Minggu, 28 Februari 2016

AL-GHAZALIANISME DI PESANTREN

                                                AL-GHAZALIANISME DI PESANTREN
   Kedatangan Islam ke Nusantara termasuk Jawa Barat dan lebih khusus Cirebon, diakui para ahli sejarah, tidak dapat dilepaskan dari peran ulama-ulama sufi sebagai penyebar ajaran Islam madzhab Ahlusunnah wal Jama’ah, khususnya ajaran tasawuf yang sangat diwarnai pemikiran Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad al-Thusîy al-Ghazãlî. Mereka lazim disebut sebagai Walisongo, salah satunya adalah Maulana Syeikh Syarif Hidayatullah Sultan Mahmud, alias  Sunan Gunung Djati. Dialah, salah seorang anggota Dewan Walisongo,  kemudian yang dinilai sangat berjasa dalam mengislamkan masyarakat Cirebon, Banten dan Jawa Barat.
Walisongo, termasuk juga Maulana Syeikh Syarif  Hidayatullah alias Sunan Gunung Djati,  memang tidak meninggalkan karya tulis dalam bidang tasawuf atau tarekat dan keislaman pada umumnya. Jejak yang ditinggalkannya terlihat dalam kumpulan nasihat agama yang termuat dalam tulisan para murid (siswa, santri tarekat) dalam bahasa Jawa yang disebut sulûk  seperti pada awal-awal kerajaan Islam Demak. Di Pesantren Raden Fatah (1475 M.) pengajaran ilmu-ilmu keislaman hanya berkisar kepada ajaran-ajaran tasawuf para sunan dengan rujukan utama  Kitâb Sulûk Sunan (hasil tulisan para wali) dan Kitab Tafsîr al-Jalâlayn.[1] Tulisan itu berisi catatan pengalaman orang-orang saleh yang menegaskan bahwa latihan-latihan spiritual (riyâdhah) dan pengendalian hawa nafsu (mujâhadah) sangat diperlukan dalam rangkaian pembersihan hati dan menjernihkan jiwa untuk mendekatkan diri kepada Allah, yaitu kedekatan yang mengantarkan seseorang pada alam rohani ketika jiwa merindukan Allah hingga memperoleh titisan cahaya ilahi. Hubungan intim dengan Allah tidak dapat dicapai oleh jiwa yang berwawasan materialistis, yang menyibukkan diri dengan rasa ketergantungan pada dunia fana dan materi, dan jauh dari agama dan Allah.[2]
Riyâdhah dan mujâhadah adalah perilaku kehidupan spiritual yang tidak dapat dipisahkan dari tradisi komunitas pesantren. Lembaga pendidikan pesantren dan madrasah yang tersebar di seluruh pelosok Tanah Air adalah salah satu bukti sejarah tentang kontribusi (‘amal  jâriyah) para wali.  Sebagian besar pesantren-pesantren itu menerapkan ajaran tasawuf al-Ghazali dan mengajarkan Ihyâ` ‘Ulûm  al-Dîn dan Mihâj al-‘Âbidîn  karya al-Ghazali, sebagai salah satu materi dasarnya.[3] Pemikiran dan praktik-praktik tasawuf tersebut, memberikan kesan kuat bahwa corak tasawuf yang dianut oleh para wali itu adalah tasawuf Sunni, yang sangat dipengaruhi  pemikiran-pemikiran al-Ghazali.
Namun demikian, yang menarik untuk dicatat adalah bahwa, kebanggaan para penganut dan pengikut tarekat terhadap orsinalitas ajaran yang mereka kembangkan merupakan karakteristik khusus yang dimiliki sebagaimana yang lazim berlaku di lingkungan aliran kerohanian atau kebatinan pada umumnya. Mereka menyampaikan kebijaksaaan para leluhur mereka sebagai pusaka  aji  tanpa “bahan asing”. Mereka mempergunakan bahasa pribumi, menghidupkan upacara ritual keagamaan lokal setempat dan bahkan hasil kreasi mereka sendiri serta mewarisi gaya hidup yang telah mereka warisi sejak  dulu secara turun temurun.



[1] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta, Bhatara, 1982, 257.
[2] Mahmud Yunus,  Ibid.,   38.
[3] Abdullah bin Nuh,  Sejarah Islam di Jawa Barat hingga Masa Kerajaan Kesultanan Banten, Bogor, t.p., 1961, 11-12.

Share

& Comment

0 komentar:

 

Copyright © 2017 Sutejo Ibnu Pakar™

Support by Free Knowledge Templatelib.