Rabu, 24 Februari 2016

MENGENALI SITUS BERSEJARAH

Aku lulus dan mendapatkan ijazah SD Negeri 2 Sumber  Cirebon pada bulan  Desember 1976 M.  Akhir bulan itu aku pergi ke Pesantren Babakan Ciwaringin ikut mengantarkan teman (tetangga depan rumahku) yang ingin nyantri di Pesantren Roudhotut Tholibin Babakan Ciwaringin.[1] Layaknya pengantar calon santri baru, aku pun ikut mengiringi temanku menghadap dan meminta restu para kyai serta tidak lupa minta diterima menjadi santri baru, sebelum nantinya kami pun harus melakukan pendaftaran secara administrative di kantor pesantren. Diantara para kyai yang kami kunjungi adalah (almarhum) KH. Masduki Ali.[2] Setelah berceita romantika calon santri baru sambil  memandangiku akhirnya belaiu bertanya “ Teja, apakah kamu nanti kerasan?  Mengingat usia dan postur tubuhku waktu masih sangat kecil menurut beliau sebaiknya  aku berfikir ulang dan harus lebih menguatka tekad. Namun, alhamdlillah, aku dikaruniai kekuatan untuk krasan dan betah nyantri di pesantren  Babakan Ciwaringin sampai degan tamat MAN Babakan Ciwaringin (Juni 1983).
Tradisi yang diberlakukan oleh santri-santri senior kepada para santri baru adalah tradisi plontos sebagai bukti sang santri diterima sebagai santri. Para santri senior di pondok C umumnya dan sahabat-sahabat yang kebetulan satu desa dengan saya juga menganjurkan saya untuk cukur plontos. Bahkan mereka sempat berkomentar bahwa, berani-beraninya Tejo menghadap KH. Masduki dengan rambut gondrong apalgi calon santrri baru. Tetapi, tradisi itu tidak berlaku bagi saya. Bahkan ketika mulai mengikuti pembelajaran di MHS  pun rambutku masih gondrong.  Ruang belajar yang pertama kali aku masuki adalah Madrasah Hikamus Salafiyah (MHS).
Beberapa hari kemudian, aku diberi kesempatan mendaftar dan diterima di MTs Negeri Babakan Ciwaringin. Beberapa nama yang sangat berkesan ketika mengalami pembelajaran di MTs Negeri antara lain: KH. Fuad Amin (guru Nahwu  dan pengasuh santri dalam Ushul Fiqh (waraqat), nahwu (alfiyah), fikih (Fathul Mu’in) dan alhaq (‘Idzotun Nasyiin), Ny. Hj. Fariah Amin (guru Qowa’id), Drs. H. Azhari Amin, KH. Sulaiman (guru fikih), Drs. Karyadi (guru Nahwu dan Bahasa Arab), Drs. KH. Mudzakir (guru Hadits), Dra. Mukminah (guru akhlaq), Drs. Sukarma (Guru Bahasa Indonesia). Disamping itu ada beberapa teman yang sampai sekarang sedikit banyaknya berperan dalam proses pembentukan karakter kesantrian saya. Sebut saja sahabat Isroil Lathief, Dadang Hamidi, dan Kosasih, serta guru-guru pendidikku  di pesantren seperti Kang Hasan (Perbutulan), Kang Baedlowi (Sumber), Kang  Sambudi Jengkok (almarhum), dan juga Kang Jaelani (Jengkok Kertasemaya).
MENGENAL SITUS SYEKH QURRO
Aku lulus ujian di MTs Negeri Ciwaringin di akhir tahun 1979 M. Tetapi, Mendiknas Daud Joesoep waktu itu memberlakukan tahun ajaran baru dimulai bulan juli dan akhir tahun pelajaran berakhir di bulan juni. Seluruh pelajar se Indonesia waktu itu dibiarkan “menganggur” setelah ujian selama kurang lebih enam bulan. Selama itu pula tidak mendapatkan ijazah tanda kelulusan ujian akhir kelas tiga SD, SLTP dan SLTA. Selama kurang lebih enam bulan kami  habiskan waktu di pesantren untuk mengikuti pengajian kitab kuning sesekali kami mengisi “liburan” dengan melakukan perjalanan ke rumah teman-teman satu pesantren.
Kepala MTs Negeri yang kebapa-an. Drs. KH. Sama’un Bakry adalah Kepala MTs Negeri Ciwaringin periode 1976-1979. Selama kami menimba ilmu pengetahuan di madrasah yang penuh nostalgia itu, kami mendapatkan kasih sayang seorang ayah dari guru dan sekaligus Kepala Madrasah. Perhatian dan pembinaan yang tulus sangat kami rasakan dan berkesan sampai kami sama-sama dewasa. KH. Samau’n Bakry adalah guru sewaktu kami di MTs Negeri dan juga dosen bahasa Arab ketika kami studi lanjut di IAIN SGD Cirebon. Suatu hari di saat liburan akhir semester, kami berempat mewakili  aktvis Pramuka (Isroil Lathief, Dadang Hamidi, Syekhul Imam dan saya) mengajukan permohonan untuk melakukan long march  berjalan kaki dari Cirebon ke Merak Banten. Spontan bapak kepala madrasah mengurus surat jalan/pemberitahuan ke Kapolres 851 Kotamadya Cirebon. Menjelang keberangkatan kami berempat diundang  untuk bermalam di rumah kediaman beliau. Kami bermalam di rumah bapak kepala. Bapak kepala sekluarga menyambut hangat dan memberikan semangat kepada kami yang hendak melakukan perjalanan panjang dengan berjalan kaki. Alhamdulillah, kami pun berhasil menyelesaikan long march  Cirebon Merak selama kurang lebih tujuh hari tujuh malam.
Situs pertama yang kami datangi selama perjalanan Cirebon-Merak adalah zitus makam di Gunung Jati Cirebon. Kami diajak oleh juru kunci untuk memasuki komplek pemakaman dan memasuki sebuah goa yang disebut  puser bumi. Seharian kami berjalan kaki menempuh jarak sekitar 45 Km. Malam pertama kami bermalam di Pendopo Kabupaten Indramayu. Kami, malam itu, diajak oleh salah seorang pegawai Bupati menikmati suasana malam hari ibu kota Indramayu dan kami, yang nota bene santri pesantren tradisional merasa sangat tersanjung. Kami pun diperlakukan dengan hormat layaknya seorang tamu penting. Kami diajak makan di sebuah restoran di wilayah ibu kota. Keeseokan paginya kami pun melanjutkan perjalan kea rah Merak dengan menelusuri jalanan pantura.  Sepanjang salan kami berempat selalu jalan beriringin dan sesekali kami mendendangkan lagu kesukaan masing-masing secara bergantian. Sang pemuja Ebiet G. Ade selalu mendendangkan lagu perjalanan. Album pertama lagu-lagu Ebit pertama kami kenal di tahun 1979.
Atas usul dan saran sahabat Dadang Hamidi (Gempol Jatisari Karawang) perjalanan kami singgah di stus Makam Syekh Qurro di Karwang. Kami sampai di lingkungan makam di sore hari Kamis. Di sana kami diajak juru kunci untuk memasuki komplek makam dan melakukan tahlilan di depan kuburan sang syekh. Mengapa juru kunci mengiizinkan kami melakukan tahlilan di depan kuburan sang syekh ? Ternyata alasannya sangat sederhana sekali, yakni karena kami wong Cerbon.






[1] Tujuan awal saya waktu pamit kepada orang tua adalah Cuma sekadar mengantar teman yang mau esantren. Akan tetai, justru saya yang betah dan berlanjut mesantren sedangkan temanku Cuma satu minggu kemudian boyong.
[2] KH. Masduki,  kepada beliau aku belajar langsung Tashrifan setiap bakda shalat shubuh. Selain aku pun mengikuti penajian bandongan kitab Fathul Qorib tiap bakda ashar. Kami belajar langsung al-Quran dan Tafsir al-Jalalayn kepada KH. Fathoni Amin, kepada KH. Amrin Hannan kami belajar kitab-kitab fiqh, kepada KH. Fuad Amin kami belajar Alfiyah ibnu Malik, al-Waraqat, Fath al-Mu'in, 'Idzaton Nasyiin,. KH. Mukhtar adalah guru kami yang ikhlas mengajarkan kami kitab: Kifayat al-Akhyar, Fath al-Mu'in, Bughyat al-Mustarsyidin. KH. Halin Halim adalah pembimbing kami  melaksanakan Hadyuwan  secara  istiqomah setiap malam Jum'at di kediaman beliau. Beliau pula yang membimbing kami setiap usaia shalat Jum'at melakukan tahlilan di komplek kuburan KH. Amin Sepuh Babakan Ciwaringin. Tradisi hadyuwan  sampai sekarang kami lestarikan di rumah kediaman kami  yang diikuti oleh para remaja, pemuda, dan juga orang dewasa setiap malam Jum'at.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.