullah menjamin adanya kedekatan dengan Allah dan  kedamaian hati, serta berkembangnya kecintaan kepada Allah. Cinta Allah menjadi faktor dominan dalam memantapkan hubungan yang sehat dengan sesama manusia. Pelaku dzikrullãh adalah individu yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya.   
Pelaku dzikrullãh ditandai sebagai pribadi dengan kecerdasan multidimensi.[9] Kecerdasan emosial pelaku dzikrullah dapat menimbulkan kehati-hatian dan ketenangan dalam bertindak. Kecerdasan moral  membawanya befsikap lebih arif, sabar  dan dewasa. Kecerdasan spiritual mendorongnya untuk berbuat lebih manusiawi sehingga dapat menjangka nilai-nilai luhur yang mungkin belum tersentuh oleh akal pikiran.
Pengalaman sufistik pada dasarnya merupakan  proses penyadaran diri yang harus dijalani dengan melaksanakan syariat secara konsisten (istiqãmah) . Metode syariat dihadarpakan dapat melahirkan individu yang memiliki ketaaan beragama yang kuat, hidup tenang dan damai,  senang berbuat kebaikan, pandai menyesuaikan diri dan bebas dari permusuhan. Fondasinya adalah kesadaran untuk menerima diri apa adanya. Tujuannya adalah membentuk individu yang mampu menjauhi sifat-sifat buruk dan mendekati sifat-sifat baik. Keteladanan guru (mursyid, muqaddam) sangat membantu proses ini. Metode kesufian lazimnya  dilakukan dijalani dengan mujãhadah al-Nafs  dan juga riydãhah.

B. MENUJU TRANSPERSONAL
Tazkîyat al-Nafs,  dalam pandangan para sufi,  merupakan istilah bagi praktek-mujãhadah.[10]  Mujãhadah dijalani atas petunjuk al-Sunnah dan  menekankan kesesuaian antara amaliah lahiriah dan amaliah batiniah.[11] Mujãhadah  berarti  mengendalikan kecenderungan hawa nafsu dari masalah-masalah duniawi.  Mujãhadah  yang berlaku di kalangan orang kebanyakan adalah pelaksanaan ibadah  lahiriah yang sesuai dengan ketentuan syari’at.  Kalangan khawãsh memaknai dimaknai mujãhadah sebagai usaha keras menuscikan batin dari segala akhlak tercela.[12]
Mujãhadah, dengan demikian, merupakan sistem perbaikan diri dalam bentuk perbaikan dan peningkatan kualitas pribadi. Perbaikan yang dimasud adalah pengosongan diri dari segala akhlak batiniah yang tercela. Peningkatan diri diakukan dengan cara mengisi aspek  batiniah yang telah bersih dengan akhlak terpuji dan berbagai keutamaan. Perbaikan diri dilakukan dalam rangka memperkuat ’aqidah, membersihkan tauhid dari segala  bentuk syirik,  dan meningkatkan kualitas al-Îmãn menjadi al-Yaqîn. Perbaikan adalah proses intrenalisasi al-Yaqîn  dalam bentuk akhlak karimah sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW.  Perpaduan antara al-Îmãn  dan akhlak karimah (al-Isãm) adalah ihsãn
Tasawwuf bemula dari amalan-amalan praktis, yakni laku mujãhadah dan riyãdhah. Para sufi tidak akan sampai pada tujuannya terkecuali dengan laku mujãhadah yang dipusatkan untuk mematikan segala keinginannya selain kepada Allah, menghancurkan segala kejelekannya dan menjalankan bermacam riyãdhah  yang diatur dan ditentukan oleh para sufi sendiri.[13]  Tasawuf dapat dipraktekkan dalam setiap keadaan dalam kehidupan sehari-hari, dalam kehidupan tradisional maupun modern.[14]
Tasawuf, sebagai induk dari tarekat, adalah ajaran tentang latihan pengendalian diri (mujâhadah al-Nafs) sehingga manusia mencapai kualifikasi jiwa dekat  (qurb)  dan ma’rifat kepada Allah  sebagai hasil puncak dari proses pensucian jiwa (tazkîyat al-Nafs).  Para sufi memandang mujâhadah al-Nafs  sebagai prioritas sebelum seseorang melanjutkan pengembaraannya menuju mendekati Allah.  Imam al-Daqãq menegaskan bahwa, setiap orang yang menghiasi amaliah lahiriahnya dengan mujâhadah al-Nafs  maka Allah akan membaguskan ruhnya dengan dikaruniai kemampuan musyâhadah. Oleh karena itu, setiap murid memiliki tugas untuk mememrangi hawa nafsunya karena ibadahnya murid tidak lain adalah mujâhadah al-Nafs. Setiap murid yang tidak memulai sesutau dengan mujahadah  maka dipastikan dia tidak akan dapat mendapapatkan jalan benar menuju Allah sama sekali.[15]
Kehidupan jiwa yang sebenarnya adalah mujãhadah  dan kematiannya terjadi karena ia tenggelam dalam kemaksiatan.   Zakîyat al-Nafs  adalah dambaan para pelaku mujãhadah karena dapat membantu  mempermudah proses sampainya seseorang kepada Allah (wushûl), ma’rifatullãh, kasyf  dan musyãhadah.[16]  Kehidupan sufi adalah kehidupan mendekat dan kembali kepada Allah untuk mencapai ma’rifatullãh.[17] Kasyf  dihasilkan oleh cinta (hubb) Allah.[18]  Cinta Allah merupakan hasil dari dzikrullãh[19]. Ma’rifat, istiqãmah raf’u al-Hijãb  adalah karãmah yang paling agung yang didamba setiap sufi dan seseorang yang sedang menempuh jalan menuju Allah. Sumber pokok timbulnya karãmah itu adalah zuhud.[20] Zuhud  berarti rasa menerima  dengan penuh ketulusan semua yang diberikan Allah. Kondisi berpunya dan tidak berpunya dalam hal kekayaan, jabatan dan status sosial diterima dengan perasaan yang sama.[21]
Ma’rifat  adalah pengalaman puncak kesufian,  yang berkenaan dengan perasaan mendalam.   Pengalaman adalah pengalaman  keilahian yang mendalam dimana saat itu ia mengalami fanã’, sebagai hasil dari takhallî  dan  tahallî. .[22]  Seseorang yang mengalaminya  dikaruniai kepercayaan  diri dan keyakinan,  kehidupannya lebih harmonis serta  memiliki pemahaman yang luas terhadap dunia sekelilingnya.  Perilaku keseharian lebih agamis dan kesalehannya  lebih baik dari sebelumnya. 
Keberhasilan  menjalani pengalaman puncak melahirkan  pribadi dengan pengetahuan yang realistis mengenai dirinya, dan kemampuan menerima dirinya apa adanya, dan mencintai sesama manusia.[23] Dia tumbuh menjadi individu yang dapat bergaul dengan orang lain berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan dan meletakkan kepentingan umum di atas segala-galanya. Dia adalah individu yang memiliki pendirian dan berusaha keras untuk memcahkan berbagai persoalan yang dihadapinya. Pengalaman sufistik  pada dasarnya dibentuk oleh kerinduan untuk mengenali Allah dan berhubungan dengan-Nya.
Kerinduan kepada Allah berawal dari kecintaan kepada Allah. Kecintaan lahir sebagai  buah dari  dzikirullãh yang dilakukan secara konsinten.   Dzikirullãh  akan berkembang menjadi penghayatan kehadiran Allah. Pelaku   dzikirullãh  tidak pernah   merasa hidup dalam kesendirian datau kesepian. Dia mendpatkan relaksasi dan memliki ketenagan. Secaa  fungsional  dzikirullãh  dapat  membiasakan hati dekat dan akrab dengan Alah dan berahir paa kecintaan mendalam kepada-Nya. Impliksinya secara  sosial  adalah adanya kedisiplinan dalam menjalankan syariat dan kemantapan pelaku   dzikirullãh  dalam berhubungan dengan sesame, serta hidunya terasa lebih bermakna. [24]
Dzikir atau wiridan tarekat, di awal perkembangan tarekat, [25] memiliki kekuatan tersendiri sampai-sampai   ada  kekhawatiran terhadap pengaruh dzikir kaum sufi yang dapat menyaingi atau bahkan menggantikan masjid sebagai pusat kehidupan keagamaan.  Dzikir  dirumuskan sebagai  metode efektif  yang diterapkan dalam proses pembinaan murid tarekat.   Dzikir yang dilakukan secara berjama’ah dapat memperkokoh tekad, membangkitkan semangat kesalehan dan ketakwaan.[26]  Takwa dalam arti  kesadaran tentang kehadiran Allah yang semakin mendalam.[27]    
Ma’rifat   adalah buah dari kedekatan dengan Allah. Ketika seorang sãlik  telah mencapai derajat tauhîd dan ma’rifat  maka dipastikan ia mendapatkan tujuan akhirnya berupa kebahagiaan, keamanan dan kedamaian. [28] Tujuan sãlik  adalah sampai kepada tujuan akhir sufi yaitu: zakîyat al-Nafs  dan  tashfîyat al-Qalb.[29]  Zakîyat al-Nafs atau kesucian jiwa dapat dipelihara dengan menempuh jalan takwa secara istiqãmah.
Ma’rifat bukan  hasil dari kontemplasi spekulatif tentang Allah, melainkan berkat latihan-latihan spiritual (riyãdhah) dan pensucian jiwa  (tazkîyat al-Nafs) yang dilakukan melalui praktek tarekat.[30]   Ibadah sufi adalah tazkîyat al-Nafs untuk menghubungkan hati dan musyãhadah dengan Allah dengan bantuan Nabi SAW.[31] Tarekat adalah wujud nyata tasawuf yang lebih  bercorak tuntunan hidup praktis sehari-hari.  Tuntunan  kemudian dijadikan  jalan seorang sãlik  untuk menuju Allah dan berada dekat sedekat mungkin  kepada-Nya.
C. METODE PENGEMBANGAN DIRI
Tasawuf melahirkan aliran-aliran yang disebut thariqat (tarekat).[32]  Tarekat, secara amaliah (praksis) tumbuh dan berkembang semenjak abad-abad pertama hijriah dalam bentuk perilaku zuhud  dengan berdasar kepada al-Qurãn dan al-Sunnah. Perilaku zuhud  sebenarnya merupakan perwujudan dari salah satu aspek yang lazim ditempuh dalam tarekat agar dapat sampai kepada Allah, yakni mujãhadah.
Zuhud bertujuan agar manusia dapat mengendalikan kecenderungan-kecenderungan terhadap kenikmatan duniawiah secara berlebihan.  Kelompok orang-orang yang zuhud   kemudian mengambil perkumpulan atas dasar persaudaraan. Mereka lebih mendahulukan amaliah nyata daripada perenungan-perenungan filasafis (kontemplasi atau meditasi). Mereka mempunyai anggota dan tempat pemondokan serta guru khusus yang disebut syekh  atau mursyid.    
Tarekat (tharîqah)   berarti  jalan  atau  metode,  sama seperti syarî’ah, sabîl, shirãth dan manhaj. secara harfiah, kata  tharîqah  berarti sîrah, madzhab, thabaqãt  dan  maslak al-Mutashawwifah. Tarekat yang dimaksudkan adalah jalan para sufi untuk  mendekatkan diri kepada Allah SWT.[33]    Tarekat merupakan perpaduan antara imãn dan islãm dalam bentuk ihsãn.[34] 
Tarekat  dalam pandangan para sufi  merupakan istilah bagi praktek-mujãhadah. Mujahadah  adalah memerangi atau mencegah kecenderungan hawa nafsu dari masalah-masalah duniawi. Mujahadah yang lazim berlaku di kalangan orang ‘awam adalah berupa perbuatan-perbuatan lahiriah yang sesuai dengan ketentuan syari’at. Sementara di kalangan khawash mujahadah dimaknai sebagai usaha keras menuscikan batin dari segala akhlak tercela.  [35] 
Mujãhadah dan riyãdhah  adalah metode para sufi  atau calon sufi  yang dijalani atas petunjuk dari al-Sunnah dan menekankan kesesuaian antara amaliah lahiriah dan amaliah batiniah.[36] Mujãhadah dan riyãdhah  merupakan landasan dalam kerangka mengaktualisasikan kesempurnaan manusia dan jalan yang mesti ditempuh dalam pergerakan mencapai maqãm tertinggi yaitu  ma’rifatullah.  Ma’rifatullãh bukanlah hasil dari kontemplasi spekulatif tentang Allah, melainkan berkat latihan-latihan spiritual (riyãdhah) yang dilakukan melalui praktek tarekat.[37]
Tarekat, sebagai model pembinaan kepribadian, membantu murid-muidnya untuk mencapai pensucian jiwa dan perbaikan diri (takhallî dan tahallî) sebagai media untuk dapat mencapai tujuan  dekat dengan Allah.  Jihãd al-Nafs,  dalam ayat tersebut,  adalah segala bentuk ketaatan terhadap  perintah Allah.[38] Mereka yang bersungguh-sungguh di jalan Allah,   akan diberi kemampuan untuk dapat sampai (wushûl) di hadirat Allah dan akan ditambahkan baginya petunjuk  menuju kebaikan (sulûk al-Khayr). [39]   Mereka berhak memperoleh posisi kebersamaan (ma’îyah) dan kedekatan (qurbah) dengan Allah SWT.[40]
Tarekat adalah wujud nyata tasawuf dan  lebih bercorak tuntunan hidup praktis sehari-hari. Ia adalah jalan seorang sãlik  menuju Allah dengan cara menyucikan diri agar dapat mendekatkan diri sedekat mungkin  kepada Allah. Tarekat   adalah metode, cara atau jalan yang perlu ditempuh untuk mencapai tujuan tasawuf yaitu sampai kepada Allah (wushûl ilã Allãh). Tarekat, dengan demikian, merupakan  model pembinaan kepribadian untuk mencapai pensucian jiwa dan perbaikan diri (takhallî  dan  tahallî) sebagai media para  murid untuk dapat mencapai tujuan  dekat kepada  Allah dengan bimbingan seorang syekh.
Tarekat, bagi masayarakt urban, bisa menjadi counter culture,  budaya tandingan terhadap arus teknologi informasi dan globalisasi yang sedang berkembang. Bagi mereka, tarekat adalah institusi  masyarakat yang sedang mengalami transformasi kehidupan desa atau pedesaan menuju kehidupan kota atau perkotaan yang sedang mengalami benturan budaya dan  menyebabkan culture shochk.  Dengan tarekat mereka bisa survive  dan tidak kehilangan identitas diri. Tarekat, di sisi lain, dinilai telah mampu menampilkan kelembutan wajah Islam yang luar biasa karena karakteristik tarekat yang lebih mendahulukan intuisi dari rasio. Bahkan, ada sisi-sisi sejarah yang menempatkan kelompok tarekat sebagai kelompok umat Islam yang berperan positif-konstruktif. Ia mampu mendorong umat Islam dapat hadir dan kuat di tengah-tengah pergaulan masyarakat perkotaan dengan keperdulian, keterlibatan dan sumbangsihnya bagi kemajuan dengan dasar moralitas, spiritualitas dan jiwa keberagamaan yang kuat.
Tarekat adalah  institusi pembinaan kepribadian yang sangat intens  terhadap proses  pensucian dan perbaikan diri (takhallî  dan  tahallî). Para  murid didalamnya berusaha dngan sungguh-sungguh dapat mencapai kualifikasi kedekatan kepada  Allah dengan bimbingan seorang syekh.  Seorang syekh (mursyid, muqaddam) betugas  membantu  ketercapaian    tazkîyat al-Nafs melalui tahapan-tahapan takhallî  dan  tahallî
D. KEPRIBADIAN MURID TAREKAT
Tujuan tertinggi  pembinaan kepribadian dalam Islam adalah membina individu yang dipersiapkan untuk menjadi khalîfatullãh.   Al-Quran menyatakan  beberapa ciri yang dimiliki manusia sehingga layak menjadi  khalifah.  Pertama,    fitrah manusia yang,  sejak lahir,  baik dan tidak memiliki dosa.  Kedua kebebasan kemauan (irãdah). Ketigaakal yang memungkinkan manusia melakukan pilihan antara baik dan buruk.[41] Ketiga ciri inilah yang memposisikan manusia sebagai khalifah. Khalifah adalah pribadi yang dapat memadukan syariat (islãm) dan hakikat (ihsãn). Khalifah adalah pribadi yang memiliki kebeningan  mata hati (bashîrah) dan kesucian jiwa (zakîyat al-Nafs),  karena kedekatannya  dengan Allah  dan  kemuliaan akhlaknya (itibã’ al-Rasûl wa iltizam a-Syarî’at).
Tarekat merupakan  model pembinaan kepribadian murîd.   Pembinaan kepribadian murid tarekat bertugas menciptakan pribadi yang menghayati dan mengaplikasikan keyakinan yang kuat terhadap semua rukun Islam.  Perilaku kesehariannya memanancarkan  keutamaan dan kemuliaan,  dari kemampuannya menginternalisasikan nilai-nilai syahadat,  shalat,  puasa,  zakat dan haji.  Nilai-nilai syahadat akan melahirkan individu yang memiliki konsistensi kuat terhadap syariat,   karena  telah melakukan ikrar dengan Allah dalam bentuk dua kalimat  syahadat.  Dia tidak mudah menerima pengaruh-pengaruh luar Islam.
Murid  tarekat memiliki  kedamaian hidup (thuma’nînah) sebagai buah  shalat yang dilaksanakan dengan kusyû’. Dia adalah pribadi yang disiplin dan mampu  memanfaatkan waktu untuk hal-hal positif. Penghayatan terhadap nilai  puasa  menampilkan  individu yang  jujur, tidak mudah mengeluarkan ucapan kotor dan kurang bermanfaat.  Dia tumbuh sebagai pribadi yang selalu merasakan  kehadiran Allah (hudhûr) dalam kehidupannya. Setiap tindakan dan perbuatanya mencerminkan kesadaran tentang pengawasan Allah (murãqabah). Dia tidak merasa hidup dalam kesendirian dan merasa selalu dalam kedekatan, keakraban, kebersamaan dan keharmonsan dengan Allah (ma’îyah).  Dia adalah pribadi sederhana, memiliki kepedulian dan empati yang kuat terhadap sesama.
Penghayatan terhadap syariat  zakat  melahikan murid tarekat dengan ciri-ciri  kemuliaan. Dia tumbuh mnjadi pribadi yang  mencintai kebersihan lahiriah dan batiniah.  Syariat zakat mendidik kehati-hatian dalam proses perolehan harta kekayaan.  Dia emprioritaskan proses perolehan kekayaan dan mengkonsumsi yang halal-hal saja, jauh dari nilaiilai haram dan syubhat.  Setiap makanan dan minuman yang halal merupakan upaya mempersiapkan lahirnya generasimuda muslim  yang saleh.
Murid tarekat, dididik oleh syariat zakat menjadi pribadi yang   memiliki kompetensi dalam pemanfaatan kekayaan.  Setiap muslim yang taat zakat memiliki karakter dermawan, tidak suka menumpukkan kekayaan, memiliki kepekaaan, kepedulian dan empati terhadap kesusahan orang lain yang sengsara. Dia berani dengan penuh keikhlasan menanggung penderitaan orang lain.
Rukun Islam yang kelima adalah ibadah haji.  Ibadah haji didalamnya terdapat ibadah ‘aqlîyah, jasmãnîyah, dan mãlîyah karenanya  ibadah haji merupakan  lambang atau simbol dari  puncak keislaman seseorang. Ibadah haji adalah lambang keharmonisan aspek jasmaniah dan aspek ruhaniah dalam berkhidmat kepada Allah SWT, baik dalam melaksanakan tugas sebagai hamba dan fungsi sebagai khalifah Allah.
D. PENUTUP  
Agama shufi adalah wirid yang diciptakan oleh syekh dan dianggap sebagai ibadah. dizkir kalimat tahlil لا إله إلا الله adalah dizkir umum. Sedangkan dzikir khusus yait melafalkan kalimat الله diposisikan lebih utama daripada membaca al-Quran.[42]   Meskpiun berbeda-beda nama dan masing-masing mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri akan tetapi tarekat para sufi seperti  al-Syãdzalî, al-Rifã’î, al-Tijãnî, al-Qãdirî, al-Naqsyabandî dan lain-lain memiliki tujuan  satu[43]     
Mendawamkan dzikir didalam tarekat diyakini sebagai cara efektif untuk mencapai kedekatan  (qurb) dengan Allah. Seluruh tarekat sepakat bahwa, mendawamkan dizkir akan membuahkan kebersihan sir.  Ketika sir  telah mendapatkan kejernihannya maka ia akan mendapatkan posisinya di hadirat Allah.[44] Apabila seorang selalu dizkrullãh maka dia akan mendapatkan penampakkan sifat-sifat Allah dan  lezatnya  sirna kedalam wujud-Nya, baik  materi dan immateri.   Haqîqat  adalah buah dari tharîqat  seperti persaksian terhadap nama-nama, sifat-sifat dan dzat Allah.[45]   
Al-Naqsyabandîyah didirikan oleh Bahauddin Muhammad bin Muhammad al-Bukhari (618-791 H.). Menyebar di Persia, India dan Asia Barat.[46]     Memiliki kekhasan dalam hal dzikir, khalwat dan karamah.[47]     Muhammad bin Sulayman al-Baghdadi al-Naqsyabandi, menegaskan, nyatakanlah ilmu, kasyf, syuhûd dan ‘irfãn dengan tajribah. Sesungguhnya, tarekat naqsyabandiyah merupakan tarekat paling efektif dan paling mudah bagi murid yang hendak mencapai derajat tauhid, karena fondasi naqsyabandiyah adalah jadzb dalam sulûk. Inilah tujuan tasawuf yaitu wihdat al-Wujûd.[48] 
Dzikir sufi mengutamakan dzikir ifrãd dengan melafalkan kalimat الله الله الله atau هو, هو, هو . Ada juga yang mendawamkan  sholawat.[49] Sudah menjadi kesepakatan setiap tarekat memandang pentingnya dzikir. Tarekat Naqsyabandi memformulasikan dzikir dengan cara menyebut nama    Allah       الله  berbeda dengan al-Syadzaliyah yang melafalkan kalimat laa ilaaha illa allah لا إله إلا الله.  Tarekat Naqsyabandi mengutamakan dzikir lafal Allahu.[50]
Dzikir nafyi itsbãt yaitu dizkir  لا إله إلا الله.  Dzikir ini dilakukan dengan melafalkan lafal jalãlah didalam hati dengan kekuatan yang akan membakar seluruh hawa nafsu. Dzikir ini bila dilakukan dengan benar sebanyak 21 kali maka akan mendatangkan keberkahan sebagaimana dijanjikan oleh para syekh al-Naqsyabandi yaitu: istighraq dan persaksian (syahãdah) atau melihat Allah.[51]  . Cara melakukan dizkir ini harus dimulai dengan kalimat إلهي أنت مقصودي ورضاك مطلوبي  Setelah itu meningkat ke tahapan dizkir suluk yaitu dizkir لا إله إلا الله sebanyak 5.000 kali dalam  sehari semalam.[52] 
‘Abd. al-Majîd Muhammad al-Khãnî al-Naqsyabandî menyatakan, murid yang sebenarnya ketika sibuk dizkrullah dengan ikhlas akan tampak kepadanya  hal-hal ajaib dan khawãriq yang aneh-aneh sebagai buah perbuatannya dan juga karunia Allah SWT  berupa kedamaian hati atau  keharmonisan hidup.   Murid yang selalu dizkrullah sepanjang siang dan malam selama lebih dari 20 tahun akan mendapatkan apa yang telah diperoleh Syekh ‘Abd. al-Qãdir al-Jaylãnî berupa keluar biasaan.[53] 











[1] al-Jaylãnî, ‘Abd. al-Qãdir,  al-Ghunyah li Thãlib Tharîq al-Haq , Beirut, al-Maktabah al-Mishrîyah, 2007, hal. 240.
[2] al-Jaylãnî, ‘Abd. al-Qãdir,  al-Ghunyah li Thãlib Tharîq al-Haq , hal. 240.
[3]  al-Jaylãnî, ‘Abd. al-Qãdir,  al-Ghunyah li Thãlib Tharîq al-Haq, Beirut, al-Maktabah al-Mishrîyah, 2007, hal. 240.
[4] al-Rãzî, al-Imãm Fachr al-Dîn Muhammad  bin ‘Umar al-Tamîmî al-, Mafãtîh al-Ghayb,  Beirut, Dãr al-Kutub al-‘Ilmîyah, 2000, juz 23, hal. 25
[5] al-Baydhãwî, Anwãr al-Tanzîl wa Asrãr al-Ta’wîl, Juz I, hal. 324.
[6] al-Rãzî, Mafãtîh al-Ghayb,  juz 23, hal. 25
[7] Friedman, Hiward S dan Miriam W. Schustack,  Kepribadian Teori Klasik dan Riset Modern, terj., Fransiska Dian Ikar ini, dkk., Jakarta, Erlangga, 2008,  hal. 351
[8] al-Kasyãni, A. Razãq,  Lathãif al-‘Ilm fi Isyãrat Ahl al-Ilhãm, Dãr al-Kutub al-Mishrîyah, hal. 379
[9] Hadziq, Abdullah, Rekonsiliasi Psikologi Sufsitik dan Humanistik, Semarang, Rasail, 2005, hal. 98.
[10] al-Naqsyabandî, Ahmad al-Kamsyakhãwãnî  Jãmi’ al-Ushûl fî al- Awliyã’ wa Anwã’ihim wa Awshãfhim wa Ushûl Kull Tharîq wa Muhimmãt al-Murîd wa Syurûth al-Syaykh, Mesir,  Dãr al-Kutub al-‘Arabîyah al-Kubrã, t.th.,  h. 125.
[11] al-Naqsyabandî, Jãmi’ al-Ushûl, h. 310.
[12] al-Naqsyabandî, Jãmi’ al-Ushûl, hal. 125
[13]Abdul Hakim Hasan, al-Tashawwuf fi al-Syi’r  al-‘Arabi, h. 20
[14] Sayuthi, Mahmud, Politik dan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Jombang Hubungan Agama, Negara dan Masyarakat,  Yogjakarta, Galang Printika, 2001, hal. 6 dan 209
[15] al-Husayni, Iqâdz al-Himam,  hal. 210.
[16] Farîd,  al-Tazkîyah bayn Ahl al-Sunnah wa al-Shufîyah,  hal. 23-24.
[17] al-Ghazãlî,  Ihyã’ ‘Ulûm al-Dîn,  Juz I, hal. 11
[18] al-Ghazãlî,  Ihyã’ ‘Ulûm al-Dîn,  Juz IV, hal. 54
[19] al-Ghazãlî,  Ihyã’ ‘Ulûm al-Dîn,  Juz III, hal. 247
[20] al-Husaynî, Îqãdz al-Himam,  hal. 208
[21] al-Husaynî, Îqãdz al-Himam,  hal. 101
[22] Goble, Mazhab Ketiga Psikologi Humanistik Abraham Maslow,  hal. 210.
[23]  Friedman, Kepribadian Teori Klasik dan Riset Modern, hal. 350.
[24] Bastaman, Hanna Djumhana, Integrasi Psikologi dengan Islam, Yogjakarta, Pustaka Pelajar, 1995, hal. 160-161.
[25]  Gibbs,  Mohammedanisme,  terj., Jakarta, Bhatara, 1960, hal. 113-114.
[26] al-Najar, Amir,  Psikoterapi Sufistik dalam Kehidupan Modern,  terj. Ija Suntana, Bandung, Mizan, 2002,  hal. 36
[27] al-Najar,  Psikoterapi Sufistik,  hal. 60
[28] al-Najar,  Psikoterapi Sufistik,  hal. 44
[29]  al-Najar,  Psikoterapi Sufistik,  hal. 187
[30] al-Palimbani, Abd. Shamad,  Syar al-Sãlikin,  J. IV, h. 103.
[31] Farîd,  al-Tazkîyah bayn Ahl al-Sunnah wa al-Shufîyah,  hal. 23-24.
[32] Yaqub, Hamzah,Tingkat Ketenangan dan Kebahagiaan Mu’min, Jakarta, Radar Jaya, 1992, h.39.
[33] Anis, Ibrahim,  al-Mu’jam al-Wasith,  Beirut, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, h. 556.
[34] Nashr, Sayyed Hussein, Living Sufisme,  terj.  Jakarta, Pustaka, h. 63.
[35]al-Kamsyakhãwãnî al-Naqsyabandî,  Jãmi’ al-Ushûl fî al- Awliyã’ wa Anwã’ihim wa Awshãfhim wa Ushûl Kull Tharîq wa Muhimmãt al-Murîd wa Syurûth al-Syaykh  h. 125.
[36]Ahmad al-Kamsyakhãwãnî al-Naqsyabandî,  Jãmi’ al-Ushûl fî al- Awliyã’ wa Anwã’ihim wa Awshãfhim wa Ushûl Kull Tharîq wa Muhimmãt al-Murîd wa Syurûth al-Syaykh, Mesir,  Dãr al-Kutub al-‘Arabîyah al-Kubrã, t.th.,  ,  h. 310.
[37] al-Palimbani, Abd. Shamad,  Syar al-Sãlikin,  J. IV, h. 103.
[38] al-Rãzî, al-Imãm Fachr al-Dîn Muhammad  bin ‘Umar al-Tamîmî al-, Mafãtîh al-Ghayb,  Beirut, Dãr al-Kutub al-‘Ilmîyah, 2000, juz 23, hal. 25
[39] al-Baydhãwî, Anwãr al-Tanzîl wa Asrãr al-Ta’wîl, Juz I, hal. 324.
[40] al-Rãzî, Mafãtîh al-Ghayb,  juz 23, hal. 25
[41] Langgulung, Hasan,  Manusia dan Pendidikan,  Jakarta, al-Husna,  1995, hal. 57-58.
[42] al-Fawzan, Shalih bin Fawzan bin ‘Abdullah, Haqiqat al-Tasawuf wa Mawqif al-Shufiiyah min Ushul al-‘Ibadah wa al-Din, hal. 17
[43]  al-Qasim, Mahmud ‘Abd. Al-Rauf, al-Kasyf ‘an Haqiqat al-Shufiyah, hal. 9. 
[44] al-Qasim, al-Kasyf ‘an Haqiqat al-Shufiyah, hal. 371
[45] al-Qasim, al-Kasyf ‘an Haqiqat al-Shufiyah, hal. 377
[46] Bakir, Abu ‘Azayim Jad al-Karim, Thalai’  al-Tashawuf, hal 27-28
[47] al-Qasim, Mahmud ‘Abd. al-Rauf, al-Kasyf ‘an Haqiqat al-Shufiyah, hal.378.
[48] al-Qasim, Mahmud ‘Abd. al-Rauf, al-Kasyf ‘an Haqiqat al-Shufiyah, hal.378.
[49] Bakir, Abu ‘Azayim Jad Al-Karim, Shuwar Min Al-Tashawuf,  hal. 11-12
[50] Bakir, Abu ‘Azayim Jad al-Karim, Thalai’  al-Tashawuf, hal. 27-28.
[51] al-Qasim, Mahmud ‘Abd. al-Rauf, al-Kasyf ‘an Haqiqat al-Shûfiyah, hal.319-320
[52] al-Qasim, Mahmud ‘Abd. al-Rauf, al-Kasyf ‘an Haqiqat al-Shûfiyah, hal. 322
[53] al-Qasim, Mahmud ‘Abd. al-Rauf, al-Kasyf ‘an Haqiqat al-Shûfiyah, hal. 431

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.