Rabu, 24 Februari 2016

KEPRIBADIAN MURID TAREKAT SYATHARIYAH

KEPRIBADIAN MURID TAREKAT
Studi terhadap Pembinaan Kepribadian Murid
Tarekat Syathariyah  Benda Kerep Kota Cirebon







 













Oleh:
S   U   T   E   J   A
NIP. 19630305 199903 1 001











KEMENTRIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
IAIN SYEKH NURJATI CIREBON
2015 M./ 1436  H.



DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I              PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah                                                                        1
B.      Perumusan Masalah                                                                  4
C.      Perrtanyaan Penelitian                                                              5
D.     Tujuan Penelitian                                                                       5
E.      Kerangka Pemikiran                                                                  5
F.      Kegunaan Penelitian                                                                  8
G.      Langkah-langkah Penelitian                                                      9
BAB II             POLA PEMBINAAN  KEPRIBADIAN MURID TAREKAT  
A.       Kepribadian Perspektif Psikologi                                              13
B.    Kepribadian Muslim                                                                       17
C.   Pembinaan Kepribadian Islami                                                  25
D.   Pola Hubungan Guru-Murid Tarekat                                         31
BAB III            PROSEDUR PENELITIAN
A.        Metode Penelitian                                                                           45
B.     Sumber Data                                                                                    46
C.        Tahapan Penelitian                                                                       47
D.       Teknik Pengumpulan Data                                                          49
E.        Teknik Analisis Data                                                                      50
BAB IV            POLA PEMBINAAN KEPRIBADIAN MURID
                          TAREKAT SYATHARIYAH BENDA KEREP KOTA CIREBON
A.      Proses Pembinaan Kepribadian Murid                                    53
B.      Tujuan Pembinaan Kepribadian Murid                                   54
C.      Hasil-hasil Pembinaan Kepribadian Murid                             55


BAB V             PENUTUP
A.      Kesimpulan                                                                                      61
B.      Rekomendasi                                                                                61



























BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang Masalah
Tasawwuf bemula dari amalan-amalan praktis, yakni laku mujãhadah dan riyãdhah. Para sufi tidak akan sampai pada tujuannya terkecuali dengan laku mujãhadah yang dipusatkan untuk mematikan segala keinginannya selain kepada Allah, menghancurkan segala kejelekannya dan menjalankan bermacam riyãdhah yang diatur dan ditentukan oleh para sufi sendiri.[1]
Tarekat (tharîqoh) secara bahasa  berarti  jalan  atau  metode,  sama seperti syarî’ah, sabîl, shirãth dan manhaj. secara harfiah, kata  tharîqoh  berarti sîrah, madzhab, thabaqât  dan  maslakul mutashawwifah. Tarekatyang dimaksudkan adalah jalan para sufi.[2] Jalan itu adalah jalan untuk mencapai tingkatan-tingkatan (maqâmât) dalam usaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. Melalui cara ini seorang sufi dapat mencapai tujuan peleburan diri (fanâ’) dengan al-Haq (Allah). Dalam ungkapan lain, tarekat diartikan sebagai jalan yang khusus diperuntukkan bagi mereka yang mencari Allah di sini dan kini. Tarekat merupakan perpaduan antara iman dan islam dalam bentuk ihsãn.[3]
Tarekat  dalam pandangan para sufi  merupakan istilah bagi praktek  mujâhadah.[4] Mujâhadah dan riyâdhah  adalah metode para sufi  atau calon sufi  yang dijalani atas petunjuk dari al-Sunnah dan menekankan kesesuaian antara amaliah lahiriah dan amaliah batiniah.[5]  Mujâhadah dan riyâdhah  merupakan landasan dalam kerangka mengaktualisasikan kesempurnaan manusia dan jalan yang mesti ditempuh dalam pergerakan mencapai maqam tertinggi yaitu  ma’rifatullâh.  Al-Ghazâlî memandang ma’rifatullâh bukanlah hasil dari kontemplasi spekulatif tentang Allah, melainkan berkat latihan-latihan spiritual (riyãdhah) yang dilakukan melalui praktek tarekat.[6] Tarekat, dengan demikian, merupakan  model pembinaan kepribadian untuk mencapai pensucian jiwa dan perbaikan diri (takhallî dan  tahallî) sebagai media para  murîd untuk dapat mencapai tujuan  dekat dengan Allah.
Tarekat, secara amaliah (praksis) tumbuh dan berkembang semenjak abad-abad pertama hijriah dalam bentuk perilaku zuhud  dengan berdasar kepada al-Quran dan al-Sunnah. Perilaku zuhud  sebenarnya merupakan perwujudan dari salah satu aspek yang lazim ditempuh dalam tarekat agar dapat sampai kepada Allah, yakni mujãhadah. Zuhud bertujuan agar manusia dapat mengendalikan kecenderungan-kecenderungan terhadap kenikmatan duniawiah secara berlebihan.  Kelompok orang-orang yang zuhud   kemudian mengambil perkumpulan atas dasar persaudaraan. Mereka lebih mendahulukan amaliah nyata daripada perenungan-perenungan filasafis (kontemplasi atau meditasi). Mereka mempunyai anggota dan tempat pemondokan serta guru khusus yang disebut syaykh  atau mursyid.    
Tasawuf melahirkan thariqat (tarekat).[7] Tarekat Naqsyabandiyah sudah dikenal di Indonesia sejak abad ke-17 Masehi tetapi baru benar-benar menjadi populer pada akhir abad ke-19 Masehi.[8]  Tarekat Syattariyah juga tercatat sebagai tarekat yang jauh lebih disukai murîd-murîd Ahmad al-Qusyasyi (w. 1660 M.) dan Ibrahim bin Hasan al-Kurani (1615-1690 M.) di Indonesia, karena berbagai gagasan menarik dari kitab Tuhfah  menyatu dengan tarekat ini. Ia merupakan tarekat yang mempribumi karena mudah berpadu dengan tradisi setempat.[9]
Sejak dahulu Cirebon  selalu menjadi pusat tasawuf dengan sinkretik yang kuat. Banyak pesantren-pesantren kecil di sini mengajarkan tarekat Syattariyah dan Naqsyabandiyah.[10]  Pesantren Benda Kerep (berdiri 1940 Masehi) di Kelurahan  Benda Kecamatan Harjamukti  Kota Cirebon. Pesantren Benda Kerep tercatat memiliki ciri yang berbeda satu dengan lainnya. Disamping itu, dikenal sangat berpengaruh karena merupakan pusat penyebaran tarekat syattariyah; sebagai model aktualisasi diri para murîd  tarekat di kalangan pesantren dan warga nahdhiyyin.  
Tarekat Syattariyah Pesantren Benda Kerep memiliki anggota pengamal atau jama’ah sejumlah 107 orang santri  dari jumlah keseluruhan (310 santri).  Mereka  adalah para santri putra dan santri putri yang  berusia antara 12 sampai 19 tahun.[11] Pola pembinaan santri tarekat   ini, menurut KH. Miftach, ditempuh dengan berbagai macam metode. Pertama,  penanaman nilai-nilai kesejatian hidup. Keduamujâhadah dan riyâdhah. Ketiga,  pembinaan wawasan keilmuan. Perilaku mujâhadah dan riyâdhah  dilakukan dengan cara bimbingan wirid atau ritual ketarekatan.  Adapun pembinaan wawasan keilmuan ditempuh melalui proses pembelajaran kitab-kitab klasik.[12]
Pembinaan murîd  adalah  usaha membantu ke arah pengembangan kepribadian lebih baik. Kepribadian yang dimaksud[13] adalah sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain. Kekhasan itu adalah integrasi  karakteristik dari pola tingkahlaku, minat, pendirian, kemampuan dan potensi yang dimiliki seseorang.  Pembinaan kepribadian yang baik adalah pembinaan yang dapat memenuhi kebutuhan seluruh  aspek kepribadian secara imbang dan harmonis. Aspek-aspek kepribadian meliputi aspek jasmani dan ketrampilan fisik, pengetahuan, dan mental atau ruhani. Atau fungsi kognitif, afektif dan konatif yang  akan membantu seseorang dapat memahami dan meyakini pengalaman keagamaan.[14]
Pemahaman murîd  tarekat terhadap ajaran Islam kemudian sangat mempengaruhi kualitas keyakinan dan pengamalan keagamaan dalam kesehariannya. Sebagai seorang muslim, murîd  tarekat  seyogyanya dapat menecerminkan  diri sebagai individu yang kepribadian muslim. Pribadi  muslim adalah individu yang meyakini dan mengamalkan rukun-rukun Islam (syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji)  secara istiqomah dalam kesehariannya. Karenanya, pembinaan kepribadian murîd  ketiga tarekat tersebut merupakan bantaun bagi murîd tarekat untuk dapat menjadi pribadi muslim. Pribadi yang dari dalam dirinya tercermin penghayatan dan keyakinan yang kuat terhadap semua rukun Islam dimaksud. Sehingga dalam kesehariannya terpancar keutamaan dan kemuliaan dari kemampuannya menginternalisasikan nilai-nilai syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji.
Data awal menjukkan bahwa pembinaan kepribadian murîd tersebut lebih mengutamakan pembinaan aspek ruhani atau mental, sedangkan pembinaan aspek jasmaniah dan ketrampilan fisik sangat diabaikan. Sementara pembinaan aspek pengetahuan atau wawasan menempati urutan kedua. Persoalannya kemudian adalah, apakah model pembinaan kepribadian murîd tarekat tersebut merupakan model pembinaan kepribadian yang sesuai  untuk melahirkan  pribadi-pribadi  muslim
B.   Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah pokok yang dikaji dalam disertasi ini adalah model pembinaan kepribadian   murîd  Tarekat Syattariyah. Apakah model pembinaan tarekat tersebut dipandang mampu menciptakan murîd-murîd yang memiliki kepribadian muslim?

C.   Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka masalah pokok yang dikaji dalam disertasi ini adalah model pembinaan kepribadian   murîd  Tarekat Syattariyah. Apakah model pembinaan tarekat tersebut dipandang mampu menciptakan murîd-murîd yang memiliki kepribadian muslim? Ataukah, model pembinaan tarekat tersebut dapat  dipandang sebagai model pembinaan  kepribadian muslim ?
D.  Pertanyaan Penelitian
1.      Bagaimanakah Proses Pembinaan Kepribadian Murîd Tarekat   Syattariyah di Pesantren Benda Kerep Harjamukti Kota Cirebon ?
2.      Apakah Tujuan  Pembinaan Kepribadian Murîd Tarekat   Syattariyah di Pesantren Benda Kerep Harjamukti Kota Cirebon ?
3.      Bagaimanakah Hasil Pembinaan Kepribadian Murîd Tarekat   Syattariyah di Pesantren Benda Kerep Harjamukti Kota Cirebon ? 
E.   Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan:
1.    Proses  Pembinaan Kepribadian Murîd Tarekat   Syattariyah di Pesantren Benda Kerep Harjamukti Kota Cirebon ?
2.    Tujuan  Pembinaan Kepribadian Murîd Tarekat   Syattariyah di Pesantren Benda Kerep Harjamukti Kota Cirebon ?
3.    Hasil Pembinaan Kepribadian Murîd Tarekat   Syattariyah di Pesantren Benda Kerep Harjamukti Kota Cirebon ? 
F.   Kerangka Pemikiran
   Al-Qurân dan al-Sunnah  memiliki perhatian khusus bagaimana setiap individu manusia  berkembang menjadi pribadi dewasa  yang sehat secara mental. Kesehatan mental itu sendiri pada dasarnya bergantung kepada kemampuan seseorang melakukan adaptasi.Kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan merupakan dinamika kepribadian seseorang individu. Adaptasi merupakan organisasi yang dinamis serta  ekspresi dari dorongan-dorongan atau motif yang ada dalam diri seseorang, yang mewakili hati nurani dan kesadaran dirinya. Setiap pribadi  bertugas mengembangkan potensi hati nurani dan kesadaran untuk mencapai titik tertinggi sebagai pribadi yang kuat, pribadi yang dapat menjalani kehidupan dengan damai dan tentram.  Dengan kata lain, setiap individu bertugas melakukan pengkondisian (conditioning) tersalurkannya pembinaan dan pengembangan potensi hati nurani dan kesadaran individu  yang kemudian melahirkan kebebadan berkehendak dan berkreasi. Kondisi sosial yang tepat dibutuhkan untuk mendukung tercapainya aktualisasi diri ke tingkat lebih tinggi.
   Setiap pribadi  pada akhirnya harus menjalani proses aktualisasi diri.  Seseorang yang telah mencapai aktualisasi diri memiliki pengetahuan yang realistis mengenai dirinya dan mampu menerima diri apa adanya (berdamai dengan dirinya sendiri). Dialah orang  yang telah menjalani pengalaman puncak, pengalaman yang umumnya dialami oleh orang yang telah mengaktualisasikan diri sepenuhnya. Pengalaman puncak dapat membantu seseorang mempertahankan kepribadian yang dewasa. Orang seperti ini terpenuhi secara spiritual, nyaman dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain, mencintai dan kreatif, realistis dan produktif.
   Dia adalah individu yang berkemampuan mengembangkan kesadaran diri, hati nurani, kebebasan berkehendak, dan  imajinasi kreatifnya, dalam kerangka pembentukan pribadi yang kuat yang  memiliki kebebasan dan dapat menjalani hidup dengan tentram dan damai. Dialah pribadi yang unggul dan paling sehat secara psikologis. Mental yang  sehat [15] ditandai dengan tiga komponen utama yaitu: adanya rasa harga diri, merasa puas dengan peranan dalam kehidupannya, dan terjalin hubungan baik dengan individu atau orang lain.
   Kebutuhan aktualisasi diri (being needs) ini sifatnya lebih personal dan spiritual. Pada pemenuhan kebutuhan di level ini, manusia akan mengalami semacam peak experience, atau pengalaman puncak.  Sehingga pada orang-orang  ideal, pengalaman puncak dapat saja dialami berkali-kali, dengan intensitas yang makin kuat dan lama. Begitu panjangnya proses untuk memenuhi kebutuhan akan aktualisasi diri.
   Manusia dituntut mampu menghubungkan segala perilakunya dengan dimensi spiritual dalam arti lebih menggali kemampuan dirinya dalam dunia spiritual, pengalaman puncak, dan kesadaran  transendental. Karena, potensi tertinggi dari individu adalah didalam dunia spiritual. Hal ini ditunjukkan dengan berbagai pengalaman seperti kemampuan melihat masa depan, pengalaman mistik, pengembangan spiritualitas, pengalaman puncak, meditasi dan berbagai macam kajian yang bersifat parapsikologi atau metafisik. Kepribadian muslim adalah kepribadian yang mengucapkan dua kalimat syahadat, mengerjakan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan ramadhan, dan haji ke baitullah bagi yang mampu. Kepribadian muslim menimbulkan banyak karakter ideal.[16]  Kepribadian muslim menimbulkan banyak karakter ideal sebagai  manifestasi dari masing-masing rukun Islam.
   Tasawuf memandang pribadiyang utuh adalah manusia sempurna atau al-Insân al-Kâmil. Kesempurnaan manusia,[17] karenanya terletak pada kesucian jiwanya, sehingga ia dapat mewujudkan sifat-sifat ilâhîyah (ketuhanan) dalam dirinya dan mencapai titik kulminasi dalam pengalaman spiritualnya. Kesempurnaan jiwanya menjadi cermin Tuhan dalam melihat diri-Nya.
   Manusia sempurna adalah manusia yang telah mencapai tahapan tajallî. Tajallî  sendiri merupakan hasil dari sebuah proses suluk  yang sangat panjang dan berat dalam bentuk takhallî  dan  tahalli. Takhallî dan  tahallî  yang telah  dirumuskan oleh para sufi lazimnya ditempuh  dengan jalan tawbat, wara’, zuhd, shabr, tawakkal, ridhâ’, syukr, hubb, dan musyâhadah.
   Tasawuf, sebagai induk dari tarekat,  adalah ajaran tentang latihan pengendalian diri (mujâhadah al-Nafs) sehingga manusia mencapai kualifikasi jiwa dekat  (qurb)  dan ma’rifat kepada Allah  sebagai hasil puncak dari proses pensucian jiwa (tazkîyat al-Nafs).  Para sufi memiliki cara-cara yang harus dilakukan untuk mensucikan jiwa. Metode ini merupakan serangkaian pengamalan ibadah yang harus dilakukan dengan istiqâmah. Sesuai dengan pengalaman mereka, pengamalan dimaksudmemungkinkan terjadinya transformasi jiwa, dari jiwa yang rendah ke jiwa yang lebih tinggi.  Tasawuf bertugas mengantarkan seorang sâlik  sampai kepada tahap jiwa yang tertinggi.
Kepribadian muslim secara sederhana dapat dikemukakan sebagai  kepribadian yang tunduk dan  patuh untuk  mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat fardhu, menunaikan zakat, berpuasa di bulan ramadhan, dan haji ke baitullah bagi yang mampu.  Kepribadian muslim merupakanmanifestasi dari masing-masing rukun Islam.  Dengan demikian, kepribadian muslim lebih sederhana dan lebih mudah diupayakan dibandingkan dengan kepribadian manusia sempurna yang dicanangkan tasawuf.
G.  Langkah-langkah Penelitian
1. Teknik Pengumpulan Data
a.      Observasi
1). Observasi atau pengamatan alamiah. Pengamatan ini penulis lakukan untuk memperoleh data mengenai murîd tarekat sesuai dengan kondisi alamiah dan  apa adanya sehingga mudah dideskripsikan kondisi yang sebenarnya.
2). Partcipan Observation atau pengamatan partipasi. Pengamatan ini dimaksudkan untuk memperoleh data dengan cara penulis melibatkan diri secara langsung dalam proses pembinaan murîd tarekat di lingkungan pesantren sehingga data hasil penelitian dapat dideskripsikan dan penulis dapat mengalami secara langsung apa adanya mengenai proses pembinaan yang dialami para murîd  tarekat.
3). Unclossed Observation  atau pengamatan secara terbuka. Pengamatan ini dilakukan terhadap semua objek yang diteliti dan tidak terbatas pada objek tertentu saja.
b. Wawancara Mendalam
Teknik ini dilakukan dengan cara melakukan dialog atau tanya jawab secara langsung dengan sumber atau informan, baik murîd  maupun   mursyid, serta pihak-pihak yang terkait dengan penelitian ini. Data yang dibutuhkan adalah masalah persepsi, sikap, dan respon para jama’ah mengenai proses pembinaan kepribadian murîd  tarekat yang sudah berlangsung di Syattariyah di Pesantren Benda Kerep Harjamukti Kota Cirebon selama ini.
Prakteknya di lapangan, wawancara dilakukan dengan berbagai macam cara berdasarkan tujuan yang hendak dicapai. Wawancara terkadang dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan secara langsung dan dijawab secara langsung pula. Wawancara yang dilakukan terkadang bersifat terarah atau terfokus (focused interveiew) dan terkadang bersifat bebas (nondirect interveiew).  Terkadang penulis hanya mengajukan satu pertanyaan  untuk dijawab langsung dan terkadang  memberikan peluang kepada sumber untuk menjawab secara leluasa, tidak hanya menjawab satu pertanyaan yang diajukan.
Wawancara juga dilakukan dengan cara wawancara inividual, wawancara dengan informan kunci, wawancara kelompok dan wawancara kelompok terfokus. Wawancara invidual penulis lakukan seperti dengan murîd  tarekat.  Wawancara dengan sumber atau informan kunci yang penulis lakukan adalah wawancara dengan  murysid. Wawancara kelompok yang pernah penulis coba lakukan dengan beberapa  murîd tarekat dan beberapa kyai kerabat mursyid. Selain itu penulis juga melakukan diskusi terfokus dengan sesama pengamal tarekat dan akademisi yang penulis nilai memiliki pengetahuan tentang tarekat.

    c. Dokumentasi
Dokumen yang diamksud dalam penelitian ini adalah data tertulis tentang  tarekat syattariyah.  Fakta di lapangan menunjukkan dokumen yang dimaksud tidak seluruhnya tercatat dengan baik dan rapih. Sehingga, dokuken dimaksud adalah data yang tertulis atau yang bisa diungkapkan meskipun  tidak tercatat secara baik dan rapih layaknya sebuah dokumen.
Namun demikian dokumen dimaksud sangat membantu mengingat dokumen itu memiliki berbagai funfsi. Dokumen merupakan sumber informasi yang lestari meskipun dokumen itu tidak berlaku lagi. Kedua, dokumen merupakan bukti yang dapat dijadikan dasar untuk menghindari tuduhan atau kekeliruan interpretasi dari luar. Ketiga, dokumen merupakan sumber data yang alami karena ia dapat menjelaskan konteks. Keempat, dokumen itu terkadang relative mudah dan murah karena   dapat diperoleh dengan cuma-cuma. Kelima, dokumen merupakan sumber data yang non-reaktif. Keenam, dokumen  dapat berperan sebagai pelengkap dan dapat memperkaya informasi.
Teknik dokumentasi ini dilakukan untuk mengumpulkan data tentang jumlah murîd,  jama’ah, pengikut pengamal tarekat, ataupun aktivitas jama’ah. Teknik ini juga dilakukan  dengan melakukan pencatatan atau dokumentasi terhadap data yang yang bisa dicatat/didokumentasikan.
2.   Teknik Analisis Data
Lazimnya, penelitian kualitatif ini bertujuan untuk menghasilkan temuan-temuan. Penelitian kualitatif ini lebih mengutamakan kemampuan, ketrampilan dan daya analisis si peneliti sebagai unsur yang sangat penting.[18]  Penelitian yang penulis  lakukan mengarah kepada  tujuan pokok, yaitu menjawab pertanyaan penelitian. Setelah proses pengumpulan data, maka langkah selanjutnya yang penulis  lakukan adalah analisis data secara kualitatif.  
   Analisis data, dalam bagian ini,  merupakan proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi dan dokumentasi. Mengingat penelitian ini adalah penelitian kualitatif, maka analisis datanya bersifat induktif. Dalam penelitian kualitatif,[19]analisis data yang dilakukan berifat induktif berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan kemudian dapat dikonstruksikan menjadi hipotesis atau teori.
            Analisis data adalah proses penyederhanaan data kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan.  Jawaban terhadap masalah penelitian yang dijaukan dalam pertanyaan penelitian, penulis sajikan dalam bentuk uraian deduktif dan induktif dengan menggunakan paparan (description), penjelasan (explanation), dan penfsiran (intrepretation). Dengan demikian,  analisis data dimaksudkan pertama-tama untuk mengorganisasikan data yang terkumpul terdiri dari catatan lapangan.
Hasil akhir seluruh proses penelitian ini kemudian terangkum dalam sebuah kesimpulan akhir. Dengan demikian, penelitian ini berkahir pada sebuah kesimpulan akhir.















[1] Hasan, Abdul Hakim,  al-Tashawwuf fî al-Syi’r  al-‘Arabî, h. 20
[2] Anîs, Ibrãhîm,  al-Mu’jam al-Wasîth,  Beirut, Dãr al-Kutub al-‘Ilmiyah, h. 556.
[3] Nashr, Sayyed Hussein, Living Sufisme,  terj.  Jakarta, Pustaka, h. 63.
[4]Mujãhadah  adalah memerangi atau mencegah kecenderungan hawa nafsu dari masalah-masalah duniawi. Mujahadah yang lazim berlaku di kalangan orang ‘awam adalah berupa perbuatan-perbuatan lahiriah yang sesuai dengan ketentuan syari’at. Sementara di kalangan khawãsh mujahadah dimaknai sebagai usaha keras menuscikan batin dari segala akhlak tercela. (Lihat: Ahmad al-Kamsyakhãwãnî al-Naqsyabandî,  Jãmi’ al-Ushûl fî al- Awliyã’ wa Anwã’ihim wa Awshãfhim wa Ushãl Kull Tharîq wa Muhimmãt al-Murîd wa Syurûth al-Syaykh. Mesir, Dar al-Kutub al-‘Arabiah al-Kubra, t.th.,  h. 125.
[5]Ibid.,  h. 310.
[6] al-Palimbani, Abd. Shamad,  Syar al-Sãlikin,  J. IV, h. 103.
[7] Yaqub, Hamzah,Tingkat Ketenangan dan Kebahagiaan Mu’min, Jakarta, Radar Jaya, 1992, h.39.
[8]Burienessen, Martin Van,  Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat,  Bandung, Mizan, 1999, h. 102
[9]Burienessen, Martin Van,  Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat,  Bandung, Mizan, 1999, h. 194
[10] Bruinessen, MartinVan, Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia,Bandung, Mizan, 1992, hal. 166.
[11]Wawancara penulis dengan KH. Mifatch/mursyid Syattariyah Pest. Benda Kerep Kota Cirebon , Kamis, 8 Februari 2012.
[12]Kitab-kitab yang diajarkan adalah: Ihya’ Ulum al-Din, Fath  al-Mu’in, dan  Dahlan Alfiyah (setiap malam  kecuali malam Selasa dan Ahad), Nadhm al-‘Imriti dan Ta’lim al-Muta’allim (setiap Sabtu malam usai salat Isya) dan Bidayat al-Hidayah dan Risalah al-Mu’awanah  (setiap Senin malam).
[13]Tim Widyatamma, Kamus Psikologi, Jakarta, 20120, hal. 249
[14]Lihat Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama,  Jakarta,  Bulan Bintang, 1970,
[15] Sukmadinta, Nana Syaodin, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2004, hal. 148.
[16]Mujib, Abdul,  Fitrah dan Kepribadian Islam Sebuah Pendekatan Psikologis, Jakarta, Darul Falah, 1999, hal. 196
[17]al-Jîlî, ‘Abd. al-Karîm,al-Insânal-Kâmilfî Ma‘rifat al-Awâkhir wa al-Awâ’il, jilid II, Beirût, Dâr al-Fikr, t.th., hal. 77. Lihat juga Anwâr al-Za‘bi, Masalat al-Marifat wa Manhaj wa al-Bahts ‘inda al-Ghazâlî, Damaskus, Dâr al-Fikr, 2000, hal. 257.
[18]Bachtiar, Wardi,  Metode Penelitian Sosial,  Bandung, Gunung Jati Press, 1998, h. 24.
[19]Saebani, Beni Ahmad, Metodologi Penelitian,  h. 122.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.