Jumat, 26 Februari 2016

BERTASAWUF = BERAKHLAKRASUL SAW

BERTASAWUF = BERAKHLAKRASUL SAW
OLEH: SUTEJA
Setiap muslim berhak menjadi seorang ‘alim (pendidik) atau muta’allim (peserta didik) atau mustami’ (pendengar, penyimak) atau muhib (pecinta). Yang penting,  setiap muslim memiliki pilihan satu dari keempat pilihan tersebut. Indonesia mencatat jumlah dan kualitas kelompok ’alim  adalah paling sedikit, disusul kemudian jumlah kelompok muta’allim  dan kelompok  mustami’ (pendengar, penyimak). Kelompok mustami’  dapat diprediksi semakin bertambah jumlahnya tetapi, kualitasnya masih perlu diteliti secara serius. Mudah-mudahan masih banyak kelompok pecinta, dalam arti tidak menghalangi atau menghadap proses pembelajaran Islam.
Secara umum, pengamal Islam di Indonesia masih didominasi oleh komunitas mustmai’  sementara. Jumlah dan kualitas komunitas muta’allim tidak mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Komunitas ‘alim  dan muta’allim kajian tasawuf, di wilayah III Cirebon khususnya, juga ternyata maasih sangat minim. Minimnya jumlah komnitas  ‘alim  dan muta’allim  dan, semakin bertambahnya para pengamal  tasawwuf dari komunitas musami’  inilah yang menjadi garapan serius Nahdhatul Ulama (NU) sebagai Jamiyah Diniyah (Organisasi Sosial-Keagamaan); sebagai wadah bergabungnya berpuluh tarekat sufi.
Pengamal  tarekat   semakin berkurang jumlahnya karena berbagai sebab. Selain karena faktor usia dan konflik interes dalam diri pengamal dan juga guru (mursyid, syekh),   bisa jadi karena sistem kaderisasi. Penyebab yang,  sangat dikhawatirkan, adalah faktor informasi (materi keilmuan tasawuf) yang diterima.  Mekanisme kaderisasi  belum mampu mencegah terulangnya keterputusan massage keilmuan tasawuf dan sisi-sisi  “kosong” di sana sini.  Kenyataan ini kemudian melahirkan berbagai “kekeliruan” dan kekeliruan itu menimbulkan pemahaman yang parsial dan bahkan “mengurangi” universalitas Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, Islam yang  fithri (sesuai dengan fitrah kemanusiaan kamnusia) serta Islam agama yang menjamin kebahagiaan duniawi dan ukhrawi.
Pengamal tarekat, representsasi dari pengamal tasawuf Islam, menyukai dan bahkan terlena hidup dalam serba kekurangan dengan dalih menuju maqam faqr. Tidak menyuaki,   atau membenci dan menjauhi kemewahan duniawi lantaran ingin mencapai maqam zuhud.  Mereka terpesona dengan penampilan  lahiriah yang mempertontonan “ketidak acuhan”  terhadap kemewahan duniawi, “ketidak pedulian” terhadap realitas sosial yang membutuhkan sentuhan  lembut seorang khalifatullah,  pribadi yang mampu melayani Allah (khidmat al-Mawla) dan sekaligus menyayangi ciptaan Allah.

Mereka lupa bahwa bertasawuf adalah mensucikan jiwa dan  membersihkan hati untuk mencapai  kedekatan  dan disayang Allah. Mereka terlanjur terlupakan dari keteladanan Rasul Allah Muhammad SAW  yang men-teledan-kan keseimbangan. Mereka lupa bahwa  bertasawuf adalah ber-ihsan. Ihsan  adalah keharmonisan antara keimanan dan keislaman yang tampil dalam perilaku keseharian. Sungguh disayangkan,  kekeliruan berlanjut menjadi sebuah keyakinan.  Mereka lupa bahwa  bertasawuf adalah berkahlak sebagaimana akhlak Rasulullah (Takhalluq bi Akhlaq al-Rasul). Rasulullah SAW adalah al-Insan al-Kamil  yang selalu menteladankan, bahwa dalam satu kesempatan  yang sama beliau selalu  menjadi hamba (‘abdullah) dan sekaligus menjadi khalifah Allah.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.