Minggu, 28 Februari 2016

ILMU-ILMU KEISLAMAN;

ILMU-ILMU KEISLAMAN;
MELACAK AKAR INTEGRASI KEILMUAN
DI LINGKUNGAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI*
OLEH: SUTEJA

A.   PENDAHULUAN
Sejarah ilmu pada dasarnya nerupakan sejarah pemikiran umat manusia yang terlepas dari persoalan asal usul kebangsaan maupun agama. Sejarah ilmu harus diurut berdasarkan kronologis waktu. Sejarah ilmu mengikuti urutan dan pembagian kurun waktu dari satu zaman ke zaman berikutnya. Zaman tertua dari pertumbuhan ilmu ialah Zaman Kuno yang, menurut The Liang Gie, terbentang antara tahun 4.000 sebelum Masehi sampai tahun 400 Masehi.[1]  Zaman Kuno itu dapat dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, antara  tahun 4.000 -  600  S.M.(Masa Mesir dan Babilon). Kedua, antara  tahun 600   -    30  S.M. (Masa Yunani Kuno), dan ketiga antara tahun 30  S.M.-  400  M.(  Masa Romawi).
Kemunculan ilmu pengetahuan Eropa bermula pada akhir abad keenam (VI) dan kelima (V) sebelum Masehi, ketika failosof-failosof Yunani menempati pantai dan pulau-pula Meditarenian Timur.[2] Pada masa sebelumnya peradaban Mesir Kuno, Mesopotania, India dan Belahan Dunia Barat tidak peduli terhadap ilmu. Di Eropa ilmu mendapatkan kemajuan yang berkesinambungan selama 500 tahun, kendatipun pada sebagian periode tersebut ilmu mendapat perhatian yang lebih sedikit di kalangan elite budaya.
Eropa mulai mengenal karya-karya mereka meskipun melalui cuplikan-cuplikan atau nukilan-nukilan singkat yang dibuat oleh para pengarangyang hidup belakangan. Seleksi-seleksi pun dilakukan sehingga menjadikannya tampak lebih rasional dan lebih ilmiah daripada hanya sekedar pembenaran. Namun demikian, tampaknya para failosof Yunani lebih tertarik kepada penjelasan tentang fenomena pencerahan inderawi daripada mengedepankan Konsep-konsep praktis. Sejak saat itulah, mulai  terjadi keterputusan budaya mitologis dengan kebudayaan mereka sendiri dan budaya kuno yang mendahuluinya.  Dalam keadaan demikian, mereka dipandang telah memposisikan diri sebagai perintis kemajuan ilmu pengetahuan dan sikap ilmiah Eropa modern.


Penghujung abad kelima sebelum Masehi mulai adanya penyelidikan yang lebih canggih. Tetapi, masih berupa penjelasan-penjelasan spekulatif mengenai fenomena akal sehat ketimbang argumen yang benar-benar teknis tentang pengalaman-pengalaman yang muncul. Ada dua disiplin yang dipelajari pada waktu dan mendekati kematangannya, yaitu ilmu kedokteran dan matematika.
Romawi menjelang akhir periode pra-Kristen berhasil memunculkan paradoks bagi para sejarawan ilmu. Karena, perhatian yang besar terhadap berbagai disiplin keilmuan tidak diimbangi dengan kekuatan melahirkan seorangpun ilmuwan dari bangsa Romawi. Keadaan demikian disebabkan asumsi yang naif bangsa Romawi terhadap ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan, bagi mereka, hanya cocok untuk spekulasi yang  bersifat sementara (causal speculation) dan cocok untuk teknik-teknik praktis. Penyebab  lain yang dicoba dianalisis para ahli adalah soal kentalnya tradisi magic  masyarakat Romawi dan sistem perbudakan yang menghambat bagi inovasi undustri.
Peradaban Yunani-Romawi mencapai penggenapan siklusnya pada sekitar tahun 1.000 M. Setengah abad berikutnya di Eropa sering disebut Abad Gelap (A Dark Age).  Di awal abad 11 M. sebagian besar orang terpelajar mengenal dan memahami ilmu kuno. Pada abad ke-12 M. dialami suatu proses pencerahan yang sebagian disebabkan oleh pergaulan dengan peradaban Islam yang lebih tinggi yang terdapat di Spanyol dan Palestina dan sebagian lagi disebabkan oleh  perkembangan berbagai kota dengan kelas atasnya yang melek huruf. Dari periode ini muncullah karangan-karangan spekulatif perdana tentang filsafat alamiah.
Abad ke-13 berdiri universitas-universitas dan zaman kebesaran pengetahuan skolastik. Thomas Aquinas dan Riger Bacon termasuk dalam zaman ini. Akan tetapi, dalam tahun 1350-an Eropa dilanda bencana ekonomi dan sosial. Filsafat alamiah dan fakta-fakta khusus dipelajari terutama yang berhubungan dengan agama.
Kebudayaan Islam adalah kebudayaan yang paling relevan bagi ilmu Eropa.[3] Hal demikian dikarenakan adanya kontak-kontak cultural yang intensif antara negara-negara Arab dengan Eropa Latin pada masa-masa yang menentukan. Penaklukan yang dilakukan oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW mulai abad ke-7 M. hingga abad ke-10 M. telah membuat  bahasa Arab menjadi bahasa kaum terpelajar bagi bangsa-bangsa ‘ajam mulai dari Persia hingga Spanyol. Disamping dibawanya kedamaian dan kemakmuran bagi negeri-negeri yang diduduki, seperti perpustakaan Cordova (Spanyol) yang memiliki 500. 000 buah buku.
Kontak antara Islam dan Eropa Latin, dengan demikian, jelas-jelas berlangsung melalui Spanyol dimana kaum Kristiani dan Yahudi dapat bertindak sebagai perantara dan penterjemah.
Mulai sejak abad ke-12 M. dilakukan penterjemahan secara besar-besaran dari kitab-kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Latin, mulai bidang astrologi dan mistik (tasawwuf) hingga bidang kedokteran dan akhirnya filsafat dan ilmu pengetahuan (sains). Rute lain, meskipun kecil, adalah Italia melalui hubungan dagang Tunisia.
Filsafat dan ilmu yang dikenal di  dunia  Barat dewasa ini berasal dari zaman Yunani Kuno.[4]Filsafat  ilmu  sampai tahun 1990-an telah berkembang begitu pesat sehingga menjadi satu bidang pengetahuan yang amat luas dan sangat mendalam.  Filsafat ilmu   lazim dikenal sebagai sebuah kajian atau disiplin ilmu tentang ilmu pengetahuan yang dikalim sebagai ilmu Eropa.[5]Ilmu  adalah ciptaan bangsa Eropa.  Meskipun   peradaban-peradaban lain memberikan berbagai kontrbusi yang penting kepadanya, dan walaupun di masa kini semua bangsa berpartisipasi dalam penelitian,   ilmu alam secara khas adalah ciptaan Eropa dan koloni-koloni kulturalnya.[6]
 Ilmu Eropa dapat dijelaskan melalui keadaan-keadaan ketika para ilmuwan menggarap   bahan-bahan yang diwarisi selama dua fase berturut-tururt,  fase renaisans dan fase revolusi dalam Filsafat Alam.   Hal itu   mencakup  prinsip-prinsip dasar pengenalan dunia alamiah  (natural world) melalui argumen-argumen demostratif, prinsip yang pertama kali dicapai oleh peradaban Yunani kemudian diadopsi oleh perdaban Islam.
Pada abad ke-17 M. terjadi  perumusan kembali yang radikal terhadap objek-objek, metode-metode dan fungsi-fungsi pengetahuan alamiah (the natural sciences). Objek baru adalah fenomena yang teratur di dunia tanpa sifat-sifat manusiwi dan spiritual. Metode-metode barunya  merupakan penelitian yang kooperatif. Sedangkan fungsi-fungsi barunya adalah gabungan dan pengetahuan ilmiah serta kekuasaan industrial.Target sasaran revalousi ini ialah pendidikan tradisional yanglebih tinggi yang lazim dikenal Skolastik.
Para “nabi” dan tokoh-tokoh revolusioner abad ini adalah Francis Bacon (di Inggris)  dan  Galileo Galilie (di Italia). Mereka memiliki tekad yang sama  terhadap dunia alamiah dan studinya. Mereka melihat  alam sebagai sesuatu yang tidak mempunyai sifat-sifat manusiawi dan spiritual.  Tidaklah mungkin adanya dialog dengan alam.
Tujuan-tujuan penelitian yang masih mempertahankan pengaruh magis dalam idealisasi failosof tradisional digantikan dengan dmoniasi alam demi keuntungan manusia.  Pengetahuan diharapkan akan lebih bermanfaat ketika dihadapkan kepada  perbaikan-perbaikan kecilindustri dan ilmu kedokteran, serta tidak bersifat merusak.
Revolusi dalam filsafat mengubah bentuk ilmu Eropa menjadi sesuatu yang unik. Di masa sekarang filsafat kemudian disuntikkan ke dalam perkembangan ilmu yang sedang tumbuh subur.
Mulanya memang perlahan-lahan, tetapi kemudian aktivitas  sintesis mampu menciptakan satu jenis ilmu baru yang ditandai dengan gaya baru aktivitas sosial dalam bidang penelitian dengan jiwa menciptakan etos kerja yang menentingkan kebaikan umum.Keberhasilan filsafat baru itu terbukti nyata menjalang akhir abad ke-17 M. Namun demikian, lagi-lagi yang mesti dicatat, ilmu Eropa tetap berhutang budi pada keberhasilan-keberhasilan masa lampau dan karakter khususnya yang mempunyai andil pada metafisika dan metode-metodenya.
Dengan berakhirnya Zaman Pencerahan dunia memasuki Zaman Modern mulai abad ke-17 M. Pengertian ilmu yang modern dan berlainan dengan ilmu lama  atau klasik mulai berkembang dalam abad ini. Perkembangan itu terjadi karena perkembangan tiga hal pokok yaitu : (1) perubahan alam pikiran manusia, (2) kemajuan teknologi, dan (3) lahirnya metode ilmiah. Pasa sejarawan menyebut  abad ke-17 M. sebagai the Century of Genius  (abad orang-orang berbakat luar biasa).[7]Gilbert , Kepler, Harvey, Galileo, Boyle, Newton, dan Bacon serta Decrates merupakan orang-orang jenius  yang turut mewarnai dinamika ilmu pengetahuan pada abad ini.
Sejak abad ke-17 M. ilmu sudah memisahkan diri dari Filsafat.Para ilmuwan melakukan kegiatannya tidak saja menggunakan akal atau rasionanya, juga melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat praktis-empiris.Mereka mulai menggunakan teknik observasi yang cermat, percobaan yang diulang-ulang, dan wawancara secara lisan maupun tulisan dalam rangka mengumpulkan pengetahuan ilmiah.
Para ilmuwan Eropa sejak Zaman Modern berganusng-angsur meninggalkan alam pikiran lama yang masih mempercayai takhayul, penjelasan-penjelasan magis dan mengikuti alam mistik. Para cendekiawan dan ilmuwan mulai berpegang pada kemampuan akal (rasio) sepenuhnya untuk menjelaskan berbagai gejala alam  atau menyelesaikan sesuatu masalah.
Kemampuan akal selanjutnya didukung oleh perkembangan teknologi lalu menjadi perpanjangan dari hasil kemajuan kemampuan berfikir manusia.Akhirnya, kemampuan akal manusia itu diperkuat oleh data metode ilmiah yang berdasarkan pengamatan (observasi) dan percobaan (eksperimen).
Ilmu telah meisahkan diri dari Filsafat.Ilmu dalam pengertiannya sebagai pengetahuan merupakan suatu sistem pengetahuan sebagai dasar teoritis untuk tindakan praktis.Ilmu, dengan demikian, pengetahuan yang memiliki struktur tersendiri.Ilmu sebagai sekumpulan pengetahuan sistematik terdiri dari komponen-komponen yang saling berkaitan.



Setelah abad ke-20 M. pertumbuhan ilmu di dunia mengalami ledakan. Hampir setiap tahun puluhan penemuan dari hasil  penelitian para ilmuwan muncul.  Sejak tahun1901 hasil penemuan itu memberikan sumbangan besar bagi kemanusiaan dari mulai Ilmu Alam, Ilmu Kedokteran, Ilmu Kimia, dan Ilmu Ekonomi. Prestasi-prestasi ilmiah di awal abad ke-20 M. terlalu besar bahkan untuk di-katalog-kan.
B. Sumbangan Islam terhadap Ilmu Pengetahuan
Sejarah telah membuktikan bahwa adanya sikap konservatif terhadap pandangan-pandangan baru, telah menghantarkan peradaban ke dalam masa-masa kegelapan.  Sejarah Islam telah mencatat bahwa masa keemas-an Islam (The Golden Age of Islam) terjadi pada masa pemerintahan Dinasti Abbas (Abbasiyah), yang sangat terbuka terhadap perkembangan berbagai pemikiran baru.  Bersamaan dengan dilarangnya belajar-mengajar filsafat, umat Islam mengalami kemunduran, hingga terpuruk ke dalam belenggu penjajahan Negara-negara Barat. 
Timbulnya kesadaran baru di kalangan umat Islam untuk keluar dari belenggu penjajahan, tidak lepas dari keberanian beberapa pembaharu dunia Islam seperti Jamaluddin al Afghani  dan Muhammad Abduh, yang menganjurkan agar umat Islam kembali mempelajari filsafat dan membuka diri kepada munculnya ide-ide baru.
Berangkat dari uraian diatas, maka dalam tulisan berikut ini akan dipa-parkan bagaimana sumbangan peradaban Islam pada masa keemasannya dahulu terhadap perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan, dengan maksud untuk meluruskan pandangan bahwa Umat Islam itu seolah-olah anti ilmu pengetahuan dan teknologi.
1. Filsafat dan Ilmu Pengetahuan.
Istilah filsafat  mulai dikenal pada zaman Yunani kuno, berasal dari kata philo yang berarti cinta dan sophia yang berarti kebenaran.  Jadi orang yang mempelajari filsafat adalah orang yang cinta kebenaran.  Untuk mencapai kebenaran seseorang harus mempunyai pengetahuan.  Sese-orang yang mengetahui sesuatu, dapat dikatakan telah mencapai kebenaran tentang sesuatu tersebut menurut dirinya sendiri, meskipun apa yang dianggapnya benar itu belum tentu benar menurut orang lain.
Pengetahuan tidak sama dengan ilmu, karena ilmu adalah bagian dari pengetahuan.   Seseorang yang mengetahui cara memainkan berbagai alat musik atau cara menggunakan berbagai alat untuk melukis, tidak dapat dikatakan memiliki ilmu bermain musik atau ilmu melukis.  Oleh karena bermain musik dan melukis bukanlah ilmu melainkan seni. 
Demikian pula orang yang memiliki pengetahuan tentang adanya kebangkitan/kehidupan setelah kematian, tidak dapat dikatakan memiliki ilmu tentang kehidupan setelah kematian, oleh karena hal tersebut telah berada di luar batas pengalaman manusia dan hal demikian itu telah menjadi urusan agama.

2. Filsafat; Dasar Pijakan Ilmu
     Berbagai disiplin ilmu yang berkembang dewasa ini, pada mulanya adalah filsafat.  Ilmu fisika berasal dari filsafat alam (natural philosophy) dan ilmu ekonomi pada mulanya bernama filsafat moral (moral philosophy).  Durant (1933) mengibaratkan filsafat sebagai pasukan marinir yang bertugas merebut pantai, untuk mendaratkan pasukan infanteri.  Pasukan infanteri adalah pengetahuan yang diantaranya adalah ilmu.  Imulah yang membelah gunung dan merambah hutan, menyempurnakan kemenangan filsafat menjadi pengetahuan yang dapat diandalkan.
      Dalam perkembangan filsafat menjadi ilmu, terdapat taraf peralihan.  Dalam taraf peralihan ini ruang kajian filsafat menjadi lebih sempit dan sektoral.  Pada masa transisi ini ilmu tidak mempermasalahkan lagi unsur etika secara keseluruhan, namun terbatas pada unsur-unsur praktis guna memenuhi hajat hidup manusia.  Meskipun demikian secara konseptual, ilmu masih menyandarkan dirinya pada norma filsafat.
      Pada tahap perkembangan lebih lanjut, ilmu menyatakan dirinya bebas dari filsafat dan berkembang berdasarkan penemuan ilmiah, sesuai dengan tabiat alam apa adanya.  Pada tahap ini perkembangan ilmu tidak lagi berdasarkan metode normatif dan deduktif, tetapi menggunakan kombinasi dari metode deduktif dan induktif, yang dihubungkan oleh pengujian hipotesis, yang dikenal sebagai metode logico-hypothetico-verificative.
Auguste Comte (1798 – 1857) membagi perkembangan pengetahuan ke dalam 3 tahap, yaitu : tahap religius, metafisik dan positif.  Pada tahap pertama postulat ilmiah menggunakan azas religi, sehingga ilmu merupakan penjabaran (deduksi) dari ajaran agama.  Pada tahap kedua postulat ilmiah didasarkan pada azas metafisika, yaitu keraguan mengenai eksistenis obyek yang ditelaah.  Pada tahap ketiga perkembangan ilmu, dilakukan pengujian positif terhadap semua yang digunakan dalam proses verifikasi yang obyektif.
C.   TOKOH-TOKOH  PERADABAN ISLAM
 Ada dua  pendapat mengenai sumbangan peradaban Islam terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan, yang terus berkembang hingga saat ini.  Pendapat pertama mengatakan bahwa orang Eropah belajar filsafat dari filosof Yunani seperti Aristoteles, melalui kitab-kitab yang disalin oleh St. Agustine (354 – 430 M), yang kemudian diteruskan oleh Anicius Manlius Boethius (480 – 524 M) dan John  Scotus.  Pendapat kedua menyatakan bahwa orang Eropah belajar filsafat orang-orang Yunani dari buku-buku filasafat Yunani yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh filosof Islam seperti Al-Kindi dan Al-Farabi.  Terhadap pendapat pertama Hoesin (1961) dengan tegas menolaknya, karena menurutnya salinan buku filsafat Aristoteles seperti Isagoge, Categories dan Porphyry telah dimusnahkan oleh pemerintah Romawi bersamaan dengan eksekusi mati terhadap Boethius, yang dianggap telah menyebarkan ajaran yang dilarang oleh negara.
Selanjutnya dikatakan bahwa seandainya kitab-kitab terjemahan Boethius menjadi sumber perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan di Eropah, maka John Salisbury, seorang guru besar filsafat di Universitas Paris,  tidak akan menyalin kembali buku Organon karangan Aristoteles dari terjemahan-terjemahan berbahasa Arab, yang telah dikerjakan oleh filosof Islam.
Sebagaimana telah diketahui, orang yang pertama kali belajar dan mengajarkan filsafat dari orang-orang sophia atau sophists (500 – 400 SM) adalah Socrates (469 – 399 SM), kemudian diteruskan oleh Plato (427 – 457 SM).  Setelah itu diteruskan oleh muridnya yang bernama Aristoteles (384 – 322 SM).  Setelah zaman Aristoteles, sejarah tidak mencatat lagi generasi penerus hingga munculnya Al-Kindi pada tahun 801 M.  Al-Kindi banyak belajar dari kitab-kitab filsafat karangan Plato dan Aristoteles.  Oleh Raja Al-Makmun dan Raja Harun Al-Rasyid pada Zaman Abbasiyah, Al-Kindi diperintahkan untuk menyalin karya Plato dan Aristoteles tersebut ke dalam Bahasa Arab.
1. al-Kindi
Sejarawan  menempatkan al-Kindi sebagai filosof Arab pertama yang mempelajari filsafat.  Ibnu al-Nadhim mendudukkan al-Kindi sebagai salah satu orang termasyhur  dalam filsafat alam (natural philosophy). 
Buku-buku al-Kindi membahas mengenai berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti geometri, aritmatika, astronomi, musik, logika dan filsafat.  Ibnu Abi Usai’bia menganggap al-Kindi sebagai penterjemah terbaik kitab-kitab ilmu kedokteran dari Bahasa Yunani ke dalam Bahasa Arab. 
Disamping sebagai penterjemah, al-Kindi menulis juga berbagai makalah.  Ibnu Al-Nadhim memperkirakan ada 200 judul makalah yang ditulis Al-Kindi dan sebagian diantaranya tidak dapat dijumpai lagi, karena raib entah kemana.  Nama Al-Kindi sangat masyhur di Eropah pada abad pertengahan.  Bukunya yang telah disalin kedalam bahasa Latin di Eropah berjudul De Aspectibus berisi uraian tentang geometri dan ilmu optik, mengacu pada pendapat Euclides, Heron dan Ptolemeus.  Salah satu orang yang sangat kagum pada berbagai tulisannya adalag filosof kenamaan Roger Bacon.
Beberapa kalangan beranggapan bahwa al-Kindi bukanlah seorang filosof sejati.  Ibrahim Madzkour,  seorang sarjana filsafat lulusan Peran-cis yang berasal dari Mesir, beranggapan bahwa Al-Kindi lebih tepat dika-tegorikan sebagai seorang ilmuwan (terutama ilmu kedokteran, farmasi dan astronomi) daripada seorang filosof.  Hanya saja karena Al-Kindi yang pertama kali menyalin kitab Plato dan Aristoteles kedalam Bahasa Arab, maka ia dianggap sebagai orang yang pertama kali memperkenalkan filsafat pada Dunia Islam dan kaum Muslimin. Meskipun pada beberapa hal Al-Kindi sependapat dengan Aristoteles dan Plato, namun dalam hal-hal tertentu Al-Kindi memiliki pandangan tersendiri.  Al-Kindi tidak sependapat dengan Aristoteles yang menyatakan bahwa  waktu dan benda adalah kekal.  Dan untuk membuktikan hal tersebut Al-Kindi telah menggunakan pendekatan matematika. 
Al-Kindi tidak sepaham pula dengan Plato dan Aristoteles yang menyatakan bahwa bentuk merupakan sebab dari wujud, serta pendapat  Plato yang menyatakan bahwa cita bersifat membiakkan.  Menurut Al-Kindi alam semesta ini merupakan sari dari sesuatu yang wujud (ada).  Semesta alam ini merupakan kesatuan dari sesuatu yang berbilang, ia juga bukan merupakan sebab wujud.
2. Al-Farabi
Sepeninggal Al-Kindi, muncul filosof-filosof Islam kenamaan yang terus mengembangkan filsafat.  Filosof-filosof itu diantaranya adalah : Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rushd, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh dan Muhamad Iqbal.Al-Farabi sangat berjasa dalam mengenalkan dan mengembangkan cara berpikir logis (logika) kepada dunia Islam.  Berbagai karangan Aristoteles seperti Categories, Hermeneutics, First dan Second Analysis telah diterjemahkan Al-Farabi kedalam Bahasa Arab.  Al-Farabi telah membicarakan berbagai sistem logika dan cara berpikir deduktif maupun induktif.   Disamping itu beliau dianggap sebagai peletak dasar  pertama ilmu musik dan menyempurnakan ilmu musik yang telah dikembangkan sebelumnya oleh Phytagoras.  Oleh karena jasanya ini, maka Al-Farabi diberi gelar Guru Kedua, sedang gelar guru pertama diberikan kepada Aristoteles. 
Kontribusi lain dari Al-Farabi yang dianggap cukup bernilai adalah usahanya mengklassifikasi ilmu pengetahuan.  Al-Farabi telah memberikan definisi dan batasan setiap ilmu pengetahuan yang berkembang pada zamannya.  Al-Farabi mengklassifikasi ilmu kedalam tujuh cabang yaitu : logika, percakapan, matematika, fisika, metafisika, politik dan ilmu fiqhi (hukum). 
Ilmu percakapan (khithobah) dibagi lagi kedalam tujuh bagian yaitu : bahasa, gramatika, sintaksis, syair, menulis dan membaca.  Bahasa dalam ilmu percakapan dibagi dalam : ilmu kalimat mufrad, preposisi, aturan penulisan yang benar, aturan membaca dengan benar dan aturan mengenai syair yang baik.  Ilmu logika dibagi dalam 8 bagian, dimulai dengan kategori dan diakhiri dengan syair (puisi). 
Matematika dibagi dalam tujuh bagian yaitu : aritmetika, geometri, astronomi, musik, hizab baqi (arte ponderum) dan mekanika. 
Metafisika dibagi dalam dua bahasan, bahasan pertama mengenai pengetahuan tentang makhluk dan bahasan kedua mengenai filsafat ilmu.
Politik dikatakan sebagai bagian dari ilmu sipil dan menjurus pada etika dan politika.  Perkataan politieia yang berasal dari bahasa Yunani diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab menjadi madani, yang berarti sipil dan berhubungan dengan tata cara mengurus suatu kota.  Kata ini kemudian sangat populer digunakan untuk menyepadankan istilah masyarakat sipil menjadi masyarakat madani.






Ilmu Agama dibagi dalam ilmu fiqh dan imu ketuhanan/kalam (teologi).Buku Al-Farabi mengenai pembagian ilmu ini  telah diterjemahkan kedalam Bahasa Latin untuk konsumsi Bangsa Eropah dengan judul De Divisione Philosophae.  Karya lainnya yang telah diterjemahkan kedalam Bahasa Latin berjudul De Scientiis atau De Ortu Scientearum.  Buku ini mengulas berbagai jenis ilmu seperti ilmu kimia, optik dan geologi.
3. Ibnu Sina
Ibnu Sina dikenal di Barat dengan sebutan Avicienna.  Selain sebagai seorang filosof, ia dikenal sebagai seorang dokter dan penyair.  Ilmu pengetahuan yang ditulisnya banyak ditulis dalam bentuk syair.  Bukunya yang termasyhur Canon, telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin oleh Gerard Cremona di Toledo.  Buku ini kemudian menjadi buku teks (text book) dalam Ilmu Kedokteran yang diajarkan pada beberapa perguruan tinggi di Eropah, seperti Universitas Louvain dan Montpelier.  Dalam kitab Canon, Ibnu Sina telah menekankan betapa pentingnya penelitian eksperimental untuk menentukan khasiat suatu obat.  Ibnu Sina menyatakan bahwa daya sembuh suatu jenis obat sangat tergantung pada ketepatan dosis dan ketepatan waktu pemberian.  Pemberian obat hendaknya disesuaikan dengan kekuatan penyakit.
Kitab lainnya berjudul Al-Shifa diterjemahkan oleh Ibnu Daud (di Barat dikenal dengan nama Avendauth-Ben Daud) di Toledo.  Oleh karena Al-Shifa sangat tebal, maka bagian yang diterjemahkan oleh Ibnu Daud terbatas pada pendahuluan ilmu logika, fisika dan  De Anima.
Ibnu Sina membagi filsafat atas bagian yang bersifat teoritis dan bagian yang bersifat praktis.  Bagian yang bersifat teoritis meliputi :  matematika, fisika dan metafisika, sedang bagian yang bersifat praktis meliputi :  politik dan etika. 
Dalam hal logika Ibnu Sina memiliki pandangan serupa dengan para filosof Islam lainnyanya seperti Al-Farabi, Al-Ghazali dan Ibnu Rushd, yang beranggapan bahwa logika adalah alat filsafat, sebagaimana di tuliskan dalam syairnya :
Perlulah manusia mempunyai alat
Pelindung akal dari yang palsu
Imu logika namanya alat
Alat pencapai semua ilmu
     
Berbeda dengan  filosof-filosof Islam pendahulunya yang lahir dan besar di Timur, Ibnu Rushd dilahirkan di Barat (Spanyol).  Filosof Islam lainnya yang lahir di barat adalah Ibnu Bajah (Avempace) dan Ibnu Thufail (Abubacer).
4. Ibnu Bajah dan Ibnu Thufail
Ibnu Bajah dan Ibnu Thufail merupakan pendukung rasionalisme Aris-toteles.  Menurut Ibnu Thufail, manusia dapat mencapai kebenaran sejati dengan menggunakan petunjuk akal dan petunjuk wahyu. 
Pendapat ini dituangkan dengan baik dalam cerita Hayy-Ibnu Yakdzhan, yang menceritakan bagaimana Hayy yang tinggal pada suatu pulau terpencil sendirian tanpa manusia lain dapat menemukan kebenaran sejati melalui petunjuk akal, kemudian bertemu dengan Absal yang memperoleh kebenaran sejati dengan petunjuk wahyu.  Akhirnya kedua orang ini bisa menjadi sahabat.
5. Ibnu Rushd
Ibnu Rushd yang lahir dan dibesarkan di Cordova, Spanyol meskipun seorang dokter dan telah mengarang Buku Ilmu Kedokteran berjudul Colliget, yang dianggap setara dengan kitab Canon karangan Ibnu Sina, lebih dikenal sebagai seorang filosof.
Ibnu Rushd telah menyusun 3 komentar mengenai Aristoteles, yaitu : komentar besar, komentar menengah dan komentar kecil.  Ketiga komentar tersebut dapat dijumpai dalam tiga bahasa : Arab, Latin dan Yahudi.  Dalam komentar besar, Ibnu Rushd menuliskan setiap kata dalam Stagirite karya Aristoteles dengan Bahasa Arab dan memberikan komentar pada bagian akhir.  Dalam komentar menengah ia  masih menyebut-nyebut Aritoteles sebagai Magister Digit, sedang pada komentar kecil filsafat yang diulas murni pandangan Ibnu Rushd.
Pandangan Ibnu Rushd yang menyatakan bahwa jalan filsafat merupakan jalan terbaik untuk mencapai kebenaran sejati dibanding jalan yang ditempuh oleh ahli agama, telah memancing kemarahan  pemuka-pemuka agama, sehingga mereka meminta kepada Khalifahh yang memerintah di Spanyol untuk menyatakan Ibnu Rushd sebagai atheis.  Sebenarnya apa yang dikemukakan oleh Ibnu Rushd sudah dikemukakan pula oleh Al-Kindi dalam bukunya Falsafah El-Ula (First Philosophy).  Al-Kindi menyatakan bahwa kaum fakih tidak dapat menjelaskan kebenaran dengan sempurna, oleh karena pengetahuan mereka yang tipis dan kurang bernilai.
6. Al-Ghazali
Pertentangan antara filosof yang diwakili oleh Ibnu Rushd dan kaum ulama yang diwakili oleh Al-Ghazali semakin memanas dengan terbitnya karangan Al-Ghazali yang berjudul Tahafut-El-Falasifah, yang kemudian digunakan pula oleh pihak gereja untuk menghambat berkembangnya pikiran bebas di Eropah pada Zaman Renaisance.  Al-Ghazali berpendapat bahwa mempelajari filsafat dapat menyebabkan seseorang menjadi atheis.  Untuk mencapai kebenaran sejati menurut Al-Ghazali hanya ada satu cara yaitu melalui tasawuf (mistisisme).  Buku karangan Al-Ghazali ini kemudian ditanggapi oleh Ibnu Rushd dalam karyanya Tahafut-et-Tahafut (The Incohenrence of the Incoherence).
Kemenangan pandangan Al-Ghazali atas pandangan Ibnu Rushd telah menyebabkan dilarangnya pengajaran ilmu filsafat di berbagai perguruan-perguruan Islam.  Hoesin (1961) menyatakan  bahwa pelarangan penyebaran filsafat Ibnu Rushd merupakan titik awal keruntuhan peradaban Islam yang didukung oleh maraknya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  Hal ini sejalan dengan pendapat Suriasumantri (2002) yang menyatakan bahwa perkembangan ilmu dalam peradaban Islam bermula dengan berkembangnya filsafat dan mengalami kemunduran dengan kematian filsafat. Bersamaan dengan mundurnya kebudayaan Islam, Eropah mengalami kebangkitan.  Pada masa ini, buku-buku filsafat dan ilmu pengetahuan karangan dan terjemahan filosof Islam seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina dan Ibnu Rushd diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin.  Pada zaman itu Bahasa Latin menjadi bahasa kebudayaan bangsa-bangsa Eropah.  Penterjemahan karya-karya kaum muslimin antara lain dilakukan di Toledo, ketika Raymund menjadi uskup Besar Kristen di Toledo pada Tahun  1130 – 1150 M. 
Hasil terjemahan dari Toledo ini menyebar sampai ke Italia.  Dante menulis Divina Comedia setelah terinspirasi oleh hikayat Isra dan Mikraj Nabi Muhammad SAW.  Universitas Paris menggunakan buku teks Organon karya Aristoteles yang disalin dari Bahasa Arab ke dalam Bahasa Latin oleh John Salisbury pada tahun 1182.
Seperti halnya yang dilakukan oleh pemuka agama Islam, berkembangnya filsafat ajaran Ibnu Rushd dianggap dapat membahayakan iman kristiani oleh para pemuka agama Kristen, sehingga sinode gereja mengeluarkan dekrit pada Tahun 1209, lalu disusul dengan putusan Papal Legate pada tahun 1215 yang melarang pengajaran dan penyebaran filsafat ajaran Ibnu Rushd.
Pada Tahun 1215 saat Frederick II menjadi Kaisar Sicilia, ajaran filsafat Islam mulai berkembang lagi.  Pada Tahun 1214, Frederick mendirikan Universitas Naples, yang kemudian memiliki akademi yang bertugas menterjemahkan kitab-kitab berbahasa Arab ke dalam Bahasa latin.  Pada tahun 1217 Frederick II mengutus Michael Scot ke Toledo untuk mengumpulkan terjemahan-terjemahan filsafat berbahasa latin karangan kaum muslimin.  Berkembangnya ajaran filsafat Ibnu Rushd di Eropah Barat tidak lepas dari hasil terjemahan Michael Scot.  Banyak orientalis menyatakan bahwa Michael Scot telah berhasil menterjemahkan Komentar Ibnu Rushd  dengan judul de coelo et de mundo dan bagian pertama dari Kitab Anima. 
Pekerjaan yang dilakukan oleh Kaisar Frederick II untuk menterje-mahkan karya-karya filsafat Islam ke dalam Bahasa Latin, guna mendorong pengembangan ilmu pengetahuan di Eropah Barat, serupa dengan pekerjaan yang pernah dilakukan oleh  Raja Al-Makmun dan Harun Al-Rashid dari Dinasti Abbasiyah, untuk mendorong pengembangan ilmu pengetahuan di Jazirah Arab
Setelah Kaisar Frederick II wafat, usahanya untuk mengembangkan pengetahuan diteruskan oleh putranya.  Untuk tujuan ini putranya mengutus orang Jerman bernama Hermann untuk kembali ke Toledo pada tahun 1256.  Hermann kemudian menterjemahkan Ichtisar Manthiq karangan Al-Farabi dan Ichtisar Syair karangan Ibnu Rushd. 
Pada pertengahan abad 13 hampir seluruh karya Ibnu Rushd telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin, termasuk kitab tahafut-et-tahafut, yang diterjemahkan oleh Colonymus pada Tahun 1328.
Pada pertengahan abad 12 kalangan gereja melakukan sensor terhadap karangan Ibnu Rushd, sehingga saat itu berkembang 2 paham yaitu paham pembela Ibnu Rushd (Averroisme) dan paham yang menentangnya.  Kalangan yang menentang ajaran filsafat Ibnu Rushd ini antara lain pendeta Thomas Aquinas, Ernest Renan dan Roger Bacon.  Mereka yang menentang Averroisme umumnya banyak menggunakan argumentasi yang dikemukakan oleh Al-Ghazali dalam kitabnya Tahafut-el-Falasifah.  Dari hal ini dapat dikatakan bahwa apa yang diperdebatkan oleh kalangan filosof di Eropah Barat pada abad 12 dan 13, tidak lain adalah masalah yang diperdebatkan oleh filosof Islam. 
  Uraian diatas menunjukkan kepada kita betapa besar sumbangan peradaban Islam terhadap pengembangan filsafat dan ilmu pengetahuan, yang kita kenal sekarang. Meskipun sampai saat ini masih terdapat kecenderungan untuk menafikan pengaruh peradaban Islam terhadap perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan.  Diantaranya sebagaimana ungkapan Rene Sedillot, yang menyatakan bahwa sumbangsih peradaban Islam terhadap peradaban umat manusia, hanyalah berupa pembakaran perpustakaan dan penebangan hutan tanpa sejengkal tanah pun ditanami.
Semangat mencari kebenaran yang dirintis oleh pemikir Yunani dan hampir padam oleh karena jatuhnya Imperium Romawi, hidup kembali dalam kebudayaan Islam.  Wells (1951) menyatakan bahwa jika orang Yunani adalah Bapak Metode Ilmiah, maka kaum muslimin adalah Bapak Angkat Metode Ilmiah.  Metode Ilmiah diperkenalkan ke dunia barat oleh Roger Bacon (1214 – 1294) dan selanjutnya dimantapkan sebagai paradigma ilmiah oleh Francis Bacon (1561 – 1626).
Semangat para filosof dan ilmuwan Islam untuk mengembangkan ilmu pengetahuan tidak lepas dari semangat ajaran Islam, yang menganjurkan para pemeluknya belajar segala hal, sampai ke Negeri Cina sekalipun, sebagaimana perintah Allah SWT dalam Al Qur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW.
Mengenai pertentangan yang terjadi antara kaum filosof dengan kaum tasawuf, mengenai alat yang digunakan dalam rangka mencari kebenaran sejati, yang terus berlanjut hingga saat ini, seharusnya dapat dihindari, bilamana  kedua belah pihak menyadari bahwa Tuhan telah menganugerahi manusia dengan potensi akal (baca otak) dan hati/kalbu.  Kedua potensi itu bisa dimiliki oleh seseorang dalam kadar yang seimbang, namun dapat pula salah satu potensi lebih berkembang daripada lainnya. 
Orang yang sangat berkembang potensi akalnya, sangat senang menggunakan akalnya itu untuk memecahkan sesuatu.  Orang demikian ini lebih senang melakukan olah rasio daripada olah rasa dalam pencarian kebenaran sejati dan sangat berbakat menjadi pemikir atau filosof.
Sementara itu orang yang sangat berkembang potensi hati atau kalbunya, sangat senang mengeksplorasi perasaannya untuk memecahkan suatu masalah.  Orang demikian ini amat suka melakukan olah rasa daripada olah rasio, untuk menemukan kebenaran sejati dan sangat berbakat menjadi seniman atau ahli tasawuf.
Oleh karena itu seharusnya tidak perlu terjadi pertentangan antara ahli filsafat dan ahli tasawuf, karena keduanya adalah anugerah tuhan yang seharusnya diterima dengan penuh rasa syukur.   Seharusnya filosof dan ahli tasawuf dapat hidup berdampingan dengan damai, dan saling melengkapi diantara keduanya, sebagaimana cerita Ibnu Thufail dalam Hayy-Ibnu Yakdzhan, yang telah diuraikan sebelumnya sebelumnya.
B. Disiplin Ilmu KEIslamAN
      Ilmu-ilmu Islam dapat didefinisikan dengan berbagai pola, yang masing-masing pola akan memiliki sesuatu sebagai subyek. Dengan demikian, subyek akan ditentukan dengan pola pendefinisian tadi. Di bawah ini adalah pola-pola yang muncul untuk mendefinisikan ulum Islami:[8]
1.Serangkaian ilmu yang membahas seputar agama Islam; pokok maupun cabangnya, sekaligus hal-hal yang menjadi pendahuluan bagi hasil pokok dan cabang tersebut, yaitu al-Qur’an dan Sunnah. Yang termasuk ilmu-ilmu tersebut ialah: Ilmu Qira’ah, Hadits, Tafsir, Ilmu Kalam Naqli, Fiqih, dan Ilmu Akhlaq.
2.Ilmu-ilmu yang tercantum di atas, ditambah serangkaian ilmu yang menjadi pendahuluan baginya, seperti: Ilmu-ilmu linguistik Arab (Sharaf, Nahwu, Lughoh Ma’ani, Bayan, Badi’, dan sebagainya), Ilmu Rijalul Hadits, Ilmu Dirayah Hadits, Ilmu Kalam Akli, Ilmu Akhlaq akli, Hikmah Ilahiyah, Mantiq, dan Ushul Fiqh.
3.Disiplin-disiplin ilmu yang mempelajarinya bagaimanapun juga termasuk dalam kewajiban agama, walaupun sekadar wajib kifa’i.
Berdasarkan definisi ketiga di atas, ulum Islami akan mencakup mayoritas Ilmu Alam dan Ilmu Matematika yang dibutuhkan oleh masyarakat Islam.
Sementara itu, al-Ghazali menyebut empat sistem klasifikasi ilmu yang berbeda:
1.Pembagian ilmu menjadi bagian teoritis dan praktis.
2.Pembagian pengetahuan yang dihadirkan (hudhûri) dan yang dicapai (hushûli).
3.Pembagian ilmu-ilmu religius (sya’iyah) dan intelektual (aqliyah).
4.Pembagian ilmu menjadi fadhu ‘ain dan fardhu kifayah.[9]



Dengan demikian, ilmu yang wajib dituntut oleh setiap mukallaf ada tiga jenis, yakni ilmu tauhid, ilmu batin (sirr) yang berkaitan dengan kalbu dan jalan-jalannya, ilmu ibadah lahir yang berkaitan dengan badan dan harta.Lebih lanjut, al-Ghazali memberikan arahan bahwasanya ilmu yang paling bermanfaat adalah ilmu yang dapat menghantarkan manusia untuk mencapai kebahagiaan ukhrawi. Ada beberapa jenis keutamaan yang harus dipersiapkan manusia untuk mencapai kebahagiaan, dalam empat kategori, yang setiap kategori mencakup empat kebahagiaan.[10]
Pertama, menurut al-Ghazali, keutamaan rohani (al-fadlail al-nafsiah) adalah iman dan akhlak yang baik. Iman dibagi atas ilmu mukasyafah (pengetahuan tentang wahyu), dan ilmu muamalah (ilmu pengetahuan agama). Jadi, iman dianggap sinonim dengan ilmu. Akhlak yang baik terdiri empat kebajikan utama, terdiri dari: hikmah (kebijaksanaan), ‘iffah (menahan diri), syaja’ah (keberanian), dan ‘adalah (keadilan). Keempat keutamaan jiwa akhirnya dapat diperkecil menjadi iman atau ilmu dan semua sifat jiwa yang terpuji. Keduanya merupakan sarana terdekat menuju kebahagiaan.
Kedua, keutamaan jasmani (al-fadlail al-jismiyah) juga dianggap sebagai sarana yang esensial bagi tercapainya kebahagiaan. Karena tanpa itu, keutamaan jiwa tidak dapat tercapai dengan sempurna. Meskipun sama pentingnya, derajat keutamaan jasmani berda di bawah kebaikan jiwa. Keutamaan jasmani adalah kesehatan, kekuataan, panjang usia, dan kerupawanan.
Ketiga, keutamaan luar badan (al-fadlail al-kharijiyah) adalah kekayaan, pengaruh, keluarga, dan keturunan. Semuanya tidak esensial hanya berguna bagi kebahagiaan.
Keempat, keutamaan bimbingan Allah (al-fadlail al-taufiqiyah) adalah berupa petunjuk Allah (hidayah), pengarahan Allah (rusyd), pimpinan Allah (tasdid), dan penguatan Allah (ta’id). Taufik di sini berarti persesuaian perintah Allah dengan kemauan manusia tentang apa yang benar. Fungsi fadhilah ini ialah menggabungkan fadlilah jasmani dan fadlilah luar jasmani dengan jiwa. Oleh karena itu, taufik dipandang sebagai sarana hakiki bagi kebahagiaan.
Keempat keutamaan di atas saling berkaitan satu sama lain atau saling menyempurnakan untuk menuju kebahagiaan sejati, yakni kebahagiaan ukhrawi. Jalan yang lurus ditempuh untuk menuju kebahagiaan yang hakiki itu ialah ilmu dan amal. Ilmu ialah untuk menentukan apa-apa yang harus dipersiapkan menuju kebahagiaan tersebut, sedangkan amal ialah untuk membersihkan jiwa dari keinginan-keinginan duniawi yang dapat memalingkan manusia dari kebahagiaan tersebut.

Dan mencapai kebahagiaan itu melalui latihan-latihan kerohanian (riyadhah) adalah jalan yang paling selamat bagi al-Ghazali  untuk mencapai kebahagiaan. Inilah jalan para sufi, orang-orang shalih, shiddiqin, dan para nabi.[11]
Ilmu dan amal mempunyai makna yang jelas dalam etika al-Ghazali. Dalam al-Qur’an dan al-Hadits, amal berarti perbuatan baik apapun yang berhubungan dengan pribadi lahir (zhahir), maupun batin manusia, tetapi yang menyangkut batin ini dilukiskan kurang rinci, sebab tidak semua orang bisa melakukannya. Menurut al-Ghazali, para ahli fiqih Muslim mentitikberatkan pada alam diri lahir dengan mengabaikan amal batin. Kaum sufi memberikan perhatian seimbang kepada kedua jenis amal, kecuali yang berhubungan dengan politik. Oleh karena itu, dalam etika sufi al-Ghazali, kata ‘amal mempunyai konotasi yang amat luas ia mencakup amal lahir (al-’amal al-zhahirah) dan amal batin (al-‘amal al-bathiniyah). Masing-masing terbagi dua, amal lahir terbagi dalam amal ibadat ditujukan kepada Allah (ibadat), dan amal baik yang harus dilakukan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat (adat). Sedangkan amal batin dibagi dalam amal pemurnian jiwa (tazkiyat al-nafs) dari perangai yang tercela, dan amal memperindah jiwa (tahliyat al-qalb) dengan sifat-sifat yang baik. Amal yang empat jenis ini membentuk keseluruhan aspek praktis etika al-Ghazali.[12]
Kita sadar bahwa serangkaian ilmu yang membahas seputar agama dalan hal-hal yang menjadi pendahuluan bagi mereka, memang wajib untuk dipelajari dan dikaji, karena mengenali pokok agama (ushuluddin) merupakan kewajiban bagi setiap pribadi muslim, sementara mengenali cabang agama (furu’udin) merupakan wajib kifa’i. Mengenali al-Qur’an dan Sunnah juga wajib, karena tanpa keduanya tak akan didapatkan pengenalan tentang pokok maupun cabang agama. Demikian pula disiplin-disiplin ilmu yang menjadi pendahuluan bagi serangkaian ilmu di atas, juga menjadi wajib berdasarkan muqadimatul wajib.
Semestinya, di kalangan ilmuwan Islam terdapat orang-orang yang senantiasa menguasai disiplin-disiplin ilmu tersebut, bahkan orang-orang yang mengembangkannya. Para ilmuwan Islam sepanjang empat belas abad, telah berusaha semaksimal mungkin untuk terus memperluas jangkauan ilmu-ilmu di atas, dan sebagaimana yang nantinya akan menjadi jelas bagi kita, mereka telah mencapai kesuksesan yang menonjol sekali.
Kini kita menyadari bahwa ilmu yang merupakan kewajiban bagi segenap umat Islam, tidaklah terbatas pada apa yang telah disebutkan di atas, melainkan juga mencakup segala macam ilmu yang menjadi syarat atas terselesaikannya setiap kebutuhan dan kepentingan masyarakat Muslim.
Hal itu lebih dikarenakan, Islam merupakan agama yang tidak membatasi dirinya pada sejumlah norma-norma etik yang bersifat individual personal, melainkan merupakan agama yang berusaha untuk membangun sebuah masyarakat sempurna.
Apa saja yang dibutuhkan oleh sebuah masyarakat, Islam telah mewajibkannya. Misalnya sebuah masyarakat membutuhkan dokter, maka menuntut ilmu kedokteran akan menjadi wajib kifa’i; artinya harus terdapat dokter sebanyak yang dibutuhkan oleh masyarakat, jika tidak, maka setiap orang dalam masyarakat tersebut bertanggung jawab dan harus mencurahkan upayanya demi menghasilkan angka yang mencukupi, yaitu dengan mendatangkan dokter-dokter dari luar yang resikonya jauh lebih tinggi.
Begitu pula dengan ilmu politik, ekonomi, industri, dan sebagainya. Jika pada kondisi tertentu keterjagaan sebuah masyarakat Islam tergantung pada penguasaan terhadap tahap-tahap tertinggi dari teknologi, maka Islam akan mewajibkan pengkajian terhadapnya. Dengan demikian, pada prinsipnya, segala ilmu yang dibutuhkan oleh sebuah masyarakat Islam akan menjadi wajib kifa’i bagi setiap pribadi untuk menuntutnya.
Ilmu-ilmu yang—garis besarnya—berkembang di kalangan kebudayaan Islam, mencakup ilmu yang menurut Islam wajib atau bahkan haram sekalipun. Sebagaimana kita ketahui, jika ilmu yang mengkaji tentang perbintangan menerangkan prinsip-prinsip yang bersangkutan dengan mekanisme benda-benda angkasa dan memperkirakan kejadian-kejadian yang diperhitungkan, seperti gerhana, cuaca, dan hal semacam itu (astronomi), tetap merupakan disiplin ilmu yang diperbolehkan oleh agama.
Sementara itu, ilmu perbintangan yang mengkaji tentang hal-hal di luar perhitungan matematis dan menjelaskan hubungan yang terselubung antara kejadian-kejadian kosmik dengan kejadian di bumi (astrologi), merupakan disiplin ilmu yang dilarang oleh agama. Meski demikian, kedua ilmu ini pernah berkembang di lingkungan kebudayaan Islam.[13]
Dari keempat definisi di atas, jelaslah bahwa ilmu-ilmu Islam telah digunakan pada beberapa arti yang sebagian dari arti tersebut lebih luas dari sebagian yang lain. Harus disadari bahwa sesungguhnya budaya Islam merupakan sebuah budaya yang eksklusif (unik) di antara budaya-budaya yang tersebar di seantero bumi, memiliki ciri dan gelora tersendiri. Demi membantu kita mengenali budaya Islam sebagai budaya yang sedemikian hebat, maka haruslah kita memperhatikan animo yang mewarnai kebudayaan tersebut, arah gerak, serta nilai-nilai yang menonjol padanya.
Jika dalam beberapa hal di atas itu budaya Islam berbeda dengan budaya-budaya selainnya, itu akan merupakan tanda orisinalitas budaya Islam. Tetapi mengambil keuntungan dari budaya di sekitarnya sama sekali tidak bertentangan dengan orisinalitas budaya Islam, bahkan mustahil suatu
 budaya muncul tanpa menggunakan beberapa hal dari budaya-budaya sebelumnya. Lagipula penggunaan itu sendiri memiliki dua cara yang berbeda: menelan sebuah budaya asing ke dalam lingkaran kebudayaan tersebut. Atau menyerap hal-hal dari budaya lainnya, seperti sebuah sel hidup yang menyerap zat makanan dari benda-benda di sekitarnya. Penyerapan yang terjadi oleh budaya Islam dari budaya Yunani, India, Persia, dan sebagainya merupakan contoh bagi cara yang kedua tersebut.
Menurut penilaian para ahli sejarah budaya, budaya Islam merupakan salah satu dari budaya terbesar yang pernah muncul di muka bumi. Tentunya, budaya agung ini pertama kali dicetuskan oleh Nabi  Muhammad SAW      di kota Madinah. Layaknya setiap sel hidup yang berkembang, budaya itu muncul secara diam-diam tanpa disadari oleh mereka yang berada di sekitarnya.[14]
D. Ilmu Agama dan Bukan Ilmu Agama
      Telah menjadi sebuah istilah, di mana kita menamakan sebagian ilmu pengetahuan dengan nama “ilmu agama”, dan sebagian ilmu pengetahuan lain dengan nama “ilmu bukan agama”. Ilmu-ilmu agama adalah ilmu-ilmu yang secara langsung terkait dengan masalah-masalah keyakinan, akhlak, atau amal perbuatan agama; atau ilmu-ilmu yang menjadi mukadimah bagi pengetahuan, perintah-perintah, dan hukum-hukum agama, seperti ilmu gramatika bahasa Arab dan ilmu logika.
      Mungkin sebagian orang menyangka ilmu-ilmu yang non-agama itu asing dari agama, dan setiap kali di dalam Islam dikatakan tentang keutamaan ilmu dan pahala mencarinya, maka itu hanya terbatas pada ilmu-ilmu yang menurut istilah dikatakan sebagai ilmu-ilmu agama. Atau, jika Rasulullah SAW mengatakan bahwa ilmu itu wajib, maka yang sebagian menganggap bahwa yang dimaksud oleh Rasulullah SAW terbatas pada ilmu-ilmu agama.
      Bahwa yang benar, ini tidak lebih dari hanya sekadar istilah. Dari satu sisi pandangan, ilmu-ilmu agama hanya terbatas pada matan-matan pertama agama, yaitu al-Qur’an al-Karim, Sunah Rasul Saw, atau wasiat-wasiat beliau. Pada masa awal Islam pun, di mana masyarakat ketika itu masih belum mengenal Islam, diwajibkan atas setiap Muslim untuk mempelajari matan-matan pertama agama terlebih dahulu sebelum segala sesuatu. Pada masa itu belum ada satu ilmu pun, belum ada yang dinamakan ilmu kalam, ilmu fiqih, ilmu ushul fiqih, dan belum juga ada yang dinamakan ilmu sejarah Islam, dan lain-lainnya.
Kemudian kaum muslimin mulai mengenal matan-matan pertama agama tersebut, yang berkedudukan sebagai undang-undang dasar Islam. Lalu dengan berdasarkan perintah al-Qur’an dan hadits Nabi Saw mereka mengenal secara mutlak bahwa ilmu adalah sebuah kewajiban yang tidak diragukan; dan selanjutnya secara bertahap ilmu-ilmu pun tersusun.
Oleh karena itu, dari sisi pandangan lain, setiap ilmu yang memberikan mabfaat kepada kaum Muslimin, maka ilmu itu merupakan kewajiban agama dan merupakan ilmu agama. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa setiap ilmu yang bermanfaat kepada keadaan Islam dan Muslimin, dan hal itu sesuatu yang harus bagi mereka, maka ilmu tersebut harus dikategorikan sebagai bagian dari ilmu-ilmu agama. Dan jika seseorang mempunyai niat yang tulus dalam mempelajari ilmu tersebut untuk bisa berkhidmat kepada Islam dan Muslimin, maka dia tentu akan memperoleh ganjaran yang telah disebutkan bagi orang yang mencari ilmu.
Sejak awal, pembagian ini sudah tidak benar, yaitu di mana kita membagi ilmu kepada dua bagian: ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu bukan agama. Karena, pembagian ini akan menimbulkan sangkaan bagi sebagian orang, bahwa ilmu-ilmu yang menurut istilah sebagai “ilmu-ilmu bukan agama” adalah ilmu-ilmu yang asing dari Islam. Kelengkapan dan keuniversalan Islam menuntut bahwa setiap ilmu yang bermanfaat, penting dan diperlukan oleh masyarakat Islam, harus kita anggap sebagai ilmu agama.[15]
Sementara itu, al-Ghazali  membagi ilmu ke dalam dua bagian: (1) ilmu mengenai Allah dan (2) ilmu yang berhubungan dengan jalan menuju Dia. Pertama, yang berkenaan dengan esensi, sifat-sifat dan ciptaan Allah meliputi semua wujud kecuali Dia, beberapa di antaranya merupakan dunia persepsi indera, sedang yang lainnya berupa dunia gaib, seperti malaikat dan ruh. Ilmu tentang Allah, atribut-Nya, dan ciptaan-Nya adalah ilmu jenis tertinggi. Kedua, ialah ilmu tentang jalan menuju Allah bertalian dengan semua amal yang empat jenis tersebut di atas tersebut dengan tarikat (thariqat), tanpa ilmu pengetahuan ini, amal tidak dapat dilaksanakan secara pantas. Meskipun ilmu tentang wahyu (ilmu ma’rifat) dan ilmu tentang jalan (thariqat) dua-duanya perlu untuk kebahagiaan, namun yang pertama sangat fundamental, ia kadang-kadang dinamakan benih kebahagiaan di akhirat atau malah kebahagiaan itu sendiri.[16]
E. PENUTUP; Ilmu dan Iman
      Hubungannya dengan keimanan dan sains, seseorang bisa memperbincangkan hal itu dari dua sudut pandang. Yang satu adalah apakah ada penafsiran yang akan meningkatkan keimanan dan ideal-ideal seseorang, dan pada saat yang sama bersifat logis? Lalu, adakah semua pemikiran yang diilhami oleh sains dan filsafat bertentangan dengan keimanan, harapan dan ortimisme? Aspek kedua adalah pengaruh sains atas manusia di satu pihak, dan keimanan di pihak lain. Adakah sains membawa manusia kepada suatu
 hal, sedangkan keimanan kepada hal yang lain, yang bertentangan satu sama lain? Adakah sains bermaksud membuat sesuatu yang lain? Adakah sains menyeret kita ke suatu sis dan keimanan ke sisi yang lain?
Adakah sains dan keimanan bersifat melengkapi satu sama lain? Marilah kita lihat apa yang telah diberikan oleh sains dan keimanan kepada kita.
 Para failosof muslim berpandangan bahwa, sains memberi kita kekuatan dan pencerahan, dan keimanan memberikan cinta, harapan, dan kehangatan. Sains meniciptakan teknologi, dan keimanan menciptakan tujuan. Sains memberi kita momentum, dan keimanan memberi kita arah. Sains berarti kemampuan, dan keimanan adalah kehendak baik. Sains menunjukkan kepada kita apa yang ada di sana, sementara keimanan mengilhami kita tentang apa yang mesti kita kerjakan. Sains adalah revolusi eksternal, dan keimanan adalah revolusi internal. Sains memperluas hubungan manusia secara horizontal, dan keimanan meningkatkannya secara vertikal. Baik keimanan maupun sains berarti keindahan. Sains adalah keindahan kebijaksanaan, dan keimanan adalah ruh.[17]
Sains (ilmu pengetahuan) dan agama (keimanan) adalah dua hal yang saling melengkapi satu sama lain. Ia tidak dapat dipisahkan, jika salah satu hilang dalam diri manusia, maka akan terjadi apa yang dinamakan oleh Muthahhari—dengan mengutip hadits Nabi--sebagai “orang berilmu yang kurang ajar dan orang bodoh yang tekun beribadah”.[18]
Muhammad Iqbal    mengatakan secara tegas bahwa Eropa masa sekarang adalah hambatan terbesar di tengah jalan menuju kemajuan etis manusia. Hal itu dikarenakan adanya kesenjangan antara sains dan wahyu (keimanan). Menurut Iqbal, kemanusiaan saat ini membutuhkan tiga hal. Pertama,  penafsiran spiritual atas jagat. Kedua, emansipasi spiritualitas atas individu. Ketiga, memprkuat fondasi  yang dianut secara universal yang akan menjelaskan evolusi masyarakat manusia atas dasar spiritual. Eropa modern, tak syak lagi, telah membangun sistem idealistis pada jalur ini, tetapi pengalaman menunjukkan bahwa kebenaran yang terungkap lewat akal murni tidak mampu membawa api keyakinan hidup yang hanya bisa dibawa oleh wahyu yang bersifat personal saja. Inilah alasannya, kenapa pemikiran saja telah mempengaruhi manusia sedemikian sedikit, sementara agama selalu meningkatkan individu-individu dan mentransformasikan masyarakat secara keseluruhan. Hasilnya adalah ego yang menyeleweng, yang mencari dirinya melalui demokrasi-demokrasi saling tidak toleran yang befungsi hanya untuk menindas yang miskin demi kepentingan kaum yang kaya.





Iqbal mempertegas, percayalah padaku, Eropa masa sekarang adalah hambatan terbesar di tengah jalan menuju kemajuan etis manusia. Orang-orang Muslim, di pihak lain, memiliki gagasan-gagasan puncak yang bersumber dari wahyu yang datang dari lubuk kehidupan yang paling dalam, menginternalisasikan eksternalitas nyatanya. Baginya, basis spiritual kehidupan adalah masalah keyakinan yang untuknya orang-orang yang paling sedikit tercerahkan di antara kita sekalipun bisa dengan mudah mengatur hidupnya.[19]
Tiba saatnya bagi kita untuk menyadari bahwa bukan saja sains dan keimanan itu tidak bertentangan, tetapi mereka bahkan bersikap saling melengkapi satu sama lain. Sejarah telah membuktikan bahwa pemisahan sains dari keimanan telah menyebabkan kerusakan yang tak bisa diperbaiki lagi. Sementara itu, keimanan tanpa sains akan berakibat fanatisisme dan kemandekan. Jika saja tak ada sains dan ilmu, maka agama, dalam diri penganut-penganutnya yang naif, akan menjadi suatu instrumen di tangan-tangan pada “dukun cerdik”.
Sains tanpa agama adalah seperti sebilah pedang di tangan orang mabuk; seperti secercah cahaya di tangah pencuri di tengah malam, membuatnya mampu mencuri barang-barang yang terbaik. Inilah sebabnya, kenapa orang-orang terpelajar yang kafir pada masa kini sama sekali tidak berbeda dari orang-orang yang kafir pada masa lampau dalam hal sifat dan perilakunya.
Pemisahan antara sains dan keimanan akan mengakibatkan bencana yang mengerikan. Di mana saja ada agama tapi tak ada sains, maka upaya-upaya kemanusiaan telah diselenggarakan dengan cara-cara yang tidak selalu memadai dan bahkan telah menyebabkan fanatisisme, prasangka-prasangka dan bentrokan-bentrokan destruktif. Sejarah masa lampau kemanusiaan penuh dengan contoh-contoh semacam itu. Dan di mana saja ada sains tanpa tanda-tanda agama sebagaimana di dalam masyarakat masa kini, maka semua kekuatan sains telah digunakan untuk memenuhi pementingan diri sendiri, egoisme, ekspansionisme, ambisi, penindasan, perbudakan, penipuan dan kecurangan.[20]
Jika suatu corak pendidikan yang mengesampingkan salah satu dari kedua aspek di atas, yakni hanya mementingkan sains tanpa agama dan sebaliknya, maka pendidikan tersebut hanya akan melahirkan generasi-generasi, yaitu orang berilmu yang kurang ajar dan orang bodoh yang tekun beribadah. Inilah salah satu inti dasar pembahasan yang dapat diidentiifkasikan sebagai konsep pokok pendidikan, yaitu pendidikan yang berorientasi pada pencapaian kemuliaan manusia dengan pijakan keimanan dan penguasaan sains yang handal.


Namun, mengenai konsep sains dan agama, di sini terlihat perbedaan yang cukup signifikan antara pemikiran para pemikir muslim seperti Ghazali misalnya. Hal ini bisa dipahami dikarenakan  landasan pemikiran al-Ghazali adalah tasawuf—yang banyak dianut oleh para ulama salaf yang cenderung “kekiri-kirian”, dalam arti sangat anti terhadap filsafat  sedangkan pemikiran  para pemikir selainnya adalah filsafat—yang menjadi musuh utama al-Ghazali. Dalam konsep ma’rifah-nya, terlihat dengan jelas bahwa al-Ghazali sangat anti terhadap filsafat, sedangkan filsafat seperti banyak dikatakan oleh para ahli adalah bapaknya dari ilmu pengetahuan (sains) modern. Pengetahuan yang didapat dari hasil penalaran akal, yang merupakan ciri khas dari sains modern, sangat ditentang oleh al-Ghazali. Pengetahun yang hakiki, menurutnya, adalah pengetahuan yang didapat dari hasil nalar intuisi (qalb) melalui jalur tasawuf.[21]
Lebih jelas, al-Ghazali membagi ma’rifat ke dalam tingkatan sesuai dengan dasar pengetahuan dan metode yang dipergunakan, yaitu: pertama, ma’rifat orang awam, yakni pengetahuan yang diperoleh melalui jalan meniru atau taklid. Kedua, pengetahuan Mutakallimin dan Filosof yaitu pengetahuan yang didapat melalui pembuktian rasional. Ketiga, pengetahuan para sufi yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui metode penyaksian langsung dengan radar pendeteksi, yaitu qalbu yang bening. Adapun pengetahuan mistis atau sufisme menurut al-Ghazali  adalah Dzat Allah, sifat-sifat-Nya serta af’al-nya, dan inilah pengetahuan yang paling tinggi nilainya. Pengetahuan yang demikian ini akan membawa kebahagiaan bagi yang memilikinya, serta akan menemukan kesempurnaan dirinya, karena ia berada di sisi Yang Maha Sempurna.[22]
Untuk mengetahui dampak dari sains yang tanpa dilandasi adanya keimanan, berikut ini dikemukakan hasil analisis Kuntowijoyo mengenai hal tersebut.[23]Kuntowijoyo pernah mengeluhkan mengenai kenyataan berubahnya sistem sosial manusia saat ini. Menurutnya, sistem sosial kebebasan manusia telah digantikan dengan mekanisasi manusia lewat industrialisasi dan teknologi. Manusia hanyalah dipakai sebagai bagian dan pelengkap dari mesin, ia berada pada bayang-bayang alienasi industrialisasi yang membawa manusia terpuruk pada tipe “perbudakan” baru, “perbudakan mesin”. Itulah masyarakat yang kita sebut sebagai “masyarakat kapitalistik”. Di dalam masyarakat kapitalistik, manusia hanya menjadi elemen dari pasar. Dalam masyarakat seperti itu, kualitas kerja dan bahkan kualitas kemanusiaan itu sendiri, ditentukan oleh pasar.



      Selain itu, kenyataan lainnya, seperti banyak dikemukakan oleh banyak ahli yang menanggapi perkembangan dunia modern saat ini, bahwa sebagai akibat dari kemajuan sains yang tanpa landasan keimanan, jiwa manusia banyak mengalami gangguan psikologis; dari mulai keresahan jiwa, kejenuhan dalam mengejar ambisi yang tidak pernah berhenti, dan banyak lagi penyakit manusia modern lainnya. Belum lagi kejahatan yang kian merajalela dan telah dikemas sedemikian rupa sehingga menyerupai “kebijaksanaan sejati”: pembunuhan di mana-mana, penindasan terhadap kaum tertindas sudah menjadi hiburan, dan mencuri telah menjadi kewajiban. Itu semua adalah penyakit manusia saat ini.
      Berbagai terapi psikologis telah dikembangkan untuk mengobati penyakit manusia modern, dari mulai terapi sugesti sampai terapi bunuh diri. Namun itu semua hanya pengobatan secara sementara dan terkesan sebagai upaya untuk lari dari kenyataan (escape from reality). Manusia modern akhir-akhir ini sedang melirik ke jalur spiritual (keimanan yang bersumber dari wahyu dan cinta) untuk mengobati penyakit jiwanya. Di Barat pun, kini telah berkembang banyak ragam pengobatan dengan menggunakan mediasi ghaib. Terbukti dengan semakin banyaknya buku-buku yang berbau spiritual yang diterbitkan untuk melatih spiritualitas manusia dengan berbagai metode dan beberapa di antaranya termasuk the best seller; dari mulai latihan aura jiwa, keajaiban berdoa, meditasi, dan banyak lagi. SUTEJA

















Makalah Internasional Seminar as;  Integrity, Interconnection and Callaboration for Islamic Studies Development (ISD), 23 Novermber 2013 di  IAIN SYEKH NURJATI CIREBON.



ILMU-ILMU KEISLAMAN;
MELACAK AKAR INTEGRASI KEILMUAN
DI LINGKUNGAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI



Makalah
Internasional Seminar as;
Integrity, Interconnection and Callaboration for Islamic Studies Development (ISD), 23 Novermber 2013 di  IAIN SYEKH NURJATI CIREBON





 









OLEH:
S  U  T  E  J  A
nip. 19630305 199903 1 001
DOSEN METODOLOGI STUDI ISLAM










ISNTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SYEKH NURJATI CIREBON
2013 M./ 1434 H.






* Makalah Internasional Seminar as; Integrity, Interconnection and Callaboration for Islamic Studies Development (ISD), 23 Novermber 2013 di  IAIN SYEKH NURJATI CIREBON
[1] The Liang Gie,  Sejarah Ilmu,  Yogjakarta : Sabda Persada, 1988, h. 29.
[2]Revertz,  Jerome R.,  Filsafat Ilmu Sejarah & Ruang Lingkup Bahasan, terj.,  Yogjakarta,  Pustaka Pelajar, 7.
[3]Ravertz, Filsafat Ilmu,  19.
[4]The Liang Gie,  Pengantar Filsafat Ilmu, Yogjakarta, Liberti, 200,  1.
[5]The Liang Gie,  Pengantar Filsafat Ilmu,  65.
[6] Ravertz, Sejarah Filsafat Ilmu, 27.
[7] Joseph A. Byrnes, “The 17th Century”, dalam, J. Sherwood Weber, ed.,  Good Reading,  1980, 48.
[8]Murtadha Muthahhari, Pengantar Menuju Logika, terjemahan Asynai ba Ulume Islami, Duruse Mantiq oleh al-Habsyi,  Bangil, Yapi, 1994, 12—14.
[9]Lebih rinci lihat Osman Bakar, Hierarki Ilmu, Bandung, Mizan, 1998, 231-250.
[10]M. Abul Quasem, Kamil, Etika al-Ghazali: Etika Majemuk Di dalam Islam, (terj.)  J. Mahyuddin, (Bandung: Pustaka, 1988), h. 55-59.


[11]Yunasril Ali, Perkembangan Pemikran Falsafi dalam Islam, (Jakarta: Bina Aksara, 1991), h. 76.
[12]Abul Qasem. Etika al-Ghazali: Etika Majemuk Di dalam Islam,  terj., Bandung, Pustaka, 1988, 63.

[13]Murtadha Muthahhari, Pengantar Menuju Logika, Bangil, Yapi, 1994, 14.
[14]Murtadha Muthahhari, Pengantar Menuju Logika,  Bangil, Yapi, 1994, 15.
[15]Murtadha Muthahhari, “Ilmu Agama dan Bukan Ilmu Agama, dalam Ceramah-ceramah Seputar Persoalan Penting Agama dan Kehidupan, Jakarta,  Lentera, 1999, 177.
[16]Murtadha Muthahhari, “Ilmu Agama dan Bukan Ilmu Agama, dalam Ceramah-ceramah Seputar Persoalan Penting Agama dan Kehidupan,  Jakarta,  Lentera, 1999, 64.

[17] Murtadha Muthahhari, Man and Universe,Qum, Ansariyan Publication, 1997M / 1417 H., 12.
[18] Murtadha Muthahhari, Ceramah-ceramah Seputar Persoalan Penting Agama dan Kehidupan, Jakarta, Lentera, 1999, 184.
[19] Murtadha Muthahhari, Man and Universe,.12-13.
[20] Murtadha Muthahhari, Man and Universe, 15-16.
[21] Imam Al-Ghazali, Al-Munqizh min al-Dlalal,  Kairo: tpn., 1336 H., 12.
[22]al-Ghazali, al-Munqidz  min al-Dlalal, (Kairo: tpn., 1336 H., 13.
[23] Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid,  Bandung, Mizan, 2001, .73-75. 

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.